Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Aku Butuh Pelarian
...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...
Tiga hari terakhir, aku butuh waktu untuk membiasakan diri sama keberadaan Quinn di tempatku.
Dia pendiam seperti tikus kecil. Dia cuma keluar kamar buat masak. Aku perhatikan dia enggak pernah menghabiskan lebih dari lima menit sehari di depan TV. Begitu melihat sekilas Papanya, dia langsung balik ke kamar.
Dia enggak pernah bicara kecuali kalau aku memaksanya menjawab. Lingkaran hitam sudah terbentuk di bawah matanya, dan mata itu kehilangan kilaunya. Bahkan saat aku mengancam, matanya sudah enggak lagi berbinar.
Seharusnya ini membuatku puas. Ini yang aku mau. Keluarga Musielak menderita karena peran mereka dalam kematian Naveen.
Tapi saat aku melihat Quinn sedang menyiapkan masakan Chinese, entah apa itu, keheningan mencekam di ruangan ... Dan itu malah mengganggu kepalaku.
Suara pisau yang memotong sayuran jadi satu-satunya hal yang aku dengar. Detik demi detik berlalu, dan kegelisahanku makin parah.
Lututku mulai gemetar, bahu menegang. Mataku mengikuti gerakan tangan tikus kecil itu saat dia memasukkan sayuran ke dalam kuah sup.
Pandanganku menyapu tiap lekuk tubuhnya. Gaun biru tua yang dia pakai hari ini tampak bagus di tubuhnya.
Aku suka dia pakai gaun.
Pikiran itu membuat keningku langsung berkerut.
Quinn menjatuhkan sendok. Aku lihat tubuhnya mulai gemetar.
Saat dia enggak sengaja menumpahkan garam, dia berbisik, “Bisa enggak kamu berhenti lihatin aku?”
Rasa gelisah yang aku rasakan tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang sama sekali enggak aku duga.
Sebelum aku sadar apa yang sedang aku lakukan, aku meloncat dari kursi dan langsung meraih Quinn. Aku dorong dia ke meja dapur.
Saat tangannya membentur granit, bawang bombay yang dia pegang jatuh ke lantai. Sementara mataku mengunci matanya yang penuh ketakutan.
Tanganku mencengkeram pinggulnya, dan aku merasakan tubuhnya yang gemetar di bawah sentuhanku. Enggak ada alasan jelas untuk ledakan amarah yang mendadak ini, dan aku bahkan enggak punya kata-kata untuk menyerang atau membela diri.
Kami cuma saling menatap.
Napasnya mengenai wajahku. Tubuhnya menempel erat ke tubuhku saat aku menahan dia di atas meja. Dadanya naik turun cepat, putus asa.
Begitu aku sadar jantungku berdebar kencang enggak karuan, aku langsung menjauh dan meninggalkan dapur.
Sampai di lift, aku pencet tombol. Begitu pintunya terbuka, aku langsung masuk. Dengan tinju mengepal, aku turun lift.
Saat keluar, Marius dan Chooper langsung menengok ke arahku dari kursi mereka di dalam Bentley.
“Mau pergi?” tanya Marius saat aku duduk di kursi belakang.
“Iya. Bawa aku ke Tully,” gumamku. “Chooper, kamu tetap di sini. Awasi cewek itu.”
Sambil menutup pintu, dia menjawab, “Siap, bos.”
Marius menyalakan mesin dan bawa mobil keluar dari parkiran basecamp. Aku tahu teman aku itu lagi sibuk mengurus si kembar, tapi aku butuh … pelarian.
Aku menyandarkan siku ke pintu mobil, jari-jariku mengusap mulut. Adegan di dapur tadi, memutar lagi di kepalaku.
Aku enggak mengerti kenapa aku bisa kehilangan kendali atas emosiku. Ini beda dari biasanya. Biasanya aku yang paling tenang di antara lima bos Marunda.
Aku bahkan dikenal santai dan lumayan lucu dibandingkan dengan Tully.
Tapi sejak Quinn ada di ruang pribadi aku, aku susah mengendalikan amarah. Sekali saja melihat dia, aku selalu merasa hampir kehilangan akal sehat.
Itu karena aku harus terus-menerus berurusan sama cewek yang punya ginjalnya Naveen.
Mungkin harusnya aku bunuh saja Quinn sama Tanoko, bereskan semuanya, tamat.
Waktu Marius parkir di pintu belakang rumah Tully, aku lihat Gloom sama Jiiro. Orang kepercayaan Tully, sedang merokok di halaman.
Aku buka pintu. Gloom mematikan rokoknya di asbak. Tatapannya ke arahku tajam.
“Ini kejutan?” katanya.
Aku enggak punya waktu untuk basa-basi. “Tully di mana?”
Gloom menunjuk ke pintu geser. “Mungkin di dapur atau di kamar anaknya.”
Aku masuk ke rumah dan mengecek dapur. Di sana, Tully lagi minum kopi.
Alisnya naik saat melihatku, lalu ekspresinya langsung tegang. “Ada apa?”
“Aku cuma butuh istirahat dari rumahku,” jawabku sambil bersandar ke meja dapur, menyilangkan tangan di dada.
“Cewek itu?” tanyanya.
Aku cuma mengangguk.
Kami diam beberapa saat, sampai akhirnya dia bertanya, “Kamu mau bicarain ini?”
Aku mengeluarkan napas panjang sebelum bergumam, “Aku mikir … mungkin sebaiknya aku bunuh aja mereka dan mengakhiri semuanya.”
“Bunuh aja, kalau itu yang kamu pingin,” kata Tully, matanya mantap memperhatikan wajahku.
“Farris pasti bakal kecewa,” kataku.
“Kenapa?” tanya Tully.
“Dia merasa cewek itu enggak bersalah sama sekali,” jelasku.
“Tapi kamu kan enggak merasa begitu,” kata Tully.
Dia taruh cangkir kopi di meja, keluar dari dapur, lalu bilang, “Ikut aku!”
Aku mengeluarkan napas lagi sebelum mengikuti dia ke lantai tiga, masuk ke kamar bayi yang didekor penuh sama hewan-hewan kecil.
Lampunya diredupkan.
Bayi kembar itu tidur pulas, sementara satu lagi mengeluarkan suara khas bayi. Dari baju biru yang dipakainya, aku tahu itu Draco, anak Tully.
Tully menunduk, mengangkat Draco, lalu menghampiriku. Ada senyum bangga di wajahnya saat dia menatap pewarisnya, sebelum matanya pindah ke aku.
“Pegang dia!” bisiknya.
Aku menggeleng kepala dan mundur selangkah.
Tully melihatku dengan tatapan peringatan. “Jaga baik-baik anak aku, Braun!”
Dengan berat hati dan super canggung, aku mengangkat anak itu, langsung dilanda rasa takut akan menjatuhkan dia.
Draco mengeluarkan suara gemericik lucu, dan kayaknya dia lagi senyum ke aku.
Aneh banget, tapi aku mulai merasa lebih tenang.
Saat aku mencoba menyentuh pipinya yang tembem, dia malah meraih jariku. Melihat tangan kecilnya menggenggam tanganku, hatiku langsung melembek.
“Kamu Ayah baptis mereka. Harusnya kamu dekat sama mereka,” kata Tully pelan.
“Aku tahu. Mereka benar-benar bikin aku takut!” Aku mengaku sambil tertawa kecil.
“Kamu cuma butuh sedikit oksitosin biar merasa lebih baik,” gumam Tully.
Aku menatap dia. “Oksitosin?”
“Hormon kasih sayang. Didapat saat kamu gendong bayi atau anak anjing. Menurut kamu kenapa aku jauh lebih kalem? Aku selalu seperti mabuk karena hormon ini.”
Aku tertawa lagi, dan harus aku akui, aku memang merasa lebih baik.
Waktu Draco mulai gelisah, aku balikkan dia ke Tully, yang kelihatan santai banget menggendong bayi, seolah itu hal paling alami di dunia ini.
“Jadi Papa tuh cocok banget untuk kamu,” kataku.
“Aku setuju banget!” Suara cewek tiba-tiba muncul dari belakangku.
Disini, aku dapat banyak pelajaran hidup tentang kehilangan seseorang 💔 karena kesabaran dan keikhlasannya akhirnya mereka bahagia✨
Bakalan kangen banget sma Braun dan quin, semoga kedepannya masih bisa ketemu mereka thor 🫶🏼😭💙✨✨