Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 🩷 Revenge porn
Dea memukul-mukul Rifal beberapa kali, lalu---
"BRENG SEKK!" ia menatap penuh sorot tajam nan marah, ia benci Rifal, sangat benci. Rifal membuatnya kembali merasakan denyut sakit waktu lalu, membangkitkan ingatan dan perasaan yang sama ketika Rere cs merundungnya. Rasa malu, terhina, lemah dan tentu saja dipandang sebelah mata.
Tapi kali ini lebih parah, ia sudah menjadi korban revenge porn yang Rifal lakukan padanya. Lengkap sudah, perundungan yang ia dapatkan sejak dulu.
Tangan Rifal menahan dan mencengkram tangan Dea yang berulang kali memukulnya penuh kekecewaan, menyampaikan bahasa tubuh jika ia sakit atas perlakuan pemuda ini.
Namun seolah tak peduli, Rival justru semakin mengintimidasi, "ingat itu. Anggap aja yang barusan adalah peringatan, kemaren Lo sama temen Lo itu udah cegat Mita. Gue ngga pernah main-main..." tatap Rifal meninggalkannya sebuah luka baru.
"Dan ingat juga ini. Lo adalah makhluk paling breng sek yang pernah gue tau, seumur hidup gue ngga akan maafin lo. Aaaaaa!" Air mata Dea telah luruh, ia merasakan sakit di dadanya, ia menjerit frustasi membuat koridor itu penuh oleh jeritan Dea.
Rifal kembali menyeringai, tentu ia kebal disebut breng sek, gob lok, an jing dan bang sat. Sebelum orang-orang berdatangan, Rifal sudah terlebih dahulu meninggalkan Dea dengan semua perasaan hinanya.
Dea terisak, mengelap pipi dan wajahnya. Niatnya untuk les, untuk menyatakan cinta pada Jovanka telah habis digerus sakitnya.
Deanada
Van, gue balik duluan ya sorry tolong ijinin. Mendadak gue pusing.
Jovan sempat mengerutkan dahinya, padahal mereka sedang berada di rumah sakit, kenapa Dea tidak menemuinya dan langsung masuk ruang periksa saja sekalian.
~Rifal~
Ia sudah berjalan menghampiri Vian diantara aktivitas rumah sakit, sempat menoleh sebentar memeriksa apa gadis itu muncul menyusulnya, namun ternyata tidak.
Vian berdecak, "darimana atuh kang, dicariin...tuh udah pada keluar kloter pertama yang besuk. Hayu masuk, Rama sama Nara udah duluan ke ruangan Tasya."
"Dari wesse." Tanpa ada rasa bersalah dan penyesalan, ia justru membayangkan rasanya bibir kenyal Dea itu. Aroma harum yang ia hirup dari gadis itu begitu membelai. Oke, ia akui Deanada adalah gadis yang wangi. Tidak. Tidak hanya wangi, ia akui Dea juga cantik, dan yahhhh....bibirnya manis.
Lalu apalagi, what the fu\*ck! Si nting! Sejak tadi ia mengakui memujinya. Sampai-sampai sepanjang koridor menuju ruangan Tasya dirawat, yang dibayangkannya adalah sosok Dea, bagaimana first impression nya terhadap Dea. Tanpa sadar jika apa yang dilakukannya adalah tindakan revenge porn atau pele cehan. Sungguh *bad boy...bad guy*....*and bad attitude*.
Bahkan, sedahsyat itu aroma parfum Dea sampai membuat Rifal merasa blank beberapa saat setelah masuk ke ruangan ruang rawat Tasya.
"Wahhh, om Fal..."
Tasya, gadis yang baru saja melakukan operasi usus buntu dan menggegerkan grup kelas ini terduduk di ranjang dengan wajah pucat nan lemasnya.
Rifal memilih duduk di pojok dekat pintu dan memperhatikan teman-temannya itu mengerubungi Tasya. Termasuk Tian, dimana temannya itu mengakui telah menjadi pacar si boncel Tasya sejak beberapa waktu lalu tampak begitu heboh dan panik. Lucu saja, badan atletis terkesan bongsor itu terlihat layaknya bucin seorang Tasya yang berbadan kecil dan petasan korek.
Sebenarnya ia sudah tau sejak lama, jika antara Tasya dan Tian yang selalu terlihat bertengkar itu ada sesuatu yang mereka tutupi. Ia tidak bodoh untuk sekedar mengamati teman-temannya dari jarak duduknya di belakang. Duduk di belakang tak selamanya buruk dan bodoh, justru....posisi belakang ini bisa menjangkau seluruh area, termasuk Rio yang selalu menyelundupkan makroni pedas di bawah mejanya saat pelajaran tengah berlangsung.
Yusuf yang terlihat urakan dan apa adanya, sebenarnya seorang anak konglomerat. Dan Tama, si ketua kelas kaku itu, huffft...seorang pintar yang pernah mengamuk di ruang guru sebab dicurangi ketika seleksi OSN.
Welcome to class super and surprise. Dimana isinya adalah anak-anak dengan latar belakang misterius namun cukup berbobot jika dijabarkan, namun satu persamaan mereka, *pertemanan harga mati*. Itu kenapa, anak-anak lain, tak ada yang berani menyentuh MIPA 3. Sebab berani mati untuk pertemanan.
Namun kejadian barusan itu, cukup *damage*....begitu membekas sesiang ini di otaknya, membuat garis bibirnya terus saja melebar tipis hanya dengan membayangkannya, seolah...leher dan rambut Dea masih menempel di hidungnya.
Notice dengan apa yang dilakukan Rifal, Tasya terkekeh usil, "diem di pojokan cengengesan sendiri, curiga bayangin por no."
Lantas pandangan mereka langsung tertuju pada Rifal, "kagak lah."
Aaaaaa! Seru mereka ribut.
"Gimana sekarang Sya?" tanya nya berbasa-basi.
"Apanya? bayangin por nonya?" tembak Tasya mencibir kembali membuat riuh, "ngeri njirr, di kamar ini ada setan por nonya, Sya..." gidik Vian.
Rifal hanya mendengus sumbang.
/
"Ra," suaranya memecah suasana, dimana Tian masih memaksa Tasya untuk makan, lalu Nara yang meributkan nama Tasya bersama Vian.
*Dari Amanda Daniar****Ta Sya****rif jadi Tasya....coba kenapa ngga Manda aja*, *bagus Manda...Sya*?
*Soalnya ortu gue udah cerai, DaniarTa nama keluarga mama, Syarif nama papa, karena gue netral jadi gue gabungin*.
"Gue mau nanya?" Rifal beranjak dari duduknya lalu menghampiri Nara yang ada di dekat ranjang pasien, entahlah...teman-temannya ini memang sekepo itu jika ia berbicara, sebab....mereka mendadak diam saat ia bicara.
Rifal berdecak, hingga ide usil ia dapatkan. Disaat wajah serius mereka menunggu ia kembali buka suara, Rifal mengumpulkan ancang-ancang dan heukk...
*Duthh*...
"Om Falll!"
"Bau an jirrr. Saravvv...."
Rama tertawa, begitupun mereka yang langsung menjauhi, "anjirrr Fal, Lo makan apaan sih, bau bang ke bang sat."
Ada gestur muntah dari mereka dan mengumpati dirinya, "lagian pada kepo, yang gue tanya Nara bukan loe semua. Kapan nama Lo jadi Nara?" tuduhnya pada Yusuf dan Vian.
"Wekk, ohok...ohok!" Tasya mencerukan kepalanya di dada Tian.
Rama mendorong kepala Rifal, "gas beracun njirr."
Vian tertawa, "ya kan kali aja gue bisa bantu jawab juga."
"Apa?" tanya Nara.
"Lo tuh kalo ngga salah satu komplek sama Dea MIPA 2, kan?"
Nara biasa saja, namun yang lain dibuat mengangkat alisnya, pasalnya tak biasanya Rifal membahas mereka.
"Oh, Deanada Kharisma?" tanya Nara memastikan, antara mengangguk namun bibirnya melengkung ragu, Rifal mengangguk, "ya bekas temen Lo itu."
"Si an jing bekas." Umpat Vian, "cewek yang Lo tatap terus dari kemarin, mas?"
Benar, jika banyak bicara ia justru jadi bulan-bulanan teman-temannya itu.
"Iyeee, puas Lo!" Rama tertawa, "suka Lo?" Rifal berdecak, "engga lah."
"Emhhhh..." Tasya sudah menunjuk wajah Rifal.
"Satu komplek, tapi beda blok. Dia kalo ngga salah blok G 1 gue G 4. Agak jauh lumayan, tapi kalo lagi jogging kemaren juga dia lewat depan gang blok gue."
"Oh, yang cem-ceman Jovanka?!" tembak Tasya, "mereka jadian ngga sih?!" tanya Tasya kini.
Tian menggeleng, "ngga tau."
Nara menggeleng, "dulu sih emang sering diceritain sama Dea lagi deket, Jovanka tuh kalo ngga salah punya kakak dokter spesialis kandungan gitu, prakteknya disini..."
"Ha?" Rifal menarik kedua alisnya, "serius?"
Nara mengangguk, "dulu sih pernah ya, waktu ngga bareng pulang Willy, pas ditanya Dea bareng sama Jovanka, karena memang satu tempat les bareng, jadi Jovan sering jemput Dea buat berangkat les bareng, tapi sering diajak mampir kesini buat nemuin kakaknya yang dokter itu buat minta bekal."
"Lah, kenapa sih Fal?" tanya Tian saat menemukan wajah Rifal yang seolah-olah terkejut begitu.
"Hooh, aneh ..kenapa emangnya? Tuh cewek bikin masalah lagi?" tanya Tasya memasang tampang sudah siap tempur lagi.
"Ngga usah macem-macem, kamu masih sakit." Tian mengusap wajah Tasya memantik tawa Vian.
Namun Nara, semakin membuat Rifal dilanda gamang, "tapi gue ngerasa ada sesuatu sama Dea deh, dia tuh kaya apa ya....lagi nyimpen beban berat gitu, sering gue perhatiin mukanya yang muram. Ngga seceria sebelumnya. Lo sempet notice ngga Sya, waktu mereka kemarin-kemarin bully anak IPS, kaya dibikin sengaja biar si Willy ngga ngamuk, kaya sebenernya tuh Dea lagi bikin tameng biar tuh anak ngga kena banting banget..."
"Oh iya ya....ah paling cuma lagi ketiban karmanya, udah kerasa bersalah kaliii...."
"Lah, selama kenal kemarin, itu gimana dia?"
"Ya ngga gimana-gimana...sama aja. Tapi ya gimana ya, beda aja...lebih kaya cuma ikut-ikutan..." jawab Nara.
"Apalagi kalo di kalangan komplek, pasti Lo semua ngga akan nyangka Dea kaya apa orangnya, beda parah..."
Dan untuk hal yang diucapkan Nara barusan, Rifal setuju. Dea terlihat berbeda.
Rama ikut bersuara, "jadi yang punya vokal sama otaknya Inggrid?"
Dan suara Nara serta Tasya mendadak samar ditelan perasaan bersalahnya.
.
.
.
.
saya suka 😍😍😍
berasa dipanah ga tu neng dea..syok dan ada sensasi geli2nya gt ga sih.berbunga mksdny..😄😄
sabar yak om fal... jawabannya masih nunggu acc teh sin🤭
si pemaksa,, ini kaya bang maru cumn persi muda nya🤣🤣