NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:129.3k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden.

Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.

Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Empat

Malam belum benar-benar selesai ketika suara pintu kamar itu akhirnya terbuka. Arka keluar tanpa menoleh ke belakang.

Langkahnya cepat, nyaris seperti orang melarikan diri. Rambutnya masih basah oleh keringat dan air, entah ia menyiram wajahnya berapa kali di kamar mandi. Namun, semua itu tak cukup membersihkan rasa kotor yang menempel di dadanya. Kemejanya sudah dikenakan kembali, tapi kancing atas dibiarkan terbuka, seolah napasnya masih belum mau patuh.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, lorong kembali sunyi.

Arka berhenti di ujung koridor. Tangannya menempel ke dinding, kepalan jarinya memutih. Dadanya naik turun tak beraturan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu ke mana harus pergi.

Ruang kerja terasa terlalu sempit. Ruang tamu terlalu terang. Kamar Revan, tidak mungkin. Ia tak pantas berada di dekat anak itu malam ini.

Akhirnya, Arka melangkah ke arah pintu belakang rumah.

Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk, tapi ia justru menyambut rasa itu. Ia butuh sesuatu yang bisa membuatnya sadar, membuatnya merasakan konsekuensi.

Rokok pertama ia nyalakan dengan tangan gemetar. Asapnya naik perlahan, bercampur dengan napas berat yang keluar dari paru-parunya. Tapi bahkan nikotin pun tak mampu menenangkan pikirannya.

Wajah Alana terus muncul. Tangisnya. Diamnya. Cara ia membelakangi Arka tanpa satu kata pun.

Itu lebih menghancurkan daripada teriakan. “Bodoh,” gumam Arka lirih pada dirinya sendiri.

Arka memukul tembok dengan punggung tangan, tidak keras, tapi cukup untuk membuat kulitnya perih. Rasa sakit kecil itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.

Arka akhirnya berjalan ke arah garasi mobil. Mendekati salah satunya dan membuka pintunya. Dia lalu melaju meninggalkan rumah.

Di dalam kamar, waktu berjalan dengan cara yang berbeda. Alana tidak tahu sudah berapa lama ia terbaring di sana. Yang dia tahu, napasnya perlahan mulai kembali normal, meski setiap tarikan terasa seperti menyayat. Tubuhnya masih terasa berat, seolah ranjang itu menariknya agar tetap diam.

Selimut masih menutupi dirinya hingga ke dada. Alana menatap langit-langit kamar Arka tanpa benar-benar melihat apa pun. Kepalanya kosong, tapi hatinya penuh.

Ada perasaan kehilangan yang sulit dijelaskan, bukan hanya tentang tubuhnya, tapi tentang kepercayaan. Tentang batas terakhir yang selama ini ia jaga mati-matian, runtuh begitu saja.

Air mata kembali mengalir, kali ini tanpa suara. Alana menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya bergetar pelan. Ia ingin bangun, ingin pergi dari kamar ini, dari tempat yang kini terasa asing dan menakutkan. Tapi tubuhnya belum mau bekerja sama.

Alana menunggu sampai rasa nyeri itu sedikit mereda. Menunggu sampai kepalanya cukup kuat untuk mengambil keputusan berikutnya.

Ketika akhirnya dia mencoba duduk, dunia terasa sedikit berputar. Alana menggigit bibir, menahan desah sakit yang hampir lolos. Tangannya mencengkeram seprai, mencari tumpuan.

Bajunya yang robek tergeletak begitu saja di sisi ranjang. Alana meliriknya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Tidak sanggup memakainya lagi.

Dengan gerakan pelan dan hati-hati, dia menarik selimut lebih rapat menutupi tubuhnya. Setiap gerakan kecil terasa seperti pengingat kasar tentang apa yang baru saja terjadi. Alana mencoba berdiri.

Kakinya sempat goyah, tapi ia memaksa dirinya tetap tegak. Tidak ada yang akan menolongnya sekarang selain dirinya sendiri.

Pintu kamar Arka terlihat begitu besar dan berat. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti sejenak. Dadanya terasa sesak, tapi ia menghela napas panjang, menguatkan diri. Lalu pintu itu terbuka.

Koridor rumah Arka masih sama seperti sebelumnya, panjang, dingin, dan diterangi lampu-lampu redup yang membuat bayangan tampak lebih panjang dari seharusnya. Alana melangkah keluar dengan selimut melilit tubuhnya.

Langkahnya pelan, hampir tanpa suara. Alana tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Yang dia inginkan hanya satu, kembali ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, dan bersembunyi dari dunia.

Namun takdir malam itu sepertinya belum selesai bermain dengannya. Belum berpihak padanya. Di ujung koridor, sosok Mama Ratna muncul.

Wanita itu berjalan dengan langkah mantap, mengenakan cardigan tipis dan rambut yang disanggul rapi, seolah baru saja bangun dari tidur ringan. Di tangannya, ada segelas air hangat.

Mama Ratna tampak hendak menuju kamar putranya. Langkah mereka berhenti bersamaan. Mata Mama Ratna langsung menangkap sosok Alana. Dan segalanya membeku.

Selimut yang melilit tubuh Alana. Rambutnya yang terurai berantakan. Wajah pucat dengan mata sembap dan sisa air mata yang belum kering.

Detik itu juga, raut wajah Mama Ratna berubah. Jelas terkejut dan bingung. Lalu sesuatu yang lebih tajam.

“Alana?” panggilnya, suaranya meninggi tanpa ia sadari. Gelas di tangannya sedikit bergetar. “Kamu …?”

Alana berhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Alana ingin lari. Ingin berbalik dan kembali ke kamar Arka, atau ke mana pun asal tidak di sini, tidak sekarang. Tapi kakinya terasa tertanam di lantai marmer.

Mama Ratna melangkah mendekat, matanya tak lepas dari selimut yang menutupi tubuh Alana.

“Kamu keluar dari kamar Arka?” tanya Mama Ratna, suaranya kini terdengar jauh lebih dingin.

Alana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dia mencoba membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

Mama Ratna berhenti tepat di depannya.

Jarak mereka sangat dekat. Bahkan terlalu dekat.

Wanita itu mengamati Alana dari ujung rambut sampai kaki, lalu kembali menatap wajahnya dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Alana,” ucapnya lagi, kali ini dengan tekanan yang jelas di setiap suku kata. “Apa yang kamu lakukan di kamar putraku?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat, tajam, dan penuh makna. Alana merasa seluruh dunia menyempit di sekelilingnya. Mulutnya terbuka, tapi kata-kata terasa mustahil untuk keluar.

1
Cindy
lanjut kak
Eka ELissa
semngat Lana smoga lancar ya .. lahiran nya..sehat smua ibu dan bayinya....🤰🤰🤰🤲🤲
Eka ELissa
Bu Sri klie Mak bukan Revan...😄😄😄
Me mbaca
kalau Revan panggilnya daddy, kalau pak Rafael berarti Bu Sri yang Manggil kan ya mama?
Teh Euis Tea
mudah2an lancar ya alana lahirannya
Ida Nur Hidayati
semoga lancar persalinannya Alana semangat 💪💪
ElHi
lebih dari itu jg gpp kok Rafael....hehehe..gada yg ngelarang 🤣
Kasih Bonda
next Thor semangat
Cristella Tella
lnjut lgi donk thor
Patrick Khan
Alana yg lairan q yg dag dig dug baca kyk maraton😖😖git ya klo kontraksi pas lairan.. q jd bayangin😖😖
astr.id_est 🌻
lanjutt mam...😍😍😍
dyah EkaPratiwi
semangat alana
Radya Arynda
Mama reni up lagi dong
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
Ilfa Yarni
lebih dr ucapan trima kasih ga pa pa jg gantian ya ank arka km yg dampingi dulu anakmu arka yg dampingi pas mau lahir jadi impas dong
Ikaaa1605
Semangatttt Alana
Titi Liana
suka
Ayu Ayuningtiyas
nanti anaknya laki" dan mirip sama arka ,biar arka menyesal krn sdh meragukan anaknya sendiri. 😄
Ari Atik
semoga rafael bisa melindungi alana...
enyah saja kau arka
😡
Ari Atik
arka goblok gk mau jujur sama mamanya😡 .....
Ilfa Yarni
waduh Alana usah mau melahirkan ayo Alana kn bisa semangat ya sebentar lg Alana yunior bakal hadir dan revan punya adek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!