Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta ditengah keramaian
Malam di Malioboro terasa begitu hidup dengan lampu-lampu jalan yang temaram dan alunan musik musisi jalanan yang syahdu.
Keluarga besar Langit berjalan santai membelah keramaian, namun fokus utama Mami Retno malam itu hanyalah menantu barunya, Senja.
"Senja sayang, lihat butik itu! Itu langganan Mami kalau ke Jogja. Koleksinya bagus-bagus, pasti cantik sekali kalau kamu yang pakai," ujar Mami Retno sambil menarik lembut tangan Senja masuk ke dalam butik mewah bergaya modern-etnik.
Di dalam, Mami Retno bagaikan sedang mendandani boneka cantik. Beliau memilihkan berbagai gamis modern dengan potongan elegan, bahan sutra yang jatuh, hingga pashmina instan yang terlihat mewah. Senja yang terbiasa dengan pakaian sederhana di pesantren hanya bisa berdiri kaku.
"Mami, ini... ini sepertinya terlalu banyak. Senja tidak butuh sebanyak ini," bisik Senja sungkan saat melihat tumpukan baju di tangan pelayan butik.
"Sstt, tidak ada penolakan untuk Mami. Kamu sekarang putri Mami juga," balas Mami Retno sambil tersenyum lebar dan memberikan sepotong gamis berwarna nude ke arah Senja. "Coba yang ini, Sayang."
Sementara itu, Langit berdiri di dekat pintu masuk butik. Tangannya dimasukkan ke saku celana, berusaha terlihat cuek dan bosan.
Namun, setiap kali Senja keluar dari ruang ganti dengan pakaian baru, mata Langit tidak bisa berbohong. Ia diam-diam memperhatikan betapa cantiknya Senja dengan gamis-gamis modern itu, yang membuat aura kecantikan istrinya terpancar berbeda dari biasanya.
Saat Senja melirik ke arahnya seolah meminta pendapat, Langit langsung membuang muka ke arah deretan kemeja pria.
"Terserah. Bagus-bagus aja," gumam Langit singkat, padahal dalam hati ia bergumam, "Cantik banget, parah."
Setelah selesai belanja, Langit yang bertugas membawa semua kantong belanjaan yang cukup banyak. Ia berjalan di belakang Senja dan Maminya.
Sesekali, saat kerumunan orang di Malioboro semakin padat, Langit secara otomatis bergeser posisi menjadi di samping Senja, menghalangi orang asing agar tidak menyenggol istrinya.
Senja menyadari tindakan protektif Langit yang diam-diam itu. Ia menoleh sedikit, mendapati wajah suaminya yang masih tampak "dingin" tapi tetap siaga menjaganya. "Langit, berat ya? Sini aku bantu bawa satu," tawar Senja lembut.
"Nggak usah. Lo—kamu jalan aja yang bener, jangan sampai hilang. Kalau hilang, nanti saya yang disalahin Abah," jawab Langit ketus, tapi tangannya justru sempat menyentuh punggung Senja pelan untuk menuntunnya agar tidak tertabrak kusir delman yang lewat.
Kecanggungan itu masih ada, tapi kehangatan mulai menyelinap di antara mereka di tengah hiruk pikuk Jogja malam itu.
Sesampainya di hotel, keluarga besar mereka memutuskan untuk langsung beristirahat karena jadwal kepulangan ke pondok besok pagi sangat awal.
Langit dan Senja kembali masuk ke kamar mereka. Kali ini, tumpukan kantong belanjaan dari Mami memenuhi sudut ruangan.
Senja baru saja hendak melepas kerudungnya saat Langit tiba-tiba berdehem keras, seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Ehem! Nih," ucap Langit singkat sambil menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang sedari tadi ia sembunyikan di saku jaketnya.
Senja mengernyit bingung. "Apa ini, Langit?"
"Buka aja sendiri, jangan banyak tanya," jawab Langit sambil membuang muka, matanya sibuk memperhatikan pola karpet hotel padahal jantungnya berdegup kencang.
Dengan ragu, Senja membuka kotak itu. Matanya membulat saat melihat sebuah kalung perak dengan liontin kecil berbentuk bulan sabit yang sangat manis.
"Ini... untuk aku? Kapan kamu belinya? Kan tadi kita bareng-bareng terus sama Mami?"
"Tadi... waktu kamu lagi sibuk pilih kerudung sama Mami, saya lari sebentar ke toko sebelah. Cuma barang murah, nggak usah dipikirin," bohong Langit.
Padahal, ia memilih kalung itu dengan sangat teliti dan harganya cukup menguras uang sakunya.
"Anggap aja itu... permintaan maaf. Saya tahu saya kasar, saya tahu saya masuk ke kamar kamu tanpa izin semalam. Jadi, ya... gitu."
Senja terdiam. Ia menatap kalung itu lalu menatap suaminya. Ada rasa haru yang menjalar di hatinya. "Terima kasih, Langit. Ini bagus banget."
"Mau dipakaikan? Eh—maksud saya, kamu bisa pake sendiri kan?" tanya Langit salah tingkah.
Senja sedikit ragu, lalu membalikkan badannya membelakangi Langit.
"Bisa tolong pakaikan? Rambutku... agak susah."
Tangan Langit gemetar saat menyentuh tengkuk leher Senja yang halus.
Aroma parfum melati milik Senja kembali menusuk indra penciumannya. Dengan sangat hati-hati, ia mengaitkan pengait kalung itu.
Setelah terpasang, Langit tidak langsung menarik tangannya. Ia sempat terdiam sejenak, menatap bayangan Senja di cermin rias.
Senja berbalik, mereka kembali terjebak dalam posisi yang sangat dekat seperti tadi subuh. Senja menyentuh liontin bulan sabit itu dengan jarinya. "Kenapa bentuk bulan?"
Langit tersenyum tipis, kali ini senyumnya tulus, bukan seringai nakal. "Karena kalau ada Senja, biasanya nggak lama lagi ada Bulan. Dan malam ini... bulan sabitnya cantik, mirip kamu kalau lagi nggak ngomel."
Senja merona hebat. Ia memukul pelan dada Langit. "Gombal!"
Langit tertawa kecil, suara tawa yang pertama kali didengar Senja dengan begitu lepas.
Malam itu, di bawah temaram lampu hotel, pertengkaran mereka seolah menguap, digantikan oleh rasa nyaman yang perlahan mulai tumbuh secara ajaib.
Senin pagi tiba dengan atmosfer yang berbeda di kediaman Kyai Danardi. Senja sudah rapi dengan seragam SMA-nya yang bersih, kerudung putihnya tersemat rapi tanpa cadar, memperlihatkan wajahnya yang cantik namun nampak cemas.
Di sisi lain meja makan, Langit juga sudah berseragam, meskipun kancing paling atasnya sengaja dibuka—ciri khas gaya pemberontaknya yang belum hilang sepenuhnya.
Sambil menikmati sarapan, Kyai Danardi memberikan wejangan dengan suara baritonnya yang tenang.
"Langit, di sekolah nanti, jaga sikapmu. Kamu bukan lagi sekadar santri atau siswa, tapi kamu adalah seorang suami.
Jaga kehormatan Senja, dan jangan sampai urusan rumah tangga mengganggu belajarmu. Jadilah pelindung yang baik."
Langit mengangguk khidmat. "Iya, Abah. Langit mengerti," jawabnya singkat namun tulus.
Ketegangan dimulai saat mereka berpamitan dan menuju motor matic baru milik Langit. Senja menatap motor itu dengan ragu. Begitu mereka keluar dari gerbang pesantren dan mendekati area sekolah, Senja mulai gelisah.
"Langit, berhenti di depan toko depan itu saja ya," pinta Senja sambil menepuk bahu Langit.
Langit mengernyitkan dahi di balik kaca helmnya. "Kenapa? Gerbang sekolah masih jauh, Senja. Nanti kamu capek jalan kaki."
"Aku nggak mau semua orang melihat kita barengan. Nanti mereka heboh, aku malu," bisik Senja penuh permohonan.
Langit justru sengaja menarik gas sedikit lebih kencang. "Nggak ada sembunyi-sembunyi. Kamu itu istri sah saya, bukan simpanan. Kenapa harus malu?"
"Bukan begitu! Kamu tahu sendiri kan gosip di sekolah itu secepat apa? Aku belum siap ditanya-tanya!" bantah Senja, suaranya naik satu tingkat.
"Denger ya, Senja," Langit memelankan motornya tapi tidak berhenti.
"Makin kita sembunyi, orang makin mikir yang aneh-aneh. Biar mereka tahu kalau lo... eh, kamu... sudah ada yang punya. Jadi nggak ada lagi cowok-cowok yang berani kirim surat cinta titipan lewat teman kamu itu."
Senja mendengus kesal, mencubit pinggang Langit dengan gemas. "Kamu egois banget sih!"
"Bukan egois, ini namanya pengamanan aset," jawab Langit asal sambil terkekeh.
Bukannya berhenti di toko, Langit malah sengaja melajukan motornya tepat ke depan gerbang utama sekolah, tepat di saat jam masuk di mana banyak siswa sedang berkumpul di depan gerbang.
Suasana parkiran sekolah yang biasanya hanya riuh dengan suara mesin motor, mendadak sunyi seketika saat Langit mematikan mesin motor matic-nya.
Semua mata siswa yang sedang nongkrong langsung tertuju pada satu titik. Langit turun dengan santai, melepas helmnya, lalu menoleh pada Senja yang masih terpaku di boncengan.
Begitu Senja turun, tanpa ragu sedikit pun, Langit meraih telapak tangan Senja dan menggenggamnya erat.
Senja yang merasa wajahnya sudah separas kepiting rebus langsung mencoba menepis tangan itu.
"Langit, lepasin! Malu dilihat orang!" bisik Senja setengah merintih, berusaha menarik tangannya.
"Diam," jawab Langit singkat. Bukannya melepas, ia justru mengunci jemari mereka dengan lebih erat. "Biarin mereka lihat."
Langit berjalan dengan langkah tegap, menuntun Senja melewati koridor sekolah menuju kelas istrinya. Sorakan, siulan, dan bisikan-bisikan kaget dari siswa lain terdengar di sepanjang jalan.
Teman-teman Senja yang berdiri di depan kelas langsung melongo. "Ciee! Ada yang baru nih!" teriak salah satu teman kelas Senja.
Langit hanya menanggapi dengan wajah datar dan cuek, seolah dunia hanya milik mereka berdua, sebelum akhirnya melepaskan tangan Senja di depan pintu kelas.
"Belajar yang bener. Nanti istirahat aku jemput," ucap Langit tegas, lalu berbalik menuju kelas dua belas dengan gaya angkuhnya yang khas.
Kegaduhan berlanjut saat jam istirahat. Senja sedang mencoba menikmati bekalnya di kantin bersama dua sahabatnya, namun ketenangan itu hancur saat Langit tiba-tiba datang dan langsung duduk mepet di samping Senja.
Jarak mereka begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan.
Satu per satu teman Senja merasa jadi "obat nyamuk". "Eh, Senja... kita duluan ya, tiba-tiba ingat ada tugas yang belum selesai," pamit teman-temannya sambil senyum-senyum penuh arti.
"Eh, tunggu! Jangan pergi!" seru Senja, namun teman-temannya sudah lari menjauh.
Senja meletakkan sendoknya dengan kasar. "Kamu apa-apaan sih, Langit? Lihat kan, mereka jadi pergi semua! Aku mau makan sama temen-temen aku, bukan sama kamu terus!"
"Ya terus kenapa? Saya kan suami kamu. Wajar dong kalau saya mau makan sama istri sendiri," jawab Langit santai sambil mencuri satu suap gorengan dari piring Senja.
"Ini sekolah, Langit! Kita punya kehidupan masing-masing. Jangan nempel terus kayak perangko, aku risih dilihatin orang satu sekolah!" Senja mulai naik pitam, matanya berkaca-kaca karena kesal.
"Risih atau malu punya suami kayak gue, maksud saya, kayak aku?" Langit menatap Senja tajam, nada suaranya berubah sedikit serius.
Perdebatan itu terus berlanjut, saling lempar argumen tentang batasan dan privasi, hingga bel masuk berbunyi nyaring.
Senja langsung berdiri dan pergi meninggalkan Langit tanpa pamit, sementara Langit hanya menatap punggung Senja dengan helaan napas panjang, baru menyadari bahwa mengatur putri Kyai ternyata jauh lebih sulit daripada mengatur tawuran antar pelajar.