Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan Elvan
Gian berusaha keras memikirkan alasan apa yang harus dia berikan di depan semua orang. Yang membuat orang tetap menikmati acara tanpa bergosip.
Gian tidak punya pilihan lain selain mengatakan bahwa acara pertunangan ditunda di hari lain, karena salah satu pasangan sedang sakit, lalu meminta semua tamu untuk menikmati jamuan. Alhasil tak banyak tamu yang mempertanyakan penundaan acara itu apa lagi bergosip. Semuanya menikmati hidangan dengan suka ria.
Elvan dan Miranda serta Louis dan istrinya mereka terlihat sedang berbincang. Kejadian itu membuat Elvan dan Louis yang awalnya bermusuhan, mereka terlihat akur sekarang.
Sementara Awan, dia sibuk mencari Hanin yang menghilang di tempat acara. Setelah berputar-putar dan bertanya pada pelayan di tempat acara, Awan akhirnya menemukannya juga.
Hanin tengah duduk di taman tak jauh dari area acara. Wajahnya murung dan sedih.
“Sedang memikirkan apa? Menyesal karena batal bertunangan dengan cowok ganteng ini?” tanya Awan penuh percaya diri, sembari duduk di samping Hanin.
“Masih tidak percaya Hani punya saudara lain selain Kak Satya,” jawab Hanin, meskipun sebenarnya bukan itu yang dia pikirkan saat ini. Hatinya masih memikirkan perbuatan Satya padanya di hari itu.
“Satya bukan kakakmu, aku yang kakak kandungmu.”
“Tapi selama 18 tahun dia sudah menjadi kakakku.”
“Aku sangat iri padanya, dia bukan saudaramu, tapi dia bisa dekat denganmu selama ini. Kalau aku tahu punya adik semanis dirimu, ke mana-mana akan selalu aku kawal.” Awan tak sadar mengatakan itu di depan Hanin yang kemudian tersenyum.
“Berarti Kak Awan sama pemikirannya dengan Kak Satya, bukankah dia juga seperti itu selama ini?”
“Tentu saja beda, dia terlalu over protektif.”
“Bagi Hani kalian berdua sama baiknya. Sekarang Kak Awan bisa dekat dengan Hani.”
Awan mengangkat tangannya, ingin mengusap kepala Hanin, tapi masih ragu-ragu takut Hanin tidak suka dan marah.
“Mulai sekarang aku yang akan menjagamu.”
Hanin senang mendengarnya, masih tidak mengira dua laki-laki yang selama ini saling bertengkar karena dirinya justru adalah orang-orang terdekatnya. Seharusnya dia beruntung bisa memiliki dua laki-laki yang keren seperti mereka.
“Kakak ceritakan bagaimana kau bisa mengira Hani ini adikmu dan melakukan tes DNA?” tanya Hanin kemudian.
“Harus diceritakan, ya?”
“Harus ..., ayo Kak! Ceritakan!” rengek Hanin sembari memeluk lengan Awan.
“Jadi, kejadiannya saat kau dirawat di rumah sakit dan aku menjengukmu. Waktu itu kau bercerita tentang bagaimana keluarga Om Elvan mengadopsimu. Saat kau menyebut nama nenek Halimah dan nama Annisa Rahma, aku mulai curiga, lalu saat memelukmu aku mengambil sehelai rambutmu lalu aku bawa untuk di tes.”
Hanin mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba dia merasakan secercah harapan di sana.
“Itu artinya Kakak tahu siapa ayah Hani, kak?”
Awan garuk-garuk kepala. “Kakak juga belum tahu, tapi jika dia ayahmu, dia ayahku juga, kan?” jawabnya. “Dan aku punya satu foto mereka.”
Awan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Mengambil selembar foto kecil di sela-sela dompet itu lalu memberikannya pada Hanin.
Hanin menerimanya dengan tangan gemetar. Melihat foto pria yang bersama Nissa, Hanin cukup lama memperhatikannya.
“Kakak yakin ini ayah?”
“Itu foto satu-satunya yang aku temukan di rumah nenek. Selain itu tidak ada lagi.”
Cukup lama Hanin memandangi foto itu. Pria di foto itu masih muda, saat itu mungkin berusia sekitar 25 atau 27 tahun. Diperkirakan sekarang usianya sekitar 45 tahun. Harusnya masih muda.
“Apa hanya dengan selembar foto ini aku bisa menemukannya?”
“Kita coba cari di internet.”
•••
Selama beberapa hari Hanin dan Awan sibuk mencari nama dari pemilik foto itu. Mereka tidak percaya keluarga mereka tidak ada yang tahu identitas suami Anissa. Awan dan Hanin juga kembali ke desa hanya untuk menanyakan nama pria itu. Nenek hanya tahu nama panggilannya saja yaitu, Aariz, dan Hanin langsung mencari nama itu di internet.
Sabtu sore Hanin baru kembali di antar Awan ke rumah.
“Kak Awan mampir dulu?” kata Hanin.
“Tidak, aku juga ingin pulang dan istirahat.”
“Baiklah, kakak hati-hati. Bay ...!” Hanin melangkah masuk.
Awan memperhatikan Hanin sampai gadis itu menghilang dibalik pintu. Sampai saat itu Awan masih tidak percaya ternyata gadis yang dia sukai adalah adik kandungnya sendiri. Keberuntungan atau kesialan, entah. Saat dirinya benar-benar menyukai dan ingin serius dengan seorang gadis justru dia memilih perempuan yang tidak bisa dinikahinya.
“Sepertinya aku harus mencari target gadis baru,” pikir Awan.
•••
Kesibukan Hanin membuat Hanin jarang bersama dengan Elvan dan Miranda. Mereka cemas Hanin kembali jatuh sakit. Hampir setiap hari pulang petang, begitu pulang langsung pergi ke kamarnya.
“Apa Hani masih belum menemukan identitas ayahnya?” tanya Elvan saat mereka di ruang keluarga.
“Sepertinya belum, Pah,” jawab Miranda. “Kasihan Hani, dia sangat ingin menemukan ayah kandungnya, tapi kita tidak bisa membantunya.”
“Bukankah itu lebih baik?”
“Maksud Papah?”
“Dia akan tetap bersama dengan kita selama dia tidak bertemu dengan ayahnya. Kalau dia menemukannya dia pasti pergi.” Ada kecemasan dalam nada bicaranya, mungkin juga sedikit egois.
“Kenapa Papa bicara seperti itu, Papa senang lihat Hani tiap hari sedih karena memikirkan ayah kandungnya?”
“Bukan seperti itu, papa pikir dia tidak perlu mencari ayahnya yang tidak bertanggungjawab itu. Kalau pria itu baik, dia pasti sudah mencarinya sejak dulu. Nenek Halimah bilang pria itu tidak pernah datang semenjak Nisa melahirkan.”
“Tetap saja Hani perlu tahu saat kelak dia menikah. Siapa yang akan menjadi walinya saat nikah nanti.”
“Bisa dilakukan penghulu.”
“Papa kenapa jadi keras kepala begini. Papa seharusnya terus bantu Hani untuk menemukan ayahnya. Meskipun kita yang telah merawatnya, tapi kita tidak bisa mengabaikan kepentingan Hani yang semakin dewasa.”
“Kalau pun tahu, papa tidak akan memberitahunya.”
“Maksud, Papa?” Miranda curiga dengan perkataan Elvan, suaminya tahu tentang ayah kandung Hanin, tapi tidak ingin memberi tahu Hanin, apa dirinya tidak salah dengar. “Papa tahu siapa ayah kandung Hanin?” lanjutnya bertanya.
“Papa tahu siapa ayahnya dari data di desa, tapi setelah papa pikirkan kembali Hanin pasti akan meninggalkan kita, jadi papa putuskan tidak memberitahu Hani masalah ini.”
Pembicaraan itu ternyata didengar oleh Hanin. Gadis itu berdiri di tangga saat mendengar pembicaraan mereka. Dia tidak mengira Papa Elvan tahu tentang ayahnya, tapi tidak memberitahu dirinya karena tidak ingin dirinya pergi dari keluarga itu.
Dengan langkah pelan, Hani turun menghampiri mereka berdua. Elvan tampak kaget dengan kehadiran Hanin, dan berharap Hanin tidak mendengar pembicaraan mereka. Dia pun berusaha bersikap wajar.
“Pah, Mah, ada yang ingin Hani bicarakan,” kata Hanin.
“Soal apa, Nak, duduklah!” pinta Miranda.
Hanin mengambil tempat duduk di sofa lain. Dia ragu-ragu, tapi dia harus tahu siapa ayah kandungnya. Melihat ke arah Elvan, pria itu masih bersikap tenang, entah bagaimana reaksinya saat Hanin menanyakan identitas ayahnya.
“Hani tahu papa menyimpan identitas ayah kandung Hanin, Hani butuh tahu siapa dia, Pah,” kata Hanin.
Dibalik koran yang dibacanya, wajah Elvan tampak kebingungan. Hanin sudah mendengar pembicaraan mereka.
“Setelah papa memberitahumu kamu pasti pergi mencarinya. Papa tidak ingin kamu pergi dari rumah ini,” jawabnya.
“Kenapa Papa tega melakukan itu pada Hani? Sejak kapan Papa mengetahuinya? Padahal Hani sudah pontang-panting tiap hari mencarinya, tapi Papa menyembunyikan itu dari Hani.” Tak terasa bulir air mata jatuh di pipinya.