Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Peduli
Terangnya sinar surya berkolaborasi dengan kobaran api yang semakin menyilaukan mata bahkan menghasilkan luka yang berakhir dengan airmata. Manik Alina sudah basah sambil menatap api yang tengah membakar pakaian indah yang perlahan menjadi abu.
Dress pernikahan yang dibuat khusus oleh Alina sendiri untuk hari bahagianya ia lenyap kan dalam sekejap. "Seperti dress ini, maka kau juga akan lenyap. Kau hanya memberi ku luka Ed, dan kau juga semakin menambah nya dengan ucapan mu itu. Abu dress ini akan mengurangi kenangan buruk itu." Setelah semuanya jadi abu, Alina melihat hembusan angin membawa abu-abu itu dan menghilang sepenuhnya. Seharusnya, dia melakukan ini sejak awal.
"Pergi! Aku tidak ingin ada apapun! Aku ingin sendiri!" Alina mulai lagi, bibi merasa khawatir bukan main, apalagi mendengar teriakannya dari dalam kamar. Dari pagi hingga menjelang sore, Alina tak keluar dari kamarnya.
"Sebentar Rosa. Nenek akan kembali." Setelah memastikan bayi kecil itu tertidur, bibi menuju kamar tempat Alina berdiam diri.
"Nona, nona buka pintunya. Jangan begini." Bibi yang menunggu pintu terbuka akhirnya lega melihat Alina muncul di depannya.
"Nona, apa yang nona lakukan?"
"Aku tidak apa bi. Dan aku tidak ingin berada di ruangan, dimana aku merasa sesak." Bibi mengerti, bahwa luka Alina kembali menganga, sehingga bibi mengangguk dan segera membawakan sesuatu untuk Alina.
Telinga Alina mendengar dengan jelas suara langkah kaki bibi perlahan menjauh.
******************
"Ini Nona." Bibi kembali dengan membawakan sesuatu yang bisa dimakan oleh Alina.
"Letakkan saja." balas Alina. Bibi menghela napas, dia mengangguk kecil dan kembali keluar, sekalian ingin melihat keadaan Rosa yang tertidur. Cukup lama dan lekat bibi menatap wajah mungil itu. "Wajahmu tidak terlihat seperti nya...... Tapi..." Bibi tidak melanjutkan ucapannya karena Rosa terbangun dan menangis.
Bibi tentu mengambil susu khusus yang setidaknya sama dengan ASI untuk pertumbuhan bayi itu. Rosa tampak minum dengan lahap dan membuat bibi tersenyum manis.
"Tumbuhlah dengan baik, dan aku berharap.... Kau berhasil meluluhkan bongkahan es yang telah membeku keras itu." Ujar bibi sambil menatap kamar Alina.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Alina terbangun karena mendengar tangisan bayi yang membuat dirinya kesal. "Astaga! Ada apa dengan nya? Berisik sekali!" Mata Alina yang baru saja beristirahat langsung terjaga.
Beberapa waktu menunggu tak membuat tangisan itu mereda, justru semakin besar dan melengking.
Terdengar juga suara bibi yang mencoba menenangkannya, tapi tidak berhasil. "Nona...." Bibi tercekat dengan ekspresi yang khawatir ketika melihat Alina yang berada di hadapannya.
"Ada apa? Dia terus saja menangis. Aku tidak suka bibi! Lakukan apapun untuk membuatnya diam!"
"Nona, Rosa demam tinggi. Bisa Nona bantu bibi membawanya ke rumah sakit." Alina melihat bayi yang sudah beberapa hari di kediamannya itu tampak terus menerus menangis. Dengan tatapan datar, tanpa ekspresi kasihan ataupun cemas.
Suara angin kencang dan hujan yang seolah sudah janjian turun langsung menghiasi dini hari itu. Melihat tidak ada respon dari Alina, bibi memilih pergi menuju kamar belakang dimana sang supir tidur disana.
"Asep! Sep! Bangun! Sep!" Bibi menggedor pintu kamar yang sepertinya suara panggilannya tertelan oleh suara alam yang sedang bermain saat ini.
Tangan wanita itu semakin merasakan panas yang membakar kulitnya dari dahi mungil itu, Rosa masih menangis karena tubuhnya tidak nyaman.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏