"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Rama tertegun. Kata-kata Citra barusan membuat darahnya seakan berhenti mengalir.
“Cari Rava?” ulangnya pelan, seolah takut salah dengar. "Kenapa?"
Citra menatapnya serius, bola matanya berkilat marah. “Iya! Aku mau ketemu dia! Aku mau mukul dia! Kalau perlu, aku jambak rambutnya, kubikin dia tahu rasanya dihina!”
Nada suaranya tinggi, penuh emosi yang bergetar. Rama bahkan sempat mundur sedikit karena terkejut. “Heh, kamu mau ngapain? Dia itu…” ia berhenti sejenak, menatap wajah istrinya yang merah padam. “…anakku.”
“Citra tahu!” potong Citra cepat. “Justru karena itu! Anak Bapak yang bikin keluarga Citra menanggung malu! Semua tetangga ngomongin Citra, Pak Rama! Mereka bilang Citra pasti udah hamil duluan, makanya ngebet dimaharin 5000 juga mau! Nikah sama pria yang lebih tua juga mau! Citra enggak akan pernah melupakan penghinaan ini!”
Suara Citra meninggi lagi, matanya basah menahan malu.
"Maaf..."
"Karena itu, jangan pernah tahan Citra buat pukul dia! Mantan istri bapak juga, Apa yang dia pikirkan sampai tega melakukan semua ini? Aaahh! Aku ingin sekali memukul mereka berdua!"
Rama tak bisa menahan tawa kecilnya. Ia menunduk, lalu menatap Citra dengan senyum geli. “Kamu ini ya… ngomongnya terus terang banget. Baru kali ini ada perempuan yang ngaku mau mukul anak di depan bapaknya.”
Citra menatap tajam. “Jadi Citra harus bagaimana? Pasrah?!”
Rama mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. “Baik, baik. Aku nggak ketawa lagi.” Tapi ujung bibirnya masih terangkat. “Kamu tahu, sebenarnya aku juga sudah nyari si Rava itu. Tapi dia kayak menghilang. Aku butuh waktu. Dan satu hal lagi…”
Citra menatapnya menunggu.
“Kalaupun ketemu, aku nggak bakal biarin kamu yang mukul dia.”
“Kenapa?!”
“Karena itu tanggung jawabku,” jawab Rama pelan tapi tegas. “Dia anakku, jadi urusanku. Aku yang akan memberinya pelajaran.”
"Citra enggak percaya. Seorang ayah pasti akan membela anaknya mati-matian walau tau salah. Tapi, ayahku... Dia bahkan tak punya kesempatan meski anaknya sama sekali tak bersalah."
Rama menatap istrinya, "Citra, kamu istriku, dan Rava anakku. Aku tak akan membiarkanmu melukainya. Tapi aku juga tak akan diam saja. Dia akan dapatkan ganjarannya."
Citra mendengus.
Rama mengusap pipi Citra dengan lembut memaksanya menatap mata, “Tentang mahar itu… aku minta maaf.”
Citra diam. Hatinya sedikit mencair mendengar nada penyesalan itu.
Rama melanjutkan, “Aku kehilangan dompetku, dan mobilku macet. Tidak ada yang tersisa selain uang 5000 di saku. Mahar itu, aku akan menggantinya.”
“Diganti?” Citra mengangkat wajahnya, alisnya berkerut. “Diganti gimana?”
Rama mencondongkan tubuh, senyum geli terbit lagi. “Kamu mau mahar apa? Uang? Emas? Rumah? Atau…” ia sengaja menurunkan suaranya, “Sapi?”
Citra langsung mendorong dadanya. “Ih, nggak usah dekat-dekat! bapak pembela anak!”
Rama tertawa. “Kamu mau apa, Citra? Sekarang, sebut aja. Aku kasih.”
Citra menatapnya sejenak. “Aku cuma mau harga diriku balik.”
Kata-kata itu menghantam dada Rama seperti palu. Ia diam lama sebelum mengangguk pelan. “Itu… akan aku usahakan secepatnya.”
Namun belum sempat suasana menghangat lagi, dari luar terdengar suara berat menggema dari arah depan rumah.
“Rama!”
Rama menegakkan badan. “Astaga…” gumamnya lirih.
"Maaf, Tuan. Pak Rama nya sedang istrahat." suara Rumi terdengar sedikit bergetar.
"Oh, istirahat, ya? Ini masih jam 8 malam. Terlalu cepat untuk istirahat." Suara Pak Bram, kini terdengar semakin dekat. "Kami akan langsung ke kamarnya."
Suara lain yang lebih nyaring menyusul. “Ram! Cepat keluar, atau Mama yang masuk!”
Wajah Citra langsung pucat. “Pak? Mereka, kayaknya marah...”
Rama mengangguk lalu tersenyum. “Biarin aja. Kita pura-pura bobok.”
Suara langkah kaki semakin terdengar dekat.
"Mereka kayaknya beneran kemari, loh." Citra langsung panik. “Kita harus gimana?”
“Ngumpet.”
“Ha?”
“Ngumpet,” ulang Rama santai sambil menggenggam tangan Citra. “Ayo, sebelum mereka ngamuk dan bongkar kamar.”
Mata Citra langsung melebar...
“A-apa? Main petak umpet? Sekarang?!” protes Citra, tapi genggamannya terlalu kuat. Mereka bergerak cepat menuju kamar belakang, sementara dari ruang depan terdengar suara langkah berat Pak Bram dan Bu Lilis yang memasuki rumah.
“Rama! Kamu di mana?”
“Lihat aja, Pak! Tuh kamarnya kebuka!”
Citra menahan napas, jantungnya berdebar keras. Rama menariknya lagi, kali ini lewat pintu samping menuju dapur. “Sini, sini… cepat.”
“Kenapa kayak maling?” bisik Citra panik.
“Hihihi, seru kan?” jawab Rama cepat.
"apa mereka akan marah, pak?"
"enggak. Tenang aja. Tadi kan Mama udah suka sama kamu."
"terus... Ngapain kita ngumpet-ngumpet gini?"
"papa suka rese. Aku juga lagi malas debat."
Langkah kaki makin mendekat. Rama menarik Citra masuk ke pelukan, "Diam sebentar," bisiknya.
Degup jantung Citra bertalu-talu. Napas Rama juga terdengar jelas dan cepat.
menutup pintu perlahan.
Suasana berubah hening. Hanya ada deru napas mereka berdua.
“Sekarang kita ngapain?” tanya Citra dengan suara sangat pelan.
Rama menunjuk ke mobil tua di sudut garasi. “Masuk situ dulu. Aman.”
“Pak Rama…” Citra menatapnya tak percaya. “Kita benar-benar bersembunyi di mobil?”
“Ya, daripada ketahuan. Aku lagi malas dengerin mereka mengomel.”
Citra akhirnya menurut, duduk di kursi penumpang. Rama masuk dari sisi lain, duduk di sebelahnya.
Di luar, suara langkah masih terdengar samar. Tapi di dalam mobil itu, udara terasa aneh. Senyap, tapi tegang.
"sedikit menunduk, Cit!"
Citra menunduk, tapi justru membuat wajah mereka terasa sangat dekat.
"pak..."
"ssttt..."
Citra merasa canggung dan aneh. Wajah Rama terlalu dekat. Bahkan, bibir mereka hampir bersentuhan.
"Citra! Rama! Kalian di sana!?" Suara Bu Lilis menggema di garasi.
Reflek, citra menjauh, mendorong dada Suaminya. "Aduhhh!" keluh Rama yang membuat mereka ketahuan.
"Nah! Di sini kalian sembunyi!" Bu Lilis tiba-tiba membuka pintu mobil. Rama sedang memegangi kepalanya kena kepentok tadi.
"apa sih, ma!"
"Kamu yang apa-apaan? Pake sembunyi segala buat apa?"
Rama nyengir.
Di ruang utama, suasana terasa tegang, Rama dan Citra duduk berdampingan, pak Bram dan Bu Lilis juga.
Asisten rumah tangga meletakkan cangkir teh dengan gemetar di depan masing-masing. Lalu mundur tanpa suara. Dari wajah pak Bram saja, sudah terlihat siap meledak. Ditambah tadi Rama malah main petak umpet.
"Ehem!" pak Bram berdeham. "Jadi... Kamu perempuan yang mempengaruhi Rama buat nikah, huumm?" tanyanya pada Citra.
meninggal Juni 2012
😭😭