Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Mama goreng ayam, ya? Baunya enak banget," celetuk Vita ketika memasuki dapur. Harum aroma ayam goreng yang membuatnya meninggalkan televisi dan menghampiri sang ibu di dapur.
Viola tersenyum, kepalanya menoleh. "Iya, mau kan makan sama ayam goreng?"
"Mau!" seru Vita. Ia duduk manis di meja makan, menunggu mamanya selesai menggoreng ayam.
"Tunggu ya, Cantik. Ayamnya sebentar lagi matang."
"Okay mama!" Vita tertawa.
Viola tersenyum lagi. Ia menatap beberapa potong paha ayam yang berada di atas wajan. Bahkan makanan kesukaan Vita, sama seperti dengan Rasta. Hampir semua yang ada di diri Vita, mirip dengan Rasta. Sampai hati pria itu tidak mau mengakui kehadiran Vita.
"Ayam goreng sudah jadi!" seru Viola, mengangkat paha ayam goreng yang sudah matang sempurna dari penggorengan.
"Yeay!!"
"Mau makan sendiri atau disuapi?"
"Disuapin mama dong!"
Viola tertawa sambil mengambilkan nasi hangat dan sepotong paha ayam. Vita belum telaten jika harus makan dengan tangannya sendiri. itu sebabnya, Viola masih rutin menyuapinya.
"Heeemmmm ... Masakan mama emang paling the best!" seru Vita. "Makasih ya, mama."
"Sama-sama, Sayang...." Viola membalas dengan memberi cubitan gemas di salah satu pipi chubby Vita. Sebagai seorang ibu, hasil masakannya diberi pujian oleh sang anak, rasanya seolah ia sudah memenangkan lomba memasak.
"Mama semalam pulang jam berapa?"
"Mama pulang jam sebelas kayaknya. Kan mama harus nunggu hujan reda dulu."
"Kenapa sih mama harus kerja terus? Pulang malam terus?" cecar Vita, di mulutnya sedang penuh nasi.
"Mama kerja kan biar dapat uang. Uangnya juga buat Vita juga. Buat beli nasi, ayam goreng, es krim, buat jajan Vita, buat bayar listrik juga biar Vita bisa terus nonton tv. Dan ... Buat sekolahnya Vita."
Vita terdiam, mulutnya sibuk mengunyah. Entah apa yang sedang balita itu pikirkan, Viola tidak bisa menebak-nebak.
"Tapi, kok mamanya Alina nggak kerja seperti mama?" Wajah Vita menunjukkan keheranan.
Viola tahu, Alina adalah anak tetangga depan rumah. Karena bertetangga, kemungkinan Vita sering main dengan Alina. Mereka juga sebaya.
"Mamanya Alina selalu di rumah, nemenin Alina terus. Alina bercerita, katanya yang mencarikan uang buat Alina jajan itu, papanya. Om Bagas itu loh, Ma," tutur Vita. Viola sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Vita.
"Vita ... Nggak punya papa kayak Alina punya Om Bagas, ya? Biar ada yang cariin uang, dan mama bisa di rumah aja kayak mamanya Alina," sambung Vita dengan tatapan polosnya.
Viola menarik napas pendek. Baru saja kemarin Widia mewanti-wanti jika seandainya Vita menanyakan tentang papa. Tak sangka, kejadiannya secepat ini. Viola kira, Vita belum paham jika seharusnya seorang anak itu mempunyai mama dan juga ayah.
Dia pikir, Viola bisa memberikan jawaban simple. Sesimpel bilang, "ayah Vita sudah meninggal. Nyatanya, Viola tidak bisa memberikan jawaban yang sudah terencana sejak jauh-jauh hari.
Lidahnya kelu. Bingung, Viola harus memberi jawaban apa? Dia harus menjelaskan bagaimana?
"Eum ... Vita punya papa, kok," jawab Viola ragu sambil memasang senyum terpaksa di bibirnya.
"Kalau Vita punya papa, kenapa Vita nggak pernah liat papa?"
Viola diam sesaat, otaknya sedang berpikir susunan kalimat yang dapat dicerna oleh anak kecil.
"Begini ... Vita dengerin mama ya? Alina sama Vita itu sama. Sama-sama punya mama dan papa. Vita juga punya papa, kok. Bedanya, kalau mama sama papanya Alina masih bisa hidup bareng, mama sama papanya Vita nggak bisa karena mama sama papa udah berpisah. Papa Vita nggak bisa tinggal di rumah ini bareng sama Vita dan mama," tutur Viola dengan suara lembut dan sejelas mungkin."
"Kenapa mama sama papa harus berpisah?"
Viola menggigit bibir. "Karena mama sama papa udah nggak cocok, Sayang. Kita banyak perbedaan. Misalnya nih, kalau mau tidur, mama lebih suka lampunya enggak dimatiin, tapi papa lebih suka kalau lampu kamarnya dimatiin. Kalau dipaksain tidur di kamar yang sama, nanti kita jadi bingung deh. Kamarnya mau terang atau gelap," terangnya.
Vita nampak sedang berpikir. Entah dia paham atau tidak. Viola berharap, semoga tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya semakin kebingungan.
"Kan bisa tidur di kamar yang terpisah. Mama tidur sama Vita, lampunya nggak usah dimatiin, papa bisa tidur di kamar kosong itu, lampunya bisa dimatiin."
Viola tersenyum, lalu menjelaskan lagi, "Iya, Vita ... Makanya itu mama sama papa nggak bisa tinggal bareng meskipun tidur di kamar yang terpisah. Karena masih banyak perbedaan lainnya yang belum bisa Vita pahami."
Vita diam sejenak. "Em ... Jadi, papa Vita ada di mana, Ma? Kenapa Vita nggak pernah lihat papa."
"Ada. Nanti suatu saat Vita bakalan ketemu kok sama papa. Mending sekarang Vita cepat-cepat habiskan makanannya, karena hari ini kita mau daftar ke sekolah. Mau?"
Pengalihan pembicaraan itu rupanya berhasil membuat Vita melupakan keinginan tahuannya tentang papa.
"Mau, Ma. Sekolah di tempat yang sama kayak Alina, ya, Ma."
"Okay. Hehehehe."
Widia benar. Viola tidak boleh menjauhkan Vita dari Rasta. Dia harus memperjuangkan haknya Vita untuk mendapatkan pengakuan dan kasih sayang dari papa kandungnya.
Karena Vita bisa hadir di dunia ini murni karena cinta.
*
Rasta mencari-cari kehadiran Viola di restoran, namun wanita itu tak ditemukan di sudut mana pun.
"Viola hari ini libur? Atau dia izin gak masuk?" tanyanya pada Gia, sang manager.
"Viola hari ini berangkat siang, Pak. Kan setiap hari Senin pergantian shift," tutur Gia.
"Ooh," Rasta mengangguk. "oke."
Mendadak perasaannya jadi lega setelah tahu alasan tidak adanya Viola pagi itu. Ia pikir Viola libur atau izin, atau lebih parahnya dia mogok berangkat gara-gara terus ditindas oleh Rasta.
Rasta sebenarnya sangat penasaran bagaimana hidup Viola yang sekarang. Apakah dia masih bersama dengan lelaki selingkuhannya itu? Dan bagaimana keadaan anak yang dulu Viola kandung?
Mendadak, muncul di kepalanya pertanyaan Baim waktu itu.
Bagaimana kalau anak yang dikandung Viola itu adalah hasil dari benihnya? Anak kandungnya?
Tidak! Tidak mungkin! Rasta menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rasta ingin mengenyahkan Viola dari pikirannya, namun semakin ia berusaha, bayangan Viola semakin tajam. Diikuti dengan perasaan yang tidak bisa dimengerti oleh Rasta.
*
Berkat mengunjungi sekolah barunya, Vita benar-benar melupakan pertanyaannya tentang papa. Viola merasa lega, setidaknya ia tidak perlu lagi memikirkan jawaban yang bisa dimengerti Vita.
Setelah selesai mendaftar di sekolah TK dan bermain sebentar di area bermain sekolah, Viola mengajak Vita ke minimarket.
Vita sangat senang karena bulan depan dia akan masuk ke sekolah. Dia banyak berceloteh tentang sekolah barunya yang menurutnya bagus karena banyak mainannya, katanya.
"Makanya Vita jangan ngambek kalau mama berangkat kerja. Mama kan cari uang buat bayar sekolah Vita."
Vita menjawab, "Iya, Mama ... Hehehehe. Vita boleh beli coklat?"
"Boleh, ambil aja."
"Asyik. Mama banyak uang."
Dasar anak itu! Viola menggeleng sambil tersenyum geli. Ia pergi ke kasir, membayar semua barang belanjaannya.
"Udah selesai. Yuk pulang, abis ini mama harus berangkat kerja lagi."
"Oke."
Viola menggandeng tangan kecil Vita. Langkahnya mendadak terhenti tepat setelah ia melewati pintu kaca minimarket. Tubuhnya mematung di tempat. Jantungnya berdetak kencang.
Begitu pun dengan Rasta yang tidak berkutik saat tak sengaja berpapasan dengan Viola di depan minimarket.
lalu, pandangan Rasta jatuh tepat kepada anak kecil yang sedang Viola gandeng.
Anak perempuan berusia empat tahun yang juga sedang balas menatapnya dengan polos.
Viola memang ingin mempertemukan Vita dan Rasta. Tetapi, pertemuan mereka siang itu justru tidak direncanakan.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu