"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Seperti biasa, Naina menyiapkan sarapan untuk Ryan. Seolah tak terjadi apa-apa, Ryan terkesan acuh tak acuh. Ia duduk dan menikmati sarapan yang telah Naina hidangkan untuknya.
Benar-benar seperti tuan rumah yang di layani oleh seorang pelayan yang manut pada majikannya. Ryan hanya diam menerima setiap apa yang di berikan Naina padanya.
Selepas sarapan Ryan bergegas pergi ke kantor. Namun siapa sangka gadis kecil yang sedari tadi tertidur itu terbangun dan mengusik pagi yang sibuk.
Nayla menangis ingin pergi bersama Ryan. Naina mencoba membujuk Nayla namun sia-sia. Nayla memukul Naina seolah benci pada Ibunya.
Naina tak bisa berbuat apa-apa. Ia lepas kendali dan membentak Nayla, membuat gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya.
"Apa begini caramu mendidik anak?" Bentak Ryan dan mengambil alih Nayla.
"Sayang, apa kau ingin ikut dengan ayah?"
Nayla mengangguk, Ryan pun tersenyum penuh kemenangan. Di balik senyumnya tersimpan makna tersirat yang tak bisa Naina artikan.
"Mandikan dia!" Titah Ryan pada Naina.
Naina hanya bisa menurut dan langsung memandikan Nayla. Hanya butuh beberapa menit saja, Nayla selesai mandi dan telah berpakaian rapih.
Ryan membawa Nayla dan menggendongnya. Tanpa pamit dan salam Ryan dan Nayla begitu saja meninggalkan Naina seorang diri.
Naina merasa anaknya sudah tak lagi membutuhkannya. Nayla lebih ingin bersama Ryan, ayahnya. Daripada dengannya. Naina merasa telah gagal menjadi seorang Ibu.
Ternyata sesakit ini rasanya tak di anggap oleh anak sendiri. Cemburu yang berlebihan ini membuat hati Naina nyeri.
...****************...
Sesampainya di kantor, banyak orang yang membicarakan Ryan yang tiba-tiba membawa anak kecil ke kantornya. Mereka bertanya-tanya satu sama lain. Apakah itu keponakannya? Atau itu anak Ryan dari tunangannya?
Sebuah teka-teki yang di lontarkan oleh mereka dan mereka pula yang menjawabnya.
"Hai, Nay, apa kabar?" Sapa Dani.
"Ai... Om." Seru Nayla khas anak kecil.
Dani memberikan tos pada Nayla.
Dani langsung memberikan berkas yang harus di lihat oleh Ryan dan di tandatangani. Selagi Ryan memeriksa berkas Dani bermain-main dengan Nayla.
Gadis kecil itu sangat akrab dengan siapa pun yang di rasa tak mengganggu dirinya. Nayla mudah berbaur dan tak menyusahkan.
"Anak lu cantik banget sih, gemes deh." Celetuk Dani dan mencubit pipi Nayla.
"Iya, dong. Siapa dulu dong ayahnya." Pungkas Ryan pede.
"Ini juga karena Naina yang cantik bukan karena elu."
Ryan terdiam. Ia tak senang jika nama Naina di sebutkan. Ryan tak ingin rencananya gagal. Ryan ingin membuat Nayla lupa akan sosok seorang Ibu. Ryan akan perlahan-lahan memisahkan Naina dengan Nayla.
Dengan begitu Ryan bisa mendapatkan hak asuh Nayla secara penuh. Ryan tak ingin bersama Naina, tapi ia tak ingin berpisah dengan Nayla.
Untuk tahap ini Nayla masih bisa di kendalikan. Ia seolah enggan untuk bersama Naina. Tahap selanjutnya memisahkan Nayla dengan Naina sepenuhnya.
Ryan tinggal mengajukan perceraian pada pengadilan agama. Rasanya Ryan tak bisa hidup dengan cara membagi hati pada wanita yang tak ia cintai.
Ryan pulang lebih awal karena merasa kasihan pada Nayla yang mulai rewel dan merengek. Sesampainya di rumah Nayla telah tertidur di pangkuan Ryan.
Setelah menidurkan Nayla, Ryan menyuruh Naina duduk di hadapannya. Dengan memasang wajah serius Ryan menatap Naina.
"Jujur saja, kau ingin berapa?" Ucap Ryan membuat Naina tak mengerti.
"Apa yang Pak Ryan katakan?"
"Aku sudah membulatkan tekadku. Mari kita bercerai."
Naina terdiam. Lagi, ia mendengar ucapan seperti itu. Apakah ini sudah jatuh talak? Naina yakin, Ryan mengatakan itu bukan sekedar basa-basi apalagi hanya candaan belaka.
"Apa salah saya, Pak?" Tanya Naina dengan suara gemetar.
"Kau tidak salah. Aku yang salah. Aku bersalah karena membawamu ke kehidupan ku. Aku yang salah karena mengenal dirimu."
"Apa kah aku kurang pantas? Aku bisa lebih menurut lagi. Apakah aku kurang dalam melayani anda? Aku bisa lebih gesit lagi. Apa aku kurangㅡ"
"Cukup!" Ryan menatap Naina dengan tajam. "Aku tidak pernah menganggap kamu ada dalam hidupku. Aku tidak pernah mencintaimu, Naina."
Deg....
Hati Naina hancur. Hancur, sehancur hancurnya. Alam bawah sadarnya terus memungut serpihan hati itu dan mencoba menyatukannya kembali.
Naina berpikir, pasti Ryan tidak merasa puas dengan servis yang di berikan. Makanya suaminya itu mencari kenikmatan pada wanita lain. Naina menyadari dirinya memang kurang dalam hal itu. Naina kurang agresif dalam melayani suaminya.
Naina menepiskan rasa malunya. Ia tak ingin di buang. Ia tak ingin di campakkan. Tak apa membuang harga dirinya, asal Ryan tidak berpaling darinya.
Perlahan Naina berdiri dan membuka kancing bajunya. Ia tanggalkan perlahan pakainya itu membuat Ryan terdiam menatap keindahan di depannya.
Saat Naina hendak membuka penyangga dada miliknya Ryan langsung berteriak menghentikan aksi Naina.
"Apa yang kau lakukan, Naina?" Bentak Ryan namun matanya tak dapat berpaling dari keindahan itu.
Naina maju, dan mendorong Ryan, sehingga Ryan terjatuh di atas sofa.
"Aku akan melayani anda, Pak." Naina melumat bibir Ryan dengan kaku.
Ryan tak dapat menolaknya, ia membiarkan Naina melakukan hal aneh itu. Sebisa mungkin Ryan menenangkan dirinya agar tak terangsang oleh aksi Naina.
Namun sayang, pertahanannya roboh saat Naina mengecup telinga Ryan dengan manja. Ryan mengerang menahan hasratnya.
"Nainaㅡ" desis Ryan tak kuasa.
"Iya, sayang." Jawab Naina dengan wajah sendu dan menggoda.
"Tolong jangan tinggalkan aku, jangan buang aku. Aku rela mengabdi padamu. Pakai aku sesukamu. Asal jangan buang aku." Naina mengalungkan tangannya pada leher Ryan.
Kembali Naina melumat bibir Ryan dengan lembut dan kaku. Gesekan yang Naina berikan membuat pertahanan Ryan runtuh. Sebagai pria dewasa dan normal hal seperti ini tidak bisa untuk ia tolak.
Ryan kini mengambil alih permainan Naina. Dengan penuh nafsu Ryan mencium setiap inci wajah dan leher Naina. Sampai pada gundukan kenyal beraroma khas. Ryan menghirup aroma itu dengan brutal.
Desahan demi auman manja terus terlafazkan dari bibir Naina membuat aksi Ryan semakin membabi buta.
Permainan yang terbilang kasar dan terburu-buru membuat Naina meringis kesakitan. Namun ia tahan agar Ryan tak kecewa. Naina lakukan ini agar ia tak di buang oleh Ryan. Agar ia dapat hidup layak bersama anaknya.
"Aaah.... Pelㅡannn...." Rintih Naina pada akhirnya membuat Ryan menghentikan aksinya.
Ryan menatap Naina kesal, "ternyata kau tidak patuh, Naina."
Ryan melepaskan tautannya dan berlalu meninggalkan Naina.
Naina yang tak ingin suaminya kecewa pergi mengejar Ryan dan memohon agar tak membencinya.
"Maafkan aku, Pak. Mari kita bermain lagi. Beri tahu aku harus bagaimana." Naina bersimpuh di kaki Ryan.
Ryan mengangkat wajah Naina dan memerintah Naina untuk memainkan miliknya. Naina terdiam, ia tak tahu harus bagaimana. Perlahan Naina memegangi milik Ryan, dengan menatap Ryan penuh harap.
"Cepat lakukan!" Bentak Ryan tak sabaran.
Walau merasa jijik Naina tetap menurutinya. Semua demi keserakahan dirinya. Naina hilangkan jauh-jauh harga dirinya. Ia rendahkan dirinya di depan suaminya, hanya untuk sebuah pengakuan bahwa dirinya adalah istri yang dapat di andalkan.
Setelah puas bermain-main, Ryan meninggalkan Naina begitu saja. Naina yang terkulai lemas dengan peluh di sekujur tubuhnya.
Kembali Naina meratapi nasib dan kebodohannya. Dalam tangisnya Naina berdoa agar Tuhan memberikan jalan untuknya, dan membalikkan hati suaminya.
"Tuhan, tolong beritahu dia, bahwa aku sangat tulus mencintainya." Air mata menetes di kedua ujung mata Naina.
"Tolong beri tahu dia bahwa aku lebih layak dari gadis penggoda itu."