NovelToon NovelToon
Ketika Malaikat Maut Jatuh Cinta

Ketika Malaikat Maut Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Romansa
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: Irnu R

Alya tidak pernah menyangka hidupnya yang biasa akan berubah selamanya saat ia bertemu dengan Rheyan, sosok pria misterius dengan tatapan kelam dan aura yang terlalu menggoda. Ia datang di saat-saat antara hidup dan mati, membawa takdir yang tak bisa dihindari. Tapi yang tak ia duga, sang malaikat maut justru terpikat oleh kelembutan dan keberaniannya.

Di sisi lain, ada Davin, dokter penuh kasih yang selalu ada untuk Alya. Ia menawarkan dunia yang nyata, cinta yang hangat, dan perlindungan dari kegelapan yang perlahan menyelimuti kehidupan Alya.

Namun, cinta di antara mereka bukanlah hal yang sederhana. Rheyan terikat oleh aturan surgawi—malaikat maut tak boleh mencintai manusia. Sementara Alya harus memilih: menyerahkan hatinya pada keabadian yang penuh bahaya atau tetap berpijak pada dunia fana dengan seseorang yang bisa menjanjikan masa depan.

Ketika batas antara surga dan bumi kabur, bisakah cinta mengubah takdir? Atau justru cinta itu sendiri yang akan menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irnu R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Malaikat dan Manusia yang Tidak Seharusnya Hidup

Alya duduk di depan laptopnya, layar berpendar redup di tengah kamar yang hanya diterangi lampu meja. Tangannya mengetik dengan cepat, mencari apa saja yang bisa menjelaskan apa yang terjadi padanya.

Dia tidak bisa terus bertanya pada Rheyan, karena malaikat itu semakin tertutup. Sementara itu, Davin, entah kenapa terasa seperti batas yang menghubungkan dirinya dengan dunia nyata. Tapi tetap saja, semua ini tidak masuk akal.

Saat kecelakaan itu terjadi, Alya seharusnya mati. Itu yang Rheyan katakan. Tapi dia masih hidup, dan sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.

Pencariannya membawanya ke legenda dan mitos lama. Tentang manusia yang seharusnya mati tetapi tetap hidup karena campur tangan makhluk lain.

Salah satu kisah yang menarik perhatiannya adalah legenda tentang Orang yang Dicuri Waktunya.

Menurut cerita itu, ada manusia yang seharusnya mati, tetapi malaikat maut melakukan kesalahan atau malah sengaja menyelamatkan mereka. Akibatnya, mereka tidak sepenuhnya hidup atau mati—hanya terombang-ambing di antara dua dunia.

Dan… mereka selalu diikuti oleh sesuatu.

Alya menelan ludah. Jari-jarinya menelusuri kalimat terakhir dari artikel itu, membacanya berulang-ulang. Tangannya mengepal di atas meja, jantungnya berdetak cepat. Jika legenda ini benar… maka dia adalah salah satunya. Lantas, apa yang akan terjadi padanya?

Di bagian bawah halaman, ada sebuah paragraf yang mencuri perhatiannya:

"Beberapa yang bertahan melaporkan melihat sosok yang mengikuti mereka di bayangan. Awalnya, hanya sekilas, seperti sesuatu yang bergerak di sudut mata. Namun seiring waktu, mereka mulai merasakan tatapan itu… dan akhirnya, sesuatu akan datang untuk mengambilnya."

Darah Alya terasa membeku. Bayangan di cermin… apakah itu bagian dari semua ini?

"Mereka yang bertahan setelah ajalnya akan selalu dihantui. Dunia ini tidak akan pernah mengakui keberadaannya sepenuhnya."

Dada Alya mulai sesak. Apa itu yang terjadi padanya?

Sementara itu, di tempat lain, Rheyan berdiri di atap sebuah gedung tua, matanya menatap kosong ke kegelapan malam.

Dia bisa merasakan kehadiran mereka.

Malaikat pengawas.

Sejak ia menyelamatkan Alya, ia tahu cepat atau lambat dunia akan memperbaiki "kesalahan" ini.

Dan sekarang, mereka datang.

Dari balik bayangan, sosok berjubah putih muncul, sayap hitamnya terbentang lebar di bawah langit malam. Matanya tajam, memancarkan cahaya yang tidak berperasaan.

"Kamu tahu konsekuensinya." Suara malaikat itu terdengar datar. "Jangan membuat kesalahan lagi."

Rheyan mengepalkan tangan. Kesalahan?

Baginya, menyelamatkan Alya bukan kesalahan. Itu adalah keputusan yang ia buat… meskipun ia tahu konsekuensinya akan menimpanya sendiri.

"Kamu tidak bisa melindunginya selamanya, Rheyan," malaikat itu memperingatkan. "Semakin lama dia bertahan, semakin banyak yang akan datang untuk mengambilnya kembali."

"Kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang menentang keseimbangan?" suara malaikat itu tajam, menusuk pikiran Rheyan seperti bilah es. "Kau ingat Suriel?"

Rheyan menegang. Tentu saja ia ingat. Suriel, salah satu dari mereka yang dulu pernah menyelamatkan manusia dari ajalnya… dan lenyap tanpa jejak. Hanya ada satu yang tersisa darinya, bekas luka di langit tempat ia dulu berada. Sebuah pengingat bahwa malaikat yang melawan takdir tidak akan dimaafkan.

Rheyan tidak menjawab. Matanya tetap menatap ke bawah, ke dunia manusia yang semakin jauh darinya.

Di sisi lain, Davin memperhatikan Alya yang duduk di bangku taman rumah sakit, tangan gadis itu mencengkeram jaketnya sendiri. Ada sesuatu yang berbeda darinya.

Mata Alya tidak bersinar seperti dulu. Ia tidak hanya lelah… ada sesuatu yang asing dalam sorot matanya. Seolah-olah dia berada di tempat lain, bukan di sini. Davin ingin bertanya lebih jauh, tapi dia menahan diri. Jika Alya mau bicara, dia akan bicara.

Dulu, Alya selalu tampak ceria, penuh energi. Tapi sekarang… ada sesuatu yang hilang.

"Kamu kelihatan lelah," katanya, menyerahkan secangkir teh hangat yang baru dibelinya dari kantin.

Alya tersenyum kecil, menerima cangkir itu. "Aku baik-baik saja."

Davin duduk di sampingnya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu berubah sejak kecelakaan itu," ujarnya pelan. "Seperti… ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."

Alya terdiam. Matanya menatap uap yang mengepul dari tehnya.

Dia ingin berbicara, ingin mengatakan semuanya. Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana cara menjelaskan bahwa ia seharusnya sudah mati, bahwa ada sesuatu yang mengintainya setiap malam?

Alya hanya menggeleng. "Aku hanya butuh waktu."

Davin mengamati ekspresinya, tapi akhirnya menghela napas. "Kalau kamu butuh seseorang untuk bicara, aku ada di sini."

Alya tersenyum, meski dalam hatinya, dia tahu… ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah.

Malam itu, Alya sendirian di rumah.

Dia baru saja menutup buku yang dibacanya ketika tiba-tiba, udara di sekelilingnya terasa lebih dingin.

Jantungnya berdegup kencang, iramanya seakan berpacu dengan sesuatu yang tak terlihat. Ia menoleh ke jendela yang tertutup rapat, tapi ada yang janggal. Hembusan angin dingin menyelinap ke dalam, padahal tak seharusnya ada angin di sana.

Bukan hanya angin. Ada suara samar. Bisikan halus yang hampir tidak terdengar, menyelinap di antara desiran udara. Suara itu berasal dari sudut ruangan yang gelap.

"Alya…"

Alya menegang. Itu bukan suara manusia. Itu dingin, berlapis, seakan berasal dari kedalaman sesuatu yang bukan dunia ini.

Lalu, dia melihatnya.

Di dinding kamar, sesuatu menghitam pekat.

Ia bergerak sendiri, merayap pelan, seolah mencoba keluar dari tempatnya, mendekatinya.

Alya menelan ludah, tubuhnya menegang.

Kemudian, dari dalam bayangan itu, sepasang mata merah terbuka.

Bayangan itu semakin besar, tubuhnya perlahan membentuk sosok yang mengerikan.

Alya bisa merasakan kekuatannya dingin, mengancam, dan terasa seperti sesuatu yang berasal dari dunia lain.

Dia ingin berteriak, tapi suara itu tertahan di tenggorokannya.

Saat itu juga, makhluk itu bergerak.

Tangannya yang panjang dan kurus menjulur ke arahnya, mencengkeram udara seolah ingin menariknya masuk ke dalam kegelapan.

Alya mencoba mundur, tapi tubuhnya seolah terpaku di tempat.

Kemudian—

Sebuah cahaya putih keperakan melesat di udara.

Rheyan muncul tiba-tiba, menebaskan cahayanya ke arah makhluk itu.

Jeritan nyaring terdengar, bayangan itu menyusut, lalu menghilang dalam sekejap.

Alya terjatuh ke lantai, dadanya naik-turun, napasnya tersengal.

Tapi Rheyan tidak baik-baik saja.

Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat semakin pudar, seperti kehilangan lebih banyak energinya.

Rheyan menyentuh dadanya, ekspresinya menahan sakit. Ada retakan samar yang muncul di kulitnya, seperti pecahan cahaya yang mulai pudar.

"Tidak…" gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Alya menatapnya dengan cemas. Ini bukan sekadar kelelahan. Ada sesuatu yang perlahan menghilang dari Rheyan.

Seakan setiap kali ia menyelamatkan Alya, sedikit demi sedikit, dirinya sendiri yang memudar.

Napasnya tercekat. "Kamu… semakin lemah."

Rheyan tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, matanya tajam namun terlihat letih.

Alya menggigit bibirnya. Kini ia sadar satu hal:

Ada sesuatu di luar sana yang ingin mengambilnya kembali ke dunia kematian.

Dan Rheyan tidak bisa terus melindunginya selamanya.

1
Ngực lép
Aku suka banget sama karakter di dalam cerita ini, author jangan berhenti yaa!
Legato Bluesummers
Keren! 😍
°·`.Elliot.'·°
Bikin susah move-on, semoga cepat update lagi ya thor!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!