Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Tidak lama kemudian, Colly datang ke butik milik ibunya.
Gadis itu melangkah masuk dengan langkah ringan, namun terhenti seketika saat pandangannya menangkap sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari ibunya.
Chimmy?
"Wanita di foto itu…"
“Ma,” sapa Colly sambil menghampiri.
“Colly, sudah pulang?” sahut Janetta dengan nada lembut.
“Iya, Ma,” jawab Colly sembari memeluk ibunya, seolah ingin memastikan bahwa ibunya baik-baik saja.
Di sisi lain, Chimmy melirik gadis itu dengan tajam.
"Dia putri Holdes? "batinnya. "Cantik… tapi menyebalkan."
Tatapan Chimmy yang menusuk membuat Colly mengangkat alisnya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Colly dingin. “Kalau matamu tidak sanggup menjaga sopan santun, aku bisa saja mencungkilnya.”
Chimmy tertawa sinis.
“Begini rupanya hasil didikanmu, Janetta Lee?”
Colly tersenyum mengejek. Ia melangkah setengah langkah ke depan.
“Mamaku sangat pintar mendidik anaknya.”
Ia menatap Chimmy tanpa gentar.
“Usiamu lebih tua hanya beberapa tahun dariku, tapi kau sudah bercita-cita menjadi ibu tiriku. Menyenangkan ya… menjadi selingkuhan suami orang?”
Colly mendengus pelan.
“Di usiaku, aku masih sibuk sekolah dan membangun masa depan. Sementara kau—luar biasa sekali hasil didikan orang tuamu.”
Wajah Chimmy memerah. Amarahnya meledak. Ia mengangkat tangan, hendak menampar Colly.
Namun—
Tangan Chimmy ditahan di udara. Colly mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan kuat, matanya dingin dan tajam.
“Ingin menamparku?” ucap Colly pelan namun menusuk.
“Lebih baik jaga jarak dariku.”
Ia melepaskan tangan Chimmy dengan kasar.
“Menjijikkan.”
Di saat yang sama, Jacky Yin memasuki butik dengan beberapa kantong belanja di tangannya.
“Bibi, Colly,” sapa Jacky ceria sambil melangkah mendekat.
“Jacky?” Janetta menoleh, sedikit terkejut. “Kenapa kau bisa di sini?”
“Bibi, aku sengaja mampir menjenguk Anda,” jawab Jacky dengan senyum sopan. “Colly adalah adik kelasku. Sekalian aku membelikan buah untuk Bibi.”
Namun di balik senyum ramahnya, pikirannya bergejolak.
"Tujuanku adalah melihat kehancuranmu di saat berhadapan dengan selingkuhan suamimu," batin Jacky.
“Kau tidak perlu membeli buah sebanyak ini,” ujar Janetta tenang. “Sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau malam ini kau bergabung dengan kami untuk makan malam?”
“Ma—” Colly langsung menyela, jelas tidak setuju.
“Jacky adalah kakak kelasmu,” potong Janetta lembut namun tegas. “Kebetulan kita juga punya tamu.”
Pandangan Janetta bergeser ke arah Chimmy.
Jacky mengikuti arah pandang itu, lalu memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
“Dia adalah…?”
“Calon istri kedua suamiku,” jawab Janetta tanpa ragu. “Tapi tentu saja—dia masih harus melewati tantanganku.”
Jacky mengangkat alis, seolah tercengang.
“Tantangan?”
Chimmy menyilangkan tangan, dagunya terangkat.
“Apa sebenarnya yang kau inginkan, Janetta Lee?”
Janetta tersenyum tipis. Senyum yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
“Malam ini, kau datang ke rumah kami dan bergabung makan malam bersama.”
Chimmy membelalakkan mata.
“Holdes juga akan hadir,” lanjut Janetta santai. “Sekalian kau bisa melepas rindumu.”
Colly mengepalkan tangan.
“Asalkan malam ini kau lulus,” tambah Janetta pelan, “bulan depan akan menjadi hari pernikahan kalian.”
Udara di butik seolah membeku.
“Ma!” Colly akhirnya bersuara, tidak bisa menahan diri. “Kenapa Mama membiarkan wanita yang bahkan tidak punya harga diri ini menjadi bagian dari keluarga kita?”
Janetta menoleh pada putrinya. Tatapannya lembut… namun penuh makna.
“Colly, demi kebahagian papamu, kita ikuti saja."
"Lihat saja, "batin Chimmy sambil mengepalkan tangan.
"Malam ini, apa pun tantangan yang kau berikan, aku pasti lolos. Dan suamimu—Holdes Shen—akan bertekuk lutut padaku."
Matanya berkilat penuh ambisi. Dalam pikirannya, ia sudah membayangkan dirinya duduk di posisi Janetta—mengenakan gaun mewah, dikelilingi kekuasaan, dan dipuja sebagai istri sah Tuan Shen.
Ia sama sekali tidak menyadari…
bahwa panggung yang disiapkan untuknya bukanlah singgasana,
melainkan arena penghakiman.
***
Di tempat lain.
Roy memutar rekaman CCTV di layar besar. Gambar memperlihatkan momen ketika Colly hampir tertabrak—detik-detik yang nyaris merenggut nyawa gadis itu.
“Supirnya tidak terlihat jelas,” lapor Roy serius. “Plat nomor juga palsu. Tidak terdaftar.”
Xiao Han berdiri dengan tangan di saku, wajahnya dingin, matanya tajam menatap layar.
“Musuh kita muncul di waktu yang bersamaan,” ucapnya pelan. “Dan sasaran mereka selalu orang-orang di sisiku.”
Monica berdiri tegak di sampingnya.
“Bos, salah satu dari mereka sudah kami dapatkan buktinya,” katanya. “Kami hanya menunggu perintah Anda.”
“Belum,” jawab Xiao Han singkat.
Ia menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis—senyum tanpa kehangatan.
“Belum saatnya. Masih ada pertunjukan yang lebih menarik.”
Xiao Han menatap layar sekali lagi.
“Mereka bukan hanya satu orang. Dan kemunculan pria itu di klub malam saat bertemu Yohanes ... semua sudah direncanakan.”
Roy mengangguk.
“Serangan pada Nona Colly jelas ada hubungannya dengan dia.”
“Dia menggunakan nama palsu, Boby,” lanjut Roy. “Kalau memang berniat kembali, kenapa harus bersembunyi di balik nama lain?”
Xiao Han menarik napas dalam.
“Karena aku mengenalnya,” jawabnya dingin. “Dan aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya… dendamnya memang diarahkan padaku.”
Ia menoleh tajam ke arah Roy.
“Ikuti dia. Catat siapa saja yang ia temui—selain Yohanes bodoh itu.”
“Baik, Bos,” jawab Roy mantap.
Keheningan menyelimuti ruangan itu, berat dan penuh ancaman.
Tiba-tiba, ponsel milik Xiao Han bergetar di atas meja.
Ia melirik layar.
Colly:
"Kakak, Mama minta Kakak pulang sekarang juga."
Sorot mata Xiao Han berubah.
"Masalah ini tetap harus dihadapi, mama sudah tahu tentang perselingkuhan papa."
***
Malam hari.
Mansion milik Holdes dan Janetta tampak terang oleh lampu taman yang tersusun rapi. Cahaya kekuningan itu memantul di lantai marmer halaman luas, menciptakan suasana indah—namun dingin.
Beberapa anggota penjaga berdiri berjaga di sudut-sudut halaman. Sikap mereka tegap, seolah malam ini bukan sekadar jamuan keluarga.
Di tengah halaman, sebuah meja bundar telah disiapkan.
Holdes.
Janetta.
Xiao Han.
Colly.
Jacky.
Dan Chimmy.
Mereka duduk mengelilingi meja itu.
Sunyi.
Tidak ada suara alat makan. Tidak ada tawa. Bahkan angin malam pun terasa enggan berembus.
Janetta mengisap rokoknya dengan tenang. Asap tipis mengepul perlahan, menari di udara sebelum menghilang. Wajahnya datar, nyaris tanpa emosi—namun justru itulah yang paling menakutkan.
Colly sedikit condong ke arah kakaknya.
“Kak,” bisiknya pelan, “biasanya kalau Mama merokok seperti itu… suasana hatinya sedang buruk. Dan setelah itu, Mama pasti melakukan sesuatu yang di luar dugaan.”
Xiao Han tidak menoleh. Pandangannya lurus ke depan, tajam.
“Iya,” balasnya dengan suara rendah. “Dan malam ini… sepertinya bukan makan malam biasa. Akan terjadi sesuatu.”
Di seberang meja, Chimmy duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tampak percaya diri, meski jari-jarinya sesekali mengepal di bawah meja. Tatapannya sesekali melirik Holdes dengan berharap.
Jacky duduk santai, menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Dari luar, ia tampak seperti tamu yang menikmati suasana.
Holdes akhirnya memecah keheningan.
“Istriku,” ucapnya hati-hati, “semuanya sudah sampai. Bagaimana kalau kita hidangkan makanan dulu? Anak-anak pasti sudah lapar.”
Janetta menghembuskan asap rokoknya perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menyapu satu per satu wajah yang duduk di hadapannya—berhenti sedikit lebih lama pada Chimmy.
Lalu ia bersuara, datar namun penuh kuasa.
“Lucy,” panggilnya.
“Tuangkan minuman.”
Dari balik bayangan, Lucy melangkah mendekat sambil membawa nampan berisi gelas-gelas kristal. Tangannya sedikit gemetar saat menuangkan minuman ke setiap gelas.
Setelah Lucy selesai menuangkan minuman ke setiap gelas, Janetta bersandar santai di kursinya.
“Kau juga di sini,” ucap Janetta tiba-tiba.
Lucy tersenyum kecil, jelas berusaha menyembunyikan gugupnya.
“Baik, Nyonya,” jawabnya patuh. Ia melangkah maju dan hendak duduk di kursi kosong.
“Berhenti.”
Satu kata itu cukup membuat Lucy membeku.
“Hanya seorang pelayan rendahan,” lanjut Janetta dingin, “apakah kau merasa layak duduk sejajar dengan kami?”
Wajah Lucy memucat. Tangannya gemetar saat ia menunduk.
“Ma-maaf, Nyonya…”
“Berdiri,” perintah Janetta singkat.
Lucy pun berdiri di samping meja, diam, menahan rasa malu yang membakar dadanya.
“Istriku,” ujar Holdes akhirnya, nada suaranya terdengar tidak nyaman, “dia hanya orang luar. Tidak perlu melibatkannya.”
Janetta menoleh perlahan ke arah suaminya. Tatapannya tenang… terlalu tenang.
“Aku memang ingin dia di sini.”
Semua orang di meja itu serempak menoleh ke arahnya.
“Kalau dia juga lolos tantangan,” lanjut Janetta tanpa perubahan nada, “seperti Chimmy—”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara.
“—maka dia akan menjadi istri ketigamu.”
"Istriku, aku tidak akan menikah lagi," ujar Holdes.
"Orang tua Lucy sedang dalam perjalanan, dan orang tua Chimmy juga akan bergabung dengan kita," kata Janetta.
"Apa...?" kenapa melibatkan orang tuaku?" tanya Chimmy.
"Mereka hanya datang untuk mendukungmu, dan menikmati bagaimana putri kesayangan mereka menjalani tantangan yang aku berikan," jawab Janetta dengan senyum.
"Aneh, kenapa bukannya menangis, malah begitu tenang tanpa emosi? Janetta Lee adalah orang seperti apa?" batin Jacky.