Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Trauma
Alisa memang berhasil meyakinkan Ayahnya untuk tinggal di rumah dinas, alih-alih dititipkan lagi di rumah Tante Mia. Cakra menepati janjinya; ia mempekerjakan seorang Asisten Rumah Tangga (ART) paruh waktu yang bersedia menginap saat Cakra bertugas di luar kota. Namanya Bu Rini, seorang wanita paruh baya yang tenang dan jarang bicara, persis seperti yang Alisa butuhkan. Bu Rini tidak banyak bertanya dan tidak mencoba menjadi Ibu pengganti, dia hanya memastikan makanan ada dan rumah bersih.
Keputusan itu terasa melegakan, tapi bukan berarti ketakutan Alisa hilang. Sebaliknya, kini ia sendirian di lingkungan yang ia kenal, ketakutan itu justru punya ruang lebih besar untuk tumbuh. Trauma kecil yang ia dapat saat Ayahnya pergi ke perbatasan itu kini muncul setiap malam. Itu adalah trauma senyap.
Alisa mulai sering mimpi buruk.
Mimpi itu selalu sama: Ia berada di lapangan yang penuh asap, mendengar suara tembakan yang keras, dan Ayahnya ada di sana, mengenakan seragam loreng yang penuh debu. Cakra tidak bertarung, dia hanya berdiri, lalu perlahan-lahan roboh. Alisa ingin berlari ke arahnya, tapi kakinya terasa beku. Setiap kali ia berhasil merangkak, Ayahnya sudah menghilang, hanya menyisakan seragam yang robek dan bau mesiu.
Ia akan terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin membasahi punggungnya. Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Bu Rini tidur pulas di kamar sebelah. Rumah dinas itu sunyi, hanya ada suara jangkrik dan sirene ambulans yang lewat jauh di jalan raya.
Alisa tahu ia tidak boleh membangunkan siapa pun. Ia adalah ‘ksatria’ yang tegar, dan ksatria tidak panik karena mimpi.
Maka, setiap malam, ia akan bangkit, menyalakan lampu belajar, dan mengeluarkan buku harian birunya. Menulis adalah ritualnya untuk meredakan ketakutan.
Aku mimpi lagi. Seragam Ayah. Tanah merah. Aku tidak bisa menjangkau. Aku takut sekali, buku biru. Aku takut kalau Ayah pergi seperti Ibu, kali ini aku akan benar-benar sendirian.
Aku tidak boleh cerita pada Ayah. Ayah pasti akan marah. Atau lebih buruk, Ayah akan merasa bersalah karena meninggalkan aku. Aku sudah janji tidak akan merepotkan.
Jadi aku tulis saja di sini. Biar semua ketakutan ini diam di dalam kertas. Besok pagi, aku akan menjadi anak yang normal lagi.
Alisa menulis hingga fajar menyingsing, hingga suara azan Subuh mulai terdengar dari masjid markas. Setelah menuliskan semua detail mimpi buruknya, rasa takut itu mereda, seolah sudah dipindahkan ke dalam buku. Barulah ia bisa tidur sebentar dengan tenang.
Cakra tidak menyadari perjuangan malam hari Alisa. Dia hanya melihat Alisa sebagai anak yang ceria dan mandiri saat ia di rumah.
Saat Cakra pulang dari penugasan singkat ke Jawa Barat, ia membawa oleh-oleh berupa boneka kecil yang mengenakan seragam militer lengkap.
"Ini, Nak. Boneka ini namanya Sersan Teddy. Dia akan jadi bodyguard-mu kalau Ayah pergi," kata Cakra sambil tertawa.
Alisa tersenyum senang, meskipun boneka itu mengingatkannya pada hal yang paling ia takuti: seragam dan perpisahan.
"Terima kasih, Yah. Dia lucu sekali," jawab Alisa, memeluk boneka itu.
"Ayah lihat kamu sudah sangat berani. Tidak pernah merengek. Ayah bangga," ujar Cakra, menepuk bahu Alisa.
Pujian itu terasa seperti pedang bermata dua. Ia bahagia Cakra bangga, tapi ia juga sadar bahwa ketegarannya yang dipuji adalah hasil dari semua kepura-puraan yang ia lakoni setiap hari.
Suatu malam, ketika Cakra sedang di rumah, Alisa terbangun dari mimpi yang sama. Ia membuka matanya dan melihat siluet besar Ayahnya di pintu kamarnya. Cakra berdiri di sana, mengawasinya.
"Ayah?" panggil Alisa, suaranya parau.
"Tidur lagi, Nak," kata Cakra pelan. "Ayah hanya mengecek. Ayah dengar kamu gelisah."
Alisa merasa panik. Apakah dia mengigau? Apakah dia berteriak dalam tidurnya?
"Tidak, Yah. Aku mimpi yang aneh saja. Soal pelajaran di sekolah," Alisa berbohong lagi, dengan cekatan.
Cakra berjalan mendekat, duduk di tepi tempat tidur. "Mimpi aneh? Ceritakan."
Alisa berpikir cepat. "Aku mimpi... tentang soal matematika yang rumit. Aku tidak bisa menyelesaikannya. Itu membuatku stres."
Cakra tertawa, lega. "Itu bukan mimpi buruk, Nak. Itu namanya kegigihan belajar." Cakra mengusap kepala Alisa. "Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang tidur, ya."
Cakra tetap duduk di sana hingga Alisa berpura-pura terlelap lagi. Saat Cakra keluar kamar, Alisa langsung bangkit, meraih buku harian birunya. Ia menuliskan ketakutannya:
Ayah hampir tahu. Ayah tidak boleh tahu. Aku harus lebih berhati-hati.
Ketakutan itu tidak hanya menyerang di malam hari. Ketakutan itu juga menjelma dalam bentuk kekhawatiran yang berlebihan di siang hari.
Setiap kali televisi menyiarkan berita tentang konflik di perbatasan atau bencana alam, Alisa akan segera mengganti saluran dengan gugup. Ia tidak bisa mentolerir melihat seragam militer di berita, apalagi membaca laporan tentang insiden yang melibatkan prajurit.
Suatu siang, saat ia dan Bu Rini sedang menonton sinetron, tiba-tiba ada breaking news. Laporan tentang adanya ketegangan di daerah yang pernah Cakra sebutkan sebagai lokasi tugasnya beberapa waktu lalu.
Bu Rini langsung berseru, "Aduh, kasihan sekali. Semoga Komandan baik-baik saja."
Alisa langsung melonjak, merebut remote dan mematikan televisi. Bu Rini terkejut.
"Kenapa dimatikan, Nak?"
"Aku... aku tidak suka sinetronnya, Bu Rini. Bosan," Alisa beralasan, jantungnya masih berdebar kencang.
Bu Rini menatapnya dengan pandangan curiga. "Tapi itu berita, Nak. Bukan sinetron."
"Ah, iya. Beritanya terlalu sedih. Aku tidak suka yang sedih-sedih," Alisa memeluk remote itu erat-erat. Ia tahu Bu Rini tidak akan memaksanya.
Alisa menghabiskan sisa sore itu dengan duduk di teras, membaca buku harian Ibunya. Puisi-puisi Shifa tentang penantian menjadi sumber kekuatan baginya. Shifa juga pasti merasakan hal yang sama. Shifa juga pasti menahan napas setiap kali melihat berita.
Alisa mulai menulis puisi juga. Puisi yang pendek, yang ia sebut 'Mantra'.
Aku tahu seragam itu pergi. Tapi kau janji akan kembali. Pangkalanmu ada di sini. Jangan hancurkan ksatria kecilmu ini.
Mantra itu ia ulangi terus-menerus dalam hati. Ini adalah cara Alisa untuk memohon pada takdir, pada negara, dan pada Ayahnya.
Ketakutan terbesar Alisa bukanlah ditinggal sendiri. Ketakutan terbesar Alisa adalah diabaikan oleh takdir. Bahwa semua upayanya untuk menjadi ksatria yang tidak merepotkan akan sia-sia. Bahwa ia akan kembali menjadi anak sepuluh tahun yang tak berdaya, melihat Ayahnya menghilang ke dalam tanah merah dalam mimpinya.
Alisa menyadari, ia tidak berbagi ketakutannya dengan siapa pun—tidak dengan Cakra, tidak dengan Bu Rini. Satu-satunya yang tahu adalah buku harian birunya, yang tersembunyi di bawah tumpukan kaus kaki di lacinya. Buku itu adalah saksi dari semua malam tanpa tidur, semua air mata yang teredam, dan semua janji tegar yang ia paksakan pada dirinya sendiri.
Dan justru karena ketakutan itu senyap, ia tumbuh menjadi kekuatan pendorong. Kekuatan untuk menjadi mandiri, untuk menjadi pintar, dan untuk menjadi penulis. Ia harus menciptakan dunia di mana ia memiliki kontrol, sebuah dunia di mana ia bisa menulis ending-nya sendiri, tanpa ada campur tangan dari takdir atau seragam.