NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Yudiz berdiri tegak, melepaskan pegangan tangan Rani sejenak untuk menatap ibunya dengan tatapan yang sangat asing. Kecewa, sedih, dan dingin menyatu di matanya.

"Baik, jika itu yang Umi inginkan," suara Yudiz terdengar datar namun bergetar hebat.

"Jika Umi begitu mudah mengancam tidak menganggapku sebagai anak hanya karena urusan ini, maka biarlah hukum Allah yang berjalan. Tapi maaf, Umi. Aku tidak akan rujuk dengan Laila."

Nyai Salmah terperangah, mulutnya terbuka hendak membalas, namun Yudiz memotongnya lebih dulu.

"Sekarang, anakmu ini akan tetap di sini, di samping istrinya. Jika Umi merasa aku sudah bukan anak Umi lagi hanya karena aku melindungi nyawa istriku, maka biarkan itu menjadi urusan Umi dengan Tuhan."

"YUDIZ! Kamu—"

"CUKUP, NYAI!!!"

Suara gelegar itu berasal dari pintu. Kyai Abdullah berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang jarang beliau tunjukkan.

Beliau melangkah masuk dengan cepat, membuat Nyai Salmah menciut seketika.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Nyai?! Menjadi hakim di saat menantumu sedang bertaruh nyawa?!" bentak Kyai Abdullah.

Beliau menoleh pada Kyai Mansyur yang masih bersimpuh.

"Dan kamu, Mansyur! Berdirilah! Jangan gunakan kerendahan hatimu untuk menindas perasaan anak-anak ini. Meminta rujuk setelah upaya pembunuhan? Di mana akal sehatmu?!"

Kyai Abdullah beralih menatap istrinya dengan sorot mata yang sangat tajam.

"Pulang sekarang, Nyai! Atau aku sendiri yang akan mengantarmu kembali ke rumah orang tuamu agar kamu belajar lagi bagaimana menjadi seorang ibu dan mertua yang memiliki nurani!"

Nyai Salmah gemetar. Ia belum pernah melihat suaminya semarah ini.

Tanpa berani berkata-kata lagi, ia menyambar tasnya dan keluar dari kamar dengan langkah seribu, diikuti oleh Kyai Mansyur yang tertunduk malu.

Kyai Abdullah menghela napas panjang, lalu mendekat ke ranjang Rani. Beliau meletakkan tangannya di atas kepala Rani dengan lembut.

"Maafkan Umi-mu, Nak. Maafkan Abi yang telat datang. Tidak akan ada rujuk, tidak akan ada Laila lagi. Yudiz, jaga istrimu. Jangan biarkan siapapun masuk ke sini tanpa izin Abi."

Rani menangis sesenggukan dalam dekapan Yudiz, merasa sangat lega sekaligus hancur karena konflik keluarga yang begitu hebat.

"Terima kasih, Abi," bisik Yudiz pelan sambil memeluk Rani erat.

Yudiz merasakan hancur yang luar biasa melihat Rani menangis hingga sesak napas.

Ia segera merengkuh tubuh kecil itu, membiarkan Rani menumpahkan segala rasa sakitnya di dadanya.

Tangan Yudiz bergerak cepat, mengusap punggung Rani dengan lembut, berusaha menenangkan badai di hati istrinya.

"Sakit, Bi. Dada aku sesak. Kenapa mereka jahat sekali sama aku? Aku capek, aku pengen berhenti," isak Rani sambil terus menepuk dadanya, seolah mencoba mengusir rasa nyeri yang menyesakkan.

"Sttt... sudah, Sayang. Jangan dipukul dadanya. Ada Abi di sini," bisik Yudiz dengan suara serak.

Ia pun tak kuasa menahan air mata yang jatuh ke puncak kepala Rani.

"Maafkan Abi, Rani. Maafkan Abi yang belum bisa melindungimu dengan sempurna dari keluargaku sendiri."

Rani menggeleng kuat-kuat di dalam pelukan Yudiz.

"Bukan salah Abi, tapi aku capek dianggap pembawa sial. Aku capek dianggap manja padahal aku cuma pengen bertahan hidup. Aku pengen pulang, Bi. Tapi aku takut ke rumah itu lagi."

Kyai Abdullah yang masih berdiri di sana hanya bisa menunduk dalam, hatinya teriris melihat penderitaan menantunya. Beliau mendekat dan memegang pundak Yudiz.

"Yudiz," panggil Kyai Abdullah lirih.

"Bawa Rani pergi dulu setelah dia pulih. Pergilah sejauh yang kalian butuhkan. Urusan di pondok dan Umi, biar Abi yang selesaikan. Jangan biarkan Rani merasa terancam di rumahnya sendiri."

Yudiz mengangguk mantap. Ia menangkup wajah Rani dengan kedua tangannya, menghapus air mata di pipi pucat itu dengan ibu jarinya.

"Dengar Abi, Sayang. Kita nggak akan kembali ke rumah itu untuk sementara. Setelah dokter bilang kamu boleh jalan, kita langsung ke bandara. Kita ke Bali. Hanya kita berdua. Abi nggak akan biarkan Umi atau siapa pun menghubungimu. Kamu nggak perlu capek lagi menghadapi mereka, biar Abi yang jadi tameng buat kamu."

Rani menatap mata Yudiz yang merah. "Beneran, Bi? Abi nggak akan tinggalin aku sendirian kalau Umi datang lagi?"

"Demi Allah, tidak akan," tegas Yudiz.

"Sekarang, istirahat ya? Atur napasnya pelan-pelan. Kalau kamu capek, tidur di pelukan Abi. Abi nggak akan lepaskan."

Suasana di kamar rawat semakin tegang saat pintu kembali terbuka.

Kali ini, sosok yang melangkah masuk adalah Abi Husein dan Umi Siti, orang tua kandung Rani.

Wajah mereka tidak menunjukkan keramahan seperti biasanya; ada gurat kelelahan dan kekecewaan yang mendalam di sana.

Abi Husein melangkah maju, menatap Kyai Abdullah sebentar dengan hormat namun dingin, lalu beralih menatap Yudiz yang masih memeluk Rani.

"Yudiz," suara Abi Husein berat dan tegas.

"Kami datang jauh-jauh ke sini bukan untuk melihat anak kami hampir meregang nyawa karena intrik di rumahmu. Kami menyerahkan Rani padamu karena kami percaya kamu bisa melindunginya."

Umi Siti mendekat ke sisi ranjang, mengusap rambut Rani yang masih basah oleh air mata. Beliau menatap Yudiz dengan mata berkaca-kaca namun tajam.

"Kami kecewa, Yudiz. Kami kecewa dengan ketidaktegasanmu menghadapi ibumu dan wanita itu. Bagaimana bisa seorang tamu, seorang madu, dibiarkan meracuni istri sah di rumahnya sendiri?"

"Maafkan Yudiz, Abi, Umi..." suara Yudiz tertahan.

"Cukup maafnya," potong Abi Husein. "Kami sudah dengar semuanya dari depan pintu tadi. Jika kamu memang tidak bisa bersikap tegas sebagai suami, jika kamu masih membiarkan ibumu menginjak-injak harga diri dan keselamatan Rani, maka hari ini juga kami akan membawa Rani pulang ke Bandung."

Rani mendongak, menatap ayahnya dengan kaget.

"Abi..."

"Rani, diam dulu," ujar Abi Husein tegas.

"Yudiz, ini peringatan terakhir. Kamu pilih: menjadi suami yang melindungi istrimu sepenuhnya, atau biarkan kami mengambil kembali putri kami. Kami tidak membesarkan Rani dengan susah payah hanya untuk mati perlahan di tangan orang-orang di sekitarmu."

Kyai Abdullah terdiam, beliau merasa tersindir namun sadar bahwa apa yang dikatakan besannya adalah kebenaran yang pahit.

Yudiz mempererat pegangannya pada tangan Rani. Ia menatap mertuanya dengan tatapan paling mantap yang pernah ia miliki.

"Abi Husein, Umi Siti. Berikan saya kesempatan satu kali ini saja untuk membuktikan. Saya sudah menceraikan Laila, dan saya tidak akan membiarkan Umi Salmah menyentuh atau menyakiti Rani lagi. Saya akan membawa Rani pergi dari sini, jauh dari pengaruh siapa pun, sampai semuanya benar-benar aman."

Yudiz melepaskan pelukannya pada Rani sejenak, lalu ia berdiri tegak di hadapan Abi Husein.

Tanpa ragu, Yudiz mengambil tangan mertuanya itu dan menciumnya dengan takzim, lalu menatap matanya dalam-dalam.

"Abi Husein, Umi Siti, di hadapan Allah dan di hadapan Abi Abdullah, saya berjanji," suara Yudiz terdengar rendah namun sangat bertenaga.

"Rani adalah amanah terbesar dalam hidup saya. Saya akui saya sempat lemah karena rasa hormat pada orang tua yang salah tempat, tapi kejadian semalam telah menyadarkan saya. Tidak ada lagi toleransi."

Yudiz menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan ketegasan yang belum pernah dilihat sebelumnya.

"Jika sekali lagi, hanya satu kali saja ada orang yang berani menyakiti Rani, baik itu dengan kata-kata apalagi perbuatan, dan saya gagal melindunginya, maka saat itu juga saya sendiri yang akan mengantarkan Rani kembali ke Bandung ke pangkuan Abi dan Umi. Saya rela melepaskannya demi keselamatannya jika saya memang tidak mampu."

Mendengar sumpah itu, suasana kamar menjadi hening.

Abi Husein menatap menantunya dengan tajam, mencari kebohongan di mata Yudiz, namun ia hanya menemukan tekad yang kuat.

"Pegang kata-katamu, Yudiz," ucap Abi Husein akhirnya dengan nada yang sedikit melunak.

"Seorang laki-laki dipegang pada lisannya. Kami akan memberi kesempatan, tapi jangan biarkan putriku menangis lagi karena alasan yang sama."

Umi Siti yang tadinya tampak sangat marah, kini mengusap pundak Rani.

"Rani, kamu dengar kan janji suamimu? Kalau dia ingkar, kamu telepon Umi. Detik itu juga Abi akan jemput kamu pakai ambulans kalau perlu."

Rani hanya bisa mengangguk lemah, merasa sedikit lega karena kini suaminya benar-benar dipaksa untuk berdiri di garis depan demi dirinya.

Kyai Abdullah yang sejak tadi menyimak, akhirnya bicara.

"Husein, terima kasih sudah mengingatkan anakku. Sebagai ayahnya, aku yang akan menjamin bahwa tidak akan ada yang berani mengganggu mereka lagi di rumah ini. Sekarang, biarkan Rani istirahat agar dia bisa segera pulih dan pergi mencari suasana baru bersama Yudiz."

Setelah pintu kamar tertutup dan keheningan kembali menguasai ruangan, ketegangan yang tadi menopang tubuh Rani seolah luruh seketika.

Ia merebahkan tubuhnya perlahan, membiarkan bantal rumah sakit yang dingin menyangga kepalanya yang terasa sangat berat.

Yudiz segera mendekat, duduk di sisi ranjang dan mendaratkan ciuman yang sangat lama dan lembut di kening istrinya.

Ia bisa merasakan sisa-sisa keringat dingin di kulit Rani.

"Abi, aku takut..." bisik Rani lirih. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit.

"Aku takut Umi Salmah makin benci sama aku. Aku takut kalau nanti Laila datang lagi dengan rencana yang lebih gila. Aku merasa nggak aman di mana pun sekarang, Bi."

Yudiz menggenggam kedua tangan Rani, mencoba menyalurkan keberaniannya melalui sentuhan itu.

"Dengar Abi, Sayang," ujar Yudiz dengan suara yang sangat menenangkan.

"Ketakutan itu wajar setelah apa yang kamu lewati. Tapi Abi janji, mulai detik ini, tidak akan ada celah bagi mereka untuk mendekatimu. Abi sudah minta pihak rumah sakit untuk menjaga pintu ini. Tidak ada yang boleh masuk selain Abi dan perawat."

Yudiz mengusap pipi Rani yang masih pucat.

"Soal Umi, biar itu jadi urusan Abi dan Abi Abdullah. Kamu nggak perlu memikirkan kebencian orang lain. Tugasmu cuma satu: yaitu sembuh, lalu kita pergi dari sini. Kita cari ketenangan yang kamu mau."

Rani memiringkan kepalanya, menatap suaminya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Beneran kita ke Bali, Bi? Nggak akan ada yang tahu kita di sana?"

"Nggak akan ada yang tahu. Abi nggak akan kasih tahu siapa pun, bahkan Umi sekalipun," jawab Yudiz yakin.

"Kita akan menghilang sebentar untuk menyembuhkan luka kamu. Percaya sama Abi, ya?"

Rani mengangguk pelan, mulai merasa sedikit tenang dalam dekapan kasih sayang suaminya. Namun, jauh di lubuk hatinya, bayangan wajah Laila yang tersenyum saat menyajikan makanan beracun itu masih terus menghantuinya.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!