Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Beberapa bulan setelah segalanya berakhir, Qinghe tidak hanya tenang ia hidup.
Tenang yang tidak sunyi.
Tenang yang bernapas.
Pasar kecil kembali ramai. Balai obat tidak lagi penuh orang terluka, melainkan ibu-ibu yang sekadar memeriksa anak demam ringan atau kakek-kakek yang datang hanya untuk minum teh dan mengeluh tentang lutut.
Yun Ma menyukai itu.
Pagi hari ia membantu di balai obat. Siang ia berjalan keliling desa. Sore duduk di depan rumah kecilnya, menyeduh teh bersama Ayin, sementara Hui entah bergelantungan di mana dan Ye… selalu ada, entah tidur atau berjaga, tanpa banyak suara.
Xuan?
Xuan ada. Selalu.
Tidak menempel. Tidak mengawasi.
Hanya… hadir.
Kadang membantu memperbaiki atap warga. Kadang duduk di bengkel kayu. Kadang berdiri diam di ujung jalan menunggu Yun Ma selesai bekerja, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Tidak ada gelar. Tidak ada pasukan.
Hanya Xuan dan justru itu yang membuat Yun Ma merasa… anehnya aman.
----
Hari itu sore yang cerah.
Langit biru bersih, angin ringan, dan Qinghe terasa terlalu damai untuk sesuatu yang besar terjadi.
Yun Ma sedang duduk di halaman, membersihkan alat obat. Ayin di dalam rumah menulis catatan. Hui tiduran di pagar sambil menghitung awan.
Ye berbaring di bawah pohon, mata setengah terpejam.
Xuan datang membawa sesuatu kotak kayu kecil.
Tidak mencolok. Tidak berkilau.
Hui langsung menegakkan telinga.
“Oh?” Nada suaranya penuh curiga. “Kenapa kau kelihatan seperti orang mau mati terhormat?”
Xuan mengabaikannya.
Yun Ma menoleh. “Ada apa?”
Xuan belum sempat menjawab ketika tiba tiba udara berubah.
Bukan dingin, bukan panas yang ada hanya… hening.
Ruang di sekitar Yun Ma bergetar pelan, seperti napas panjang yang akhirnya dilepaskan.
Api sunyi muncul.
Tidak menyala besar. Tidak mengamuk.
Shen Yu keluar dari ruang dimensi Yun Ma dengan wujud yang jauh lebih stabil api berwarna biru gelap, berdenyut perlahan, tenang, matang.
Meditasinya… selesai.
Yun Ma membeku sesaat.
Lalu tersenyum.
Bukan senyum lega.
Tapi senyum anak kecil yang akhirnya melihat seseorang yang lama ia tunggu pulang.
“Kau sudah bangun,” kata Yun Ma pelan.
Shen Yu berdenyut lembut, seperti anggukan.
Ya.
Suara itu tidak terdengar di telinga, tapi langsung di dada.
Hui melompat turun.
“Oh. AKHIRNYA. Aku hampir bosan mengejek api tidur.”
Shen Yu bergetar… sedikit. "Makhluk berekor, kau masih hidup rupanya."
Hui tersedak.“HEY. KAU MASIH TIDAK BERUBAH, DASAR API SEPI .”
Ye membuka satu mata.
Menatap Shen Yu.
Menutup mata lagi.
Reaksi Ye selesai.
Xuan berdiri kaku. Kotak kayu di tangannya terasa jauh lebih berat.
Yun Ma berdiri dan melangkah mendekat ke Shen Yu.
“Kau baik-baik saja?”
"Sekarang ya" jawab Shen Yu, " Dan kau?"
“Aku Seperti yang kau rasakan.”Api itu berdenyut lebih hangat.
Dan di situlah Yun Ma sadar Shen Yu sudah tidak menahan diri. Tidak lagi berjaga setengah sadar. Ia… selesai.
Bebannya lepas dan untuk pertama kalinya, Yun Ma merasa dirinya benar-benar… utuh.
----
Xuan menarik napas panjang.“Yun Ma.”
Semua menoleh.
Nada suaranya tidak tegang, tapi serius. Sangat serius.
Yun Ma menatapnya. “Kenapa?”
Xuan berjalan mendekat. Tidak berlutut. Tidak dramatis.
Ia hanya membuka kotak kayu kecil itu.
Di dalamnya, sebuah cincin sederhana. Tidak bertatahkan batu mahal. Hanya logam halus dengan ukiran sangat tipis pola yang menyerupai aliran api sunyi.
“Aku tidak tahu caranya melamar dengan benar,” katanya jujur. “Aku tidak punya upacara besar. Tidak punya kata-kata indah.”
Hui langsung angkat tangan.“AKU BISA BANTU DRAMATISASI—”
“Aku memotong,” kata Ayin dari dalam rumah.
Xuan melanjutkan.
“Aku hanya tahu satu hal. Aku ingin bangun dan pulang ke tempat yang sama setiap hari. Dan tempat itu… selalu kau.”
Yun Ma terdiam.
Xuan menatapnya lurus. Tidak menekan. Tidak memohon.
“Kalau kau mau,” katanya pelan, “menikahlah denganku.”
Sunyi.
Hui menahan napas.
Ayin berdiri di ambang pintu.
Ye membuka mata dua-duanya kali ini.
Yun Ma belum menjawab.
Karena ia menoleh ke Shen Yu.
Dan semua orang tahu…
jawaban Yun Ma tidak akan lengkap tanpa itu.
Restu Sang Api Sunyi
“Bagaimana menurutmu?” tanya Yun Ma pelan.
Shen Yu bergerak perlahan, berputar kecil, lalu berhenti tepat di antara Yun Ma dan Xuan. "Kau mau melamar Yun ma, apa kau dapat menjamin kebahagiaan dirinya?
Xuan menegakkan punggung. "Aku diam mengorbankan nyawaku hanya untuk dia"
Shen Yu menatap xuan, "Ia tidak takut. Tapi jelas… hormat. Ia berdiri di sisimu saat dunia ingin mengikatmu.
Ia tidak meminta kekuatanmu, ia tidak mencoba menguasaimu." ujar Shen Yu
Api berdenyut lebih terang. "Ia memilih berjalan, bukan memiliki."
Hui menyeringai.“Wah. Ini pidato mertua.”
Shen Yu menoleh secara metaforis ke arah Hui. "Diam."
Hui menutup mulut.“Baik.”
Yun Ma menunggu.
Shen Yu mendekat sedikit ke Yun Ma. "Jika kau memilihnya… aku tidak akan menghalangi."
Api itu berdenyut hangat. "Karena kau tidak lagi membutuhkan penjaga."
Yun Ma tertegun.
Bukan karena izin itu.
Tapi karena maknanya.
“Kau tidak pergi, kan?” tanyanya lirih.
Shen Yu berdenyut lembut.
Aku tetap di sini.
Bukan sebagai beban.
Tapi sebagai bagian dari dirimu.
Mata Yun Ma sedikit panas.
Ia menoleh kembali ke Xuan.
“Kalau begitu,” katanya sambil mengambil cincin itu,“jawabanku iya.”
Hui berteriak.
“AKHIRNYA. AKU MENANG TARUHAN DENGAN AYIN.”
“Aku tidak pernah ikut,” sahut Ayin.
Ye berdiri. Mendekat satu langkah.
Mengendus Xuan.
Lalu duduk kembali.
Restu Ye versi maksimal.
Setelah Lamaran
Tidak ada pesta besar hari itu.
Mereka hanya duduk bersama saat matahari terbenam. Minum teh. Makan sederhana.
Tapi rasanya… penuh.
Xuan duduk di samping Yun Ma.
Tidak banyak bicara.
Yun Ma menyandarkan bahu.
Tidak ragu.
Shen Yu duduk tenang di dekat mereka, tidak lagi berjaga, hanya… ada.
Hui berbaring telentang di atap.
“Dunia tenang. Kalian bertunangan. Aku bosan.”
Ayin tersenyum.
“Itu tandanya hidup normal.”
Ye menutup mata.
Dan di Qinghe, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—
Tidak ada ancaman.
Tidak ada kejaran.
Tidak ada takdir yang menunggu di tikungan.
Hanya hari esok.
Dan itu… cukup.
Bersambung
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
tapi menikmati 🥰🥰🥰