Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESADARAN
Saat ia berada beberapa langkah di depanku dengan berdiri menghadapku, dia berucap,
"Aku punya banyak kemampuan yang sudah ada sejak menemani Ibumu Nisa. Karena itulah Ibumu dahulu menginginkan aku untuk menemanimu."
"Jadi... Dayang Putri memang diperintahkan sama almarhumah Ibuku untuk menemaniku? Bukan kepada orang lain walau masih ada darah garis keturunan yang sama dengan almarhumah Ibu?" tanyaku mencoba menegaskan apa yang telah diucap Dayang Putri.
Dan lagi-lagi, Dayang Putri tak menjawab. Hanya kedua bibirnya yang merona tersenyum padaku.
"Apakah kamu juga beribadah sepertiku Dayang Putri?" aku beranikan diri menanyakan itu padanya.
"Itu bukan tugasku untuk menjawabnya. Tapi, kekuatanku akan semakin bertambah jika ibadahmu bertambah. Dan kekuatanku akan melemah jika ibadahmu berkurang." jawabnya.
"Lalu, apakah kamu bisa membuatku celaka? Atau mengarahkanku untuk berbuat keburukan?"
"Apakah kamu merasakan itu sejak aku menemanimu Nisa?" Dayang Putri malah bertanya balik padaku.
"Tidak Dayang Putri..." jawabku singkat sambil tersenyum padanya.
"Dan... Apakah aku bisa masuk ke alam ghoib ini kapanpun aku mau? Apakah berbahaya bagiku kalau melakukannya?" tanyaku lagi.
"Kamu sudah terlalu banyak bertanya Nisa... Bersabarlah... Sempurnakan tirakatmu." jawaban Dayang Putri itu seolah memintaku untuk tak banyak bertanya, dan seolah ia berkata padaku untuk melaksanakan tugasku dengan baik.
Kemudian Dayang Putri berjalan mendekat padaku, lalu badannya sedikit membungkuk, dan tangan kanannya menyentuh daguku sampai wajahku sedikit terangkat memandangi wajahnya.
"Nisa... Aku diperintahkan untuk menemani dan menjagamu. Aku akan berbuat sesuai dengan kehendakmu." ucapnya.
"Tapi kamu harus selalu waspada dan berhati-hati dalam semua tindakanmu, karena darahmu sangat disukai oleh yang lain dari bangsaku." tambahnya.
Aku hanya tersenyum sambil terangkat wajahku menatap wajahnya.
Kemudian, saat aku hendak menanyakan tentang penglihatanku saat di dapur tadi, tentang sosok lelaki berpakaian serba hitam, dengan sesuatu yang dibakar dalam mangkuk dihadapannya, Dayang Putri justru langsung menjawabnya....
"Jangan takut Nisa... Aku tak akan membiarkanmu sendirian..."
Dayang Putri menjawab seolah sudah tau apa yang akan aku tanyakan.
"Terima kasih Dayang Putri..." ucapku.
Dan seperti sebelumnya, Dayang Putri tak menjawab selain dengan senyumannya yang begitu cantik.
Lalu... Dengan begitu hangat, bibirnya menciumku tepat di antara ke dua alisku. Terasa seperti sebuah ciuman yang diberikan oleh almarhumah ibuku selama ia masih hidup.
Dan... Perlahan... Semua pandanganku di alam ghoib itu menghilang. Seluruh keadaan di sekitarku kembali normal.
Namun bagiku, sangat terasa kehadiran Dayang Putri, dan aroma tubuhnya yang seharum bunga kantil itu tetap tercium jelas di hidungku.
Singkat waktu, aku segera tidur pulas. Dan malam ini aku tak mendapatkan mimpi atau pertanda apapun yang buruk. Seolah semuanya sudah dijawab dan dijaga oleh Dayang Putri.
Namun aku tetap sadar dan harus tetap kuat keimanan dalam diriku. Segalanya hanyalah milik Alloh, bahkan bangsa lelembut seperti Dayang Putri pun hanyalah makhluk ciptaan Alloh.
Tepat pukul 3 pagi, aku terbangun. Seperti biasa aku mencuci muka, ambil air wudhu, dan segera melaksanakan sholat tahajud.
Setelah itu aku baca Al-Qur'an beberapa lembar, dan Dayang Putri menemaniku. Sampai tiba waktunya untuk aku makan sahur berupa nasi putih dan air putih saja.
Setelah itu, aku melaksanakan ibadah sholat shubuh bersama bapak. Dan melanjutkan aktifitas seperti biasanya.
Tapi untuk hari ke sepuluh ini dari tirakatku, seolah hadir niat baik dalam diriku. Aku ingin segala kemampuan yang hadir dalam diriku, akan aku gunakan untuk kebaikan.
Dan aku tahu, kejadian di mana Pak Handoyo sakit itu, akan menjadi ujian dan tugas pertama dalam hidupku atas semua kemampuan ini.