NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:900
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: BISIKAN DI BALIK UAP TEH

Kata itu terus terngiang di kepala Ghea seperti lonceng kematian. Gudang.

Ghea menatap sisa tumpahan teh di lantai yang mulai mengering. Ia harus bergerak cepat, tapi juga harus sangat halus. Adrian bukan pria bodoh; pria itu adalah predator yang bisa mencium bau pengkhianatan bahkan dari jarak jauh. Ghea menyandarkan punggungnya di kursi roda, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu.

"Non Ghea, mari saya bersihkan lantainya," suara Bi Inah terdengar bergetar saat ia kembali membawa kain pel.

Ghea memperhatikan gerakan wanita tua itu. Bi Inah bekerja dengan sangat cepat, matanya terus melirik ke arah kamera CCTV di sudut plafon seolah benda mati itu adalah mata iblis yang siap mencabut nyawanya. Ghea tahu, Bi Inah sudah mengambil risiko besar dengan membisikkan kata itu tadi.

"Terima kasih, Bi," ucap Ghea dengan nada yang cukup keras agar terekam oleh mikrofon di ruangan itu. "Maafkan kecerobohanku. Kepalaku terkadang masih terasa pusing."

Bi Inah hanya mengangguk singkat, tidak berani menyahut. Namun, saat ia membungkuk tepat di samping kursi roda Ghea, ia meletakkan sebuah biskuit kecil di atas meja pribadi Ghea. Ghea mengamati biskuit itu—ada pola ganjil di permukaannya, seperti bekas goresan kuku yang membentuk arah panah.

Panah itu menunjuk ke arah taman belakang, melewati area kolam renang.

Di sana. Gudang itu ada di sana.

Tak lama kemudian, pintu ruang kerja Adrian terbuka. Pria itu keluar dengan wajah yang tampak lelah namun tetap terlihat tajam. Ia mengenakan jam tangan mewahnya kembali, sebuah tanda bahwa ia bersiap untuk melakukan sesuatu yang penting.

"Ghea, aku harus pergi sebentar ke kota," ucap Adrian sambil mendekat. Ia mengusap rambut Ghea dengan gerakan yang protektif. "Ada urusan bisnis yang tidak bisa ditunda. Kau akan baik-baik saja di sini bersama Bi Inah?"

Jantung Ghea berdegup kencang. Inilah kesempatannya. "Tentu, Adrian. Aku akan melanjutkan bacaanku. Buku psikologi ini cukup tebal."

Adrian tersenyum puas. "Anak pintar. Aku sudah mengaktifkan sensor keamanan perimeter. Jangan mencoba keluar dari area teras belakang, mengerti? Alarmnya akan sangat bising dan itu tidak baik untuk kepalamu yang sedang pemulihan."

Ghea mengangguk patuh, memberikan tatapan yang paling meyakinkan. "Aku mengerti. Aku tidak ingin kepalaku sakit lagi."

Setelah Adrian mengecup keningnya dan suara mobil menderu meninggalkan halaman villa, suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Villa mewah itu kini terasa seperti makam yang megah.

Ghea segera memutar kursi rodanya menuju dapur. Ia menemukan Bi Inah sedang mencuci piring dengan gerakan mekanis.

"Bi," panggil Ghea.

Bi Inah tersentak, hampir menjatuhkan piring porselen di tangannya. "Non... Tuan Adrian bilang Non harus di teras."

"Dia sudah pergi, Bi. Berapa lama biasanya dia pergi?" tanya Ghea tanpa basa-basi.

"Dua... mungkin tiga jam. Tapi dia selalu memantau dari ponselnya, Non. Tolong, jangan lakukan hal aneh. Dia akan membunuh saya jika terjadi sesuatu padamu," Bi Inah mulai terisak pelan.

Ghea meraih tangan Bi Inah, mencoba menenangkan wanita itu. "Dengarkan aku. Aku adalah seorang detektif. Jika aku berhasil menemukan buktinya, aku bisa membawa kita berdua keluar dari sini. Kau tidak ingin selamanya hidup dalam ketakutan, kan?"

Bi Inah menatap Ghea dengan mata yang sembap. Ada secercah harapan yang beradu dengan ketakutan yang mendalam di matanya. "Gudang itu... di balik rumah kaca. Kuncinya ada di bawah pot bunga plastik yang sudah layu. Tapi Non, kakimu—"

"Aku akan merangkak jika harus," potong Ghea tegas. "Tolong, bantu aku sampai ke pintu teras belakang. Sisanya biar aku yang urus."

Dengan bantuan Bi Inah yang gemetar, Ghea berhasil mencapai pintu teras. Ghea memutuskan untuk tidak menggunakan kursi roda karena rodanya akan meninggalkan jejak di rumput yang basah. Dengan sisa tenaga di kakinya yang masih dibalut perban, Ghea menyeret tubuhnya di sepanjang dinding, menghindari sudut pandang kamera CCTV yang sudah ia petakan lokasinya di kepala.

Hawa dingin menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun satin putih tipis. Setiap gesekan kakinya dengan tanah menimbulkan rasa perih yang luar biasa, namun amarah di dadanya jauh lebih membara.

Ia sampai di belakang rumah kaca yang terbengkalai. Benar saja, ada sebuah bangunan kecil berbahan kayu hitam yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Ghea meraba bagian bawah pot bunga plastik yang sudah berlumut. Jari-jarinya menyentuh logam dingin.

Ketemu.

Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci gudang. Cklek. Pintu terbuka dengan suara derit yang menyayat hati.

Di dalam gudang itu gelap dan pengap. Aroma debu dan besi berkarat memenuhi indra penciumannya. Ghea menyalakan senter kecil yang tadi ia ambil dari dapur. Cahaya senter itu menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti pada sebuah sudut.

Ada sebuah tas plastik besar yang disegel dengan label kepolisian.

Ghea merangkak mendekat, napasnya memburu. Di dalam tas itu, ia melihat barang-barang yang seharusnya terbakar dalam kecelakaan itu menurut cerita Adrian. Ada dompet kulit yang lecet, ponsel yang layarnya hancur namun tidak terbakar, dan yang paling penting: Sepatu bot detektifnya.

Sepatu itu kotor oleh lumpur kering, namun nampak masih utuh. Ghea meraih sepatu kanan, tangannya meraba bagian dalam tumit sepatu tersebut. Ada sesuatu yang keras dan tajam tertanam di dalam jahitan.

Ghea merobek jahitan itu dengan kuku tangannya. Sebuah benda logam kecil jatuh ke telapak tangannya.

Kunci Titanium.

Mata Ghea membelalak. Ia tidak tahu ini kunci untuk apa, tapi ia merasa benda ini adalah kunci menuju kebenaran yang sesungguhnya. Ingatannya berdenyut—ia ingat pernah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting di dalam sebuah loker rahasia sebelum pengejaran malam itu.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar di kejauhan. Adrian kembali lebih cepat dari biasanya.

"Sial!" umpat Ghea pelan.

Ia harus segera kembali. Dengan terburu-buru, Ghea mengantongi kunci titanium itu ke dalam saku gaunnya. Ia menutup kembali tas bukti itu, mengunci pintu gudang, dan meletakkan kunci di bawah pot bunga.

Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Ghea menyeret tubuhnya kembali ke kursi roda yang sudah disiapkan Bi Inah di dekat pintu teras. Ia mengatur napasnya, mencoba menghapus noda tanah di tangannya dengan ujung gaun putihnya.

Tepat saat Adrian melangkah masuk ke ruang tengah, Ghea sudah duduk tenang dengan buku Psikologi Kriminal di pangkuannya.

"Aku pulang, Sayang," suara Adrian menggema.

Adrian berjalan mendekati Ghea, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada wajah Ghea yang sedikit berkeringat. "Kau tampak kelelahan. Apa kau terlalu banyak membaca?"

Ghea tersenyum lemah, sebuah senyuman yang ia gunakan untuk menutupi detak jantungnya yang berpacu gila. "Buku ini sangat menarik, Adrian. Banyak hal yang baru kusadari tentang bagaimana seorang penjahat menyembunyikan jejaknya."

Adrian mengelus pipi Ghea, namun tatapannya tiba-tiba turun ke arah tangan Ghea. "Ada sedikit noda tanah di kuku jarimu, Ghea. Apa kau terjatuh?"

Ghea membeku. Udara di sekitarnya seolah mendadak hilang. Ia menatap tangannya, lalu menatap Adrian yang kini sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara rasa ingin tahu dan kecurigaan yang mematikan.

"Tadi... aku mencoba menyentuh bunga di pot teras," jawab Ghea cepat. "Aku ingin merasakan tekstur tanah. Kau bilang aku dulu suka berkebun, kan?"

Adrian terdiam sejenak. Keheningan itu terasa seperti selamanya. Kemudian, ia tertawa kecil dan mengambil sapu tangan dari sakunya. Ia membersihkan kuku Ghea dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang membersihkan senjata tajam.

"Lain kali, panggil aku jika kau ingin menyentuh tanah, Ghea. Aku tidak ingin tangan indahmu kotor. Mengerti?"

"Mengerti, Adrian," bisik Ghea.

Di dalam sakunya, jemari Ghea mencengkeram kunci titanium itu dengan kuat. Ia tahu, waktu bermainnya kini semakin sempit. Adrian mungkin mulai curiga, tapi Ghea kini punya kartu as di tangannya.

Ia bukan lagi sekadar mangsa yang amnesia. Ia adalah detektif yang sedang menyamar di rumah musuhnya sendiri.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!