Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33_RUANGAN YANG TERASA MENEGANGKAN
Suara Nayla menggema pelan di kamar itu, lalu lenyap begitu saja, ditelan sunyi yang terasa aneh.
Tidak ada jawaban.
Nayla berdiri beberapa detik di ambang pintu, ragu. Tangannya saling meremas tanpa sadar. "Kalau aku masuk ke kamarnya tanpa izin… dia marah nggak ya?" gumamnya pelan, matanya masih mengintip ke dalam kamar Azka yang tampak kosong.
Ia menghela napas kecil.
"Ini urgent. Penting banget," katanya lagi, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Akhirnya, Nayla melangkah masuk. "Maaf ya, Ka," ucapnya lirih sambil menunduk sedikit, entah pada siapa. "Aku masuk kamar kamu tanpa izin. Mau pinjam buku soalnya… hehe."
Kakinya menapak lantai kamar Azka yang dingin dan bersih. Seketika matanya berkeliling, menelusuri setiap sudut ruangan itu. Kamar Azka jauh lebih luas dari kamarnya, bahkan terasa terlalu luas untuk satu orang.
Interior abu-abu dan putih mendominasi. Semuanya tertata rapi. Tidak ada barang berserakan. Wangi maskulin samar tercium di udara.
Nayla terdiam beberapa saat, benar-benar terpukau.
"Kamarnya luas banget…” gumamnya pelan. “Bersih, rapi, dan wangi."
Ia melangkah lebih dalam, pandangannya lalu beralih ke arah kamar mandi. Sunyi. Tidak ada suara air, tidak ada cahaya yang menyala.
"Terus… orangnya ke mana?" gumam Nayla lagi, kali ini dengan nada bingung.
Matanya kemudian tertuju pada meja belajar Azka. Ia mendekat, berharap menemukan buku yang ia cari. Namun yang ia temukan justru meja yang kosong—terlalu kosong.
Tidak ada kunci mobil di sana.
Alis Nayla terangkat sebelah. "Dia keluar?" gumamnya. "Tapi kok nggak bilang-bilang…"
Kalimat itu baru saja keluar dari bibirnya, ketika Nayla langsung tersentak oleh pikirannya sendiri. Keningnya berkerut.
"Kok aku ngomong gitu sih?" batinnya cepat. "Dia kan memang kebiasaannya gitu. Keluar tanpa izin."
Nayla menghela napas panjang, mencoba menertawakan pikirannya sendiri yang terasa… berlebihan.
Ia menggeleng kecil, berusaha kembali sadar diri.
"Iya, ya… ngapain juga aku mikir sejauh itu," gumamnya pelan.
***
Disisi lain.
Ruangan itu tampak temaram, hanya diterangi beberapa lampu redup yang menggantung malas di langit-langit. Beberapa orang berdiri menyebar, sebagian duduk bersandar di dinding, wajah-wajah asing dengan sorot mata yang tak bisa ditebak. Udara terasa pengap, penuh aura tak bersahabat.
Di tengah ruangan itu, Azka berdiri tegak.
Sorot matanya tajam, rahangnya mengeras, dan aura dingin yang ia bawa terasa begitu dominan. Ia tidak bergerak banyak, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana terasa menegang.
Pria di hadapannya tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak menyenangkan. Senyum yang sejak awal selalu berhasil membuat Azka muak. Di sekolah, cowok itu terlihat rapi, polos, bahkan terkesan ramah. Tapi di luar? Licik. Penuh perhitungan.
"Gue udah bilang," ucap Azka menekan, suaranya rendah tapi penuh tekanan. "Nayla bukan barang."
Kalimat itu justru disambut tawa ringan. Tawa mengejek.
"Hahaha… bilang aja lo takut," balas pria itu santai, seolah ucapan Azka tak berarti apa-apa.
Tangan Azka mengepal di sisi tubuhnya. Urat-urat di lengannya terlihat menegang. Ia menahan diri, benar-benar menahan agar tidak terpancing. Lalu, di detik berikutnya, ia terkekeh kecil—bukan karena lucu.
"Takut?" Azka mengulang pelan, lalu mengangkat wajahnya sedikit. "Takut karena apa?"
Pria itu mendekat setapak, senyumnya semakin lebar, semakin licik. "Takut kalau lo kalah. Dan gue menang" katanya tanpa ragu. "Dan jelas… Nayla jadi milik gue. Dan lo nggak punya hak lagi buat ngehalangin gue buat dekat sama Nayla."
Ucapan itu membuat Azka tersenyum. Bukan senyum ramah. Bukan senyum bercanda.
Senyum seseorang yang melihat lawannya terlalu percaya diri—percaya diri yang berlebihan, sampai lupa kalau sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri.
"Dan itu nggak akan pernah terjadi," ucap Azka akhirnya. Suaranya kembali datar, dingin, tanpa emosi berlebihan.
Pria itu justru mengangguk-angguk, seolah puas. Seolah berhasil melihat reaksi yang ia tunggu-tunggu sejak awal. "So?" tanyanya ringan. "Lo nerima tantangan gue?"
Azka terdiam beberapa detik. Tatapannya kosong, seolah sedang menimbang sesuatu. Bukan takut, tapi lebih ke memikirkan konsekuensi. Namun Azka memang bukan tipe yang mundur.
"Gue terima" ucapnya akhirnya, tenang tapi tegas. Tatapannya mengunci lawan bicaranya tanpa goyah. "Tapi satu hal."
Pria itu menaikkan alis, tertarik.
"Gue nerima tantangan lo," lanjut Azka, suaranya sedikit menekan, "bukan karena Nayla."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang membuat ruangan itu terasa semakin dingin,
"Tapi karena… gue mau."
Senyum di wajah pria itu perlahan memudar. Bukan menghilang sepenuhnya, tapi berubah, lebih tipis, lebih waspada. Sorot matanya menajam, menatap Azka seolah sedang menimbang seberapa jauh cowok di hadapannya bisa melangkah sebelum jatuh.
Dan di dalam hati Azka, satu hal sudah pasti, permainan ini baru saja dimulai.
"Berani juga lo," katanya pelan, lalu terkekeh kecil. Tatapannya bergeser, dagunya mengangguk ke satu arah. "Kalau gitu, lo lawan gue di atas ring."
Azka melirik sekilas ke arah yang ditunjuk. Sebuah ring tinju berdiri di sudut ruangan, lantainya sedikit usang, tali-tali pembatasnya tampak sering dipakai. Tempat itu bukan sekadar arena latihan, lebih seperti tempat pembuktian ego.
Azka kembali menatap pria di depannya. Senyum miring terbit di sudut bibirnya. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan.
"Oke," sahutnya santai. "Siapa takut."
Ucapan itu membuat suasana ruangan seolah berhenti sejenak.
Di sudut lain, tiga pasang mata membelalak hampir bersamaan.
"Azka. Ini serius?" tanya Raka dengan nada kaget yang tak bisa ia sembunyikan.
Azka menoleh sekilas ke arah mereka. Raka, Dion, dan Devan berdiri tak jauh dari pintu masuk, dan entah sejak kapan berada di sana. Wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan. Namun Azka sama sekali tidak tampak heran dengan kehadiran mereka, karena memang dialah yang sejak awal mengirim lokasi.
Tanpa menjawab Raka, Azka kembali memusatkan perhatiannya pada pria di hadapannya.
"Eh, lo… siapa lagi namanya?" bisik Dion ke Raka sambil menyipitkan mata, mencoba mengingat.
"Arvin," jawab Raka cepat.
Ya. Arvin.
Cowok yang berani nantang Azka. Cowok yang dengan entengnya menjadikan Nayla sebagai taruhan, seolah gadis itu hanyalah objek. Padahal, bagi Azka, ini bukan soal Nayla. Bukan soal perebutan yang konyol itu.
Ini soal harga diri.
Devan hanya melirik sekilas ke arah ring, lalu ke Azka. Tatapannya penuh tanda tanya, tapi ia memilih diam.
"Arvin," Dion akhirnya bersuara, nadanya terdengar heran. "Lo nggak tau siapa Azka?"
Arvin berdecak malas. "Ck. Gue nggak peduli dia siapa," katanya dingin sambil menatap Azka tanpa gentar. “Dan gue nggak akan pernah peduli.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat, sorot matanya menantang. "Satu hal yang gue mau...dia lawan gue. Hari ini. Malam ini."
Suasana makin menegang.
Azka menegakkan tubuhnya, sorot matanya kini lebih gelap dari sebelumnya. Rahangnya kembali mengeras, dan aura dingin itu kembali mendominasi.
"Hari ini?" ulang Azka pelan. Lalu, senyum tipis terbit di wajahnya.
"Oke," katanya singkat.
"Jangan nyesel.