Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tingkah Aneh Rose
Tanpa menghiraukan panggilan Marcus, dia berlari dengan cepat menuju halaman rumahnya, hari sudah semakin gelap dan untungnya dia melihat ada taksi didepan rumahnya.
"Taksi."
"Antarkan saya ke xxx." ucapnya sambil terengah-engah. Dia merasa kakinya sangat sakit, dia baru sadar jika dia tidak memakai alas kaki.
Sementara di kediaman Marcus.
"Kurasa dia sudah kehilangan akal sehatnya." itu Jesper yang bicara, memecah keheningan yang cukup lama setelah Rose pergi, tubuh Marcus masih mematung hingga detik ini.
Dia tidak salah dengar kan?, Rose akan menceraikannya?. setelah menjebaknya selama ini?.
Seharusnya dia senang kan?
"Maaf Marcus, seharusnya aku tidak menuruti ucapan ibumu untuk tinggal disini, karena mau bagaimana pun kau sudah menikah dengan Rose, dan aku tahu bagaimana tersiksanya dia saat cemburu." sudah hampir dua tahun dia tinggal disini, perdebatan dengan Rose sering terjadi, tapi untuk kali ini dia merasa dia yang salah.
Salah karena lancang masuk ke dalam rumah tangga mantan tunangannya.
"Sudah jangan dipikirkan kak, lagipula besok kak Rose pasti pulang, memangnya wanita itu punya uang?" ucap Emma yang menarik tangan kakaknya. Mencoba menenangkan wanita itu.
Jesper berdiri dan langsung menepuk pundak kakaknya. "kak Rose hanya sedang merajuk kak, besok dia pulang, lagipula dia juga tidak bekerja selama ini dan hanya mengandalkan gajimu."
Ucapan adiknya terdengar masuk akal. Marcus menghela nafas panjang, dia langsung pergi dari sana, berniat untuk mandi karena dia baru pulang dari kerja, tubuhnya lengket dan dia membutuhkan air hangat untuk membuatnya rileks.
Dan untuk ucapan Rose yang ingin bercerai dengannya, sepertinya wanita itu hanya menggeraknya.
"Dia pasti pulang besok, jangan dipikirkan." ucapnya dalam hati.
.....
Brak..
"Hey bayar dulu." teriak supir taksi itu yang ikut keluar sambil mengejar Rose yang berlari masuk ke dalam rumah besar didepan nya.
klek....
Kebetulan sekali saat Rose masuk, seluruh keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu.
"Rose." Nathan langsung berdiri dan menghampiri adiknya yang terlihat sangat berantakan.
Grep..
Wanita itu mencengkam kerah kakaknya itu. "Mana Noah putraku?" tanyanya tidak sabaran.
Tidak lama supir taksi yang belum Rose bayar masuk. "Maaf tapi nona ini belum membayar."
Daniel dengan cepat menghampiri supir itu dan memberinya uang banyak "Ambil sisanya untukmu."
Kembali pada Rose.
"Noah siapa?" tanya Nathan tidak mengerti, dan kenapa wajah adiknya terlihat menyedihkan.
Rose mengerjapkan matanya, dia melepas cengkraman tangannya pada kerah sang kakak, hingga tatapannya tertuju pada Camila, dengan cepat dia berlari menuju wanita itu. Nathan sudah was-was, takut jika adiknya itu menyakiti istrinya.
"kak, dimana putraku Noah." sekarang Rose bersimpuh di depan Camila yang syok melihat adik iparnya yang menangis tersedu-sedu.
"Noah siapa?" tanya Nathan yang langsung menarik tangan wanita itu. Takut jika Rose menyakiti Camila.
"Anak yang kalian adopsi." teriaknya kesal. kenapa mereka tidak mengerti.
Camila langsung berdiri dan menghampiri Rose. "Aku tahu jika aku dan kakakmu belum memiliki anak, tapi kau tidak perlu menghinaku." ucap wanita itu yang sepertinya salah paham dengan maksud Rose.
"Jadi kalian belum mengadopsinya." tubuh Rose melemas.
bruk...
Wanita itu terjatuh di atas lantai. "Hiks kemana kamu Noah, mama merindukanmu." tangisnya pecah yang membuat Camila tidak enak.
Wanita itu menunduk sambil mengelus bahu adik iparnya itu.
"Bukannya kamu memiliki putri nak, siapa itu Noah?" tanya Isabella yang bingung dengan kelakuan putrinya.
"Anakku yang asli itu laki-laki Bu, kak Aurora menukarnya dengan anaknya sendiri, sedangkan anakku di buang ke panti asuhan." rancau wanita itu yang tidak sadar sudah membocorkan rahasia nya.
Camila dan Nathan saling bertatapan. Begitupun dengan Daniel dan istrinya. Apa ada sesuatu yang terjadi di kehidupan Rose?.
"Aku harus mencari Noah, dia pasti sendirian disana." Rose bangun, berniat pergi, tapi segera ditahan oleh Nathan.
pria itu menatap adiknya penuh tanya. "Kau mau kemana?" tanyanya penasaran. Masalahnya hari sudah malam dan sepertinya adiknya sedang tertekan, Rose terlihat seperti orang yang tidak waras.
"Aku harus mencari anakku kak, jangan menghalangiku." dengan kasar Rose menyentak tangan Nathan, dia segera berlari keluar, mengabaikan teriakan seluruh keluarganya.
Daniel menepuk pundak anak laki-lakinya itu dengan lembut, "Ikuti Rose diam-diam." pintanya dengan tulus. Nathan mengangguk, lalu meminta izin pada istrinya. Camila mengangguk, mengijinkan suaminya untuk pergi.
.....
"Kenapa mereka belum mengadopsinya?" Rose berjalan di tengah-tengah kegelapan tanpa menyadari bahwa kakaknya diam-diam mengikutinya.
"Kemana lagi aku harus mencarinya?" Rose duduk di halte yang berada di pinggir jalan, menunggu bis datang, dia harus mencari seluruh panti asuhan di daerah ini. Dia merutuki kebodohannya yang tidak menanyakan dimana Noah di adopsi, dulu dia malah fokus mencari cara menyakiti anak itu.
Tidak lama bis yang ditunggu-tunggu datang juga, tanpa ragu dia melangkahkan kakinya masuk. Tanpa dia sadari Nathan syok saat melihat adiknya naik angkutan umum. Dia segera mengeluarkan ponselnya, merekam apa yang dia lihat saat ini lalu mengirimkannya ke grup keluarga.
Drrt....
Ponselnya bergetar, dia menatap datar nama ayahnya yang sedang memanggilnya.
"Apa?" tanyanya setelah mengangkat panggilan itu. tidak lama bis itu berangkat. Dia langsung menghentikan sebuah motor yang lewat dan tanpa permisi langsung naik ke motor orang itu.
"Aku akan membayar mu dengan uang banyak, tapi ikuti bis itu." pintanya sedikit memaksa, untung orang itu mau.
"Halo." terdengar suara ayahnya yang terus memanggilnya.
"Iya yah."
"Itu kau serius Rose naik bis."
"Iya yah, aku syok kalian pasti lebih syok." Nathan yakin di rumahnya pasti sedang heboh, anak bontot yang biasa manja tiba-tiba mau naik bis, itu sangat tidak terduga.
"Yah, aku sedang sibuk, nanti ku telpon lagi, jangan sampai aku kehilangan jejak Rose." tanpa menunggu jawaban, dia langsung mematikan panggilan itu.
...
Isabella duduk resah di atas sofa, sedangkan Camilla mencoba menenangkan mertuanya.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Rose yah, kenapa anak kita jadi seperti ini, naik bis?, bagaimana bisa anak yang kita manja itu mau naik bis." dia masih tidak percaya dengan apa yang dikirimkan anak sulungnya di grup.
Rose terbiasa hidup mewah, tidak pernah sekalipun mereka biarkan Rose hidup susah.
"Besok aku akan menemui Marcus." putus Daniel yang penasaran kenapa putrinya berubah menjadi aneh.
....
Lagi-lagi Nathan terkejut melihat tingkah adiknya yang tengah jajan di pinggir jalan, Rose terlihat menikmati somai yang dia beli pada penjual pinggir jalan.
Nathan kembali memotret adiknya dan membaginya di grup.
Seingatnya adiknya itu tidak bisa makan sembarangan karena pencernaan nya yang lemah.