Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
“Kenapa lama sekali?” tanya Junior pada Maureen. Sejak tadi ia menunggu di tempat mereka sempat bertemu Alyssa.
Alyssa.
Beberapa saat lalu, ketika pandangannya tertumbuk pada perempuan itu, dadanya mendadak terasa sesak. Perasaan itu yang sudah lama ia kubur, tiba-tiba muncul lagi. Ia ingin menghampiri Alyssa, menariknya ke dalam pelukan, mencium bibirnya. Ada bagian dalam hatinya yang terasa kosong, dan saat melihat Alyssa, seolah potongan yang hilang itu kembali mengisi.
Sudah bertahun-tahun mereka tak bertemu. Wajar jika ia merindukannya. Alyssa adalah cinta pertamanya. Pertama dalam segalanya. Bagaimana mungkin ia bisa benar-benar melupakannya?
“Maaf, sayang! Kamu sudah diukur?” tanya Maureen ceria. Ia menggenggam lengan Junior dan mengajaknya berjalan menuju Studio B, tempat mereka akan menemui Friska.
“Belum. Masih memilih desainer,” jawab Junior singkat.
“Oke! Harusnya aku ikut dari tadi. Ibu yang memilihkan desainer gaunku. Aku belum bertemu orangnya, tapi katanya sebentar lagi. Mereka mau menunjukkan desain gaun pengantinku,” ujar Maureen antusias sambil menyandarkan pipinya di bahu Junior.
Namun pikiran Junior kembali melayang.
Apa yang Alyssa lakukan di sini?
Ia juga sempat terkejut melihat Alyssa dikerumuni banyak orang. Hidup mantan istrinya tampak berjalan dengan baik. Seperti apa kehidupannya selama ini?
Meski begitu… Junior tetap merasa lega melihat Alyssa baik-baik saja.
“Kok kamu melamun?” tanya Maureen. Langkah mereka terhenti.
“Hah?” Junior menoleh bingung.
“Dari tadi aku bicara, kamu nggak denger. Kenapa sih?” Maureen melepaskan genggamannya dengan kesal. “Kamu sering seperti ini.”
“Apa maksudmu?” Junior kembali melangkah. “Aku cuma nggak terlalu dengar.”
“Sudahlah. Nggak ada apa-apa!”
“Maureen, jangan sekarang,” kata Junior dengan suara rendah tapi tegas. “Kita bukan di rumah. Jangan bikin keributan.”
Namun Maureen justru meninggikan suaranya.
Junior langsung pergi, meninggalkan Maureen yang berdiri dengan tangan terkepal.
“Begitu terus kamu!” seru Maureen.
“Aku nggak pernah penting buat kamu!” suaranya mulai bergetar. “Kenapa? Cuma karena kamu lihat Alyssa? Mantan istrimu yang kamu sayangi itu? Kamu masih cinta dia? Bukannya kamu bilang cinta aku? Kamu masih mau perempuan yang mengkhianatimu itu? Perempuan murahan itu?!”
Beberapa orang di sekitar mulai berhenti dan menoleh. Nama Alyssa terdengar jelas, memancing bisik-bisik. Ada yang mulai bertanya-tanya, benarkah Alyssa berselingkuh?
Junior perlahan berbalik. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menahan amarah.
“Kamu sedang menguji kesabaranku,” ucapnya pelan namun menusuk. “Satu kali lagi, Maureen. Satu kali lagi.”
“Aku cuma bilang yang sebenarnya!” bentak Maureen, hampir menangis.
Namun kali ini Junior tak merasa iba. Justru rasa kesalnya makin memuncak. Maureen terlalu sensitif dan tak pernah tahu tempat. Selalu membuat keributan di mana pun.
Junior tertawa pahit, singkat dan dingin.
“Sial,” gumamnya. “Seharusnya aku nggak ngajak kamu kalau tahu kamu bakal mempermalukanku lagi. Kamu selalu seperti ini.”
Ia masuk ke lift dengan kasar, menekan tombol keras-keras. Pintu hampir menutup ketika Maureen menyusul.
“Maaf, sayang--”
“Maafmu nggak ada gunanya. Diam. Aku nggak mau dengar.”
Gracela muncul kembali saat Alyssa tiba di Studio B.
“Miss Alyssa silakan lewat sini.”
Alyssa mengangguk. Begitu masuk, Friska menyambutnya hangat, memuji karyanya, menanyakan inspirasinya.
Alyssa tersenyum lebar dan menggenggam tangan Friska penuh semangat.
“Terima kasih banyak, Bu Friska. Saya menerima posisi ini dengan sepenuh hati.”
“Kamu sudah punya klien pertama,” kata Friska. “Aku percayakan dia padamu. Aku lihat kamu juga mendesain jas pria.”
Alyssa terkejut. Klien langsung?
“Ini klien penting,” lanjut Friska. “Dia ingin jas pengantin. Kuat, bersih, berkelas.”
Alyssa tersenyum. “Tantangan.”
“Dia akan datang sekarang.”
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki.
“Hello!”
Alyssa menoleh.
Astaga. Lagi?!
“Alyssa? Kamu ngapain di sini?” tanya Maureen tajam.
“Oh, kalian saling kenal?” tanya Friska.
“Ya. Sangat kenal,” jawab Maureen kaku.
“Bagus,” kata Friska singkat.
Alyssa langsung menangkap maksudnya.
Jangan bilang…
“Ini klienmu, Mr. Junior Zero Brixton,” ujar Friska.
“Dia desainerku?” Junior menoleh kaget.
“Apa? Tidak!” Maureen langsung protes. “Kamu sengaja, ya? Mau godain tunanganku?!”
Alyssa mengepalkan tangannya.
“Maaf?” Friska tampak bingung.
“Aku tidak mau dia mendesain untuk Junior! Nanti dia godain--”
“Maureen!” bentak Junior.
Alyssa berdiri tegak, menyilangkan tangan. Suaranya tenang, tapi tajam.
"Tuan Junior” ucapnya dingin, “aku tidak tahu pacarmu terobsesi seperti ini. Jangan sembarangan menuduh.”
Ia melangkah sedikit mendekat “Suruh dia berhenti memanggilku murahan. Aku bukan orang sembarangan.”
Tatapannya lalu beralih ke Maureen, menusuk tanpa ampun.
“Ini bukan sikap profesional,” lanjut Alyssa pada Junior. “Nama keluargamu dipertaruhkan.”
“Jadi maksudmu Junior harus putus dariku?” teriak Maureen.
“Aku nggak bilang begitu. Itu pikiranmu sendiri,” jawab Alyssa ringan.
“Kamu cuma iri karena Junior menikah denganku!”
“Maureen, tolong,” bisik Junior dengan wajah memerah. Banyak staf memperhatikan.
“Tidak,” Alyssa menggeleng. “Aku tidak tahu kliennya dia. Kalau tahu, aku tidak akan menerima. Aku tidak mau terlibat drama seperti ini.”
Friska akhirnya angkat bicara, menjelaskan bahwa Alyssa sama sekali tidak tahu soal klien tersebut.
“Jangan ikut campur!” bentak Maureen pada Friska.
“Jangan bentak creative director!” balas Alyssa tegas.
“Kalau bukan karena status VIP kalian, aku sudah mengusir kalian,” kata Friska dingin.
“Cukup, Maureen,” ujar Junior. “Kita bicara di rumah.”
Alyssa mengangkat tangan “Aku tidak ingin merusak apa pun. Dan aku sudah tidak mencintainya.”
Ia mengambil barang-barangnya “Aku menolak proyek ini.”
Alyssa pergi.
“Alyssa, tunggu!” Junior mengejarnya keluar.
“Maaf--”
“Tidak apa-apa,” potong Alyssa dingin. “Tolong suruh Maureen berhenti mengungkit masa lalu. Aku sudah bahagia. Tolong jangan ganggu aku lagi. Dia sudah merebut segalanya. Belum cukup?”
Tanpa menunggu jawaban, Alyssa pergi.