NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Eka Nawa

Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.

Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu

Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara

happy reading 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 7

Sinar matahari menyoroti sebuah kamar seolah ingin membangunkan kedua insan yang masih tertidur lelap, tetapi posisi mereka tidak seperti pasangan pada umumnya di mana jika pasangan lain saling menghangatkan tapi Arumi malah membelakangi tubuhnya dengan membuat penghalang guling di tengahnya.

Kenan yang sudah terbangun itu pun geleng-geleng kepala merasa heran padahal semalam mereka melakukannya dan tidak menyangka jika Arumi bisa mengimbangi permainan Kenan walaupun di awal Arumi tidak tau harus melakukan apa.

"CK, apa gunanya tumpukan bantal ini? Aku sudah melihat semuanya," ujar Kenan yang bangkit dari ranjang melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Lima belas menit Kenan selesai mandi ia keluar masih mengenakan handuk baju dan menghampiri Arumi yang masih tertidur lelap.

Akan tetapi, netranya menatap wajah merah sang istri dengan matanya yang bengkak,"Apa semalam ia menangis? Apa aku terlalu kejam atau ..."

Tok

Tok

"Tuan, apa sudah bangun?" teriak Nina lalu dengan cepat Kenan menghampiri pelayannya itu karena takut Arumi terbangun.

Pintu terbuka sedikit,"Ada apa?" ketus Kenan.

Bukannya menjawab Nina malah melongo melihat Tuan nya dengan baju handuk serta rambutnya yang basah apalagi ia mencium aroma bunga mawar dan melati yang sangat menyengat.

"Nina ..."

"Eh, iya Tuan. Dibawah ada nyonya dan tuan besar serta nona Riana," cerocos Nina dengan senyuman khasnya itu.

"Heh ular Keket bisa tidak kalau bicara jangan tubuh mu ikut goyang!" kesal Kenan.

Nina malah semakin jadi ia malah tersenyum,"Ah Tuan bisa saja, kalau saya ular Keket nanti tuan gatal-gatal lagi," balas Nina.

Bulu kuduk Kenan langsung merinding mendengarnya,"Sudah, pergi sana siapkan makanan untuk Arumi,"

Kenan keluar kamar menutup pintu sangat pelan lalu berjalan diikuti Nina,"Tuan, semalam berapa ronde?" ledek Nina yang kini berjalan di samping Kenan.

"Jangan kepo, orang kepo matinya kegencet duda," ujar Kenan seraya menuruni anak tangga satu persatu.

"Emang, Tuan. Kalo gitu dudanya ikut Tan mati dong," Kenan tidak menjawab ia menghentikan ocehan Nina yang membuat nya tambah pusing lalu menyuruhnya bekerja kembali.

Sampailah Kenan di bawah dan benar saja ia melihat keluarganya yang tengah duduk di sofa tengah sibuk masing-masing dengan ponsel mereka.

"Pi, mih ... Riana. Kalian kesini?" panggilan Kenan yang menghampiri mereka menghentikan tatapan mereka di ponsel masing masing.

"Tiara celingukan Seperti mencari seseorang Kenan menyadarinya,"Dia masih tidur," celetuk Kenan sembari meminum kopi yang berada di meja yang mana sudah dipersiapkan.

"Kenan, jangan bilang kau habis melakukan itu dengan Arumi," tanya Tiara melihat rambutnya yang basah dan masih mengenakan handuk.

Uhuk uhuk

Pertanyaan Tiara membuatnya tersedak karena memang benar kenyataanya. Tiara hanya memegangi kepalanya merasa pusing bukan karena ia tidak suka tapi seharusnya Kenan jangan melakukan nya lebih dulu dengan Arumi.

"Mami kenapa? Tidak salah kan mereka melakukannya toh mereka juga sudah menikah," ujar Riana.

"Bukan begitu, Riana. Maksud mami kamu Arumi belum boleh di sentuh karena suaminya baru saja meninggal. Butuh waktu empat puluh hari atau bisa dikatakan masa idah ditinggal suami baik masih hidup atau pun meninggal," jelas Arsyad.

Riana mengangguk pelan ia baru tau jika seorang istri yang di tinggal itu ada yang namanya masa idah.

"Jangan kan menyentuh nya sebenarnya menikah pun tidak boleh dulu sebelum empat puluh hari. Kakak mu saja yang ngebet banget nikah udah kebelet kali dia pengen ngelakuin itu," seru Tiara.

"Mih ... Ga gitu juga lah. Mami ga tau yang sebenarnya bagaimana," balas Kenan tidak terima.

"Sudah lupakan, mami kesini hanya ingin melihatnya. Panggilkan dia mami sama papi mau bicara," titah Tiara.

"Jangan sekarang mih, aku sudah katakan nanti jika semuanya sudah siap. Dia masih membenci ku dan ga akan mau bertemu dengan siapapun," ujar Kenan.

Mengingat sikap Arumi padanya Kenan hanya takut istrinya melakukan hal yang sama pada kedua orang tuanya membuat mereka tidak akan bisa menerima Arumi sebagai menantunya.

Akhirnya mereka pun pergi, tetapi ada rasa enggan pada Tiara meninggal kan putra nya, putra yang selama ini selalu di rumah berada di dekatnya walaupun memang sikap Kenan sangat dingin dan selalu bicara singkat pada dirinya walaupun Tiara itu ibunya sendiri.

Tiara terus menatap Kenan yang tidak menatap balik dirinya,"Mami harap Arumi bisa membahagiakan putra kesayangan Mami," batin Tiara yang langsung berbalik menyusul Arsyad dan Riana yang lebih dulu pergi.

Namun, langkahnya terhenti ia menatap ke atas karena merasa ada yang menatapnya. Tiara terkejut melihat seorang wanita yang sedang menatap datar padanya ia bertanya dalam hati apakah dia Arumi.

Tidak lama wanita itu pergi tanpa menyapa ataupun tersenyum membuat Tiara kecewa ia pun memutuskan melanjutkan langkahnya menuju mobil.

"Kanapa tatapannya penuh kebencian? Ya tuhan lindungilah putra ku semoga hanya perasaanku saja," batin Tiara yang langsung masuk ke dalam mobil.

***

Seorang sekretaris sedang berbicara di depan semua karyawan, tepatnya di ruang meeting. Semua memperhatikan wanita itu yang sedang presentasi dengan satu tangannya memegang pointer atau remote persentasi sementara tangan lainnya sesekali memberi gestur untuk menjelaskan data, grafik dan poin-poin penting yang terlihat di layar proyektor.

Bukannya memperhatikan juga Kenan malah senyum senyum sendiri membuat Jimmy beralih menatapnya dengan perasaan bingung.

"Jadi, bagaimana pak Kenan apa ada yang kurang dengan penjelasan saya?" tanya sang sekretaris.

"Tidak ada kau begitu sempurna?" ucap Kenan yang mana membuat semua orang memperhatikan ke arah sang direktur tersebut.

Plaaak

Arghhh

Kenan berteriak setelah pahanya di tepuk cukup kasar oleh Jimmy yang menahan rasa kesalnya.

"Apa yang kau lakukan! Memalukan!" tekan Jimmy.

"A aku ..." ucapannya terpotong saat Kenan tersadar jika semua orang sedang menatapnya. Ia pun menetralkan rasa kesalnya pada Jimmy yang membuatnya terkejut.

Kenan berdehem sambil membenarkan dasinya ia memerintahkan rapat hari ini selesai,"Aku tunggu laporan kalian di meja ku selesai makan siang," Kenan langsung pergi dan semua orang hanya bisa menuruti direktur nya itu.

Diikuti Jimmy yang mana mereka menuju ruangan Kenan. Mereka duduk berbarengan masih dengan tatapan Jimmy yang kali ini membuat Kenan bingung.

"Kenapa?" tanya Kenan.

"Kau yang kenapa? Rapat tidak fokus, pertanyaan dan jawaban tidak nyambung, senyum senyum sendiri. Apa kau sedang menang undian?" cecar Jimmy.

"Lebih dari itu," ucap Kenan.

"Iya, apa ... Ayolah Kenan sekarang kenapa kau tertutup padaku jelaskan apa yang membuat mu sangat bahagia," rengek Jimmy.

"Menikahlah, aku tidak bisa memberi penjelasan apapun padamu,"

Dreeet

Dreeet

"Iya, ha ..."

"Tuan pulanglah Nona terluka cukup parah!"

"Apa?!"

*

*

Bersambung.

1
Shōyō
uwwwww calon
Shōyō
hayolohh
Shōyō
njayyy sapa nichh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!