NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinding Es di Lantai 45

Dua minggu berlalu sejak insiden di Gang Kelinci. Luka di bahu Adinda sudah sembuh total, menyisakan garis tipis yang tertutup rapi di balik blazer kerjanya. Pagi ini, Adinda Elizabeth kembali berdiri di posisinya: di sisi kanan meja kerja William Bagaskara.

Suasana di lantai 45 sedang sibuk luar biasa. William menghadapi musim laporan kuartal dan persiapan peluncuran produk baru. Telepon di mejanya berdering tanpa henti, tumpukan dokumen menggunung, dan antrean manajer yang ingin minta tanda tangan mengular sampai ke lobi lift.

William tampak berantakan. Dasinya longgar, lengan kemejanya digulung asal, dan rambutnya yang biasa rapi kini sedikit acak-acakan karena terlalu sering disisir jari saking stresnya.

"Adinda, saya butuh kopi. Sekarang. Kopi hitam, tiga shot espresso. Dan carikan berkas laporan keuangan dari divisi pemasaran yang mereka kirim minggu lalu. Saya tidak bisa menemukannya di tumpukan sampah ini," gerutu William sambil mengacak-acak mejanya.

"Kopi Bapak sudah ada di sebelah kiri laptop, suhu 80 derajat, baru saya letakkan sepuluh detik yang lalu," jawab Adinda datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Dan laporan pemasaran sudah saya rangkum poin pentingnya, saya kirim ke email Bapak dan salinan fisiknya ada di map biru di bawah tumpukan itu."

William terdiam. Ia menoleh ke kiri. Benar saja, cangkir kopi mengepul sudah ada di sana. Ia mengangkat map biru yang dimaksud. Isinya lengkap.

William menatap Adinda takjub. "Kau bisa membaca pikiran atau kau memasang penyadap di otak saya?"

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Pak. Efisiensi," jawab Adinda singkat. Wajahnya dingin, tanpa senyum, mode "Robot Asisten" aktif sepenuhnya.

Tiba-tiba, suara hak tinggi beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat dari arah pintu utama. Suaranya nyaring dan percaya diri.

Pintu ruangan terbuka tanpa diketuk. Seorang wanita cantik dengan gaun desainer ketat dan tas bermerek melangkah masuk. Itu Laura, mantan kekasih William yang terkenal manja dan keras kepala.

"William, Sayang! Kenapa pesanku tidak dibalas?" seru Laura, langsung berjalan menuju meja William, mengabaikan keberadaan Adinda. "Aku mau mengajakmu makan siang di restoran Prancis baru di SCBD."

William memijat pelipisnya. Ini bencana. "Laura, saya sedang sibuk. Saya sudah bilang kita sudah selesai."

"Ah, jangan begitu. Kamu cuma butuh istirahat," Laura hendak memutari meja untuk memeluk William.

Namun, langkahnya terhalang.

Adinda bergeser satu langkah ke samping, memblokir jalan Laura dengan tubuhnya. Wajahnya datar, tatapannya dingin menusuk.

"Minggir, pelayan," desis Laura, menatap Adinda dari atas ke bawah dengan jijik.

"Maaf, Ibu Laura," suara Adinda tenang namun tegas. "Pak William sedang dalam mode Deep Work. Sesuai protokol kantor, tidak ada tamu tanpa janji temu yang diizinkan masuk. Termasuk tamu pribadi."

Laura ternganga. "Kau tahu siapa aku? Aku calon istri bosmu!"

"Mantan," koreksi Adinda. "Dan jadwal Bapak penuh sampai tahun depan untuk urusan pribadi yang tidak produktif."

Wajah Laura memerah padam karena marah. "William! Pecat perempuan kampung ini! Dia tidak sopan padaku!"

William, yang sejak tadi diam-diam menikmati pemandangan itu, akhirnya bersuara. Ia bersandar santai di kursinya, menyesap kopinya.

"Maaf, Laura. Adinda benar. Dia yang mengatur hidup saya sekarang. Kalau dia bilang tidak bisa, berarti tidak bisa. Bahkan Presiden pun harus buat janji dulu."

Laura menghentakkan kakinya kesal. "Kamu berubah, Will! Dulu kamu tidak begini!"

"Silakan pintu keluarnya di sebelah sana, Bu," Adinda menunjuk pintu dengan sopan namun mengusir. "Sekuriti lobi sudah saya panggil untuk mengawal Ibu turun, takut Ibu tersesat."

Laura mendengus kasar, memutar badannya, dan berjalan keluar dengan langkah menghentak-hentak. Brak! Pintu tertutup.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

William meletakkan cangkirnya, lalu tertawa kecil. "Kau kejam sekali, Adinda. 'Takut Ibu tersesat'? Itu sarkasme tingkat tinggi."

"Dia menghabiskan oksigen di ruangan ini, Pak. Bapak butuh konsentrasi," jawab Adinda, kembali mengecek jadwal di tabletnya seolah baru saja mengusir lalat, bukan sosialita ibukota.

"Terima kasih," William menatap Adinda lembut. "Kau benar-benar benteng pertahanan terbaik."

"Sama-sama. Sekarang, kembali bekerja, Pak. Rapat dengan investor Jepang sepuluh menit lagi."

Malam harinya, pukul 20.00. Kantor sudah sepi.

William akhirnya menutup laptopnya. Ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Di sofa sudut, Adinda masih duduk tegak, membaca buku sambil menunggunya.

"Ayo pulang," ajak William, menyambar jasnya. "Saya lapar. Kita makan sate di pinggir jalan saja. Saya bosan makanan hotel."

Adinda menutup bukunya dan berdiri. "Bapak yakin? Itu tidak higienis dan tidak aman untuk profil Bapak."

"Ada kau kan?" William tersenyum jahil. "Kalau ada kuman atau preman yang mendekat, kau tinggal pakai tatapan mautmu itu."

Adinda menghela napas, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis—sangat tipis.

"Baiklah, Pak Bos. Tapi kalau Bapak sakit perut, jangan potong gaji saya."

Mereka berjalan berdampingan menuju lift. Di lorong yang sepi itu, jarak antara bos dan asisten menipis. Tidak ada lagi ketegangan bahaya, hanya kelelahan yang nyaman setelah seharian bekerja.

William melirik Adinda. Di balik wajah dinginnya, ia tahu ada wanita yang peduli padanya lebih dari sekadar tugas. Dan bagi Adinda, berdiri di samping William bukan lagi sekadar pekerjaan, tapi tempat di mana ia merasa dibutuhkan.

"Adinda," panggil William saat pintu lift tertutup.

"Ya, Pak?"

"Besok... jangan terlalu galak pada klien. Tadi siang manajer pemasaran hampir menangis kau tatap begitu."

"Saya usahakan, Pak. Tapi tidak janji."

William tertawa, suaranya menggema di dalam lift. Hari yang berat berakhir dengan ringan.

Bersambung...

1
gina altira
Suka sama ceritanya, ga lebay. Bikin nagih bacanya, tiap hari nunggu update.
Qyzz🇲🇾
maaf kak author..aku ingin bertanya,bukan bermaksud untuk menjatuhkan kak author.novel ini menggunakan AI ke?sebab penggunaan kata macam AI.maaf kalau soalan ni mengganggu kak author.🙏
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!