Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Tiga hari telah berlalu.
Arion dan juga Felicia masih berada di rumah utama. Tadinya Arion ingin segera kembali ke apartemennya. Namun, Abraham terus saja membujuk putra dan menantunya itu untuk setidaknya berada di sana beberapa hari lagi.
Acara makan malam telah usai. Felicia melihat Cintia yang membantu para pelayan membawa piring kotor untuk di cuci. Felicia berdiri dan menghampiri Cintia. Dia berniat membantu kakak iparnya itu.
"Kak Cintia, biarkan Aku membantumu," ucap Felicia.
Cintia menatap tak suka pada Felicia. Bayangan Arion yang selalu berbicara romantis pada gadis itu membuatnya begitu cemburu.
"Tidak usah!" Cintia lantas langsung meninggalkan Felicia sendiri.
Felicia menggaruk tengkuknya sendiri. Heran dengan sikap kakak iparnya yang begitu ketus padanya padahal Felicia merasa tak berbuat salah padanya.
"Sebenarnya Dia kenapa? Apa mungkin Kakak ipar memang suka makan orang?" Felicia teringat ucapannya ketika bersama Arion beberapa hari lalu.
Felicia bergidik ngeri membayangkan hal tak masuk akal yang ada di kepalanya.
Felicia pun berniat untuk menyusul Arion. Namun, Arion, Papa dan Kenzo tak ada di ruang keluarga lagi.
"Kemana mereka semua?" gumam Felicia bingung.
"Apa Anda mencari Tuan Arion, Nona?" Salah seorang pelayan menghampirinya.
"Ya, apa Kau tahu kemana suamiku pergi?" tanya Felicia.
"Tadi Tuan Arion, Tuan Kenzo dan Tuan Abraham pergi ke ruang kerja, Nona. Tadi Tuan Arion berpesan untuk menyampaikannya kepada Anda," ucap pelayan.
Felicia mengangguk dengan lesu. Dia bingung harus melakukan apa. "Baiklah, terimakasih. Kalau begitu Aku ke kamar saja." Felicia langsung menuju ke kamar dengan gontai.
Felicia mengambil ponselnya dan memainkan sebuah permainan game kesukaannya untuk menutupi rasa bosannya.
Hingga sebuah chat masuk begitu saja. Membuat Felicia langsung tersenyum ketika mengetahui siapa yang mengirim pesan padanya.
'hai, Tuan Putri. Apa Kau merindukanku?'
Felicia langsung membalas chat tersebut.
'tentu saja. Kak Fero kemana saja? Apa Kakak sudah melupakan ku?' balas Felicia.
'tentu saja tidak, Tuan Putri. Aku hanya sedang sibuk. Jadi Aku tak sempat menghubungimu.'
Felicia kembali mengetik untuk membalasnya.
'sesibuk apa pekerjaan Kak Fero hingga tidak menghadiri pernikahan adikmu ini?' balas Felicia. Kali ini dia memberikan emoticon marah pada chat nya.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit ...
Tak ada balasan dari chat Felicia. Padahal gadis itu masih menunggunya.
"Haih...! Selalu saja sesibuk itu hingga Aku selalu di lupakannya!" Felicia menggerutu kesal.
Ting...
Notifikasi chat itu kembali berbunyi. Felicia langsung segera membuka pesan tersebut.
'jadi Kau sudah menikah?' tanya pria bernama Fero dalam pesannya.
Felicia buru-buru membalasnya. Dia terlalu bersemangat untuk mengatakan hal itu pada kakak sepupunya itu.
'tentu saja. Aku akan mengirimkan foto pernikahan ku padamu.' Felicia memilih foto pernikahannya dan mengirimkannya kepada Fero. Felicia tak sabar menunggu balasannya.
'aku patah hati. Kenapa Kau menikah lebih dulu? Bukankah waktu itu Aku sudah menyuruhmu untuk menungguku melamar mu? Kau curang!'
Felicia tertawa terbahak-bahak. Dia kembali membalasnya.
'bukankah suamiku tampan, Kak? Dia seperti pangeran impian ku.'
'tunggulah! Lusa Aku akan kembali dan memberikan hukuman untukmu.'
Felicia tersenyum senang mengetahui kakak sepupunya itu akan kembali.
"Aku pasti menunggumu, Kak," gumamnya tanpa membalas chat nya.
Felicia merasa senang sebentar lagi akan bertemu dengan Fero. Dia akan pasti akan memamerkan suami tampannya pada kakak sepupunya itu.
Felicia sangat merindukan Fero. Sosok Fero membuat Felicia selalu tersenyum. Walaupun Fero anak angkat dari pamannya, namun Felicia sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri. Hanya Fero lah kala itu yang selalu ada untuknya ketika Felicia terpuruk kehilangan sang Mama untuk selamanya.
Pintu kamar terbuka. Felicia segera menoleh melihat Arion yang mulai melangkah masuk.
"Kenapa belum tidur?" tanya Arion yang melihat Felicia.
"Aku bosan," jawab Felicia dengan nada manja.
"Tidurlah, sudah malam," ucap Arion. Pria itu membaringkan tubuhnya di atas sofa kemudian memejamkan mata.
Ya, selama beberapa hari di rumah utama, mereka tidur terpisah. Felicia di atas ranjang, sementara Arion berada di sofa.
Felicia terdiam sejenak menatap Arion di tempatnya. Dia merasa kasihan melihat Arion tidur di sofa yang sempit itu sementara dirinya berada di ranjang yang hangat.
"Apa tubuhmu tidak sakit tidur di sana?" tanya Felicia penasaran.
Arion yang tadinya memejamkan mata, kini membuka matanya menatap Felicia. "Apa Kau mau mencobanya? Kita bisa bertukar posisi. Kau di sofa dan Aku di ranjang itu," ucap Arion. Felicia menggeleng.
"Aku tidak mau! Kenapa Kau tidak tidur di sebelahku saja? Ranjang ini sangatlah luas. Kita bisa menggunakan pembatas di tengahnya." Felicia mencoba memberikan saran.
Arion menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana jika sewaktu-waktu Aku menerkammu? Apa Kau tidak takut?"
Felicia menelan salivanya dengan susah. Sejujurnya dia takut Arion melakukan hal itu. Namun Felicia begitu kasihan melihat Arion. Felicia yakin Arion tidak akan melakukan hal itu padanya.
"Aku percaya padamu," jawab Felicia.
Arion terdiam. Kemudian dia membawa bantalnya ke samping Felicia dan membaringkan tubuhnya.
Felicia merasa gugup. Namun, Dia segera mengambil guling untuk di jadikan pembatas mereka.
"Jangan melewati guling ini!" ucap Felicia canggung.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan melewati batas. Aku atau Kau," Arion tersenyum sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Felicia hanya mencebik dan ikut membaringkan tubuhnya. Keduanya kini menatap langit-langit kamar tersebut. Hingga Felicia kembali bersuara.
"Arion," panggil Felicia.
"Hemm...."
"Apa Kau sudah mulai jatuh cinta padaku?" tanya Felicia hati-hati. Dia berharap ada sedikit perubahan dalam usahanya.
"Usahamu masih kurang keras untuk membuat ku jatuh cinta." Arion menjawabnya tanpa menoleh ke arah Felicia. Pandangannya tetap tertuju pada langit-langit kamar itu.
Felicia mengerucutkan bibirnya. "Lalu apa lagi yang harus ku lakukan?" Felicia menghela napas dengan putus asa.
"Kenapa bertanya padaku? Jangan terlalu memikirkannya. Sebaiknya Kau tidur saja, ini sudah malam," ucap Arion. Dia tidak ingin mendengar Felicia terus berceloteh padanya.
Tercetus ide dalam otak Felicia. "Eumm... Bolehkah besok Aku ke kantormu?"
Arion langsung menoleh menatap Felicia. "Untuk apa? Aku tidak ingin Kau mengganggu pekerjaanku nantinya!"
"Tenang saja. Aku tidak akan menggangu pekerjaanmu. Aku akan datang di saat jam makan siang dan akan kembali setelah jam makan siang usai." Felicia pun menatap Arion dengan mengkedip-kedipkan matanya meminta persetujuan suaminya.
Arion menghela napas tak tahu harus beralasan apa. "Terserah Kau saja."
"Yeay... Akhirnya. Tunggu Aku besok, Suamiku." Felicia tersenyum semanis mungkin kepada Arion.
Arion hanya menggelengkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya. Arion memilih untuk membelakangi istri cerewetnya itu.
Felicia pun juga memutuskan untuk tidur. Dia lebih memilih untuk tidur menghadap ke arah suaminya dengan memandangi punggung itu hingga dirinya tertidur.
Keesokan harinya.
Semuanya berada di meja makan untuk sarapan. Cintia mencoba untuk menawarkan beberapa makanan hasil masakannya kepada Arion. Itu adalah makanan kesukaan Arion sejak dulu. Cintia sengaja membuatkannya untuk Arion.
"Arion, makanlah! Ini adalah makanan kesukaanmu. Kau pasti akan menyukainya." Cintia hendak mengambilkannya untuk Arion. Namun, segera di tolak oleh Arion.
"Tidak perlu mengambilkan untukku, kakak ipar. Biar istriku saja yang mengambilkan untukku."
Felicia segera tanggap. Sedari tadi dia melihat Cintia yang terus saja memperhatikan suaminya. Felicia merasa tak nyaman dengan hal itu.
"Tentu saja, Suamiku. Tapi sepertinya Kau sudah tidak menyukai makanan itu. Sebaiknya Kau makan saja ini. Ini lebih sehat untukmu." Felicia mengambilkan makanan lain untuk Arion. Walaupun sebenarnya Arion tak begitu suka dengan makanan itu, namun Arion membiarkannya. Arion tidak ingin Cintia terus berharap padanya. Arion tidak ingin menyakiti Kenzo.
Cintia merasa kesal. Namun dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Dia lalu mengambilkan makanan untuk suaminya sendiri.
---
Arion mengambil tas kerjanya di kamarnya. Setelah mengambilnya, Arion bergegas segera keluar dari sana.
Baru beberapa langkah, Arion melihat kakaknya yang keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat begitu emosi. Arion merasa heran akan hal itu.
Ketika langkahnya sampai di depan pintu kamar kakaknya, Arion terkejut ketika melihat Cintia dengan pakaian yang berantakan serta rambutnya yang acak-acakan. Gadis itu menangis terisak di dalam sana.
Pintu itu memang tak tertutup sempurna sehingga Arion dapat sedikit melihat apa yang ada didalamnya.
Arion terdiam. Dia memejamkan matanya dan mengambil napas panjang sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
'Aku tidak akan lagi kembali ke masalalu itu. Ini adalah keputusanmu yang lebih memilih menikah dengan kakakku, Cintia.'