Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.
“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”
Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Ajaran Melatih Dantian!
Para anggota benar-benar menikmati waktu mereka. Mereka makan bersama di meja kayu panjang yang permukaannya sudah penuh goresan lama, saling melempar candaan ringan, lalu kembali bekerja. Ada yang mengolah ladang, ada yang membantu pekerjaan serabutan di sekitar tempat itu. Tanah yang lembap menempel di telapak kaki, angin sore membawa bau rumput segar. Meski Pak Kron memberi beban kerja yang cukup, tidak pernah terasa berlebihan. Ia selalu memperhatikan kondisi setiap orang, memberi waktu istirahat ketika napas mulai berat dan bahu terlihat menurun.
Raze memperhatikan satu hal yang menarik. Tidak ada satu anak pun yang mengeluh. Tidak terdengar gerutuan, tidak tampak wajah masam atau dahi berkerut.
Aku bertanya-tanya, pikir Raze, apakah karena mereka tidak ingin mengecewakan Tuan Kron, atau karena hidup di sini jauh lebih baik daripada sendirian di luar sana, tanpa ada yang benar-benar peduli.
Raze dan Safa, sambil mengunyah makanan, tanpa sadar duduk bersebelahan. Meski begitu, mereka tetap menjaga jarak. Safa hanya menggunakan isyarat tangan untuk meminta beberapa hidangan dari meja. Raze mengambilkannya begitu saja dan menyerahkannya tanpa berpikir panjang, seolah itu sudah menjadi kebiasaan.
Tidak lama kemudian, Tuan Kron meninggalkan meja untuk mengurus sesuatu. Kepergiannya justru membuat suasana sedikit lebih longgar. Beberapa anak menghela napas lega, suara sendok dan piring kembali terdengar lebih santai.
“Aha, jadi dia bisu!” seru Gren sambil menjentikkan jarinya. “Pantas saja dia pendiam. Kupikir dia punya masalah mental. Ternyata memang bisu. Istri yang hebat, tidak bisa mengomel.”
“Hei, jaga ucapanmu!” sela Simyon cepat. Ia melirik Raze sekilas, memperhatikan reaksinya terhadap komentar tentang orang yang dekat dengannya. “Kita semua tinggal di sini. Kita ini keluarga, Gren! Apa kamu juga akan bicara seperti itu tentang keluargamu sendiri??”
“Kita bukan keluarga!” balas Gren tajam, nadanya meninggi. “Kau berkulit gelap, aku berkulit terang. Bahkan gadis cacat pun tahu kita bukan keluarga.”
Raze terus mengunyah makanannya, wajahnya tetap datar. Namun di dalam dadanya muncul gelombang kegelisahan yang aneh. Sensasinya bukan sekadar emosi, melainkan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya. Ia melihat tangan Simyon yang terkepal erat. Tidak mengherankan. Gren memang dikenal suka melontarkan komentar menyebalkan, terutama saat Pak Kron tidak ada.
Ruangan langsung hening ketika Tuan Kron kembali. Beberapa anak spontan menegakkan punggung, suara peralatan makan mereda.
“Setelah kalian selesai makan, istirahatlah sebentar agar pencernaan kalian tidak terganggu,” ujar Pak Kron dengan nada tegas. “Setelah itu, kita bertemu di halaman, dan kita akan segera memulai latihan!!"
Mata anak-anak langsung berbinar. Bahkan anak-anak yang lebih kecil pun tersenyum lebar, beberapa mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan wajah gembira.
Raze berpikir, bahkan anak kecil pun bersemangat mempelajari cara membela diri. Pemandangan itu membangkitkan kenangan masa kecilnya. Namun ingatan yang muncul justru foto dirinya saat berusia lima tahun, penuh memar, tubuh lemah, rambut menutupi mata.
Setelah waktu istirahat, semua orang berkumpul di halaman luas di depan gedung utana. Tempat itu cukup besar, dilengkapi lintasan lari dan beberapa rintangan sederhana. Pak Kron berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung.
“Karena kita kedatangan pendatang baru hari ini,” katanya, “saya ingin menyampaikan beberapa hal sebelum kita mulai.”
Aura yang dipancarkannya mengingatkan Raze pada penyihir militer yang pernah ia temui sebelumnya.
“Dunia luar berbahaya, terutama bagi kalian,” lanjut Pak Kron. “Meski banyak dari kalian berharap bisa menghindari Pagna, selalu ada kemungkinan mereka menyusup ke masyarakat umum.”
“Oleh karena itu, semua yang saya ajarkan sangat penting untuk melindungi kehidupan damai di luar sana. Apa yang kalian lakukan dengan keterampilan ini setelah meninggalkan tempat ini adalah pilihan kalian sendiri. Apakah kalian mengerti?”
“Ya, Tuan!” jawab anak-anak serempak.
“Bagus. Gren, cepat... pimpin pemanasan!
Gren mengangguk singkat lalu mulai berlari mengelilingi halaman. Anak-anak lain segera mengikuti, termasuk Raze dan Safa, menyesuaikan kecepatan mereka masing-masing.
Mereka berlari membentuk lintasan persegi, berputar tanpa henti. Tak lama kemudian, kaki Raze terasa semakin berat. Bibirnya mengering, dadanya sesak seolah hendak meledak merasakan lemah tubuhnya saat ini.
'Apa yang terjadi?' pikirnya ketika seorang anak berusia sekitar delapan tahun menyalipnya, bahkan setelah menyelesaikan satu putaran penuh.
Satu per satu anak berhasil melewatinya, bahkan Safa pun menjauh di depannya.
'Aku tahu tubuh lamaku tidak atletis,' pikir Raze gelisah. 'Tapi sekarang aku berada dalam tubuh seorang remaja. Seharusnya cukup kuat. Mengapa aku tertinggal dari semuanya? Kenapa tubuh ini terasa sangat payah??!'
Sebuah pikiran mengganggu muncul di benaknya.
'Mungkinkah ini akibat mantra yang kuucapkan sebelumnya?'
Untuk membuat tubuhnya mampu menahan sihir bintang sembilan, ia pernah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, hingga rambutnya memutih. Tubuh ini juga memiliki rambut putih. Apakah efek mantranya ikut memengaruhi tubuh ini?
Raze akhirnya berhenti. Ia berlutut, menopang tubuhnya dengan tangan, menarik napas dalam-dalam hingga ritmenya perlahan stabil.
'Sial..!! Aku seperti pecundang!' pikirnya. Jelas tubuh ini tidak cocok untuk seni bela diri.
Namun sesaat kemudian, pikirannya berubah.
'Oke... tidak masalah. Selama aku masih bisa menggunakan sihir, semuanya akan baik-baik saja.'
Pak Kron memperhatikan Raze dan Safa sebagai wajah baru.
“Baik, Gren. Lanjutkan ke tahap berikutnya,” perintahnya. “Raze, Safa, kemarilah.”
Gren melanjutkan pemanasan dasar bersama anak-anak lain. Mereka beralih ke latihan beban tubuh, push-up, sit-up, dan squat. Raze merasa sedikit lega karena tidak harus ikut dalam latihan intensif itu.
“Pada akhirnya, kalian berdua juga akan mampu melakukan hal yang sama seperti mereka,” kata Pak Kron. “Karena ini hari pertama, jangan memaksakan diri sampai tubuh kalian benar-benar rusak.”
“Kalian duduklah... Punggung menghadap ke arahku, cepat." titah pemimpin itu lagi.
Raze dan Safa mengikuti perintah. Begitu mereka duduk, tangan Pak Kron diletakkan di punggung mereka, hangat dan terasa begitu kuat.
“Apa yang akan saya ajarkan adalah dasar dari semua seni bela diri,” jelasnya. “Ini disebut Qi. Energi internal yang mengalir di dalam tubuh. Qi berasal dari dantian, pusat energi tak terlihat di dekat perut. Setiap gerakan, setiap tarikan napas, semuanya menggunakan Qi.”
“Kalian harus melatih dantian agar menjadi lebih kuat. Anggap dantian sebagai piring, dan Qi sebagai isinya. Hal pertama yang akan saya ajarkan adalah cara merasakan Qi kalian.”
“Lingkungan di sekitar, udara, tumbuhan, dan tanah, akan memberi energi pada dantian. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Saat keterampilan kalian meningkat, status kalian sebagai prajurit juga akan naik. Namun bagaimana kalian melangkah ke depan sepenuhnya tergantung pilihan masing-masing. Aku harap kalian mengerti!"
Raze terpaku. Penjelasan Pak Kron terdengar sangat mirip dengan konsep mana. Energi dunia, tingkat kekuatan, dan pusat pengendalian di dalam tubuh. Bedanya, mana berpusat di inti sihir dekat jantung.
“Setelah kalian mempelajari teknik penyerapan ini,” lanjut Pak Kron, “kalian harus melatihnya setiap hari agar dantian berkembang dan mampu menampung lebih banyak Qi.”
“Ingat satu hal! Anggap ini sebagai larangan...”
Nada suaranya mengeras. “Jangan pernah melampaui batas tubuh kalian. Menyerap terlalu banyak Qi dapat mengacaukan pikiran dan mengaburkan pemahaman tentang benar dan salah.”
“Jika salah satu dari kalian menjadi gila,” tambahnya dingin, “aku sendiri yang akan menangani kalian tanpa ampun, dengan cara yang tak pernah kalian bayangkan!"
Di dalam hati, Raze hampir tersenyum.
Peringatan itu terasa sangat mirip dengan ajaran Ilmu Hitam tentang kegilaan. Namun ia tidak pernah kehilangan kendali. Ia selalu tahu batasnya.
Jika ilmu hitam yang seharusnya menghancurkan kewarasan saja tidak berhasil, maka metode pertumbuhan Esensi Gelap ini jelas bukan masalah baginya.
'Ajaran yang menarik,' pikir Raze. Mengancam murid baru dengan kematian di hari pertama.
“Baik... Aku akan mulai sekarang!" kata Pak Kron.
***