Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Tanpa Mandat
Sejak malam kejadian bersama Wei Guojin, suasana Selendang Merah berubah drastis. Tamu tetap datang silih berganti, lentera merah tetap menyala hingga larut, musik dan tawa masih terdengar dari balik tirai sutra. Hanya saja, ada kehati-hatian baru yang menyelip di setiap langkah orang-orang di rumah bordil itu.
Mereka yang masuk sering melirik ke arah pintu. Tatapan singkat, lalu cepat dialihkan. Ada bisikan yang tertangkap telinga seperti,
“Penjaga baru itu kuat.”
“Jangan sekali-sekali cari masalah dengan orang itu.”
Beberapa tamu memilih duduk lebih tenang, menahan tindakan yang tidak perlu, menahan tangan serta mulut mereka ketika berbicara. Madam Luo, dengan intuisi bisnisnya yang tajam, hanya tersenyum puas. Ketertiban adalah kemewahan di Distrik Hongluo, dan Li Shen telah memberikannya secara cuma-cuma.
Li Shen tetap bekerja seperti biasa. Pagi hari ia membersihkan halaman dan gudang. Siangnya mengangkat peti sisa kiriman semalam. Saat malam turun, ia berdiri di pintu depan Selendang Merah, diam seperti patung di bawah lentera merah yang bergoyang perlahan akibat desiran angin. Pedangnya selalu ditinggalkan di kamar, terbungkus kain dan diselipkan di bawah kasur jerami. Membawanya keluar hanya akan menimbulkan pertanyaan. Di Hongluo, senjata yang terlihat sering kali lebih berbahaya daripada musuh itu sendiri. Apalagi pedang yang dia miliki berasal dari pengorbanannya di Langit.
“Kau membuat tempat ini lebih tenang daripada kuil,” puji Madam Luo suatu pagi, seraya memperhatikan Li Shen yang menyapu halaman dengan gerakan ritmis. “Orang-orang lebih takut padamu daripada pada pengawas distrik.”
Li Shen hanya mengangguk. Sapuannya tetap pelan dan teratur. “Aku hanya bekerja sesuai apa yang Madam perintahkan.”
Madam Luo tertawa puas. “Kerja, kerja, kerja. Kau selalu bilang begitu. Kalau malam terasa berat buatmu, ajaklah wanita-wanita di sini ke kamarmu. Suka sama suka, atau bayar aku tidak peduli. Anggap saja Selendang Merah seperti rumah sendiri. Mereka pasti tidak akan menolak jika dihadapkan dengan laki-laki sepertimu.”
“Terimakasih,” jawab Li Shen. “Tapi aku tidak perlu wanita untuk menghiburku.”
Madam Luo terdiam sejenak, mencoba menembus dinding tebal di balik tatapan datar Li Shen. “Sombong sekali. Tapi itulah alasan kenapa orang sepertimu bisa bertahan lama di sini.”
Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan, namun perhatian Li Shen semakin tajam.
Hua’er sering muncul di hadapannya. Pagi hari ia membantu menghitung barang atau membersihkan ruang tamu. Malam hari ia duduk di antara tamu penting, menuangkan arak dengan senyum terlatih dan melepaskan godaan yang dibuat-buat kepada para tamu.
Di permukaan, Hua’er nampak tak ada bedanya dari wanita penghibur yang lain. Suaranya lembut, tawanya santai, sikapnya ramah. Namun sesekali, saat tamu mabuk bertingkah kasar, mata itu menyipit dingin. Tangannya menghilang sejenak ke balik lengan jubah, seperti sudah terbiasa bersiap sebelum bahaya benar-benar muncul. Aura yang begitu hebat dari wanita itu tidak mungkin salah. Aura serupa yang Li Shen rasakan ketika bergelantungan di kereta kuda.
Malam itu losmen tidak seramai biasanya. Lentera merah di gang mulai redup, meski distrik hiburan itu sendiri belum benar-benar tidur. Suara langkah kaki dan tawa mabuk masih sesekali terdengar dari kejauhan.
Li Shen baru saja selesai membersihkan gudang dan naik ke lantai atas. Namun di tengah tangga, langkahnya terhenti.
Ada suara berbisik yang datang dari ruang kecil di bawah, tempat Madam Luo biasa menerima tamu yang tidak ingin terlihat. Li Shen berbalik, turun perlahan, lalu berhenti di balik pembatas tangga. Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Cahaya lilin menyusup keluar membentuk garis tipis.
Hua’er berbicara lebih dulu. Suaranya dingin, tanpa lengking godaan yang biasa ia pakai. “Target malam ini sudah pasti, Madam. Pengawas itu akan keluar dari rumah judi lewat tengah malam. Gang Timur akan menjadi kuburan mereka.”
“Ingat pesannya,” timpal Madam Luo dengan nada otoriter. “Perkumpulan tidak menoleransi kegagalan. Jangan tinggalkan jejak.”
“Dipahami.”
Li Shen tidak perlu mendengar lebih banyak. Aura membunuh yang mengalir dari Hua’er terasa jelas. Padat, tertahan, seperti bilah pisau sengaja disembunyikan. Aura itu jelas bukan milik wanita penghibur biasa.
Ia mundur perlahan, tanpa suara. Tak lama kemudian percakapan selesai. Pintu terbuka. Hua’er keluar dan menaiki tangga. Ia melewati Li Shen tanpa menyadari kehadirannya, langkahnya santai, wajahnya kembali tenang seperti sebelumnya. Sementara bau herbal pahit, aroma racun saraf yang menyengat tertinggal di udara.
Li Shen menunggu beberapa saat, memastikan koridor kembali sepi. Ia turun ke dapur, menuang teh panas, lalu berjalan menuju kamar Hua’er di ujung lorong.
Ketukannya pelan.
Pintu terbuka sedikit. Hua’er menatapnya, mata waspada, namun senyum ramah segera terpasang. “Li Shen? Ada apa malam-malam begini?”
“Boleh kita bicara?” Li Shen mengangkat cangkir the yang masih mengepul.
Hua’er ragu sekejap. Lalu pintu dibuka lebih lebar. “Masuk. Tapi sebentar saja karena aku sedang ada urusan malam ini.”
Kamar itu kecil dan rapi. Kasur sutra tipis, meja rendah dengan cermin berbentuk oval, wangi-wangian mawar tercium samar bercampur bau obat. Hua’er duduk di tepi kasur. Gerakannya tetap anggun, meski tubuhnya tegang. Li Shen duduk di kursi bambu dan meletakkan teh di meja.
Cahaya lilin bergoyang, bayangan mereka bergerak pelan di dinding.
“Terima kasih soal malam itu,” kata Hua’er lebih dulu. “Tapi kau tidak wajib ikut campur urusan Wei Guojin. Aku juga tidak suka berhutang budi.”
Li Shen menyeruput teh. “Tak ada hutang yang perlu kau pikirkan. Aku hanya tidak suka orang seperti dia.”
“Orang seperti dia banyak sekali di Hongluo.”
“Justru itu masalahnya,” Li Shen bernada datar. “Mesum, sombong, berlindung di balik mandat. Mandat langit busuk sudah dari akarnya.”
Hua’er berkedip-kedip sebelum menatapnya lebih lama. “Kau membenci mandat?”
“Aku tumbuh karenanya,” ujar Li Shen. “Dan kehilangan segalanya karenanya.”
Ia menatap permukaan teh. Suaranya tetap tenang, tapi berat. “Desaku mati pelan-pelan. Kerja paksa terjadi di tambang, pajak tetap ditarik. Anak-anak jadi yatim piatu sebelum tahu apa itu langit. Tak ada yang menolong kami. Mandat tidak memberi apapun, tapi selalu mengambil.”
Hua’er terdiam.
“Aku menolak anugerah langit saat Gerhana Ganda,” lanjut Li Shen. “Aku tidak mau jadi milik mereka.”
“A-apa?” Wajah Hua’er menegang. Wanita itu setengah tidak percaya. “Kau menolak?” Nada bicaranya turun. “Orang yang menolak biasanya mati. Begitu yang aku dengar dari cerita para tetua.”
“Buktinya aku belum mati. Dan itu bukan kesombongan. Itu fakta terserah kau mau percaya atau tidak.”
“Aku percaya saja jika memang begitu faktanya.” Hua’er menghela napas kala bibirnya bergetar. “Tapi soal Mandat… mandat juga merenggut keluargaku. Pajak qi, tuduhan palsu, nama kami dihapus. Sejak itu aku hidup sendirian.”
Li Shen mengangkat pandangannya menaruh empati. Aura Hua’er kini terasa lebih jelas. Dingin, terarah, tapi di baliknya ada bara yang terus menyala. “Aku dengar rumor di Hongluo,” ujarnya. “Tentang Perkumpulan Tanpa Mandat.”
Hua’er menyipitkan mata. “Rumor itu berbahaya.”
“Sabotase gudang qi. Pengawas mati satu per satu,” lanjut Li Shen. “Dan kau bagian dari itu.”
Senyum Hua’er menipis, tatapannya menajam. “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Auramu,” jawab Li Shen. “Wanita bertudung di kereta waktu itu. Wanita dengan belati yang membawa lari kantung berisi emas dari seorang bangsawan yang dia gorok di bagian leher.”
Hua’er mematung. Tangannya bergerak ke balik lengan jubahnya. “Kau hanya mengada-ngada,” tukasnya. “Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.”
“Aku tidak perlu mengada-ngada sejauh itu,” kilah Li Shen. “Aku bisa merasakan semuanya. Bau herbal pahit dari pisau-pisau dan ratusan jarum beracun yang berada di balik pakaianmu. Niat membunuh yang murni. Tak ada qi mandat. Saat belatimu di leher bangsawan itu, auramu menyapu seluruh gerbong.”
“Kau mata-mata Tianyuan, ya?!” desis Hua’er.
“Bukan.”
“Lalu kenapa kau datang padaku?”
Li Shen menatapnya lurus. “Karena aku mau bergabung. Aku menolak langit sama sepertimu. Aku ingin bertarung bersama orang yang juga menolak tunduk.”
Aura membunuh Hua’er melonjak sekejap, dingin menusuk kulit. Lalu perlahan surut. “Kau bisa saja kubunuh sekarang,” ancamnya. “Lebih aman begitu.”
“Kalau itu pilihanmu.” Li Shen tetap tenang. “Tapi aku tidak berbohong. Aku hanya tidak mau sendirian lagi melawan hal yang sama.”
Hua’er menatapnya lama. Sebelum akhirnya menghela napas.“Aku punya misi malam ini,” bebernya. “Awalnya aku akan pergi sendiri. Tapi jika kau memang ingin membuktikan ucapanmu… ikutlah. Satu kesalahan, dan kau akan mati sebelum sempat menyesal.”
Li Shen mengangguk. “Sepakat.”
Mereka keluar lewat pintu gudang. Gang belakang gelap dan sempit. Hua’er bergerak lebih dulu, tubuhnya menyatu dengan gelapnya malam lengkap dengan satu set pakaian yang menutupi identitasnya rapat-rapat. Sementara Li Shen mengikutinya, langkahnya begitu senyap. Tak lupa dia membawa pedang “Langit” miliknya.
Li Shen tahu, ini adalah ujian pertamanya, sekaligus malam dimana dia bisa menguji kekuatannya, dan menebas kemungkaran.