Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjamuan berdarah dan penghormatan paksa
Lampion merah dan emas digantung di setiap sudut Paviliun Yue-Lin, menerangi malam yang dulunya gelap gulita. Harum bunga-bunga langka yang ditanam khusus untuk Mei Lin kini menutupi bau amis peperangan yang telah lewat. Malam ini adalah perjamuan besar untuk meresmikan gelar baru Mei Lin sebagai Tian-Zhi-Bao.
Di aula utama yang luas, para jenderal tangguh dan menteri-menteri tua yang sombong berkumpul. Mereka berbisik-bisik dengan nada tidak puas. Bagi mereka, mengangkat seorang pelayan rendah menjadi "Tahta Mulia" adalah penghinaan terhadap silsilah kekaisaran.
"Bagaimana mungkin seorang pelayan yang pernah merangkak di selokan istana kini duduk di samping Kaisar dengan gelar setinggi itu?" bisik Menteri Lu kepada rekannya. "Ini adalah kegilaan. Jian Feng telah kehilangan akal sehatnya karena wanita itu."
Tiba-tiba, suara terompet panjang bergema. Pintu aula terbuka lebar. Jian Feng masuk dengan langkah gagah, mengenakan jubah emas yang menyilaukan. Di sampingnya, Mei Lin berjalan dengan anggun, meski matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Mahkota emas putih Tian-Zhi-Bao berkilauan di kepalanya.
Begitu mereka mencapai singgasana ganda yang dibuat khusus, Jian Feng tidak langsung duduk. Ia berdiri tegak, matanya yang tajam mengintimidasi setiap orang di ruangan itu.
"Hormat!" seru panglima perang tertinggi.
Seluruh pejabat istana berlutut, namun Jian Feng menyadari bahwa Menteri Lu hanya menunduk sedikit tanpa menyentuhkan dahinya ke lantai.
"Menteri Lu," suara Jian Feng rendah namun bergetar oleh ancaman. "Apakah usiamu membuatmu lupa bagaimana cara menghormati Tian-Zhi-Bao?"
Menteri Lu gemetar, namun egonya masih tinggi. "Yang Mulia, hamba menghormati Anda. Namun, memanggil seorang mantan pela—"
Srratt!
Sebelum kata-kata itu selesai, Jian Feng telah menghunus pedangnya dan menebas meja di depan Menteri Lu hingga terbelah dua. Suasana menjadi sunyi senyap, bahkan suara napas pun tak terdengar.
"Sebutkan gelarnya dengan benar," desis Jian Feng, ujung pedangnya kini berada tepat di tenggorokan sang menteri. "Atau mulutmu tidak akan pernah bisa bicara lagi."
Dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, Menteri Lu langsung tersungkur, dahinya mencium lantai dengan keras. "Ampun! Hamba mohon ampun! Hormat kepada Yang Mulia Tian-Zhi-Bao! Semoga Yang Mulia Harta Langit hidup seribu tahun!"
Melihat itu, seluruh menteri dan jenderal lainnya mengikuti dengan serempak, suara mereka menggelegar memenuhi aula: "Hormat kepada Yang Mulia Tian-Zhi-Bao! Panjang umur Tahta Mulia!"
Mei Lin duduk di singgasananya, tangannya meremas pinggiran kursi emas itu. Ia merasa mual melihat ketakutan yang luar biasa ini. Ia dicintai oleh seorang kaisar, namun cinta itu ditegakkan dengan pedang dan darah. Di matanya, setiap penghormatan yang ia terima malam itu bukanlah tanda cinta dari rakyatnya, melainkan tanda bahwa Jian Feng telah berhasil mengubahnya menjadi sebuah berhala yang harus disembah oleh dunia yang ketakutan.
Jian Feng duduk di sampingnya, meraih tangan Mei Lin dan mencium punggung tangannya di hadapan semua orang—sebuah tindakan yang sangat tidak lazim bagi seorang Kaisar yang agung. "Dengarlah, Mei Lin," bisik Jian Feng di telinganya. "Seluruh dunia sekarang berada di bawah kakimu. Kau tidak perlu lari lagi, karena tidak ada tempat di dunia ini yang tidak akan berlutut padamu."
Mei Lin hanya bisa menatap kosong ke arah kerumunan orang yang bersujud. Ia adalah Tian-Zhi-Bao, Harta Karun Langit yang paling berharga, namun di dalam hatinya, ia merasa seperti burung yang paling kesepian di dunia, terkunci di dalam sangkar emas yang dibangun di atas tumpukan mayat musuh-musuhnya.
Bersambung