Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah
Siang itu sebuah mobil mewah perlahan masuk kedalam halaman kampus. Tak lama kemudian seseorang keluar dari sana, seorang gadis cantik dengan kulit kuning langsat, wajahnya manis serta gaya pakaiannya yang modis.
Siapa yang tidak kenal dia, gadis cantik dengan rambut badainya itu serta makeup yang selalu on point dari datang kampus hingga pulang.
Erina. Gadis cantik dengan segudang prestasi dan dikenal tajir melintir. Begitu gadis itu keluar, semua pasang mata tertuju padanya.
Ia berjalan masuk kedalam kampus. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang merangkul pundaknya dari belakang.
"Woy, makin cantik aja nih sahabat gua hari ini," sapa Ema.
"Lu kemana aja anjir beberapa hari ini? Dasar tukang bolos!" ucap Rena.
Erina tertawa kecil, "Biasa lah, orang sibuk!"
Mendengar ucapan Erina, kedua temannya itu hanya memutar mata malas. Jawaban klasik, entah sudah berapa kali gadis itu menjawab dengan kata-kata itu.
"Wih, tas baru tuh!" Rena melirik tas yang dipegang oleh sahabatnya itu.
Erina mengangkat senyum bangga, "Iya dong, dari pacar gua nih!"
"Wih, royal banget ya pacar lo. jadi penasaran gue," sahut Ema.
Rena mengangguk, "Bener tuh, sekali-kali kenali lah biar sahabat-sahabat lo ini tahu bentukan pacar lo itu,"
"Ya kapan-kapan deh ya!"
Ketiganya berjalan beriringan menuju koridor hingga akhirnya mereka tiba di kelas. Erina duduk di kursi dan meraih ponselnya cepat. Ia menggeser layar beranda pesannya, mencari sebuah nama disana.
Namun tak seperti yang ia harapkan, tidak ada satupun pesan dari Adrian. Tumben sekali pria itu tidak mengirim pesan kepada dirinya, sekedar mengucapkan 'good morning' atau pun menanyakan kabar.
Erina menggerutu kesal, ia menaruh ponselnya kembali di dalam saku. Namun ia tak bisa tenang, gadis itu kembali mengambil ponselnya. Memastikan sekali lagi, namun tidak ada yang berubah.
Gadis itu mulai mengetik deretan kalimat dan mengirimkan pesan itu kepada Adrian.
Sayang, kamu free ngga sore nanti?
Ketemu yuk
...****************...
Lagu Radio dari Band The Corrs itu menggema di dalam mobil sepanjang perjalanan Adrian kembali menuju kediamannya.
Pria itu melirik pemandangan kota dari balik jendela mobilnya. Ia menghela napas pelan lalu mengalihkan pandangannya.
"Kenapa saya tiba-tiba jadi peduli sama Arini?" batin Adrian.
Pertanyaan itu muncul sejak ia pergi meninggalkan kantor. Ia pun juga bingung dengan dirinya sendiri.
Adrian mengambil ponselnya, begitu layar menyala muncul pesan dari Erina di beranda whatsappnya.
^^^Sayang, kamu free ngga sore nanti?^^^
^^^Ketemu yuk^^^
Adrian menghela napas. Ia sedang lelah dan tidak ingin bertemu dengan siapapun di luar. Dengan cepat tangannya menulis deretan kalimat dan mengirim pesan itu ke nomor Erina.
Maaf baby
Tapi aku lagi sibuk
Next time ya?
Pria itu mematikan ponselnya. Ia memijit pelipisnya pelan sambil menghela napas kembali.
Elang yang duduk di kursi sopir melihat tingkah Adrian dari kaca, ia tertawa kecil.
Namun sepertinya tawanya terdengar hingga Adrian membuka kedua matanya dan menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam. Elang sontak berusaha terlihat biasa saja dan kembali fokus menyetir mobil.
Setengah jam berlalu, kini mereka sudah tiba di kediaman. Adrian dan Elang lekas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Adrian berjalan menaiki tangga dan segera menuju kamarnya. Suara derit terdengar begitu ia membuka gagang pintu dan masuk ke dalam sana.
Tampak Arini sedang duduk santai di atas kasur sambil memilah-milah pakaian dari satu kresek dan kresek lainnya.
"Sayang?" panggil Adrian lembut.
Arini mendengar suara itu, namun ia berpura-pura tidak mendengarnya. Ia tetap asyik melihat-lihat pakaian yang baru saja ia beli dari Pasar Senen sambil mengecek kembali apakah pakaian-pakaian itu ada bekas atau noda.
Tanpa aba-aba Adrian memeluk dirinya dari belakang, wangi parfum khas dari tubuh pria itu tercium jelas oleh indra penciuman Arini.
Jujur, ia sangat merindukan pelukan ini. Pelukan hangat dari Adrian. Entah kapan terakhir kali Adrian memeluk dirinya dengan hangat seperti ini, apa itu beberapa hari lalu? Atau malah sudah beberapa minggu sejak ia melakukan perjalanan bisnis ke Singapura?
Namun Arini menepisnya pelan. Ia seolah tidak nyaman dengan Adrian yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.
Adrian menatapnya dengan heran, "Why?"
Arini tersenyum sambil menatap wajah Adrian dengan lembut, "No, aku cuma ngerasa kurang enak badan aja,"
Adrian mengangguk pelan. Ia lalu duduk di samping Arini dan menatap wanita itu sejenak.
Adrian menaruh kepalanya di pundak Arini dan memejamkan matanya.
Arini kaget melihat sikap Adrian yang tiba-tiba itu. Ia melirik pria itu, terlihat wajahnya yang lelah. Sungguh menyebalkan, kadang pria ini bersikap. manja kepadanya namun kadang pria ini menghilang dan tidak bisa menepati janjinya.
"Maaf ya, Rin," gumam Adrian pelan. Suaranya terdengar pelan.
"Aku tahu aku terlalu sibuk belakangan ini. Sering nggak tepatin janji juga."
Adrian mengangkat kepalanya, lalu meraih tangan Arini. Ia menggenggamnya cukup lama, seolah ingin meyakinkan istrinya itu.
"Besok aku janji pulang lebih cepat dari kantor. Kita makan malam bareng ya?"
Arini hanya tersenyum tipis, jenis senyuman yang sulit diartikan. Ia tidak membalas ucapan itu, melainkan perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Adrian.
Tanpa bicara, ia beranjak bangun dan naik ke atas ranjang untuk tidur. Sikap Arini yang dingin membuat Adrian merasa suasana tiba-tiba jadi canggung. Permintaan maafnya seperti menguap begitu saja tanpa jawaban.
Adrian menghela napas, lalu ikut beranjak dan naik ke ranjang. Ia berbaring di sisi yang kosong, melirik Arini yang sudah memunggungi dirinya.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Hanya ada suara pendingin ruangan yang mengisi kesunyian di antara mereka berdua yang kini saling diam.
"Kamu berubah, Arini."
"Ada apa sama kamu?"