NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Tarikan Pertama

Aula bawah tidak berubah.

Masih dingin.

Masih gelap.

Masih berbau logam, minyak senjata, dan sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dibersihkan dari dindingnya.

Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda.

Keheningan terasa lebih berat. Bukan lagi keheningan sebelum latihan, melainkan keheningan sebelum keputusan. Udara seakan menekan paru-paru, memaksa setiap napas terasa lebih pendek dari seharusnya.

Para gadis berdiri di tempat mereka masing-masing. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak lebih dari yang diperintahkan. Mata mereka menatap lurus ke depan, namun pikiran mereka berlari ke mana-mana—ke rasa takut, ke penyesalan, ke kemungkinan bahwa hari ini akan mengubah segalanya.

Madam Doss berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Posturnya tegak, tenang, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat ketakutan hingga tak lagi perlu bereaksi terhadapnya. Tatapannya menyapu barisan murid satu per satu, seolah sedang memilih siapa yang akan patah lebih dulu.

“Hari ini,” ucapnya akhirnya, suaranya bergema di aula,

“kalian tidak hanya belajar memegang senjata.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu pada kata-katanya untuk tenggelam ke dalam dada setiap gadis.

“Kalian akan belajar menarik pelatuk.”

Beberapa gadis langsung menelan ludah. Ada yang bahunya turun, ada yang kakinya gemetar halus. Seorang gadis di barisan belakang memejamkan mata, bibirnya bergetar seolah menahan tangis.

Bella Shofie berdiri tenang.

Tangannya lurus di sisi tubuhnya. Bahunya rileks. Wajahnya datar, tidak menunjukkan apa pun selain perhatian penuh. Ia tidak menunduk, tidak pula mencari-cari ekspresi Madam Doss. Ia hanya menunggu.

Madam Doss memberi isyarat kecil.

Catherine melangkah maju dan mendorong sebuah peti besi ke tengah ruangan. Roda besinya berdecit pelan saat bergerak di atas lantai semen. Ketika peti itu dibuka, isi di dalamnya langsung terlihat jelas—pistol-pistol yang lebih besar dan lebih berat dari yang mereka pegang kemarin.

Besi hitam. Pegangan kasar. Laras yang lebih panjang.

“Ambil satu,” perintah Madam Doss.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Satu per satu, para gadis maju. Beberapa tangan gemetar saat mengambil senjata. Ada yang memegangnya terlalu erat, ada pula yang hampir menjatuhkannya karena takut akan beratnya sendiri.

Saat pistol itu kembali berada di tangan Bella Shofie, tidak ada perubahan pada dirinya.

Tidak ada getaran.

Tidak ada tarikan napas tajam.

Berat senjata itu terasa nyata, namun tidak asing. Tangannya menyesuaikan posisi secara alami, seperti tubuhnya sudah pernah mengingat bentuk itu sebelumnya.

Cella melirik ke arah Bella, matanya sedikit membesar.

“Kau… baik-baik saja?” bisiknya nyaris tanpa suara.

Bella hanya mengangguk kecil. Tidak tersenyum. Tidak juga tampak tegang.

“Berdiri di garis,” perintah Madam Doss.

Garis putih di lantai membentang lurus. Tipis, namun tegas. Tidak ada yang melewatinya tanpa izin. Garis itu terasa seperti batas yang lebih dari sekadar penanda jarak—ia memisahkan keraguan dan keputusan, masa lalu dan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Madam Doss berdiri di belakang barisan.

“Dengar baik-baik,” katanya.

“Takut tidak melindungimu. Takut tidak membuatmu aman.”

Ia berjalan perlahan di belakang mereka. Setiap langkahnya terdengar jelas, teratur, seperti detak jam yang menghitung mundur.

“Takut membuatmu mati,” lanjutnya dingin.

“Ia melumpuhkanmu. Ia mencuri keberanianmu. Ia memastikan kau tidak pernah menekan pelatuk saat kau harus melakukannya.”

Bella menatap target di depannya.

Lingkaran hitam itu diam. Tidak mengancam. Tidak hidup. Ia hanyalah papan kayu dengan tanda yang dibuat manusia—namun Bella tahu, hari ini bukan tentang target itu.

Hari ini tentang dirinya.

“Angkat senjata.”

Bella mengangkat pistol. Lengannya stabil, tidak terlalu kaku, tidak pula terlalu santai.

“Bidik.”

Ia menyesuaikan posisi kakinya, mengingat pelajaran balet yang telah berulang kali menghancurkan tubuhnya. Berat dibagi rata. Inti tubuh aktif. Bahu tidak tegang. Napas masuk perlahan, keluar terkendali.

Madam Doss berhenti tepat di belakang Bella.

“Kau tidak takut,” ucapnya pelan.

Bukan pujian. Bukan pertanyaan.

“Hanya orang bodoh yang mengira itu kelebihan,” lanjut Madam Doss.

“Orang sepertimu berbahaya.”

Bella tidak menjawab. Matanya tetap lurus ke depan.

“Tarik pelatuk.”

Ruangan mendadak sunyi.

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas terlalu keras. Semua mata tertuju pada satu sosok kecil di garis depan—gadis dengan tubuh penari dan tangan yang terlalu tenang memegang senjata.

Jari telunjuk Bella bergerak.

Sedikit.

Tidak ragu.

Tidak tergesa.

Dor!

Suara tembakan memecah ruangan, memantul keras di dinding, langit-langit, dan dada setiap orang yang hadir. Beberapa gadis tersentak, menutup telinga meski sudah memakai penutup.

Peluru mengenai target.

Tidak tepat di tengah—namun cukup dekat.

Beberapa gadis menjerit kecil. Ada yang langsung menjatuhkan pistolnya, besi menghantam lantai dengan suara nyaring.

Bella tetap berdiri.

Pistol masih di tangannya.

Asap tipis keluar dari moncongnya, menghilang perlahan di udara.

Madam Doss menatap target itu sejenak, lalu kembali menatap Bella.

“Ulangi.”

Bella menarik pelatuk lagi.

Dor!

Kali ini, peluru mengenai titik yang lebih dekat ke pusat.

Madam Doss tersenyum tipis. Sangat tipis.

“Lihat,” katanya kepada murid-murid lain.

“Tubuhnya tidak melawan. Pikirannya tidak berteriak.”

Ia menoleh ke Bella.

“Kau sudah mengenal kematian, bukan?”

Bella akhirnya berbicara. Suaranya pelan, namun jelas. Tidak gemetar.

“Ya, Madam.”

Tidak ada yang bertanya lebih jauh.

Latihan berlanjut, tetapi suasana telah berubah. Bella Shofie tidak lagi sekadar murid baru. Tatapan-tatapan kini tertuju padanya—campuran antara takut, iri, dan kebingungan.

Saat latihan selesai, Madam Doss memanggil Bella ke depan.

“Kau akan berlatih terpisah mulai besok,” katanya.

Bella mengangguk tanpa bertanya.

“Di tempat ini,” lanjut Madam Doss, “balet hanya melatih tubuhmu.”

Ia melirik pistol di tangan Bella.

“Senjata melatih jiwamu.”

Bella menunduk hormat.

Dalam hatinya, ia tahu—tarikan pelatuk hari ini bukan yang pertama dalam hidupnya.

Namun inilah pertama kalinya

ia tidak menutup mata setelahnya.

Dan untuk pertama kalinya,

ia tidak berpaling dari apa yang telah ia lakukan.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!