“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
“Kamu tenang saja Nay, selama Alisha tidak ads di dekat Albiru, hubungan kamu dengannya aman.”
“Aman bagaimana, Kak? Sekarang saja dia sudah mengabaikan aku demi mencari Alisha. Orang-orang kita bilang kalau Albiru tidak berhenti mencarinya, aku harus apa?”
“Tenang saja. Aku akan meminta ayah untuk mempercepat pernikahan kalian dan setelah itu kita akan lepaskan Alisha.”
“Baiklah.”
Setelah Rafi keluar dari kamarnya, Naya kembali teringat saat dia berusia 17 tahun dan akan pulang sekolah, dia diganggu beberapa preman lalu Albiru datang menyelamatkannya. Saat itulah Naya tak pernah bisa melupakan Albiru dan mengutarakan perasaannya pada Rafi. Tapi Albiru sendiri tidak mengingat pertemuannya dengan Naya karena pria itu memang sangat cuek. Dia bahkan tidak menanyakan keadaan Naya setelah dia tolong. Adipati memang sempat tinggal di Sulawesi namun dia pindah saat Albiru sudah berusia 15 tahun.
Pertemuan Naya dan Albiru sangat singkat bahkan jarang, Naya sendiri malu menunjukkan diri pada Albiru sedangkan Albiru tidak peduli dengan anak dari sahabat ayahnya itu. Albiru tidak berniat juga mendekatkan diri pada keluarga Arman karena tidak penting juga menurutnya.
Selama ini, Naya terus memantau Albiru melalui sosial media karena semenjak Albiru pindah ke Jakarta, tak pernah ada komunikasi antara dua keluarga itu.
Naya sangat kesal pada Alisha, dari informasi yang dia tahu, Albiru sangat mencintai Alisha dan mereka terkenal dengan pasangan serasi yang tak mudah untuk dipisahkan.
Naya meminta bantuan pada Rafi—kakaknya—agar mau membantu melancarkan rencananya itu. Rafi setuju jika Naya sudah lulus kuliah dan menjadi lulusan terbaik. Makanya saat dia mencapai persyaratan dari kakaknya, Naya menuntut agar Rafi mau melancarkan rencana gilanya tersebut untuk memisahkan Alisha dan Albiru.
Hilangnya Alisha bukan karena keinginannya melainkan karena rencana jahat dari Naya dan Rafi. Rencana itu hanya diketahui oleh Naya dan Rafi saja sedangkan keluarga mereka tidak ada yang mengetahuinya.
Naya sendiri kini sangat resah akan sikap Albiru yang terus mengabaikan dirinya. Dia memutuskan untuk pergi menemui Alisha di tempat yang sudah Rafi sediakan untuk menyekap gadis itu.
Di sana banyak orang-orang Rafi yang menjaga dan Naya dipersilakan masuk. Naya membuka pintu ruangan tempat di mana Alisha dan Dhevi—ibu Alisha—disekap.
“Kapan kami akan dibebaskan? Kau tidak bisa mengurung aku terus di sini? Sudah satu tahun lebih aku hidup dalam kungkungan kalian,” protes Alisha saat Naya masuk dengan wajah yang terlihat kesal.
“Aku akan membebaskanmu saat Albiru resmi menjadi suamiku.”
“Aku sudah katakan padamu, aku akan menjauh dari Albiru tanpa perlu kau sekap begini,” sahut Alisha dengan menahan amarahnya.
“Tapi Albiru tidak akan pernah mau membuka hatinya jika masih melihat kamu, Alisha. Aku hanya ingin Albiru terbiasa hidup tanpamu.” Alisha meremas rambutnya sendiri karena merasa frustasi.
“Aku sudah bersusah payah membuat Albiru terbiasa hidup tanpamu, Alisha dan kau sudah menghancurkan rencanaku itu. Sekarang Albiru sibuk mencarimu dan dia memutuskan untuk menunda pernikahan kami. Jadi, untuk hukumanmu itu, aku terpaksa untuk mengambil satu jari lagi dari ayahmu.” Alisha menggeleng dan berlutut di kaki Naya.
“Tolong jangan sakiti ayahku lagi. Sakiti saja aku, Naya. Jangan ayahku terus,” mohon Alisha dengan air matanya. Dhevi juga ikut berlutut karena dia tidak lagi tahan dengan penderitaan suaminya itu.
“Jangan sakiti suamiku lagi, tolong jangan. Kami sudah menuruti keinginanmu untuk menghilang dari keluarga Adipati dan kami tidak melakukan kesalahan apapun lagi, Naya.” Dhevi terus memohon.
“Karena anakmu ini bersikeras mengambil sesuatu di rumah kalian, Albiru jadi melihatnya dan mengetahui kalau anakmu ini masih ada,” geram Naya ketika mengingat kalau Alisha ingin mengambil cincinnya dalam rumah tersebut.
“Maafkan aku, aku tidak menyangka kalau aku bertemu dengan Albi saat itu. Tolong maafkan aku,” ucap Alisha yang tidak ingin jika jari ayahnya dipotong lagi.
“Sayang sekali, kesalahan ini harus ada hukumannya.” Naya melakukan panggilan video dengan Kevin, ayah Alisha disekap ditempat berbeda dengan Alisha dan Dhevi dan selama satu tahun lebih mereka tidak pernah bertemu. Jika Alisha melakukan kesalahan, maka Ibnu yang akan menerima akibatnya dan selama itu, Ibnu sudah kehilangan dua jari tangan.
Layar besar terpampang di sebuah televisi dalam ruangan tersebut. Alisha bisa melihat bagaimana ayahnya disiksa oleh Kevin lalu jari tangannya bagian jempol menjadi sasaran kali ini.
“Jangan, Naya. Aku mohon,” ucap Alisha yang kini bersujud di kaki Naya. Gadis 24 tahun itu tak peduli hingga suara teriakan Ibnu terdengar begitu nyaring dan menyakitkan di telinga Dhevi dan Alisha.
“Jempolnya sudah hilang, jika kau masih melakukan kesalahan lagi, Alisha. Maka aku akan menghabiskan semua jari ayahmu,” ancam Naya lalu dia pergi dari ruangan tersebut. Layar televisi kembali menghitam dan Alisha seketika pingsan di pangkuan ibunya.
Selama satu tahun lebih ini mereka sudah menjalani penderitaan atas kebringasan Naya dan mereka juga harus menghadapi penyiksaan jika melakukan sedikit kesalahan.
...***...
Hari pernikahan Naya dan Albiru akhirnya tiba, Naya sangat cantik dengan gaun putih milihnya sedangkan Albiru terlihat amat tampan di balik jas formal yang dia kenakan.
Albiru tidak menunjukkan wajah bahagia sama sekali, berbeda dengan Naya yang terlihat sangat senang di hari pernikahan mereka.
“Senyumlah, Albi. Jangan merungut begini, tidak enak dengan para tamu kita,” bisik Irma pada putranya ketika sudah duduk di tempat yang disiapkan untuk akad nikah.
“Maaf Ma.” Albiru memasang wajah senyum terbaiknya lalu bersiap menjabat tangan Arman untuk melakukan ijab kabul.
Dalam satu nafas tanpa hambatan sama sekali, ijab kabul tersebut berhasil dilakukan dan kini Albiru dan Naya sudah resmi menjadi suami itu. Naya mencium tangan Albiru dan Albiru sendiri mencium kening Naya dengan lembut. Dia tersenyum walau dalam senyuman tersebut ada beban yang belum pergi sepenuhnya.
Malam pertama yang Naya harapkan berjalan dengan sangat hangat dan romantis nyatanya tidak seperti demikian. Albiru masih disibukkan dengan informasi mengenai keberadaan Alisha tapi masih belum dia dapatkan.
Naya mendekati suaminya dan memeluk Albiru dari belakang, ia menyandarkan pipinya di punggung Albiru.
“Mas, sekarang malam pertama kita loh. Kamu jangan sibuk terus begini,” kata Naya dengan nada mendayu.
Albiru melepaskan pelukan tangan Naya dari tubuhnya perlahan lalu membawa Naya ke hadapannya. “Kamu tidur saja dulu ya, aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Maaf kalau aku belum bisa menyentuhmu dulu.” Mendapat jawaban begitu jelas membuat Naya sangat kecewa dan menghentakkan kakinya berjalan ke ranjang.
Albiru tak peduli karena dia masih sedang bertukar pesan dengan Aksa. Hari ini tepat dua tahun Alisha menghilang dan belum ada yang mengetahui keberadaan gadis itu.
Albiru melirik Naya yang sibuk dengan ponselnya di atas ranjang, dia dekati istrinya itu dan berbaring di sampingnya tanpa ingin menyentuh Naya terlebih dahulu.