NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Gila!

"Selamat malam Pak Bastian" Semua orang begitu hormat pada Bastian. Tua, muda maupun seusia, semuanya sama. Seolah perbedaan usia tidak cukup untuk tidak menghormati pria bertuxedo hitam tersebut.

Kecuali Keisya dan Gunawan. Mereka berdua tidak melakukan tindakan berlebihan seperti yang orang orang itu lakukan.

Hampir semua mata tertuju pada Bastian yang berpenampilan sangat memukau malam ini. Gaya rambut, pakaian, semuanya begitu sempurna. Sampai para wanita yang hadir tak berkedip melihatnya.

Dewasa, tampan, mapan.

Siapa yang tidak terpikat?

Namun sayang, dari banyaknya wanita dewasa nan cantik di ruangan luas tersebut, Bastian justru tertarik pada gadis yang bahkan belum genap dua puluh tahun.

Gadis muda yang begitu bersinar dengan gaun malamnya.

Keisya berkali-kali lipat lebih cantik malam ini.

Bagaimana ini?

Dia cukup menyesal sudah memilihkan gaun tersebut.

Memang tidak secara terang terangan, tapi dia orang yang memilihkan dan menyarankan pada Gunawan, termasuk setelan yang digunakan temannya itu sekarang.

Saat dia mendekat ke arah Keisya dan Gunawan. Bastian sungguh kesal mendengar orang yang ingin mengenalkan pria lain pada Keisya.

Dan apa tadi katanya?

Berjodoh? Berbesan?

Cih. jangan mimpi.

Mulutnya tidak bisa untuk tidak menyela pembicaraan mereka. Sampai dia menjadi pusat perhatian, dan mendapatkan tatapan aneh dari semua orang.

Termasuk Gunawan.

"Apa maksud kamu?"

Namun Bastian tidak terpengaruh, dia tetap memasang ekspresi datarnya.

"Anak kamu masih harus kuliah. Untuk apa membicarakan perjodohan? Apalagi dengan laki-laki yang tidak jelas asal usulnya" Bastian menyindir pria yang sebelumnya berbicara.

Jangan pikir dia tidak tahu bagaimana kehidupan keluarga mereka. Ayah dan anak sama sama bejat.

Keisya sangat terkejut. Bagaimana bisa Bastian berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua darinya?

Gunawan sendiri memang tidak terlalu mengenal pria itu, namun dia tidak kaget dengan ucapan temannya.

Percayalah, Bastian pernah berbicara jauh lebih jahat dari barusan.

Tapi sekalipun terdengar jahat dan arogan, sebagian besar ucapannya selalu tepat dan akurat.

Suasana menjadi cukup canggung. Pria yang menjadi sasaran sindiran Bastian tidak A SZ apa-apa. Sekalipun terkadang dia sakit hati dan tersinggung, namun untuk melawan, dia masih cukup waras.

Dia tidak bisa menutupi fakta, bahwa kelangsungan keluarganya masih sepenuhnya bergantung pada pekerjaannya. Dan itu di bawah naungan perusahaan Bastian sekarang

Mencari masalah dengan pria tersebut? Tidak akan pernah dia lakukan sampai kapan pun.

Pria itu masih bisa tersenyum "Saya hanya bergurau. Lagipula saya hanya tidak menyangka jika Pak Gunawan memiliki putri secantik ini" arah pandangnya tertuju pada Keisya. Sekaligus mencoba mengalihkan perhatian semua orang darinya.

Dan sepertinya iti berhasil. Semua orang disana, termasuk Bastian kini beralih menatap Keisya.

Gadis itu cukup malu, dia risih dan ingin segera pulang dari tempat ini. Tangannya yang tengah merangkul lengan Papanya semakin mengerat.

Dan Gunawan menyadari itu.

"Tuan semua terlalu memuji." Gunawan menepuk pelan punggung tangan Keisya, "Harap maklum. putri pertama saya sedikit pemalu. Ini kali pertama dia datang ke acara seperti ini"

Dan benar saja, kecanggungan sebelumnya menguap begitu saja. Percakapan kembali berlangsung, sampai acara utama pun dimulai.

Dengan panduan dari pembawa acara, satu demi satu rangkaian acara dilakukan. Bastian pun sudah berada di atas panggung untuk memberikan sambutan sekaligus beberapa patah kata tentang rasa syukurnya atas semua pencapaian yang sudah membawanya sampai sejauh ini.

Juga Bastian sempat mengucapkan terimakasih atas kehadiran beberapa orang penting pada malam ini.

"Dan juga untuk teman baik saya," Bastian melihat ke arah temannya, "Gunawan, terimakasih sudah bersedia datang"

Keisya ikut bertepuk tangan. Dia tersenyum bangga mendengar nama Papanya disebut dan menjadi salah satu orang penting malam ini.

Setidaknya itu sebelum Bastian kembali melanjutkan ucapannya.

Senyum Keisya benar-benar hilang.

"Dan juga putrinya yang begitu cantik malam ini, terimakasih sudah bersedia datang"

Suara Bastian berubah. Jauh lebih pelan dan lembut saat mengucapkan kalimat itu. Bukan hanya cara bicaranya, tapi juga ekspresinya.

Keisya menelan ludahnya. Dia membuka lebar matanya, menatap ke arah keberadaan Bastian. Setelahnya dia menoleh ke samping pada Papanya, yang justru sedang menunjukan ekspresi serupa seperti dirinya sebelumnya.

Bangga.

Kemudian menyapu pandangan ke arah seluruh ruangan, dimana beberapa orang tengah berbisik. Terutama para wanita.

Demi apapun, sekarang dia sangat ingin pulang.

Tatapan mereka padanya seolah menusuknya berkali kali pada tempat yang sama.

Tempat ini tidak horor, tapi dia merinding sejadi jadinya.

Apalagi Papanya yang tidak memahami kegelisahannya, dan kembali mengobrol dengan pria yang entah siapa.

Mereka bersisian, namun Papanya membelakanginya. Tengah terlibat pembicaraan yang sepertinya cukup serius.

Keisya melihat yang lain mengambil minuman dari seorang pelayan yang membawa sebuah baki, dan dia langsung mengikutinya saat satu pelayan mendekat dengan satu gelas tersisa di atasnya.

Keisya tanpa ragu langsung meminumnya. Dia sangat haus, dengan semua yang terjadi malam ini.

"Kei"

Keisya segara berpaling. Dia mengerutkan dahi begitu melihat orang yang memanggilnya ternyata adalah Haikal.

Pria itu menghampirinya dengan senyumnya yang begitu menawan. Apalagi pakaiannya malam ini membuat Keisya pangling. Karena dua kali pertemuan sebelumnya, pria itu selalu menggunakan kaos polos dan celana jeans

"Kamu ada disini juga? Datang sama siapa?" tanya Haikal. Dia baru saja tiba, dan pandangannya langsung terkunci pada gadis ini. Cukup kaget pada awalnya. Namun setelahnya lenyap digantikan oleh rasa senang.

Sebelumnya dia begitu malas datang ke acara Ayahnya. Tapi sekarang sebaliknya. Dan itu berkat kehadiran Keisya yang begitu cantik dengan semua yang ada pada dirinya.

Pertanyaan Hikayat sedikit membingungkan. Apa pria ini tidak kenal dengan Papanya?

Namun meski begitu dia tetap menjawab, "Sama Papa" dia berbalik, dan tidak menemukan keberadaan Papanya lagi di belakang.

Keisya mengedarkan pandangan dan menemukan Papanya sudah jauh di depan sana, duduk di sofa di ujung ruangan. Masih berbincang dengan orang yang sama.

Dia bertanya tanya, fungsinya datang ke acara malam ini sebenarnya apa?

Napasnya berhembus pelan. Lalu kembali menatap Haikal. "Kamu ga kenal Papa aku?"

"Siapa nama Papa kamu?"

"Gunawan"

Haikal membulatkan bibirnya sambil mengangguk. "Pernah denger, tapi belum pernah ketemu. Papa kamu ternyata temenan sama Ayah yah?"

Giliran Keisya yang mengangguk.

"Mau pindah ke sana?" Haikal menunjuk ke arah sisi berlawanan dengan keberadaan Papanya. Disana cukup sepi.

Sebelum menjawab dan mengambil keputusan, dia kembali menatap ke arah Papanya. Namun alih-alih melihat Papanya, dia justru bertemu tatap dengan sepasang mata tajam milik Bastian.

Pria itu tampaknya sedang dalam suasana hati yang sangat buruk jika dilihat dari ekspresinya yang suram. Padahal ada beberapa wanita di sekitarnya.

Dia kembali teringat dengan kejadian di butik.

Bagaimana jika dia mengulanginya, namun dengan pria lain?

Apakah efeknya akan sama?

"Oke" jawab Keisya pada akhirnya, menyetujui ajakan Haikal. "Ayo"

Haikal semakin tersenyum lebar. Dia mempersilahkan Keisya berjalan lebih dulu, dan mengikutinya dari belakang. Tapi lama kelamaan mereka berjalan beriringan sambil berbincang santai.

Mata Keisya menatap sekitar, mencari momen yang tepat untuk melakukan aksinya.

Saat dirasa siap, dia langsung bertindak.

Dia melakukan gerakan seolah olah tersandung, dan oleng ke arah Haikal. Dia mengambil langkah itu untuk memastikan tidak terjatuh jika pria itu terlambat menyadarinya.

Dan benar saja, Haikal dengan sigap menahannya dan mendekapnya agar tidak terjatuh.

Posisi mereka hampir sama dengan kejadian di butik hari itu. Hanya saja kali ini pria itu adalah Haikal, bukan Ayah pria tersebut.

Mata mereka saling terpaku, namun dengan perasaan yang sama sekali berbeda.

Jika Haikal sudah jelas, karena ada wanita yang disukainya berada dalam rangkulannya.

Namun Keisya justru sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Karena apa yang dirasakannya sekarang, begitu berbeda dengan hari itu.

Jantungnya tidak berdebar sedikitpun.

Justru jantung Haikal yang berdebar, sampai Keisya bisa mendengarnya.

Apa-apaan ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Tidak mungkin kan jika dia benar-benar memiliki perasaan pada Bastian?

Terlalu asik dengan pikirannya sendiri, Keisya sampai tidak menyadari jika wajah Haikal semakin mendekat. Kepalanya mulai miring, bersiap melakukan aksinya.

Ingin mencium bibir Keisya.

Tapi, niatnya itu harus gagal total setelah tiba-tiba Bastian muncul dan menarik Keisya dari rangkulan Haikal.

Kini Keisya sudah berada dalam pelukan Bastian.

"Apa yang kamu lakukan, Haikal?" Bastian menggeram marah. Sorot matanya sangat tajam saat menatap anaknya tersebut.

"Ayah?" Haikal tergagap. Dia sadar akan kesalahannya yang sempat gelap mata, "Ayah, aku, bukan itu maksudnya. Aku ga sengaja"

Keisya adalah anak dari teman Ayahnya. Fakta itu sudah membuatnya panik, alih alih sadar akan alasan lain yang membuat Ayah kandungnya itu marah.

Padahal jika di perhatikan lagi ekspresi Bastian sangat mudah dibaca.

Lalu Keisya?

Gadis itu masih bengong, dengan jantungnya yang kini berdebar kencang.

Gila!

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!