NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Badai di Depan Gerbang Paviliun

​Malam di Kota Cahaya Bulan biasanya dihiasi oleh tawa para bangsawan di rumah-rumah judi atau nyanyian merdu dari kedai-kedai teh. Namun malam ini, keheningan yang mencekam menyelimuti distrik elit tempat Paviliun Obat Seribu Tahun berdiri tegak. Suara derap langkah kaki kuda yang berat dan denting zirah besi memecah kesunyian, menciptakan getaran yang terasa hingga ke dalam sanubari penduduk sekitar.

​Klan Yan telah datang. Bukan lagi dengan beberapa pengawal pasar, melainkan dengan pasukan elit "Garda Air Biru" yang dipimpin langsung oleh Yan Zhen, adik kandung dari Kepala Klan Yan.

​Di dalam Paviliun, Lin Xiao sedang duduk bersila di tengah ruangan meditasi yang dipenuhi oleh aroma dupa penenang jiwa. Di depannya, Kepala Paviliun Gu berdiri dengan wajah yang sangat serius, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk paviliun yang mulai digedor dengan keras dari luar.

​"Mereka datang lebih cepat dari yang kukira," bisik Kepala Paviliun Gu. Suaranya terdengar berat namun tidak menunjukkan rasa takut. "Lin Xiao, kau masih dalam proses menstabilkan Energimu. Biarkan aku yang menghadapi mereka di luar. Klan Yan tidak akan berani bertindak gegabah di wilayahku."

​Lin Xiao perlahan membuka matanya. Pupil matanya yang berwarna ungu gelap tampak bergetar, memancarkan aura dingin yang seolah mampu membekukan udara di sekitarnya. "Kepala Paviliun, aku menghargai kebaikanmu. Tapi masalah ini bermula dariku, dan aku tidak punya kebiasaan bersembunyi di balik punggung orang tua saat musuh datang mengetuk pintu."

​Lin Xiao berdiri dengan gerakan yang anggun namun penuh kekuatan. Ia melirik ke arah sudut ruangan di mana Yun'er sedang menatapnya dengan mata bulat yang penuh kecemasan. Lin Xiao memberikan anggukan kecil yang menenangkan pada gadis kecil itu sebelum ia melangkah menuju balkon lantai tiga, menatap langsung ke arah kerumunan pasukan di bawah sana.

​Di bawah sinar rembulan yang pucat, Yan Zhen berdiri dengan angkuh di atas kuda hitamnya. Tangannya menggenggam sebuah tombak panjang yang memancarkan energi biru yang tajam. Di sekelilingnya, lebih dari lima puluh prajurit mengepung Paviliun dengan busur panah yang sudah terisi.

​"Gu! Keluar kau!" teriak Yan Zhen dengan suara yang menggelegar seperti guntur. "Serahkan jalang kecil yang telah melumpuhkan keponakanku, atau aku akan meratakan Paviliun ini dengan tanah malam ini juga! Jangan pikir karena kau seorang tabib terkenal, kami akan memberikan pengecualian!"

​Suara tawa dingin terdengar dari lantai atas, memotong teriakan Yan Zhen. Lin Xiao melangkah ke tepian balkon, membiarkan jubahnya tertiup angin malam. Tato mawar hitam di pipinya tampak sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat, memberikan kesan kecantikan yang mematikan.

​"Meratakan Paviliun ini?" Lin Xiao bersuara, nadanya rendah namun entah bagaimana terdengar jelas di telinga setiap prajurit di bawah sana. "Klan Yan sepertinya sudah terlalu lama menjadi raja di kolam kecil ini, hingga kalian lupa bagaimana cara mengukur kemampuan diri sendiri."

​Yan Zhen mendongak, matanya berkilat penuh amarah saat melihat wajah Lin Xiao. "Jadi kau tikus kecil itu? Beraninya kau bicara seperti itu di hadapanku! Pengawal! Tembakkan panah! Jatuhkan dia dari sana!"

​Syuuuut! Syuuuut!

​Puluhan anak panah yang telah dilapisi energi spiritual meluncur deras ke arah Lin Xiao. Namun, bukannya menghindar, Lin Xiao justru melompat turun dari balkon lantai tiga.

​Para penonton yang mengintip dari balik jendela rumah mereka menjerit tertahan. Melompat dari ketinggian itu tanpa pelindung adalah tindakan bunuh diri. Namun, saat tubuh Lin Xiao berada di udara, Energi Nirwana Hitam meledak keluar dari tubuhnya, membentuk sayap energi samar yang memperlambat jatuhnya.

​Ia mendarat dengan ringan di tengah-tengah pasukan, menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan prajurit di barisan terdepan hingga terjungkal.

​BUM!

​Asap hitam tipis menyelimuti area pendaratannya. Saat asap itu memudar, Lin Xiao berdiri tegak dengan aura yang begitu menekan hingga kuda hitam milik Yan Zhen meringkik ketakutan dan mundur beberapa langkah.

​"Aku ada di sini," ucap Lin Xiao sambil mengepalkan tangannya. "Siapa di antara kalian yang ingin menjadi orang pertama yang kuhancurkan tulangnya malam ini?"

​Yan Zhen sangat terkejut melihat kemampuan Lin Xiao. Gadis ini baru di Tahap Pembersihan Sumsum, tapi aura energinya jauh lebih pekat dan murni daripada siapa pun yang pernah ia temui.

"Jangan sombong, bocah! Aku adalah Kultivator Tahap Pembentukan Inti awal! Kau hanyalah semut di mataku!"

​Yan Zhen melompat dari kudanya, tombaknya meluncur seperti kilat biru ke arah tenggorokan Lin Xiao. Serangan itu membawa tekanan udara yang hebat, menghancurkan ubin jalanan di bawahnya.

​Lin Xiao tidak mundur satu langkah pun. Ia memusatkan seluruh Energi Nirwana Hitam ke telapak tangan kanannya. Di saat tombak itu hanya berjarak beberapa inci dari kulitnya, Lin Xiao melakukan gerakan memutar yang sangat presisi, menangkap batang tombak tersebut dengan tangan kosong.

​Cisssss!

​Asap hitam keluar saat energi Nirwana Lin Xiao mulai melahap energi biru dari tombak Yan Zhen.

​"Apa?!" Yan Zhen terbelalak. Ia mencoba menarik tombaknya, tapi benda itu seolah telah tertanam di dalam gunung baja. "Bagaimana mungkin kau bisa menahan seranganku?!"

​"Karena energimu... terlalu lemah dan penuh kotoran," bisik Lin Xiao.

​Dengan satu sentakan kuat, Lin Xiao mematahkan tombak baja berkualitas tinggi itu menjadi dua bagian. Ia kemudian melayangkan tendangan kilat yang menghantam dada Yan Zhen.

​DUAK!

​Yan Zhen terlempar ke belakang, menabrak barisan prajuritnya sendiri hingga menciptakan kekacauan. Ia memuntahkan darah segar, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya. Ia, seorang jenderal dari klan Yan, dikalahkan dalam satu pertukaran oleh seorang gadis muda?

​Pasukan Garda Air Biru yang melihat komandan mereka terluka langsung gemetar. Keberanian mereka runtuh seketika saat melihat Lin Xiao mulai melangkah maju dengan mata yang berkilat ungu gelap.

​"Pergi dan beritahu Kepala Klanmu," suara Lin Xiao bergema di sepanjang jalan. "Jika dia menginginkan nyawaku, suruh dia datang sendiri. Dan pastikan dia membawa Bunga Teratai Darah sebagai permintaan maaf atas keributan yang kalian buat malam ini. Jika tidak... aku sendiri yang akan mendatangi kediaman Yan dan mengubahnya menjadi kuburan masal."

​Mendengar ancaman itu, Yan Zhen yang terluka parah segera memerintahkan pasukannya untuk mundur. Mereka melarikan diri dengan panik, meninggalkan keheningan yang jauh lebih dalam di depan gerbang Paviliun.

​Kepala Paviliun Gu yang menyaksikan kejadian itu dari balkon menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, setelah malam ini, nama Lin Xiao akan mengguncang seluruh Kota Cahaya Bulan. Namun ia juga tahu, klan Yan tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti ini. Ini hanyalah permulaan dari badai yang sesungguhnya.

​Lin Xiao berbalik, menatap ke arah Paviliun di mana Yun'er melambaikan tangan padanya dengan ceria. Lin Xiao merasakan sedikit kehangatan di hatinya, namun matanya tetap dingin. Ia harus segera menjadi lebih kuat. Tahap Pembentukan Inti awal saja hampir membuatnya mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia harus menembus batas kemampuannya sebelum matahari terbit besok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!