Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
SMA Pelita Bangsa bukan sekadar sekolah elite. Berada di bawah naungan Keluarga Abraham, sekolah ini adalah pusat berkumpulnya anak-anak konglomerat Indonesia. Namun, tahun ajaran ini menjadi berbeda dengan kehadiran Naura Amira.
Si Gadis Ceria yang "Terlalu" Sempurna
Naura masuk ke gerbang sekolah dengan senyum yang bisa melelehkan es kutub.
Rambut dikuncir kuda, langkahnya ringan, dan auranya begitu positif. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendekati Nadira, sang queen bee yang terkenal sangat pemilih soal teman.
"Hai! Gue Naura. Tas kamu lucu banget, beli di Milan ya?" sapa Naura santai.
" ah, benar sekali. terima kasih pujian nya naura, nama Gue Nadira "
" salam kenal ya Nadira" ucap naura penuh keceriaan
" salam kenal juga. Lo mau ke ruang kepsek ? " tanya nadira
" iya nih, ruang kepsek dimana yah "
" ruang kepsek ada di koridor sebelah kiri, atau mau gue antar "
" Boleh, yuk "
Nadira, yang biasanya dingin, entah mengapa merasa "nyambung" dengan Naura. Dalam hitungan jam, Naura sudah mengantongi kepercayaan siswi paling populer di sekolah itu. Namun, di balik tawa renyah Naura, matanya terus bergerak lincah, mengamati setiap sudut CCTV dan posisi penjaga keamanan.
Naura yang sedang asyik mengobrol dengan Nadira tidak sengaja menabrak seorang remaja laki-laki. Cowok itu bertubuh tegap, dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. Ia adalah Muhammad Arkan.
"Lain kali pakai mata kalau jalan," ucap Arkan ketus, tanpa menoleh.
Naura berhenti tertawa. Alisnya terangkat. "Harusnya gue yang bilang gitu. Lo yang jalan berlawanan arah arus koridor. Perlu diajarin cara baca tanda lalu lintas?"
Arkan berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap Naura dalam-dalam. Ada kilatan aneh di mata Arkan, tatapan yang bukan milik seorang remaja biasa. "Jangan cari perhatian di sini, anak baru."
"Jangan kepedean, cowok kulkas," balas Naura tajam.
Langkah kaki Naura terhenti tepat di depan pintu kelas XI-A. Ia menarik napas panjang, memasang kembali topeng "gadis ceria" yang telah ia latih selama bertahun-tahun. Dengan senyum lebar, ia melangkah masuk.
Sambutan di Kelas XI-A.
Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap. Nadira, yang sudah duduk di kursinya, langsung melambaikan tangan dengan antusias, pemandangan langka bagi siswa lain yang tahu betapa eksklusifnya seorang Nadira teman baru nya.
"Naura! Sini, duduk di sebelah gue!" seru Nadira.
Banyak pasang mata yang menatap ke arah Naura yang terlihat akrab dengan Nadira
Naura berjalan melewati deretan meja dengan tatapan ramah ke setiap siswa. Namun, di balik senyum itu, otaknya sedang memproses data.
Baris paling belakang, pojok kiri.
Di sana, Arkan duduk dengan headphone melingkar di lehernya. Ia tidak menoleh sedikit pun, tangannya sibuk mencoret-coret buku sketsa yang jika dilihat lebih dekat oleh mata ahli seperti Naura, sebenarnya adalah denah struktur bangunan sekolah.
Saat guru masuk dan memulai pelajaran sejarah, Naura menyadari sesuatu. Arkan terus memperhatikannya melalui pantulan kaca jendela.
"Baik, karena ada siswi baru, Naura, bisakah kamu jelaskan sedikit tentang silsilah keluarga pendiri bangsa yang baru saja kita bahas?" tanya Pak Danu.
Naura berdiri, memberikan jawaban sempurna namun sengaja disisipi sedikit kesalahan kecil agar tidak terlihat "terlalu pintar" untuk ukuran remaja biasa. Namun, sebuah suara berat memotong dari belakang.
"Salah. Tahunnya bukan itu. Jangan kasih informasi menyesatkan kalau nggak tahu faktanya," ucap Arkan tanpa mengangkat kepala dari bukunya.
Naura mengepalkan tangan di bawah meja, tapi wajahnya tetap tenang. "Oh, maaf. Sepertinya aku sedikit gugup karena hari pertama. Makasih ya, Arkan, sudah dikoreksi," jawab Naura dengan nada manis yang dibuat-buat.
......................
Begitu bel istirahat berbunyi, kantin SMA Pelita Bangsa yang lebih menyerupai kafe bintang lima itu mendadak menjadi arena "perang dingin" yang dibalut dengan senyuman.
Naura duduk di meja utama bersama Nadira. Di meja seberang, Arkan sedang berkumpul bersama dua temannya, Rio dan Satya.
"Naura, lo harus cobain truffle pasta di sini, ini favorit gue," ujar Nadira sambil menunjuk menu.
"Wah, keliatannya enak banget! Tapi kayaknya gue lebih butuh yang dingin-dingin deh, soalnya dari tadi suhu di sekitar sini berasa drop banget, kayak ada kulkas berjalan," sahut Naura dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.
Arkan yang sedang meminum kopinya berhenti sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan dentingan halus yang bagi telinga awam terdengar biasa, namun bagi Naura itu adalah tanda provokasi.
"Kantin ini memang punya sistem pendingin terbaik," Arkan menyahut tanpa menoleh, suaranya datar. "Tapi sayangnya, nggak bisa mendinginkan otak orang yang bicara tanpa data."
Naura tertawa renyah, tawa khas gadis ceria yang menggemaskan. "Oh, maksud lo soal sejarah tadi? Duh, Arkan, makasih ya udah perhatian banget sampai dengerin detail jawaban gue. Padahal gue pikir lo sibuk gambar... pohon? Eh, atau itu tadi labirin?"
Rio dan Satya saling pandang. Mereka belum pernah melihat ada orang yang berani menyindir hobi menggambar Arkan.
Sementara Nadira hanya mengerutkan kening, bingung dengan atmosfer yang tiba-tiba mencekam.
"Itu sketsa, Naura. Bukan labirin," potong Arkan. Ia akhirnya menoleh, menatap Naura tajam. "Dan biasanya, orang yang terlalu banyak tertawa itu punya sesuatu yang ingin disembunyikan. Benar begitu?"
Naura tidak goyah. Ia justru menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Arkan balik dengan mata berbinar-binar seolah sedang mengagumi idola sekolah.
"Rahasia? Rahasia Gue cuma satu. kok bisa ya ada orang yang betah banget pasang muka kaku kayak patung manekin setiap hari? Apa nggak pegel?"
"Gila, Arkan... lo baru aja dikatain manekin sama anak baru," bisik Satya dengan wajah tidak percaya.
"Naura, lo oke? Arkan emang agak... unik, tapi dia nggak biasanya sedingin ini sama cewek," tanya Nadira cemas, merasa ada yang salah dengan interaksi kedua orang itu.
"Aku oke kok, Nadira! Arkan lucu banget kalau lagi serius," jawab Naura sambil mengibaskan tangan, kembali ke mode gadis polosnya. "Eh, Arkan, kalau sketsa Lo udah jadi, boleh dong Gue liat? Siapa tahu Gue bisa bantu kasih 'warna' supaya nggak suram banget."
Arkan hanya mendengus, kembali pada bukunya. "Gue nggak butuh bantuan amatir."
Meskipun mulut mereka sibuk berdebat hal-hal remeh, otak keduanya bekerja dengan frekuensi yang berbeda.
"Dia tahu gue sengaja salah sebut tahun. Dan sketsa itu... posisi ventilasi di gedung barat ada yang janggal di gambarnya. Dia bukan sekadar murid jenius, dia sedang memetakan jalur buta CCTV. Siapa sebenarnya Muhammad Arkan?" Ucap batin Naura sambil menatap arkan menyelidik.
"Gadis ini terlalu rapi. Tawanya sinkron dengan gerakan matanya, sangat terlatih. Dia menyebut 'labirin' dia tahu gue sedang menggambar denah basemen. Dia bukan sekadar anak konglomerat manja." Bingung batin arkan