Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di ruang kerjanya yang luas dan sunyi, Lucane duduk tegap di belakang meja hitam berkilap. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja, menatap beberapa berkas tebal yang berisi segala detail pernikahannya dengan Jema. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang samar ketidaksukaan yang ia sembunyikan rapat.
Semoga kau tidak menyulitkanku, batin Lucane.
Dia tidak pernah membayangkan harus menikah, apalagi dengan gadis bar-bar yang tidak bisa diam itu.
* * * *
Di luar mansion
Mobil hitam mewah yang ditumpangi Jema memasuki halaman mansion Alexander. Bangunan megah itu seperti gabungan kastil modern dan museum seni tinggi, dingin, mahal.
Jema ternganga sepersekian detik.
Sepersekian.
Setelah itu wajahnya kembali cuek seolah harga diri memaksa dia tidak boleh terlihat takjub.
Para penjaga berdiri tegap seperti patung hidup, para maid sibuk berlalu-lalang dengan seragam rapi. Semuanya teratur dan mewah, kontras dengan hati Jema yang sedang ingin meledak.
Liam membuka pintu mobil. “Silakan, Nona.”
Jema keluar dengan langkah elegan walaupun kepalanya penuh sumpah-serapah yang tidak jadi ia ucapkan. Tangannya menggenggam tas erat, siap "menyenggol" siapa pun yang bikin emosi.
Sepanjang lorong menuju ruang kerja Lucane, ia pura-pura tidak peduli, padahal matanya mencuri pandang ke ukiran dinding mahal, lampu kristal, dan karpet tebal yang mungkin harganya sama dengan apartemennya.
Ck. Menyebalkan sekali kalau bangunan begini membuatku kagum, pikirnya.
* * * *
Lucane duduk tenang. Terlalu tenang. Seperti predator yang sudah tahu mangsanya akan datang tepat waktu.
Begitu pintu dibuka, Jema masuk tanpa aba-aba, lalu menjatuhkan diri di kursi di hadapan Lucane dengan elegan tapi bar-bar. Kakinya disilangkan, dagu terangkat.
“Katakan apa maumu, Tuan. Aku harus bekerja. Jangan buang waktuku,” ketus Jema.
Liam terpaku.
Bagaimana dia bisa bicara begitu ke pria yang bisa membeli seluruh gedung kantornya?
Lucane mengangkat wajah, menatap Jema dengan ekspresi datar. Tidak tersinggung, tidak marah justru menilai.
Tanpa berkata sepatah kata pun, ia menyerahkan dokumen tebal ke hadapan Jema.
Gerakannya tenang, dominan, dan jelas.
“Pernikahan akan dilakukan dua hari lagi,” ucap Lucane santai namun tegas.
“Setelah ini aku akan membawamu bertemu Nana. Dan kau tidak perlu bekerja lagi. Aku akan membayar sepuluh kali lipat dari gajimu. Tugasmu hanya satu berperan sebagai Nyonya Muda Alexander di hadapan publik.”
"Apaa!!!" Jema langsung mendengus. “Ck!! Kau pikir kau siapa? Aku memang setuju menikah tapi tidak secepat ini. dan satu lagi Jika aku tidak bekerja lalu kau tidak memberi aku uang, bagaimana aku hidup?” Jema panjang lebar
Lucane menatapnya sebentar dan tersenyum kecil. Senyum tipis yang lebih mematikan daripada suara bentakan.
“Baca, Jema.” Ia mengetuk dokumen itu dengan ujung jarinya. “Di sana tertulis semuanya. Sangat jelas. Dan aku rasa… ini cukup menguntungkan.”
Jema meraih berkas itu. Semakin ia membaca, semakin alisnya terangkat tinggi.
“Uang bulanan tanpa limit…”
“Keamanan tingkat VVIP…?”
“Aset… atas namaku…?”
Ia membalik halaman seperti sedang melihat hal-hal absurd yang tak masuk akal.
“Apa ini…? Rumah pantai…? Mobil…? Saham!?”
Jema hampir jatuh dari kursinya.
Ini bukan kontrak pernikahan…
Ini seperti dia diberi kehidupan baru yang terlalu mewah untuk dipahami.
Dan itu membuatnya curiga.
Sangat curiga.
Ia menatap Lucane, matanya menyipit.
“Tuan… ini terlalu gila. Kau sebenarnya mau apa dariku?”
Lucane menyandarkan tubuhnya, menatap Jema dengan dingin, namun penuh dominasi.
“Yang kubutuhkan hanya kepatuhanmu di hadapan publik. Tidak lebih,” ucapnya datar. “Dan kau… kuperhitungkan ini sebagai pilihan terbaik.”
Jema merinding. Entah karena amarah, atau karena kalimat itu terdengar seperti ancaman halus.
Ruangan itu mendadak terasa sempit.
Sunyi. Tegang.
Dua karakter kuat duduk berhadapan seperti dua predator yang baru menyadari bahwa masing-masing tidak bisa dianggap remeh.
Dan permainan baru saja dimulai.
'Sial, bagaimana bisa aku menolak surga dunia ini' batin Jema
tapi tentu saja Jema tidak akan menyerah begitu saja.
"Baiklah, Tapi ingat sesuai perjanjian tidak ada kewajiban suami istri. aku tidak mengganggu urusan mu dan kau tidak mengganggu urusan ku" ucap Jema tegas
"Setuju" Lucane pun langsung setuju begitu saja karena menurut nya saat ini status lebih penting dari pada semua hal gila lain nya.
Lucane menyuruh Jema tanda tangan dan begitu juga dengan Lucane.
setelah semua nya selesai Lucane mengajak Jema kerumah Nana.
* * * *