Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Kosong
Pintu rumah terbuka dengan suara berderit yang biasa, tapi kali ini derit itu terdengar seperti jeritan di telinga Arman. Ia melangkah masuk, membawa oleh-oleh berupa kue kering yang dibelikan Nadia—sebuah upaya canggung untuk menunjukkan itikad baik. Tapi yang menyambutnya bukan Rani dengan wajah masam, bukan Aldi yang berlari memeluk kakinya. Hanya keheningan.
"Ran?" panggilnya, suara menggema di ruang kosong.
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan ke dapur. Kosong. Kamar mandi. Kosong. Kamar tidur. Kosong. Lemari pakaian terbuka, memperlihatkan rak-rak yang hanya berisi baju-baju lamanya. Pakaian Rani dan Aldi raib. Mainan Aldi yang biasanya berserakan di ruang tamu, juga tidak ada. Rumah itu terasa asing, seperti bukan rumahnya lagi.
Di meja makan, secarik kertas terlipat rapi, ditindih gelas bekas minum. Tangan Arman gemetar saat mengambilnya. Ia mengenali tulisan Rani—bulat dan rapi, seperti guru SD.
"Arman,
Aku dan Aldi pulang ke rumah orang tua. Jangan cari kami. Aku perlu waktu. Mungkin banyak waktu. Urus saja istri barumu, karena di sini aku hanya jadi penghalang kebahagiaanmu.
Rani."
Hanya itu. Tidak ada tanda tangan panjang, tidak ada penjelasan. Singkat, seperti putusan hakim.
"Ran!" teriak Arman, seolah-olah Rani masih bersembunyi di suatu tempat. "RANI!"
Keheningan lagi. Hanya suara kulkas yang berdengung di dapur.
Ia mengeluarkan ponsel, jari-jarinya menekan nomor Rani dengan cepat. Panggilan tidak tersambung. Dicoba lagi. Lagi. Lagi. Semua sama, nomor yang Anda hubungi tidak aktif. Ia mencoba WhatsApp. Pesannya hanya centang satu. Tidak terbaca.
Panik mulai merayap. Ia menelepon rumah mertua di kampung. Berkali-kali. Tidak ada yang mengangkat. Ia menelepon saudara Rani. Juga tidak diangkat. Seperti mereka semua telah bersekongkol untuk memutus komunikasi dengannya.
Arman duduk di kursi yang sama tempat Rani duduk semalam sebelum ledakan itu. Ia memandangi surat itu lagi, membaca setiap kata berulang kali. Urus saja istri barumu. Kalimat itu seperti sembilu.
---
Ponselnya berdering. Nadia.
"Sayang, udah sampe rumah? Gimana?" suara Nadia lembut, penuh perhatian.
"Rani pergi," jawab Arman, suaranya serak. "Dia bawa Aldi. Pulang ke rumah orang tuanya."
"Oh tidak... Arman, aku turut sedih." Nadia terdiam sejenak. "Kamu mau ke sana? Menjemputnya?"
"Iya. Aku harus ke sana. Aku minta ijin kerja beberapa hari."
"Tentu, Sayang. Ambil waktu yang kamu butuhkan. Aku di sini kalau kamu butuh cerita."
"Makasih, Nad."
Arman menutup telepon, lalu melangkah keluar. Ia harus segera ke kampung. Sebelum semuanya terlambat.
---
Perjalanan ke kampung memakan waktu hampir lima jam. Arman naik bus karena motornya tidak kuat diajak perjalanan jauh. Sepanjang jalan, pikirannya kalut.
Ia membayangkan bertemu Rani, memeluk Aldi, membawa mereka pulang. Tapi di saat yang sama, ia juga membayangkan kemarahan mertua, caci maki ipar-iparnya. Ia sudah bisa menebak, ini tidak akan mudah.
Bus tiba di terminal kota kecil menjelang maghrib. Arman turun, melanjutkan perjalanan dengan ojek ke desa tempat mertuanya tinggal. Rumah itu masih sama seperti dulu—rumah panggung kayu dengan cat hijau pudar, halaman luas dengan pohon mangga di depan.
Tapi kali ini, suasana terasa berbeda. Biasanya, anak-anak tetangga akan menyapanya. Kali ini, mereka hanya memandang dari jauh, berbisik-bisik.
Arman melangkah naik ke teras. Dari dalam, terdengar suara tv dan obrolan. Ia mengetuk pintu.
Suara langkah kaki. Pintu dibuka oleh ibu mertuanya, seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul dan wajah yang biasanya ramah. Kali ini, wajah itu beku.
"Bu, Assalamualaikum," sapa Arman, berusaha tersenyum.
"Waalaikumsalam." Jawabannya datar, tanpa senyum. "Mau apa?"
"Saya mau ketemu Rani dan Aldi, Bu."
Ibu mertuanya memandangnya lama, lalu berbalik dan masuk tanpa mengatakan apa-apa, membiarkan pintu terbuka. Arman mengartikannya sebagai izin masuk. Ia melangkah, hatinya berdebar.
Di ruang tengah, seluruh keluarga besar Rani berkumpul. Bapak mertua duduk di kursi utama, wajahnya merah padam. Dua orang kakak Rani—laki-laki keduanya—duduk di sampingnya dengan tangan bersedekap, memandang Arman dengan tatapan bermusuhan. Beberapa saudara lain duduk di belakang. Ini bukan pertemuan keluarga biasa. Ini adalah pengadilan.
"Assalamualaikum," ucap Arman lagi, mencoba tetap tenang.
Bapak mertua tidak menjawab salam. Ia langsung berkata, suaranya berat, "Jadi, benar apa kata Rani? Kamu nikah lagi?"
Arman menelan ludah. "Pak, saya bisa jelasin..."
"Nggak usah jelasin! Jawab! Iya apa tidak?" potong kakak pertama, suaranya keras.
"Iya, Pak. Tapi..."
"TAPI APA?!" Bapak mertua membentak, membuat Arman tersentak. "Kamu pikir Rani itu apa? Pembantu? Mainan? Kamu tinggalin di rumah, kamu duit-in dikit, lalu kamu cari perempuan lain?!"
"Pak, dengerin saya dulu..." Arman mencoba membela diri. "Saya nikah lagi bukan karena nggak sayang Rani. Tapi karena... karena ekonomi. Istri saya yang baru, dia punya usaha, dia bisa bantu..."
"BANTU?!" kakak kedua tertawa getir. "Jadi lo butuh bantuan ekonomi, lo cari istri lain? Istri lo yang pertama itu apa? Selama tujuh tahun dia banting tulang jaga warung, bikin kue, ngurus anak, itu bukan bantuan namanya?"
"Saya nggak bilang gitu, Kang. Saya hanya..."
"Kamu hanya laki-laki pengecut!" Bapak mertua memotong, berdiri dari kursinya. Wajahnya memerah, urat di lehernya menegang.
"Dulu kamu datang ke sini, minta restu nikah sama Rani. Kamu bilang mau jaga dia, mau bahagiain dia. Lihat sekarang! Dia pulang ke sini dengan mata bengkak, anak nangis-nangis minta bapaknya, dan kamu malah punya istri baru!"
Arman tertunduk. Kata-kata itu tepat mengenai sasaran. Tapi di dalam hatinya, ada perlawanan. Mereka nggak ngerti, pikirnya. Mereka nggak tahu gimana susahnya hidup di Jakarta. Mereka nggak tahu gimana dinginnya Rani akhir-akhir ini.
"Pak, saya hanya ingin ketemu Rani. Saya ingin ketemu Aldi. Anak saya," ucap Arman, mencoba tenang.
"Rani nggak mau ketemu kamu," jawab ibu mertua dari dapur. "Sudah dia bilang."
"Tapi Aldi... saya harus ketemu Aldi."
"Dia anak Rani juga. Dan sekarang dia sama ibunya," sambar kakak pertama. "Kalau Rani belum siap, kamu nggak usah maksa."
Arman merasa darahnya mendidih. "Jadi saya nggak punya hak sama anak saya?"
"Hak? Kamu bicara hak?" Bapak mertua mendekat, menunjuk-nunjuk wajah Arman.
"Kamu tinggali dia di rumah dengan status digantung, kamu kawin siri di belakangnya, kamu bohongi dia berbulan-bulan, lalu kamu bicara hak? Enak banget, ya?"
"Tapi saya tetap bapaknya Aldi!"
"Bapak macam apa yang ninggalin anaknya demi perempuan lain?" teriak kakak kedua.
Pertengkaran itu terus berlangsung. Arman berusaha menjelaskan sudut pandangnya—bahwa Nadia bukan perusak rumah tangga, bahwa ia tetap menafkahi Rani, bahwa ia hanya mencari solusi ekonomi—tapi semua kata-katanya dipatahkan. Keluarga Rani sudah terlanjur marah, dan tidak ada penjelasan yang bisa meredakannya.
Dari balik pintu kamar, terdengar suara tangis anak kecil. Aldi.
"Aldi!" teriak Arman spontan, melangkah ke arah kamar.
Tapi dua kakak Rani langsung menghadangnya. "Jangan! Kamu nggak boleh masuk!"
"Aldi panggil bapaknya! Lo denger sendiri!" sergah Arman, matanya merah.
"Rani yang jagain dia, bukan lo!"
Mereka berdebat, hampir adu fisik. Di dalam kamar, tangis Aldi semakin keras. "Bapak! Bapak!"
Suara itu seperti pisau yang memilin jantung Arman. Ia mendorong, berusaha melewati hadangan, tapi kakak-kakak Rani lebih kuat. Mereka mendorongnya mundur, hampir membuatnya jatuh.
"KELUAR!" teriak Bapak mertua. "KELUAR DARI RUMAHKU! Sebelum saya panggil warga dan kita selesaikan dengan cara kampung!"
Ancaman itu membuat Arman tersadar. Ia melihat ke sekeliling—wajah-wajah penuh kebencian, pintu kamar yang tertutup rapat, dan suara tangis Aldi yang semakin sayup. Ia kalah. Di sini, ia tidak punya kuasa apa-apa.
Dengan langkah gontai, Arman keluar dari rumah itu. Pintu dibanting di belakangnya, keras, seperti menutup semua harapan.
Di luar, malam sudah turun. Lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu. Arman duduk di bawah pohon mangga, menatap rumah yang tertutup rapat.
Dari kejauhan, ia masih bisa mendengar tangis Aldi yang perlahan mereda. Dan di antara suara jangkrik, ia mendengar suara Rani yang membujuk anaknya, "Udah, Nak, diam. Bapak udah pergi."
Arman menunduk, air matanya jatuh membasahi tanah kering. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan apa arti kehilangan. Bukan kehilangan rumah, bukan kehilangan istri, tapi kehilangan hak untuk memeluk anaknya sendiri.
Ponselnya bergetar. Nadia.
[Nadia] : Gimana, Sayang? Sudah ketemu Rani?
Arman menatap layar itu lama. Lalu mengetik balasan pendek:
[Arman] : Belum. Mungkin nggak akan bisa. Aku butuh waktu sendiri dulu. Maaf.
Ia mematikan ponsel, menyimpannya di saku. Malam itu, ia tidur di masjid desa, beralas sajadah tua, ditemani suara azan Isya yang sayup. Dan dalam tidurnya yang gelisah, ia bermimpi tentang Aldi yang berlari menjauh, tertawa, tapi tak pernah bisa ia kejar.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.