Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ritual Penebusan Dosa
Kembalinya Reno ke kantor cabang Bell-Lau Technology disambut dengan keheningan yang mencekam. Jika dulu Reno adalah pemimpin yang dingin dan penuh perhitungan, kini ia adalah badai yang tak terduga. Para karyawan bagai berjalan di atas kulit telur; satu kesalahan kecil pada laporan keuangan atau keterlambatan teknis bisa memicu amarah Reno yang meledak-ledak.
Ayahnya, yang selama tiga bulan ini turun tangan langsung dari Jerman untuk menjaga stabilitas perusahaan, hanya bisa memantau dengan tatapan prihatin. Ia tahu, putranya sedang berperang dengan masa lalu dan rasa bersalah yang belum tuntas.
"Saya nggak butuh alasan kenapa server ini lambat! Saya butuh solusi sekarang atau kalian semua angkat kaki!" bentak Reno di ruang rapat, melempar map dokumen ke atas meja hingga suaranya bergema ke seluruh koridor.
Abel, yang kini sering mendampingi Reno sebagai analis sekaligus penengah, hanya bisa menghela napas panjang. Ia sering menjadi pemadam kebakaran setelah Reno keluar dari ruangan dengan wajah merah padam. Abel akan mendekati para staf, memberikan senyum penyemangat, dan meluruskan instruksi Reno yang terkadang terlalu kasar.
Namun, ada satu perubahan drastis yang disadari oleh seluruh penghuni kantor. Tepat pukul 16.00, tak peduli seberapa genting rapat yang sedang berlangsung atau berapa banyak investor yang mengantre, Reno akan menghentikan segalanya.
"Rapat selesai. Sisanya kirim ke email saya," ucapnya dingin sambil menyambar kunci mobil.
Transformasi Reno terjadi begitu ia melewati pintu rumah. Sosok pemimpin yang kejam itu luntur seketika saat ia mendengar suara ocehan kecil atau tangisan Farel.
Reno tidak lagi membiarkan asisten rumah tangga atau bahkan Abel mengurus kebutuhan utama Farel di sore hari. Begitu sampai, ia akan langsung mencuci tangan, mengganti pakaiannya dengan kaus rumah yang lembut, dan mengambil Farel dari gendongan Abel.
"Sini, jagoan Papa..." bisik Reno. Suaranya yang tadi menggelegar di kantor, kini melembut seperti sutra.
Reno akan duduk di kursi goyang di kamar bayi yang masih beraroma bunga chamomile—pilihan mendiang Sarah. Ia menggendong Farel dengan sangat posesif, seolah jika ia lengah sedikit saja, bayi itu akan menghilang seperti ibunya. Ia mengajak Farel berbicara, menceritakan tentang harinya, menceritakan betapa cantiknya Sarah, atau sekadar membiarkan jari mungil Farel menggenggam jempolnya.
"Maafin Papa ya, hari ini Papa merasa lelah dan marah-marah," gumam Reno sambil mengecup dahi Farel. "Papa cuma mau bangun tempat yang aman buat kamu, biar kamu nggak pernah kekurangan apa pun."
Abel sering berdiri di ambang pintu, memerhatikan kakaknya yang sedang menimang Farel. Di satu sisi, ia lega Reno memiliki tujuan hidup kembali. Namun di sisi lain, Abel khawatir. Reno tampak sedang mencoba membayar hutang waktunya kepada Sarah melalui Farel, namun dengan cara yang salah sehingga menguras emosinya sendiri.
Suatu sore, saat Reno sedang mencoba menidurkan Farel, Abel mendekat dan meletakkan secangkir kopi pahit di meja samping.
"Kak, Ayah bilang investor dari AR-Tech minta waktu buat sinkronisasi data besok sore jam lima. Mereka minta Kakak hadir," ucap Abel hati-hati.
Reno tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada Farel yang mulai terlelap. "Tolak. Jam lima itu jadwal Farel mandi dan minum susu. Suruh mereka kirim perwakilan ke sini kalau mendesak, atau nggak usah sama sekali."
Abel terdiam. Penolakan Reno yang keras kepala ini bisa saja memicu konflik bisnis, tapi bagi Reno sekarang, satu senyuman Farel jauh lebih berharga daripada kontrak milyaran rupiah.
"Tapi Kak, ini soal pengembangan alat deteksi jantung bayi yang dulu Kak Sarah impikan..."
Gerakan tangan Reno terhenti. Nama Sarah selalu menjadi tombol darurat dalam hidupnya. Ia menarik napas panjang, menatap wajah tenang anaknya.
"Oke," jawab Reno akhirnya, suaranya parau. "Besok sore. Tapi di rumah ini. Gue nggak mau ninggalin Farel lebih lama lagi."
Besok sore, perwakilan AR-Tech akan datang ke rumah keluarga Laurent. Reno tidak tahu bahwa yang akan datang bukan sekadar manajer biasa, melainkan Arslan sendiri yang membawa berkas riset medis Sarah.
......................
Sore itu, langit Ibu Kota nampak mendung, seolah turut merasakan aura tegang yang menyelimuti kediaman Laurent. Reno sudah duduk di ruang tamu dengan kemeja yang lengannya digulung, sementara Farel tertidur pulas dalam ayunan bayi elektrik di sudut ruangan yang masih terjangkau oleh pandangannya.
Di sisi lain kota, Arslan sedang merapikan jasnya, bersiap menuju pertemuan yang menurut sekretarisnya sangat krusial untuk masa depan proyek alat medis AR-Tech. Namun, tepat saat ia hendak melangkah menuju parkiran, ponsel di sakunya bergetar hebat.
"Dokter Arslan! Pasien darurat di bangsal Melati. Anak usia 10 bulan, gagal napas akut karena obstruksi benda asing dan ada komplikasi jantung bawaan. Tim bedah butuh keahlian Anda sekarang!" suara perawat di seberang telepon terdengar panik.
Langkah Arslan terhenti. Sebagai pemimpin, ia punya janji bisnis. Tapi sebagai dokter spesialis anak, ia punya sumpah yang jauh lebih tinggi. Tanpa pikir panjang, Arslan menelepon asisten pribadinya, Ega.
"Ega, batalkan semua jadwalku. Kamu pergi ke kediaman Dirut Bell-Lau sekarang. Bawa semua berkas kerjasama teknis dan sampaikan permohonan maafku karena ada operasi darurat yang tidak bisa ditinggalkan. Lakukan yang terbaik, jangan sampai kerjasama ini batal," perintah Arslan cepat sambil berlari menuju ruang ganti medis.
Tepat pukul lima sore, bel rumah berbunyi. Abel yang membukakan pintu. Ia menyambutnya dengan ramah.
"Selamat sore. Saya Ega, asisten pribadi dari CEO AR-Tech. Mohon maaf sebesar-besarnya, pimpinan kami tiba-tiba ada keadaan darurat di rumah sakit dan tidak bisa hadir secara langsung," ujar Ega dengan sopan.
Reno yang mendengar suara itu menghampiri pintu dengan wajah yang kembali mengeras. "Darurat? Dia pikir waktu saya tidak berharga? Saya sudah meluangkan waktu di jam utama saya bersama anak saya."
Ega tertunduk, merasa terintimidasi oleh aura dingin Reno. "Pimpinan kami juga seorang dokter spesialis anak, Pak. Ada operasi mendadak pada bayi berusia sepuluh bulan. Beliau tidak punya pilihan lain."
Mendengar kata bayi sepuluh bulan dan operasi, kemarahan Reno sedikit mereda. Bayangan Sarah yang juga seorang dokter membuatnya terdiam. Ia teringat betapa seringnya Sarah meninggalkan meja makan demi pasiennya.
"Cepat duduk," ucap Reno pendek.
Mereka duduk di ruang tamu. Rian mulai memaparkan berkas-berkas teknis. Abel duduk di samping Reno, membantu menganalisis data psikologi pengguna yang dibutuhkan untuk alat kesehatan tersebut.
"Alat ini... idenya sangat brilian," gumam Abel saat membaca dokumen tersebut. "Sistem peringatan dini untuk ritme jantung bayi yang tidak teratur. Ini persis seperti apa yang sering dikeluhkan Kak Sarah dulu saat beliau bertugas."
Reno tertegun melihat logo AR-Tech di sudut kertas. Di bawahnya tertera nama Founder: A.Raendra, Sp. A(BA). Reno memicingkan mata. Nama belakang itu terasa familiar, namun pikirannya terlalu penuh dengan urusan Farel sehingga ia tidak sempat menggali memori masa lalu lebih dalam.
"Siapa nama pimpinanmu?" tanya Reno tiba-tiba, memotong penjelasan Ega.
"Pak Arslan, Pak. Arslan Raendra," jawab Ega jujur.
Udara di ruangan itu seolah tersedot keluar. Reno membeku. Ia melihat ke arah Abel sekilas, nampaknya adiknya itu tidak mendengar ucapan tersebut.
Reno mengepalkan tangannya di bawah meja. Matanya berkilat marah, namun juga bingung. "Jadi... dia yang punya perusahaan ini?"
"Iya, Pak. Apa Anda mengenal beliau?" tanya Ega polos.
Reno tidak menjawab. Ia kemudian menoleh ke arah ayunan Farel yang masih bergerak perlahan. Pria yang paling ia benci di masa lalu, kini adalah pria yang menciptakan teknologi yang bisa saja menyelamatkan nyawa bayi-bayi seperti Farel—dan mungkin, pria itu pulalah yang saat ini sedang berjuang menyelamatkan nyawa anak lain di meja operasi.
Reno berdiri, membuat Ega tersentak kaget. "Abel, urus sisa detailnya dengan dia. Gue mau liat Farel."
Reno berjalan cepat menuju kamar mandi, mengunci pintu, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia sangat ingin membatalkan kerjasama ini sekarang juga. Namun, ia melihat foto Sarah yang tersenyum di dompetnya yang tergeletak di wastafel. Ia tahu, alat yang sedang dikembangkan Arslan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia medis.
Sementara itu di lobi, Abel menatap Ega dengan tatapan tenang. "Mohon maaf atas sikap Pak Reno, beliau memang sedang dalam emosi yang tidak stabil. Kerjasama ini kami terima dan menilik dari riset yang ada, kita akan ke laboratorium pusat untuk merealisasikan alat tersebut."
"Baik, akan saya sampaikan pada pimpinan kami. Untuk jadwalnya bagaimana, Bu?" Tanya Ega kemudian.
"Laboratorium pusat ada di Jerman. Suruh pimpinan lo utus orang yang berkompeten untuk perjalanan dinas. Gue tidak ingin pimpinan lo yang datang." Seru Reno tegas.
"Kenapa, Pak?"
"Tidak perlu protes, kalo mau kerjasama ini tetap terjalin ikuti kata gue, kalo gak, ya udah batalkan kerjasamanya." Reno berlalu meninggalkan Ega yang terdiam tak mengerti.