"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Selasa Pagi, 06.00 WIB.
Suara denting piring di dapur kontrakan biasanya menjadi tanda bahwa sarapan lengkap sudah tersedia. Namun pagi ini, suaranya terdengar berbeda lebih singkat dan hanya satu arah.
Abdi melangkah keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang segar. Ia sudah membayangkan kopi hitam dengan gula rendah kalori kesukaannya dan setumpuk roti bakar atau nasi goreng sosis yang biasa Disa siapkan. Sejak menikah di tahun 2023, pelayanan Disa memang tidak pernah mengecewakan. Itulah mengapa Abdi merasa begitu nyaman, meski dia tahu istrinya harus memutar otak untuk mengolah uang tiga juta rupiah setiap bulannya.
Namun, saat Abdi sampai di meja makan, langkahnya terhenti. Dahinya berkerut dalam.
Di meja makan yang permukaannya sudah agak kusam itu, hanya tersedia satu set alat makan. Sebuah piring berisi nasi putih hangat, telur dadar yang lembut, dan satu gelas jus jeruk segar. Di sana, Disa sudah duduk dengan tenang. Ia mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda, rambutnya tergerai rapi, dan wajahnya tampak lebih segar sangat kontras dengan wajah kuyu yang ia miliki selama tiga tahun terakhir.
Disa menyuap nasi ke mulutnya dengan perlahan, mengabaikan kehadiran Abdi yang berdiri mematung di samping meja.
"Dis? Sarapan Mas mana?" tanya Abdi, suaranya mengandung nada kebingungan yang nyata.
Disa menelan makanannya, lalu menoleh dengan tatapan datar yang sangat asing bagi Abdi. "Oh, aku nggak masak buat Mas. Aku pikir Mas masih kenyang karena steik mewah semalam. Mubazir kan kalau aku masak tapi nggak dimakan? Lagipula, sisa beras dan telur di dapur cuma cukup buat aku makan pagi ini saja."
Wajah Abdi langsung memerah. "Maksud kamu apa? Mas ini mau kerja, Dis! Mas butuh tenaga!"
"Aku juga mau kerja, Mas," jawab Disa tenang, suaranya sangat stabil. "Selama ini, aku nggak makan supaya Mas bisa sarapan enak sebelum ke kantor. Tapi mulai hari ini, aku memutuskan untuk memprioritaskan kesehatanku sendiri. Aku nggak mau pingsan di kantor karena anemia hanya demi memastikan suami yang hobi makan steik di luar tetap merasa dilayani di rumah."
"Kamu menyindir Mas?!" bentak Abdi, ia membanting kunci motornya ke atas meja hingga menimbulkan suara keras.
Disa sama sekali tidak terlonjak. Ia justru mengambil gelas jus jeruknya dan meminumnya hingga separuh. "Aku nggak menyindir, Mas. Aku cuma bicara fakta logis. Mas punya uang 15 juta ekstra untuk makan enak sama keluarga besar, sementara aku cuma punya sisa uang belanja yang tinggal beberapa puluh ribu. Jadi, sangat adil kalau masing-masing dari kita mengurus perutnya sendiri."
"Disa! Jaga bicaramu! Siapa yang kasih tahu kamu soal angka itu?!" Abdi mulai panik, tapi ia menutupinya dengan amarah.
"Nggak ada yang kasih tahu. Aku cuma punya mata dan otak yang mulai bekerja lagi, Mas," Disa berdiri, membawa piring kotornya ke tempat cucian. "Kalau Mas lapar, silakan masak sendiri. Atau mungkin... mampir ke rumah Ibu? Masakan Ibu pasti lebih enak dan lebih 'berbakti' daripada masakanku, kan?"
Abdi merasa ulu hatinya seperti ditusuk. Ia terbiasa melihat Disa yang menunduk dan meminta maaf setiap kali ia marah. Namun sekarang, wanita di depannya ini menatapnya balik dengan keberanian yang membuatnya gentar.
"Terserah kamu! Mas bisa makan di luar!" teriak Abdi sambil menyambar jaketnya dan melangkah keluar rumah dengan membanting pintu.
Disa menghela napas panjang setelah kepergian suaminya. Ia memegang pinggiran wastafel dengan tangan gemetar. Melawan itu melelahkan, tapi rasanya jauh lebih baik daripada ditindas.
Kantor Firma Audit, 12.00 WIB.
Suasana kantin di dekat kantor firma audit sangat ramai. Aroma tumisan bawang, kaldu ayam yang gurih, dan wangi sambal terasi memenuhi udara. Disa duduk di sebuah meja bundar bersama Rio, Sinta, dan Manda. Di depan Disa, tersaji sepiring nasi merah dengan ayam bakar bumbu rujak, sayur urap yang segar, dan segelas jus alpukat kental.
Porsi makan Disa siang ini jauh lebih lengkap dari biasanya. Sinta dan Manda sempat saling lirik, merasa heran melihat Disa yang makan dengan begitu lahap namun sangat tenang.
Nikmati, Dis. Ini hak tubuhmu yang selama ini kamu curi sendiri, batin Disa saat merasakan gurihnya protein yang masuk ke kerongkongannya.
Setiap kunyahan terasa seperti obat. Disa teringat masa-masa ia hanya mengganjal perut dengan air putih hangat agar Fikri bisa makan telur dua butir sehari. Ia teringat rasa pening yang sering menyerangnya saat berdiri dari sujud salat karena anemia. Selama tiga tahun, ia menganggap rasa lapar itu adalah bagian dari "ibadah" melayani suami. Ternyata, itu hanyalah kebodohan yang ia pupuk sendiri.
"Dis, pelan-pelan makannya. Kayak nggak ketemu nasi setahun aja," canda Rio sambil menyeruput es teh manisnya.
Disa tersenyum tipis, matanya tidak beralih dari piring. "Aku baru sadar, Rio. Sehat itu mahal. Dan lebih mahal lagi harga diri yang hilang karena kita membiarkan diri kita kelaparan demi orang yang kenyang di luar sana."
Sinta mengernyitkan dahi. "Kamu bicara apa sih, Dis? Berat banget bahasanya. Tapi bener sih, kamu harus banyak makan. Wajah kamu pucat banget kalau nggak pakai bedak."
Disa mengangguk. Dalam hati, ia berjanji. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi sisa nasi basi yang masuk ke perutnya. Ia akan memenuhi setiap inci sel tubuhnya dengan nutrisi terbaik dari hasil keringatnya sendiri. Ia tidak akan lagi menjadi "istri yang prihatin" sementara suaminya menjadi "pahlawan keluarga" bagi orang lain.
Di Saat yang Sama, Kantor Purchasing PT. Logistik.
Di sisi lain kota, Abdi duduk di kursi empuknya dengan perasaan yang tidak karuan. Di depannya ada kotak makan siang yang ia beli dari kantin bawah nasi rames biasa. Namun, seleranya hilang total.
Pikirannya terus berputar pada kejadian meja makan tadi pagi. Tatapan Disa yang biasanya teduh dan penuh pengabdian, tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. Kalimat Disa soal "gaji lima belas juta" terus terngiang-ngiang seperti kaset rusak.
Dari mana Disa tahu? Apa dia periksa HP-ku? Apa dia diam-diam buka laci lemari? keringat dingin mulai membasahi dahi Abdi.
Abdi meraih ponselnya, hendak menelepon ibunya untuk mencari ketenangan, tapi ia urungkan. Ia tahu ibunya pasti hanya akan memanasi keadaan dan menyuruhnya bersikap lebih keras pada Disa. Padahal, Abdi merasa ia mulai kehilangan "pegangan" terhadap istrinya.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Seorang staf masuk membawa tumpukan laporan pengadaan untuk bulan ini.
"Pak Abdi, ini laporan yang Bapak minta. Tapi... ada satu hal, Pak. Tadi orang dari bagian keuangan nanya, kenapa biaya vendor logistik bulan lalu melonjak sepuluh persen? Mereka minta rincian kwitansi aslinya," lapor staf tersebut dengan ragu.
Jantung Abdi berdegup kencang. Itu adalah salah satu celah yang ia gunakan untuk mengambil uang "ekstra" demi membiayai renovasi rumah ibunya bulan lalu.
"Ah, itu... itu karena kenaikan harga BBM sementara dari vendor. Bilang saja rinciannya masih saya rapikan," jawab Abdi dengan nada yang dipaksakan tegas.
Setelah staf itu keluar, Abdi menyandarkan punggungnya dan memijat pelipisnya. Ia merasa dunianya yang selama ini terlihat rapi mulai retak di segala sisi. Di rumah, Disa berubah menjadi wanita asing yang tidak mau melayaninya. Di kantor, pengawasannya mulai ketat.
"Ini semua gara-gara Disa kerja lagi," gumam Abdi penuh dendam. "Sejak dia balik ke kantor auditor itu, dia jadi banyak tingkah. Dia pikir dia hebat bisa cari uang sendiri? Dia harus diberi pelajaran."
Abdi mengambil ponselnya lagi, kali ini ia mengetik pesan singkat ke nomor adiknya, Rian.
Abdi: "Rian, besok kamu sama Ibu ke kontrakan Mas ya pas jam makan siang. Mas mau kalian 'bicara' sama Disa. Dia sudah mulai berani melawan Mas. Kasih tahu dia posisi istri yang sebenarnya itu di mana."
Abdi tersenyum sinis. Ia pikir, dengan membawa bantuan "pasukan" keluarganya, Disa akan menciut kembali seperti dulu. Ia tidak sadar bahwa harimau yang selama ini ia kurung dalam raga seorang istri yang sabar, kini sudah lepas dan sedang mengincar lehernya.
Kembali ke Kantor Disa, 16.00 WIB.
Disa baru saja menyelesaikan laporan awal auditnya ketika ia menerima notifikasi dari aplikasi perbankan di ponselnya. Itu adalah notifikasi gaji pertamanya sejak kembali bekerja uang muka proyek yang diberikan Pak Heru sebagai apresiasi.
Melihat angka jutaan rupiah itu masuk ke rekening pribadinya, Disa merasa ingin menangis. Bukan karena jumlahnya, tapi karena rasa aman yang diberikan oleh uang itu. Uang ini adalah miliknya. Tidak ada bagian untuk bakti buta Abdi, tidak ada bagian untuk emas Bu Ratna, dan tidak ada bagian untuk gaya hidup Shinta.
Disa menutup laptopnya. Ia berdiri, merapikan tasnya, dan menatap pantulan dirinya di kaca jendela kantor.
"Mulai besok, permainannya bukan lagi soal bertahan hidup, Mas Abdi," bisik Disa pada bayangannya sendiri. "Tapi soal bagaimana caramu membayar setiap bulir nasi yang sudah kamu curi dari piringku."
Disa berjalan keluar kantor dengan penuh percaya diri. Namun, saat ia sampai di lobi, ia melihat mobil Amel terparkir di depan. Amel keluar dari mobil dengan wajah angkuh, langsung menghadang jalan Disa.
"Mbak Disa! Berhenti di situ! Mas Abdi bilang Mbak sudah keterlaluan ya, berani bohongin Mas Abdi soal Fikri dibawa ke kampung? Ikut aku sekarang ke rumah Ibu, Ibu mau bicara!"
Disa menatap adik iparnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tertawa kecil. Tawa yang membuat Amel merinding.
"Bicara? Oh, silakan. Tapi bukan aku yang ke sana. Bilang sama Ibumu, kalau mau bicara, siapkan dulu pengacara. Karena aku nggak bicara gratisan lagi sekarang."