Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Tak Jadi Pulang
Bab 9
Tak Jadi Pulang
Matahari yang sudah beranjak semakin tinggi, mulai menyinari seluruh sudut rumah melalui celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat. Sinar emasnya menyentuh permukaan lantai yang dilapisi karpet tebal, membuat ruangan terasa lebih hangat dan penuh dengan cahaya. Namun Dika masih belum bergerak sedikit pun dari duduknya di kursi sofa besar yang terletak di ruang tamu. Ia bahkan telah menghubungi kantor lebih awal pagi ini untuk memberitahukan bahwa ia tidak bisa masuk kerja, dengan alasan bahwa ada kebakaran besar di sekitar daerah rumah dinasnya semalam dan perlu waktu untuk mengurus beberapa hal. Padahal rumah dinasnya sendiri tidak mengalami kerusakan sedikit pun.
"Mas nggak bersiap-siap?" Tanya Lyra dengan suara yang lembut, menyadari hari ini jadwal Dika pulang ke kota.
Yang Lyra tahu, Dika pulang menemui keluarga, khususnya ibunya yang selalu menunggu setiap minggunya. Wanita itu berpikir betapa pentingnya kunjungan itu bagi Dika, karena lelaki itu selalu mengatakan bahwa ibunya adalah orang tersayang dalam hidupnya.
Dika perlahan mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajah Lyra yang cantik itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi hangat dan penuh dengan cinta. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian menggenggam erat tangan Lyra yang berada di pangkuannya.
"Nggak. Mas Nggak jadi pulang. Mas nggak tega tinggalin kamu sendirian disini, apalagi setelah kejadian semalam. Kamu pasti masih merasa takut." Ungkap Dika.
"Aku udah nggak apa-apa Mas."
"Tapi Mas khawatir."
Lyra sedikit mengerutkan dahinya, wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang sebenarnya sudah ada dalam dirinya sejak tadi pagi. Ia tahu bahwa jika Dika tidak pulang, ibunya pasti akan merasa kecewa dan mungkin akan menyalahkan dirinya seperti keluarga Irwan dulu. Dan Lyra tidak mau itu terjadi.
"Apa nggak apa-apa Mas? Kalau Ibu Mas marah bagaimana? Mas kan selalu bilang, kalau Ibu menunggu Mas setiap minggunya." Ucap Lyra dengan nada yang sedikit khawatir, tangannya masih erat dipegang oleh Dika.
Dika memberikan senyum lembut padanya, kemudian mengusap-usap tangan Lyra dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"Nggak apa-apa sayang. Ibu pasti bisa mengerti kalau Mas ada urusan penting yang harus diselesaikan di sini. Nanti Mas akan telepon dan menjelaskan dengan baik-baik saja." Bohong Dika dengan tenang, membuat alasan yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak.
Sejujurnya, Lyra merasa sangat senang mendengar bahwa Dika tidak jadi pulang dan memilih untuk menemani dirinya. Perasaan lega dan bahagia yang muncul dalam hatinya membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak lebih dekat dengan lelaki itu.
Lyra perlahan bergerak mendekat ke sisi Dika, kemudian dengan lembut memeluk tubuhnya dari samping, kedua lengannya mengelilingi pinggangnya yang kuat dengan erat, kepalanya menyandarkan diri dengan nyaman di bahu kanannya yang lebar dan hangat. Merasakan sentuhan hangat dari tubuh Lyra, Dika langsung merespon dengan merangkul tubuh kekasihnya itu dengan erat, tangan kirinya berada di pinggangnya sementara tangan kanannya menyentuh lembut rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat. Kedua tubuh mereka saling bersandar erat, seolah ingin menyatu menjadi satu dan memberikan rasa aman serta nyaman satu sama lain.
Setelah beberapa saat berlalu dengan damai dan penuh kedekatan itu, Lyra merasa ada sesuatu yang harus ia tanyakan kepada Dika. Sesuatu yang telah menjadi beban dalam hatinya sejak lama. Suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga Dika yang sedang menikmati kehangatan tubuh kekasihnya.
"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"
Dika segera menoleh ke arahnya, wajahnya penuh dengan perhatian dan kasih sayang. Ia mengangguk perlahan, kemudian menjawab dengan suara yang lembut.
"Tentu saja sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Lyra mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama ia simpan dalam hati. Matanya melihat langsung ke mata Dika dengan penuh harapan dan sedikit rasa takut.
"Apa Mas sudah membicarakan rencana pernikahan kita kepada keluarga Mas? Mas kan sudah berjanji kita akan menikah tahun ini. Aku ingin tahu bagaimana tanggapan keluarga Mas tentang kita..."
Suara Lyra sedikit gemetar namun tetap jelas, menunjukkan betapa pentingnya pertanyaan itu bagi dirinya. Ia tahu bahwa pernikahan bukan hanya masalah antara dua orang yang saling mencintai, namun juga berkaitan dengan kedua keluarga yang terlibat.
Dika sedikit terkejut. Namun dengan cepat menutup kegugupannya.
"Soal itu... sudah. Dan tanggapan mereka, semua terserah Mas saja. Tapi sayang, kamu tahu kan ini bukan pernikahan pertama kita. Jadi tetap pada rencana semula. Nggak ada acara, hanya mengundang beberapa saksi dan keluarga Mas saja."
Dan Dika berbohong lagi, agar ia tetap bisa menjalin hubungan dengan Lyra. Sebenarnya tidak ada satu pun keluarganya yang tahu soal perselingkuhannya dengan Lyra. Dan Dika akan meminta ijin jika benar-benar sudah terdesak saja.
"Iya, nggak apa-apa Mas. Aku mengerti."
Lyra tidak ingin menuntut lebih karena sadar akan kekurangan dirinya. Baginya menikah dan sudah sah, itu sudah lebih dari cukup membuatnya bahagia. Apalagi mendapat restu dan keluarga Dika mau menerimanya. Semua itu merupakan impian Lyra yang sederhana namun belum bisa menjadi kenyataan.
-
-
-
"Maaf ya, Mas nggak jadi pulang. Warga mau gotong royong bangun rumah-rumah korban kebakaran. Mas tidak enak kalau pulang. Apalagi Mas cuma bisa bantu mereka di hari libur saja, sabtu dan minggu. Nggak apa-apa kan?"
Ada rasa sedikit kecewa mendengar Dika mengatakan tidak jadi pulang hari itu. Namun Novia berusaha mengerti suaminya karena ia tahu, Dika memang suka membantu dan mudah iba kepada orang yang kesusahan.
"Nggak apa-apa Mas."
"Tapi bagaimana dengan Ibra?"
"Nanti aku coba jelaskan ke Ibra. Dia pasti bisa mengerti."
"Baiklah. Terima kasih atas pengertian mu sayang. Kalian menginap saja di rumah ibu, biar tidak bosan."
"Iya Mas. Mas sudah makan?"
"Mas baru selesai jum'atan. Habis ini baru mau cari rumah makan."
"Ya sudah kalau gitu. Hati-hati, dan jaga kesehatan Mas disana."
"Ya sayang, kalian juga. Mas kangen. Kalau begitu Mas tutup dulu teleponnya ya."
"Iya Mas."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dika menelpon Novia usai sholat jum'at. Dirinya mengabarkan tidak bisa pulang dengan alasan membantu warga korban kebakaran. Padahal itu hanya alasan saja karena tidak ingin meninggalkan Lyra.
Dika sudah merasa tenang setelah mengabari Novia dirinya tidak jadi pulang. Berikutnya, jika panggilan telepon Novia tidak diangkat, ia bisa beralasan sedang membantu warga.
Novia yang mendengar Dika tidak jadi pulang pun, segera memasukan lauk-lauk yang sudah ia persiapkan untuk menyambut Dika. Novia sengaja memasak banyak untuk menyenangkan hati suaminya. Namun semua lauk itu ia bungkus dan rencananya akan di makan bersama Ayah, ibu dan kakak-kakaknya.
"Loh, kok di masukan ke rantang Ma, nggak jadi buat Papa?" Tanya Ibra yang baru saja keluar dari kamarnya.
Bocah itu tahu ibunya masak banyak sejak pagi untuk Ayahnya.
"Papa mu nggak jadi pulang. Banyak pekerjaan yang nggak bisa di tinggalkan."
Novia terpaksa berbohong. Ia sengaja tidak mengatakan sempat terjadi kebakaran di kawasan tempat tinggal Dika agar anaknya itu tidak cemas.
"Yah, gagal lagi deh main sama Papa. Kenapa nggak kita susul aja sih Ma? Ibra kan kangen sama Papa." Ujar Ibra, memelas.
Memang sempat terlintas di pikiran Novia ingin menyusul Dika disana. Tapi karena libur hanya 2 hari saja, rasanya begitu lelah harus menaiki bus sekian jam lamanya dalam perjalanan. Dan sudah pasti, waktu liburnya akan habis di perjalanan pulang pergi saja.
"Nanti ya, kalau Ibra libur panjang, kita yang susul Papa kesana." Ujar Novia memberi ide.
"Bener ya Ma?"
"Iya sayang." Jawab Novia sambil membelai dengan lembut kepala anaknya.
"Yeee...!"
Ibra antusias mendengar janji ibunya, dan bersorak kegirangan.
"Sudah, ayo... Ibra beresin dulu apa yang mau dibawa. Kita menginap di rumah Nenek ya."
"Oke Ma."
-
-
-
Bersambung...
Note : minta like nya boleh? 🥺🙏, sekedar komen lanjut juga gpp🥺
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra