Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 7
***
Alisa membuka pintu, tampak berdiri seorang gadis cantik berkulit putih dengan tinggi 160 cm, dengan komposisi hidungnya yang bangir, kulit mulus tanpa noda diwajahnya.
Alisa menatap gadis tersebut,
“ iya, maaf siapa ya?” tanya Alisa.
“Maaf kak, aku penghuni baru disini, itu kamarku” sahut gadis itu sambil menunjuk kamar tepat didepan kamar Alisa.
“Oh iya iya,” jawab Alisa sambil mengangguk dan tersenyum.
“Aku Alisa, nama kamu siapa?” tanya Alisa yang mengulurkan tangannya pada gadis yang masih berdiri didepan pintu.
“ Aku Risa,” jawab Gadis itu singkat.
“Jangan panggil aku Kakak , panggil saja Alisa agar kita terihat akrab, ok?” ucap Alisa yang mengangkat jempolnya. Risa tersenyum,
“ ok!” jawab Risa setuju.
Risa melihat Alisa yang baru datang saat itu, ia menghampiri kamar Alisa yang ingin menumpang mandi di kost Alisa karena kran dikamar Risa tidak berfungsi.
Dua puluh menit berlalu, Risa keluar dari kamar mandi,
“ ahk segarnya..” ucap Risa sambil berjalan dari kamar mandi.
“Alisa, terima kasih ya aku sudah boleh menumpang mandi disini” ucap Risa pada Alisa yang sedang focus membaca sebuah novel.
“ Tidak masalah, lain kali kalo kran rusak kamu kesini saja” ujar Alisa yang meletakkan bukunya disebelah bantal tempat ia berbaring.
“ Hahaha… memangnya kran dikamarku akan rusak terus” jawab Risa sembari melangkahkan kakinya keluar.
“Okey lisa, bye….see you tomorrow. Thanks yaa” ucap Risa yang suaranya semakin menjauh karena berlari kearah kamarnya.
Pagi itu, hari yang cerah untuk langit Yogya. Alisa melihat jam tepat pukul 07.00, ia harus segera berangkat untuk bekerja. Itu adalah hari pertamanya masuk kerja, ia harus disiplin.
Alisa keluar kamar dan mengunci kamar kostnya, ia berjalan kearah gerbang. Belum sampai ia membuka gerbang, Danu berada diluar gerbang yang duduk diatas motor sembari bercermin pada sebuah spion kecil.
“Danuu…?!” panggil Alisa lirih.
“Hai Alisa, aku sudah menunggumu dari dua puluh menit yang lalu,” ujar Danu sambil tersenyum.
Alisa mengernyitkan dahi merasa heran, sepagi ini Danu sudah ada di kost tempat ia tinggali.
“ Alisa, ini hari pertamamu masuk kerja kan?, aku akan mengantarmu.” Ucap Danu sembari memakai helmnya.
"Kamu baik-baik saja kan Danu?” tanya Alisa heran karna penasaran.
“Iya Alisa, aku baik-baik saja,” sahut Danu menyodorkan helm putih kepada Alisa.
Alisa hanya tersenyum dan memakai helm pemberian Danu.
“ Alisa, setelah mengantarmu aku akan kembali ke Solo karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan” ucap Danu yang melajukan motornya dengan kecepatan rendah.
“ Oh iya, terima kasih untuk hari ini. Semoga lancar pekerjaanmu..” ucap Alisa.
Danu mengangguk sambil tersenyum melihat gadis yang ia sayangi melalui kaca spion kendaraannya.
Tiga puluh menit perjalanan dari kost Alisa ke Hotel XXX, Alisa turun perlahan dari atas motor.
“Sekali lagi, terima kasih banyak Danu” ucap Alisa sambil memberikan helm.
“Iya Alisa…sudah jangan mengucapkan terima kasih terus, aku kenyang” jawab Danu sambil tersenyum.
“Masuklah, aku akan pergi setelah melihatmu masuk” lanjut Danu.
Berjalan Alisa menuju ke gerbang Hotel XXX, sampai ditengah gerbang ia membalikkan punggungnya untuk melihat Danu.
Tetapi Danu sudah tidak terlihat, ia sudah melajukan kencang kendaraannya.
“Aaa dasar…!” gerutu Alisa.
Hari pertama Alisa, ia cukup sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak sempat untuk melihat layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab, bahkan pesan yang belum terbaca oleh Alisa.
Jalanan kota Yogya terlihat ramai malam itu, Alisa keluar dari gerbang tempat ia bekerja. Berhenti pada sebuah Halte, ia duduk sejenak untuk membuka ponselnya.
Tertulis ID pada ponselnya “Radit”.
“Hai Alisa, apa kabar?, masih di Yogya-kah?” tanya Radit melalui pesannya.
“Lusa, aku akan ke Yogya. Dimana kamu bekerja lis?” Radit menimpali.
“haaaa?! Radit mau ke Yogya? “ gumamnya dalam hati.
“Hai dit, kabar baik. Aku bekerja di Hotel XXX. By the way, dalam rangka apa kamu datang ke Yogya?” Alisa membalas pesan Radit.
Sesampai Alisa pada tempat kost, Radit belum juga membalas pertanyaan Alisa.
“Ah sudahlah” gumam Alisa sembari mengambil handuk.
Sabtu pagi, Risa menghampiri kamar Alisa.
“ Toktokk! Alisaa…..” panggil Risa dengan suara berirama.
Alisa terkekeh sambil membuka pintu,
“ada apa Ris, pagi-pagi begini sudah pangil-panggil. Aku harus bekerja hari ini” ucap Alisa sembari memasukkan ponsel kedalam tas.
“Kyyaa kamu kerja hari ini? Aku pikir kamu libur “ ucap Risa dengan ekpresi wajah muram.
“ memangnya kenapa Risa cantikk…?” tanya Alisa sembari membungkuknya tubuhnya untuk melihat wajah Risa yang menunduk.
“Aku mau minta tolong lis, temani aku membeli buku nanti siang, tapi kamu bekerja” ucap sesal Risa.
“Aku nanti pulang jam dua, bagaimana kalo aku temani kamu setelah aku pulang dari bekerja?” jelas Alisa memberi pencerahan.
“Oh begitu…?” tandas Risa yang merasa senang.
“Iya” Alisa meyakinkan.
“Okeylah” sahut Risa senang.
Risa yang lebih muda dari Alisa memang sedikit manja, ia seperti seorang adik bagi Alisa meskipun belum lama mereka bertemu.
Waktu menunjukkan pukul 14.15 Alisa harus bergegas pulang, Risa pasti sudah menunggunya.
Alisa berdiri dibibir jalan, datang sebuah motor sambil teriakk.
“Tadaaaaa!...” teriak Risa dari atas motornya sembari tersenyum.
“Hlo kok..?” Alisa menunjuk Risa.
“Aah aku kelamaan nunggu kamu, jadi aku jemput saja kamu” ucap Risa semangat.
“Kenapa tidak mengatakan dari pagi Risaaa” cubitan Alisa mendarat pada pipi Risa yang chubby.
“Ahaha.. aku baru kepikiran” sahut Risa yang memberikan helm.
Pada sebuah Toko Buku dipinggir kota, Risa parkir cantik kendaraannya. Mereka masuk pada toko tersebut dan mencari buku yang dibutuhkan. Dua jam sudah mereka ada di toko, akhirnya Risa menemukan buku yang ia cari, ia pergi kekasir yang terletak diujung dekat pintu keluar toko.
“ Terima kasih mbak” ucap Risa yang memasukan uang kembalian.
“Emm Alisa, ini kan malam minggu jangan buru-buru pulang ya. Kita jalan-jalan saja dulu ke Alun-Alun kota” ucap Risa teriak sembari mengemudi.
“Iyaa Risa” teriak Alisa dari belakang kemudi motor.
Sebelum ke Alun-Alun, Alisa meminta untuk berhenti pada sebuah masjid.
Tiga puluh menit kemudian Alisa dan Risa keluar, mereka bergegas untuk menuju ke Alun-Alun kota.
Risa memarkirkan kendaraanya,
“ kita cari minum dulu yuk lis, aku ingin minum yang segar-segar” ajak Risa menuju sebuah stand muniman dipinggir jalan.
Mereka berjalan bersampingan,
“ mbk, es capucinonya 2 ya?” pesan Risa pada seorang pelayan.
Sepuluh menit kemudian dua gelas es capucino siap diatas meja, Alisa memberikan uang pada pelayan tersebut,
“ terima kasih mbak” ucap pelayan toko mini tersebut, Alisa mengangguk senyum.
Duduk pada sebuah kursi besi bercat coklat,
“Alisa, apa kamu memiliki seorang kekasih?” Risa penasaran sambil meminum capucino ditangannya.
“Heemmh..!” Alisa menghela nafas.
” Kenapa lis?” Risa menoleh pada Alisa yang tidak melihat pada arah Risa berbicara.
“ Tidak Ris, aku tidak memiliki kekasih” seru Alisa sambil meminum segelas capucino yang ia genggam.
“Mau aku kenalkan dengan sepupuku?, dia tampan lo ..” rayu Risa.
Bersambung…
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU