"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELEPAS
Pagi itu, langit tampak abu-abu, seolah merestui suasana hati yang gundah. Bara memarkirkan motornya tepat di depan gerbang kayu panti asuhan yang catnya mulai mengelupas.
Aira turun dari motor, membuka helm dan mencium punggung tangan Bara.
"Aku jemput sore nanti, ya?" suara Bara memecah keheningan.
"Mas nggak perlu repot. Aku pulang sendiri saja," jawab Aira pelan.
Bara tersenyum tipis, senyum yang menyimpan luka. Semalam selesai makan, ia akhirnya urung menceritakan hal yang membuat dadanya sesak. Ia pikir kalau Aira tau yang dilakukan ibunya dengan keluarga Rasti, pasti Aira akan menyerah lagi dan memaksanya untuk setuju bercerai.
"Aira, kita sudah sepakat kan, Mas akan jaga kamu. Tak apa Mas jemput, supaya kamu tak terlalu capek."
Aira hanya mengangguk. Bara menatap punggung istrinya hingga hilang di balik pintu panti sebelum akhirnya melajukan motornya menuju kantor.
Siang harinya, dapur panti asuhan dipenuhi aroma tumis kangkung dan tempe goreng. Aira sibuk memotong sayuran sementara Bi Dharma memeriksa persediaan di lemari kayu.
"Aduh, garam sama terasi habis. Bibi lupa beli tadi pagi. Kamu tidak apa-apa Bibi tinggal sebentar ke warung depan?" tanya Bi Dharma sambil melepas celemeknya.
"Iya, Bi. Biar Aira yang selesaikan
potongannya," jawab Aira lembut.
Sepeninggal Bi Dharma, suasana dapur menjadi sunyi. Hanya terdengar suara pisau yang beradu dengan talenan. Pintu belakang yang menghadap ke area kebun terbuka lebar, membiarkan angin sepoi masuk.
Namun, ketenangan itu hancur saat bayangan seorang wanita berdiri di ambang pintu. Norma, ibu mertua Aira.
"Bagus ya. Jadi ini tempat persembunyianmu?" suara dingin Norma menggelegar di ruangan itu.
Aira tersentak hingga pisaunya hampir mengenai jarinya.
"Ibu?"
Norma melangkah masuk dengan langkah tegas dan tatapan tajam.
" Kamu hebat ya, Aira. Baru amnesia saja sudah berani mencuci otak anakku sampai dia mau pindah rumah dan meninggalkan ibunya sendiri demi mengurus 'beban' sepertimu!"
Aira meletakkan pisau, badannya mulai gemetar.
"Saya tidak pernah menghasut Mas Bara, Bu. Ini keputusan Mas Bara untuk memberikan saya ruang..."
"Halah! Jangan sok suci!"
Norma mendekat, matanya berkilat penuh kebencian.
"Bara itu anak yang berbakti sebelum dia bertemu dengan anak yatim piatu tidak jelas sepertimu. Sekarang, gara-gara kau sakit begini, dia membangkang padaku!"
"Saya benar-benar ingin cerai, Bu. Saya sudah ajukan suratnya, tapi Mas Bara yang menolak," bela Aira dengan suara yang mulai serak.
"Kau pasti sengaja jual mahal supaya Bara makin mengejarmu, kan? Wanita macam apa kamu ini!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Aira. Kekuatannya begitu besar hingga Aira tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya pecah, mengalirkan darah segar yang terasa asin di lidahnya.
"Itu karena kamu sudah berani menjawab!" bentak Norma.
Ia tidak berhenti. Dengan penuh emosi, Norma menjambak jilbab yang dikenakan Aira.
"Lihat dirimu! Botak, penyakitan, tidak berguna!"
Norma menarik kain penutup kepala itu dengan kasar hingga terlepas, memperlihatkan rambut Aira yang masih tipis setelah operasi.
Aira menjerit kecil, berusaha menutupi kepalanya dengan tangan sambil terisak di atas lantai yang kotor.
"Ibu... tolong berhenti..." tangis Aira pecah.
Norma mengangkat tasnya, lalu memukulkannya berkali-kali ke arah bahu dan kepala Aira yang tak terlindungi.
"Seandainya kamu tahu diri dan segera pergi, Bara sudah menikah dengan Rasti! Anak Pak Salim yang terhormat, bukan anak buangan panti seperti kamu!"
Puas meluapkan amarahnya, Norma mengatur napasnya yang memburu. Ia menatap Aira yang meringkuk di tanah dengan tatapan jijik.
Norma melangkah pergi, meninggalkan Aira yang terbaring lemah. Pandangan Aira perlahan mengabur. Rasa sakit di kepalanya berdenyut hebat hingga semuanya menjadi hitam.
Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Doni yang melihat semua kejadian itu hanya bisa terpaku. Matanya membelalak saat melihat sosok tergeletak di tanah.
"KakAira! Bu Siska! Bi Dharma! Kak Aira pingsan!" teriaknya histeris.
Bi Dharma yang baru kembali dari warung menjatuhkan kantong belanjanya. Ia berlari menghampiri Aira.
"Ya Allah, Aira! Apa yang terjadi?"
Siska, berlari keluar dari kelas. Wajahnya pucat pasi melihat kondisi Aira.
"Doni, ambilkan air hangat dan kain bersih! Bi, bantu saya angkat Aira ke kamar!"
Satu jam kemudian, Bara sampai di panti dengan napas terengah-engah. Di ruang tamu, Siska menunggunya dengan wajah yang sangat serius.
"Di mana Aira, Bu?" tanya Bara panik.
"Di kamarnya. Dia baru sadar sebentar lalu tidur lagi karena pengaruh obat pereda nyeri," jawab Siska dingin.
"Masuklah, Bara. Lihat apa yang dilakukan ibumu padanya."
Bara melangkah masuk ke kamar tempat Aira beristirahat itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat istrinya. Wajah Aira yang biasanya cantik meski pucat, kini dihiasi lebam biru di pipi. Bibirnya bengkak dan sobek.
Bara duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Aira yang dingin.
"Maafkan aku, Aira... maafkan aku..." bisiknya dengan suara pecah.
Siska berdiri di ambang pintu, menatap Bara dengan tatapan penuh tuntutan.
"Bara, Ibu sudah menganggap Aira seperti anak sendiri. Dia kembali ke sini untuk mencari ketenangan, tapi justru mendapatkan luka yang lebih parah."
Bara menoleh dengan mata merah. "Siapa yang melakukannya, Bu?"
"Doni melihat ibumu melakukan semuanya. Aira tidak mau bicara, tapi luka itu sudah menjelaskan semuanya," ujar Siska tegas.
"Bara, cinta saja tidak cukup untuk melindungi Aira. Kamu bilang ingin dia bahagia, tapi ibumu menghancurkannya."
Bara menunduk, bahunya bergetar hebat.
"Bara," panggil Siska lagi, kali ini lebih lembut namun menusuk.
"Ambillah keputusan sebagai laki-laki. Sebulan yang lalu Aira meminta cerai karena dia tidak ingin menjadi beban. Tapi sekarang, aku yang memintamu... setujuilah gugatan cerai itu. Lepaskan dia. Jika kamu mencintainya, jangan biarkan dia mati perlahan di tangan keluargamu."
Bara terdiam. Di satu sisi, dunianya akan runtuh jika kehilangan Aira. Namun di sisi lain, ia melihat wajah hancur istrinya---wanita yang ia janjikan akan ia lindungi seumur hidup, namun justru menjadi korban dari orang yang paling ia hormati.
"Apa ini satu-satunya cara agar dia aman, Bu?" tanya Bara lirih.
Siska mengangguk pelan.
"Biarkan dia sembuh tanpa rasa takut. Kamu tidak bisa menjaganya 24 jam dari ibumu sendiri."
Bara menatap wajah tidur Aira, setetes air mata jatuh ke tangan istrinya. Sebuah keputusan berat kini membayangi pikirannya.
Bara melangkah masuk ke rumah, melihat ibunya yang duduk santai tanpa dosa di depan TV. Matanya merah, karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Oh, Bara?"
"Apa yang Ibu lakukan pada Aira?" suara Bara rendah, namun penuh penekanan yang mengerikan.
"Oh, jadi anak yatim itu sudah mengadu? Cepat juga ya."
"Aira pingsan, Bu! Dia tidak mengadu pada siapa pun! Anak panti yang melihat Ibu memukulinya seperti binatang! Kenapa ibu setega ini? "
Norma berdiri, tidak mau kalah.
"Ibu setega ini karena ibu mencintaimu, Bara! Dia itu beban! Dia cacat, amnesia, dan tidak punya masa depan. Ibu hanya ingin kamu sadar bahwa tempatnya bukan di sampingmu, tapi di panti kumuh itu!"
"Cinta?" Bara tertawa getir, air mata amarah mengalir di pipinya.
"Cinta macam apa yang membolehkan seorang ibu memukul wanita yang tidak berdaya? Ibu tahu kenapa Aira ingin cerai? Karena dia merasa rendah diri di depan Ibu! Dan hari ini Ibu membuktikan bahwa ketakutannya benar."
Bara maju satu langkah, menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah Norma lihat sebelumnya—tatapan putus asa.
"Ibu bilang Ibu melakukan ini demi aku? Baik. Kalau begitu Ibu harus tahu konsekuensinya."
Bara menarik napas panjang, suaranya kini bergetar. "Mulai hari ini, aku akan menandatangani surat cerai Aira. Aku akan melepaskannya."
Norma tersenyum kemenangan. "Nah, itu baru anak Ibu. Nanti kita bicara dengan Pak Salim soal Rasti—"
"Tunggu dulu, Bu," potong Bara tajam.
"Aku melepaskannya bukan agar aku bisa menikah dengan pilihan Ibu. Aku melepaskannya agar dia aman dari Ibu. Dan karena Ibu adalah ancaman bagi kebahagiaan orang yang aku cintai, maka aku juga akan melepaskan Ibu."
Senyum Norma memudar. "Apa maksudmu?"
"Aku akan tetap tinggal di kontrakan. Ibu tidak akan pernah memiliki aku lagi sebagai anak."
"Bara! Kamu gila? Hanya demi perempuan itu kamu membuang Ibumu?" teriak Norma histeris.
"Bukan demi dia, Bu. Tapi demi kewarasanku sendiri. Aku tidak bisa hidup dengan mencium tangan seorang wanita yang tangannya baru saja digunakan untuk menyiksa istriku."
Bara berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Teriakan histeris ibunya yang memanggil namanya hanya terdengar seperti angin lalu. Di kepalanya, hanya ada satu hal—ia harus kembali ke panti, mencium kening Aira untuk terakhir kalinya sebagai suami, dan melepaskannya agar istrinya itu bisa hidup tanpa perlu merasa takut lagi.