NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Masalah satu belum selesai, kini timbul masalah baru. Belum sempat bernafas lega, kini Naina di hadapi dengan masalah yang di timbulkan oleh Pamannya.

Yahya, Paman Naina, dengan berani menjual kediaman Naina tanpa sepengetahuannya. Tanpa belas kasih, dan rasa iba, Paman dan juga Bibinya mengusir Naina dari rumah satu-satunya tempat dia berteduh.

Meski memohon dan memelas, tak ada ampun bagi Naina. Orang tamak akan selalu merasa kekurangan dengan apa yang ia miliki. Bahkan Bibinya berani mengambil perhiasan milik Naina yang ia simpan di lemari. Perhiasan yang tinggal tersisa 2 gelang kaki, 1 kalung, dan 2 anting. Untung sisanya Naina bawa ketika ia hendak bersalin.

"Kau mencuri ya? Ini emas mahal kau mencuri dari mana?" Teriak Bibi dengan mata melotot.

"Itu milik ku, pemberian dari suamiku."

"Mana ada suamimu membelikan emas mahal. Suamimu itu, kan, hanya beban dan seorang pengangguran."

"Jangan Bibi hina dia, apa salah dia pada Bibi?"

Naina yang gemetaran, memeluk si kecil Nayla. Bahkan usia Nayla belum genap satu bulan. Sekarang Naina harus pergi kemana jika ia di usir dari rumah satu-satunya tempat ia berteduh.

"Pergilah! Temui suamimu." Yahya memberikan 2 lembah uang pecahan besar untuk Naina.

"Apa-apaan Bapak ini," istrinya dengan cepat mengambil uang 200 ribu itu dari tangan Naina.

"Setidaknya biarkan dia pergi menemui suaminya." Yahya kembali membawa uang itu dan memberikannya lagi pada Naina.

"Pergilah ke Ibu Kota bagian selatan, suamimu ada di sana. Tempatnya bekerja pasti sudah dia beritahukan padamu." Yahya berjongkok dan mengusap lembut kepala bayi yang Naina gendong.

"Bagaimana pun, kau itu satu-satunya keponakan ku, aku tak akan membuatmu mati. Sedikit memberimu pelajaran tentang kerasnya dunia itu adalah bekal untukmu bertahan hidup." Sambung Yahya.

Apa yang di katakan Pamannya memang ada benarnya. Naina harus mencari suaminya, ia harus tahu dengan pasti Ryan masih hidup atau sudah tiada. Naina akan mencoba pergi ke Ibu Kota bagian selatan untuk mencari Ryan.

PT. Adijaya Grafis, adalah sebuah perusahaan yang Ryan bangun bersama Dani Sanjaya, sahabat karibnya. Perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis, yang melibatkan kombinasi elemen seperti gambar, teks, warna, dan tata letak untuk menciptakan karya yang menarik dan efektif. Pemasarannya adalah para kontraktor dan juga pemerintah.

Tak jarang Ryan dan Dani terlibat dalam pembangunan gedung pemerintah dan juga program KPR. Hanya itu informasi yang Naina ketahui dari mulut Ryan langsung. Mungkin dengan bekal nama perusahaan itu Naina bisa mencari petunjuk tentang keberadaan suaminya.

Dengan perjalanan sekitar 4 jam dari tempatnya ke Ibu Kota Selatan, Naina tiba dini hari di terminal. Ia beristirahat di ruang tunggu penumpang. Memberikan asi untuk anaknya. Memeluk erat dan memberikan kehangatan untuk buah hatinya.

Naina terjaga, ia tak ingin hal buruk menimpanya. Tak jarang orang-orang mendekatinya, namun tak ia hiraukan.

Naina bertanya kepada petugas, angkutan umum mana yang mengantarkannya ke perusahaan PT. Adijaya Grafis. Petugas itu nampak kebingungan, namun ia membuka ponselnya dan mencari tahu keberadaan perusahaan itu melalui map digital di ponselnya.

"Nanti Mbaknya naik bus Trans nomor 03 aja. Minta petugas turun di halte ke 5. Dari halte 5 itu cukup berjalan kurang lebih 100 meter ke perusahaan yang Mbak tuju." Jelas petugas itu dengan ramah.

"Terimakasih Pak petugas."

Naina berjalan dan mencari bus Trans nomor 03. Setelah menemukan bus yang di maksud, Naina duduk dengan nyaman. Syukur lah selama perjalanan si kecil tak rewel, ia hanya merengek dan bisa di tenangkan oleh Asi.

"Mbak, di depan halte ke 5." Ucap petugas itu mengingatkan Naina.

"Terimakasih banyak, Pak." Naina bersiap dan turun di halte yang di maksud.

Naina berjalan sambil melihat sekitar, bangunan tinggi dan tempat yang ramai. Begini kah bentuk Ibu Kota. Ini pertama kalinya Naina ke kota. Dengan modal nekat dan keinginan yang kuat. Naina bisa berada di Ibu Kota dengan selamat.

Terpampang jelas bangunan tinggi sebanyak kurang lebih 15 lantai, dengan tulisan beton yang unik. PT Adijaya Grafis.

"Semoga ada petunjuk baik untuk Bapakmu, Nak." Lirih Naina pada bayi kecil dalam pelukannya.

Namun memasuki perusahaan besar bukan hal yang mudah. Naina di interogasi oleh satpam. Mau bertemu siapa? Ada keperluan apa? Sudah buat janji atau tidak sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan yang asing bagi Naina.

Apakah harus membuat janji untuk bertemu suaminya sendiri? Atau apakah harus ada keperluan penting untuk menemui suaminya? Konyol sekali. Naina hanya bisa tersenyum kecut dengan ocehan satpam yang menghalanginya.

"Pak, saya ingin bertemu suami saya. Namanya Ryan. Dia bilang, dia bekerja di sini." Naina masih ngotot dengan pendiriannya.

"Iya, Nona. Saya tahu. Tapi apakah anda sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Pak Ryan?"

"Lho, saya istrinya. Apakah perlu membuat janji untuk bertemu dengan suami saya?"

"Maaf Nona. Pak Ryan yang anda maksud siapa?"

Naina terdiam, apakah ada dua Ryan yang bekerja di sini? Atau memang tidak ada yang bernama Ryan di perusahaan ini? Naina mengingat kembali nama panjang Ryan.

"Ryan Varatanu. Iya, Ryan Varatanu." Jelas Naina.

Satpam itu tersenyum dan menyuruh Naina pergi dari perusahaan itu. "Maaf, Nona. Pak Ryan yang anda maksud belum berkeluarga dan tidak sembarang orang bertemu dengannya."

Apa yang satpam itu katakan? Ryan belum berkeluarga? Naina tetap kekeh ingin bertemu dengan Ryan. Tapi yang di inginkan tak kunjung juga datang. Naina memikirkan anaknya juga, ia harus mengurus dan mengistirahatkan putri kecilnya.

Baiklah hari ini gagal. Mungkin ada hari lain untuknya bertemu dengan Ryan. Naina mengalah, ia pergi tanpa tujuan. Sesampainya di persimpangan jalan, Naina melihat sebuah toko perhiasan.

"Aku jual saja satu, sisanya aku simpan. Semoga dapat kontrakan murah."

Terlihat menyedihkan. Tangan kanannya menenteng tas pakaian yang lusuh, dan satu tangannya lagi menopang jarit yang membungkus anaknya.

"Permisi Kakak, saya mau jual kalung dan gelang. Ini suratnya." Naina menyerahkan kalung dan surat jual belinya.

"Di tunggu ya."

Naina menunggu sembari menimang putri kecilnya. Tak perlu lama, wanita cantik berwajah oriental itu memberikan sejumlah uang untuk Naina.

"Harga jualnya sekitar 12 juta 300 ribu rupiah, di potong pajak dan biaya lainnya, jadi total yang di terima 10 juta 689 ribu rupiah." Wanita cantik itu menyerahkan uang pada Naina. "Silahkan di hitung kembali."

"Tidak perlu, Kakak."

Naina memasukkan uang itu pada tas pakaian yang terlihat kusam dan sedikit kotor. "Ah, maaf Kak. Apakah Kakak tahu kontrakan murah di sekitar sini?"

"Oh,, kebetulan saya juga memiliki kontrakan kecil. Mau lihat-lihat?"

"Boleh, Kak."

Naina mengikuti langkah wanita cantik itu. Tak jauh dari toko perhiasan itu, ada gang yang hanya cukup untuk di lalui pemotor saja.

Nampak seperti kontrakan susun pada umumnya. Hanya saja ini di lengkapi dengan gerbang besar, halaman luas. Setiap kontrakan terdiri dari satu kamar tidur, dapur kecil, dan kamar mandi. Biaya perbulannya 1,5 juta rupiah.

"Tenang saja, di sini aman. Sudah di lengkapi dengan cctv." Jelas wanita cantik itu.

"Baik, Kakak. Saya berminat."

Setelah transaksi selesai, Naina masuk ke dalam kontrakan itu. Lumayan besar dan nyaman. Ini pertama kalinya Naina tinggal di tempat layak dan bagus.

"Bayinya lucu sekali. Boleh aku gendong?" Pinta wanita cantik berwajah oriental itu.

"Anak saya kotor kak, takut mengotori pakaian Kakak."

"Tidak apa-apa. Anak secantik dan selucu ini mana ada kotor." Wanita itu menimang Nayla dengan penuh gembira.

"Nama ku Cecilia, tapi orang-orang di sini biasa memanggil ku Cici atau Ci Lia." Ucapnya tanpa Naina bertanya.

"Nama saya Naina Ayu. Biasa di sapa Naina."

Naina melihat Cecilia nampak senang mengendong bayi. "Anu, Cici, apa Cici tidak merasa jijik dengan anak saya? Orang-orang di desa selalu menghina kami kotor."

"Mereka buta. Anak secantik ini kok di bilang kotor. Lihatlah matanya yang besar, hidungnya yang lancip dan mungil ini. Kulitnya yang merah. Anak ini sangat cantik. Aku bisa tahu kalo anak ini adalah gadis cantik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!