NovelToon NovelToon
Dua Mafia Bersaudara dalam Satu Takhta

Dua Mafia Bersaudara dalam Satu Takhta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Fantasi Wanita / Persaingan Mafia
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.

***

Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.

Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.

Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Universitas Yang Jing.

Sejak kejadian penyerangan itu, suasana kampus terasa berbeda bagi Colly.

Tatapan orang-orang menjadi lebih berhati-hati, bisikan terdengar setiap kali ia melintas. Namun Colly tetap berjalan tenang, seolah semua itu tak berarti apa-apa.

Di kejauhan, Monica berdiri bersandar pada mobil hitam, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Matanya terus mengikuti Colly tanpa lengah.

“Lingkungan aman,” lapornya singkat melalui alat komunikasi kecil.

“Belum ada pergerakan mencurigakan.” Namun di sudut lain kampus, sepasang mata memperhatikan mereka dari balik jendela gedung fakultas.

Jacky Yin berdiri diam, wajahnya tenang seperti biasa.

Tatapannya berpindah dari Colly… ke Monica… lalu menyipit.

"Pengawalan diperketat, "batinnya. "Xiao Han sudah mulai mencium sesuatu."

Ia mengeluarkan ponselnya, mengirim satu pesan singkat tanpa nama penerima." “Rencana A gagal. Siapkan rencana B.”

Sore hari.

Colly duduk di perpustakaan, fokus membaca. Namun instingnya terasa tidak nyaman. Ia menutup buku perlahan dan menoleh.

Beberapa baris di belakangnya, Jacky Yin duduk sambil membuka laptop. “Kita sering bertemu akhir-akhir ini,” ujar Jacky santai tanpa menoleh.

“Sepertinya takdir ingin kita berteman.” Colly menatapnya sekilas.

Colly bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Jacky. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tetap waspada.

“Betul sekali,” ucapnya pelan. “Tidak mungkin semua ini hanya kebetulan.”

Jacky mengangkat alis, sedikit terkejut.

“Kemarin kau telah membantuku,” lanjut Colly. “Karena itu, hari ini aku akan mentraktirmu minum.”

Jacky bangkit dari kursinya, berdiri tegap di hadapan Colly. Senyum tipis terbit di wajahnya, seolah tawaran itu jauh lebih menarik dari yang ia duga.

“Benarkah?” tanyanya ringan.

“Nona besar Shen bersedia berteman denganku?”

Colly menatapnya lurus.

“Tentu saja.” Nada suaranya berubah dingin, tegas. “Aku tidak suka berutang budi.”

Ia mengambil tasnya, lalu menambahkan tanpa emosi berlebih, “Mengenai berteman… aku rasa belum saatnya.”

Jacky menyipitkan mata, tapi senyumnya tetap terjaga.

“Ini hanya bentuk terima kasih,” lanjut Colly. “Tidak ada maksud lain.”

Beberapa detik hening menyelimuti mereka.

“Baik,” jawab Jacky akhirnya.

“Kalau begitu, aku terima.”

Di balik senyum sopannya, sesuatu berkilat di mata Jacky—

bukan kegembiraan,

melainkan kesempatan.

Beberapa saat kemudian.

Mereka berjalan berdampingan keluar dari gedung fakultas. Jarak di antara Colly dan Jacky tidak terlalu dekat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa mereka bersama.

Beberapa mahasiswa yang melihat hanya berani melirik sekilas—tak satu pun berani berbisik.

Kafe kecil di dekat kampus.

Colly memilih duduk di dekat jendela. Ia meletakkan tasnya rapi di sisi kursi, punggungnya tegak, sikapnya tenang namun tidak lengah.

Jacky duduk di seberangnya.

“Apa yang ingin kau minum?” tanya Colly singkat.

“Apa saja,” jawab Jacky santai. “Selama kau yang memilihkannya.”

Colly memanggil pelayan dan memesan dua minuman tanpa bertanya lagi. Keheningan singkat tercipta di antara mereka.

“Kau tidak banyak bicara,” ujar Jacky akhirnya. “Berbeda dengan yang orang-orang katakan.”

“Aku tidak suka banyak bicara,” jawab Colly dingin.

Jacky tertawa kecil.

“Kau sangat mirip dengan kakakmu.”

Tangan Colly yang memegang sendok berhenti sesaat.

“Kau mengenal kakakku?” tanyanya, nada suaranya tetap datar, namun sorot matanya mengeras.

“Hanya mendengar,” jawab Jacky cepat. “Siapa yang tidak tahu Little Tiger?” Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Orang-orang bilang, Shen Xiao Han bisa menghancurkan seseorang tanpa menyentuhnya.”

Colly menatapnya lurus.

“Tentu saja, kakaku sejak kecil sangat waspada. Siapa pun yang menantangnya sama saja cari mati."

Pelayan datang membawa minuman. Colly menyerahkan satu gelas ke arah Jacky.

“Minumlah,” katanya singkat.

“Setelah ini, urusan kita selesai.”

Jacky menerima gelas itu, namun tidak langsung meminumnya.

“Kau benar-benar membangun tembok setinggi ini untuk semua orang?”

“Aku hanya selektif,” jawab Colly. “Dan kau belum termasuk orang yang kupercaya.”

Jacky tersenyum tipis, seolah jawaban itu justru memuaskannya.

“Bagus,” katanya pelan. “Aku juga tidak suka orang yang mudah percaya.”

Di luar kafe, sebuah mobil hitam terparkir tak jauh. Monica berada di dalam mobil, matanya tak pernah lepas dari Colly.

Di telinganya terdengar suara Xiao Han melalui alat komunikasi. “Bagaimana situasinya?”

“Aman untuk saat ini,” jawab Monica pelan. “Tapi bocah itu… terlalu tenang.”

Xiao Han terdiam beberapa detik. “Orang yang terlalu tenang biasanya menyembunyikan sesuatu.”

Di dalam kafe, Colly berdiri lebih dulu.“Terima kasih sudah datang,” ucapnya formal. “Kita impas sekarang.”

Jacky ikut berdiri.

“Kalau suatu hari kau berubah pikiran… aku selalu ada di kampus.”

Colly menatapnya sesaat.

“Aku berharap tidak akan ada hari itu." Ia berbalik pergi tanpa ragu.

Jacky menatap punggung Colly hingga menghilang di balik pintu kafe. Ia mengangkat gelasnya, akhirnya meminum isinya perlahan.

“Colly Shen…” gumamnya.

“Kau lebih menarik dari yang kuduga. Sulit didekati adalah tipe yang kusuka."

1
Maria Mariati
haduhhhh tua tua sudah bosan kali dia Ama nasi ,cari perkara aja 🤣🤣🤣🤣🤣
Ayla Anindiyafarisa
lanjut thor
Inez Putri
mantaap gak tanggung² micheal bw senjatanya good 👍👍😄😄
Ayla Anindiyafarisa
aduh Thor tadinya aku udh kesel loh aku kira beneran si holdes tidur beneran sama tu jalang
Ayla Anindiyafarisa
keren Thor..
Maria Mariati
haduhhhh tikus masuk kandang singa,hati2 yakk takut nya ga bisa keluar lagi
wie wie
apakah itu willy
Maria Mariati
iyaa padahal mereka saudara se kakek nenek 🤣🤣🤣🤣
Pikachu: gk asli punya 🤣
total 1 replies
Tiara Bella
plot twist bngt tdnya aku nyangka propesor itu yg lindungin Colly twnya kebalikannya....salah nebak aku
Maria Mariati
aku tak percaya Michael lin sudah meninggal pasti dia bisa lepas dari tali yang diikat oleh profesor gadungan itu 🤣🤣🤣
Maria Mariati: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Maria Mariati
kewaspadaan Colly menurun ga sadar ada musuh
Maria Mariati
belum tahu dia siapa Colly sebelum tangan mu sampe ,tangan mu dulu yang patah 🤣🤣🤣
Maria Mariati
bapak nya oon anak nya apa lagi,🤣🤣🤣
Maria Mariati
mafia ko tunggu rapat,keburu mati lahhh🤣🤣🤣
Bonny Liberty
alur cerita jelas
Maria Mariati
ganti judul ya thorrrr 😍😍😍
Pikachu: Iya kak🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Tiara Bella
wah penuh misteri ini propesor Zhou...
Tiara Bella
bagus ceritanya aku suka.....
Tiara Bella
bakalan pada kapok ini mah yg mengusik keluarga mafia satu ini.....
Tiara Bella
gk bisa berkata² aku....mafia dilawan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!