NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pie Wajahmu Pucat!

"Kau sakit?"

"Huh? Hmm, ya."

"Sakit apa, Pie?"

"Demam, tubuhku sakit semua."

"Kau main hujan?"

"Tidak."

"Oh, begitu."

"Ada apa kau menelepon. Tumben sekali."

"Aku rindu. Tak boleh?"

Rasanya Pie ingin berteriak kencang. Bagai kupu-kupu terbang di perutnya.

"Sangat boleh." Kim seketika tersenyum.

"Kenapa baru membalas pesanku?"

"Emm.. Aku membalas pesanmu sejak tadi."

"Ya, maksudku kau sangat lambat. Bukan seperti kau biasanya."

"Baterai ponselku lowbat."

"Ouh. Kau ingin apa? Aku akan ke rumahmu."

Bola mata Pie membulat, ia seketika panik.

"Tidak! Jangan, kumohon."

"Kenapa?"

"Nanti aku akan dimarahi karena ketahuan berpacaran."

"Hahaha, baiklah. Tapi bagaimana ya? Aku ingin menjengukmu."

"Nanti saja, saat aku sudah kembali sekolah."

"Itu bukan lagi menjenguk."

"Pokoknya kau tidak boleh kemari. Oke?"

"Oke baiklah. Cepat sembuh, Pie. Sepi sekali tak ada dirimu."

"Kau bersama teman-temanmu."

"Kau mewarnai sekitarku, mereka monokrom."

Pie hanya diam, ia tersipu mendengar kata-kata manis dari Kim.

"Kau sudah makan?"

"Sudah?"

"Minum obat?"

"Sudah."

"Kau sudah tidur?"

"Ya, aku baru saja bangun."

"Oh begitu. Aku sedang di jalan."

"Ok, kututup teleponnya."

"Kau tak rindu padaku?" bibir Kim mengerucut, ia sedang rindu Pie.

"Nanti saja jika kau masih ingin mendengar suaraku." Pie mengulum bibirnya ke dalam.

"Ya, aku pulang dulu. Cepat sembuh Pie."

"Hati-hati di jalan, Kim."

Telepon tertutup, Pie memilih untuk tidur kembali karena rasa mengantuk yang luar biasa.

    Sudah dua hari Pie tidak masuk sekolah, membuat Kim gelisah.

"Kau masih sakit?"

Sebuah pesan masuk membuat Pie mengurungkan niatnya untuk istirahat.

"Kau tahu dari mana jika aku sakit?" Pasalnya meskipun satu kelas dengan Fang, Pie tidak memberikan keterangan apapun sebab ketidakhadirannya, dia hanya mengatakannya kepada Kim.

"Kim."

"Oh."

"Kau masih sakit?"

"Sudah lebih baik."

"Artinya besok kau akan sekolah?"

"Mungkin."

"Kau harus sekolah."

"Apa jika aku tidak sekolah, bangunannya akan runtuh?"

"Aku merindukanmu."

"Fang, berhenti."

"Tidak akan."

"Kau hari ini masuk sekolah?"

    Tumben sekali Kim mengiriminya pesan saat pagi.

Pie membalasnya ketika akan berangkat.

"Kau benar sudah baik-baik saja?" Mama memegang kening Pie untuk mengecek suhu tubuh anaknya.

"Aku baik-baik saja, Ma."

"Jika terasa tak enak, langsung pulang ya?"

"Iya, Ma. Aku berangkat dulu.

"Hati-hati."

"Iyaa."

    Sebelum jatuh sakit, Pie sempat tak sadarkan diri. Beruntung saat itu ia berada di rumah. Pie hanya mengalami kelelahan.

"Yup." Pie mengirim pesan balasan.

"Sudah berangkat?" Kim membalas sangat cepat.

"Ya, aku sudah di jalan."

"Aku sudah di depan gerbang."

"Tumben sekali kau datang sepagi ini?"

"Kupikir gedung sekolah akan kabur jika aku terus menerus datang ketika bel masuk."

Pie terkekeh pelan membaca pesan Kim.

"Sebentar lagi aku akan sampai, tunggu."

"Baiklah."

     Pie melihat pacar kerennya sudah berdiri di depan gerbang dengan gaya yang cool.

"Astaga, pacarku keren sekali jika tidak mengenakan jaket." Gumam Pie terkikik kecil.

    Kim lebih sering mengenakan jaket atau sweater ketika berangkat ke sekolah. Tetapi pagi ini, laki-laki itu hanya mengenakan seragam lengkap dengan dasi dan tas selempangnya.

    Pie melambaikan tangan ketika Kim melihat ke arahnya.

Ia berlari kecil untuk segera sampai.

"Kenapa kau berlari?" Kim menelisik penampilan Pie yang masih sedikit pucat.

"Agar cepat sampai."

     Pie menghirup dalam aroma buah dari parfum yang dipakai oleh Kim. Salah satu daya tarik Kim adalah dia laki-laki yang wangi. Aroma buah seperti identitasnya.

"Kau masih sakit?"

"Huh? Tidak. Aku sudah lebih baik." Pie menggeleng cepat.

"Wajahmu pucat."

Pie segera mengambil cermin di dalam tas, benar saja wajahnya terlihat pucat karena ia lupa memakai pewarna bibir.

Tanpa memedulikan raut wajah Kim, Pie segera mengoleskan pewarna bibir dengan warna alami. Dan selesai, wajahnya berubah terlihat segar.

"Seperti sihir."

Gumam Kim yang didengar oleh Pie.

Gadis itu hanya tersenyum mendengarnya.

"Ayo, masuk." Mereka memasuki gerbang sekolah, di sana sudah ada beberapa siswa yang datang. Sinar matahari seakan menyapa mereka dengan hangat.

     "Pie, tentang rencana ke museum, apa kau akan ikut?"

Pie mendongak menatap Kim.

"Ya, aku ikut."

   Sebelum Pie jatuh sakit, Mama sudah memberitahu bahwa ayahnya memberikan izin untuk pergi ke museum.

"Kau bagaimana?" Pie menatap Kim yang tak merespon apapun terhadap jawabannya.

"Kurasa aku juga akan ikut."

"Kenapa begitu?"

"Aku akan ikut jika kau ikut." Kim tersenyum.

"Jika aku tidak ikut?"

"Aku juga tidak akan ikut." Kim tersenyum lebar.

"Astaga, sepasang kekasih sudah merajut pagi-pagi." Gerutu Gem yang baru datang melewati mereka.

"Si jomblo yang terlihat kesal." Ucap Pie menyeringai menatap Gem yang menatap malas.

"Apa dia memang seperti itu?" Pie mengangguk.

"Biarkan saja, mungkin dia bosan tak punya pacar." Pie terkekeh pelan.

"Kau sudah sarapan?"

"Sudah. Kau?"

"Aku belum."

"Mau kutemani sarapan?"

"Tentu."

"Let's gooo." Pie menarik ujung seragam Kim, laki-laki tinggi itu sedikit terseret akibat tarikan tangan Pie.

"Kau sudah membayar biaya transportasi untuk ke museum? Hari ini untuk yang terakhir." Pie mengingatkan.

Kim mengangguk saat menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Kau sudah membayarnya?"

"Hari ini aku akan membayarnya."

"Aku juga akan membayar hari ini."

Pie menatap sejenak Kim yang fokus makan.

"Apa kau membawa uangnya?"

"Selalu kubawa. Jaga-jaga kau akan ikut, jadi aku bisa langsung membayar."

"Astaga."

Kim hanya tersenyum menatap Pie.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!