NovelToon NovelToon
Benih Pengikat Kaisar

Benih Pengikat Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / One Night Stand / Percintaan Konglomerat
Popularitas:78.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji170

Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.

Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.

"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."

Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kai menatap Eka dalam diam. Matanya gelap, seperti jurang yang tak berdasar. Udara di antara mereka terasa berat, seolah setiap detik yang berlalu semakin menekan.

Setelah beberapa saat, ia menyandarkan punggung ke kursi, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme lambat dan terukur. "Menikah?" Suaranya nyaris tanpa emosi, datar, seolah mendengar lelucon buruk. "Kamu pikir aku pria macam apa?"

Eka menahan napas, tapi ia tak ingin menunjukkan kelemahan. "Pria yang cukup bertanggung jawab untuk tidak lari dari masalah."

Kai tersenyum kecil—bukan senyuman ramah, melainkan ejekan dingin. "Masalah? Aku tidak melihat adanya masalah di sini."

Eka menegang. "Kamu tidak melihatnya karena kamu memilih untuk menutup mata."

Kai meraih cek kosong yang tadi ia sodorkan, lalu tanpa terburu-buru, ia merobeknya menjadi beberapa bagian dan membiarkan potongan kertas itu jatuh ke meja. "Aku sudah memberi jalan keluar yang mudah, tapi kamu menolaknya. Itu pilihanmu. Jangan berpikir kamu bisa mengendalikanku dengan kata-kata murahan."

"Jadi kamu tidak peduli?" Eka menantangnya, menatap lurus ke matanya.

Kai mengangkat satu alis, ekspresinya tetap tak terbaca. "Aku tidak peduli pada wanita yang mencoba menjeratku dengan situasi ini. Dan seumur hidupku, aku tidak pernah ingin mengikat diri dalam sesuatu yang disebut pernikahan."

Eka mengepalkan tangannya di bawah meja. "Tapi kamu sudah mengambil kehormatanku. Aku hanya meminta tanggung jawabmu."

Kai mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya turun beberapa oktaf, sedingin es. "Kamu butuh tanggung jawabku?" Ia tertawa kecil, pendek, penuh penghinaan. "Apa perlu aku ingatkan, siapa yang datang ke kamarku lebih dulu? Kita hanya melakukannya sekali, dan kalaupun ada sesuatu yang terjadi... belum tentu kamu hamil." Mata Kai menatapnya tajam. "Jadi berhenti mencoba menjeratku."

Darah Eka berdesir cepat. "Memang kamu bajingan. Tapi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."

Kai berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan lambat. "Kalau begitu, lakukan sesukamu. Viralkan, laporkan ke media, atau teriakkan ke seluruh dunia kalau kehormatanmu yang katanya berharga itu telah hilang." Ia menatapnya sinis. "Aku ingin melihat seberapa jauh kamu bisa melangkah sebelum dunia berbalik menerkammu."

Eka menggigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar menahan emosi.

Kai berbalik, melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, suara Eka kembali terdengar.

"Tidak masalah... Aku bisa menjual jam tangan ini." Nada suaranya ringan, tetapi ada ancaman terselubung. "Ah... aku rasa jam ini punya sedikit kenangan manis. Kalau dijual, mungkin kamu masih bisa menebusnya. Tapi sepertinya lebih baik aku hancurkan saja."

Kai berhenti seketika. Rahangnya mengatup rapat. "Sial! Kamu mengancamku?"

Dengan cepat, ia berbalik dan berusaha merebut jam tangannya, tetapi Eka lebih cepat. Wanita itu segera menyelipkan jam tangan ke dalam bajunya.

"Kamu mau mengambilnya?" Tantangnya sambil membusungkan dada, tepat di mana jam tangan itu tersembunyi.

Kai mengepalkan tangannya, matanya menyapu sekitar. Semua orang kini menatap mereka. Ia mendesis pelan, lalu menatap Eka dengan tajam. "Tunggu saja."

Tanpa menambahkan sepatah kata lagi, ia berbalik dan meninggalkan Eka yang tersenyum tipis di tempatnya. Setelah tubuh tegap itu sudah tidak terlihat lagi Eka kembali ke ruang rawat Ita.

***

Di sisi lain, baru beberapa jam sejak Eka meninggalkan kediaman keluarga Wirawan, rumah itu sudah berubah kacau. Suasana yang biasanya tenang kini dipenuhi suara teriakan nyaring dari kamar sang nenek.

"La... lapar!"

Teriakan itu menggema lagi, membuat Yuni yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghela napas panjang, matanya melirik kesal ke arah kamar. Ini bukan pertama kalinya. Sejak pagi, ibunya terus-menerus berteriak lapar, tapi setiap kali diberi makan, ia hanya mengambil satu suap lalu menolak melanjutkan.

Kesabaran Yuni yang setipis tisu akhirnya habis.

"Bu, kalau lapar makan yang banyak sekalian! Jangan bentar-bentar teriak lapar, tapi pas dikasih makan cuma satu suap! Aku sibuk, Bu! Mau arisan, mau jalan-jalan! Arghhh...!"

Dengan kasar, Yuni melempar sendok ke meja. Napasnya memburu karena frustrasi.

Rina, yang mendengar keributan itu, berjalan menghampiri dengan langkah santai. Tangannya masih sibuk mengamati kuku yang baru saja ia poles dengan kuteks merah menyala.

"Kenapa sih, Bu, ribut-ribut?" tanyanya tanpa benar-benar peduli.

"Itu nenek kamu! Dari tadi teriak lapar terus, tapi pas dikasih makan cuma satu suap. Ibu jadi kesel sendiri!" keluh Yuni, matanya menyipit penuh amarah.

Rina mendengus ringan. "Lagian, kenapa Ibu repot-repot sih? Biar Eka aja yang urusin."

Yuni menatap putrinya dengan ekspresi tak percaya sebelum menyentil pelipisnya dengan jari telunjuk.

"Kamu lupa kalau dia sudah kita usir?"

Sejenak, Rina terdiam, lalu terkekeh pelan. "Ah... benar juga." Namun, detik berikutnya, ekspresinya berubah panik. "Lalu sekarang siapa yang mau ngurusin nenek? Sejak perempuan itu di sini, kita udah pecat semua pembantu. Sekarang aku lapar, Bu..."

Yuni menekan pelipisnya sendiri, matanya berdenyut karena pusing. Keluarga mereka yang selama ini hidup nyaman kini mendadak kewalahan hanya karena kehilangan satu orang.

Tak lama kemudian, Adit baru saja pulang setelah mengantar Nadin. Wajahnya tampak lesu. Begitu melihatnya, Yuni dan Rina langsung menghampiri.

"Adit, Ibu gak mau tahu! Sekarang juga kamu harus cari orang buat merawat nenek dan ngurus rumah ini!" perintah Yuni dengan nada tegas.

Adit menghela napas berat. "Bu, tenderku baru saja gagal. Kalau aku mau cari pembantu, harus keluar uang lagi, sedangkan kebutuhan kita aja udah banyak. Minus, Bu."

Yuni melipat tangan di depan dada, matanya menatap Adit tajam.

"Minus? Kamu pikir aku peduli? Rumah ini gak bisa jalan sendiri! Kamu mau nenekmu terus-terusan teriak lapar dan kita semua kelaparan juga?"

Rina ikut menimpali, mengerucutkan bibirnya. "Iya, Kak. Aku aja belum makan dari tadi. Laper, tahu!"

Adit mengusap wajahnya kasar. "Terus aku harus gimana? Uang gak ada, Eka udah gak ada, kita juga gak punya pembantu lagi. Kalian pikir nyari orang segampang itu?"

"Itu urusan kamu!" Yuni menunjuk Adit dengan ekspresi penuh tuntutan. "Aku gak peduli gimana caranya, pokoknya besok pagi udah ada yang ngurus nenek dan rumah ini beres! Titik!"

Adit menghela napas panjang, lalu menendang kursi di dekatnya dengan frustrasi. "Ya Tuhan... Apa gara-gara perempuan itu pergi, rumah ini jadi berantakan kayak gini?"

Yuni mendengus, jelas enggan mengakui kebenaran itu. "Jangan bawa-bawa Eka. Kita sudah susah payah mengusirnya, agar hubunganmu dengan Nadin tampa hambatan. Gak mungkin kita panggil dia lagi."

Tiba-tiba, dari dalam kamar, terdengar suara benda jatuh diikuti teriakan nyaring nenek.

"LAPAAARRR!!"

Mereka semua tersentak. Rina buru-buru menutup telinganya sambil merintih. "Astaga! Aku bisa gila kalau tiap lima menit dengar teriakan kayak gini!"

Adit merasakan sakit kepala semakin menjadi. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar.

"Kamu mau ke mana?" tanya Yuni curiga.

Adit berhenti sejenak di ambang pintu. "Nyari cara supaya rumah ini gak kayak neraka."

Lalu, ia pergi, meninggalkan Yuni dan Rina yang masih saling pandang dengan wajah penuh kebingungan. Di menit berikutnya Yuni dan Rina tidak diberikan waktu untuk tenang, tiupan angin membawa bau yang begitu menyengat.

"Bu, jangan-jangan Nenek..." ucapan Rina terputus karena suara jeritan Yuni lebih mendominasi.

1
Ismi Kawai
hem, aku mesem2
Hayurapuji: gemes ya
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
ljuut
Queen kayla
jgn" ..adiknya yg di jdkan pengganti nadin
Ismi Kawai: bisa jadi nih
total 1 replies
Ismi Kawai
tapi trrnyata adit sayang jg ya sama nadin. hmmm
Hayurapuji: sayang dia cinta pertama kan
total 1 replies
Ismi Kawai
emang drama queen ya keluarga adit itu.
Suparmin N
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Hikmal Cici
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
putrie_07
hemm😏😏😏😏
putrie_07
Eka namany seperti mantan suamiku wkwkwkw
Muji Lestari
knp Kao bodoh yaa harusnya si Nadin di undang ke desa
Hayurapuji: nadin lagi berjuang kak
total 1 replies
elis farisna
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Jeng Ining
hadeuh Eka.. kok ga nanyain sekalian stts pernikahan kalian kmren..masa iya kamu mesti nyamper ke rmhnya si Adit itu, rugi tenaga rugi waktu rugi ongkos atuh😖
Jeng Ining
jgn² pria ini jg baru lepas perjaka, kok kaga tau mana yg pertma kali ngelakuin mana yg udh biasa ngelakuin🙄🙄🙄
Hayurapuji: bisa jadi ini kak
total 1 replies
Ismi Kawai
makin seruuuuu
Nur Adam
lnjut
Ema Elyna
lema kepada org bodo yg xade ape ape nya tpi tegas kepada org yg berkuasa itu la eka sungu bodo skip
Su.izMila_s
bagus
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Ismi Kawai
jdi kangen pas akad nikah. 🤭
Ismi Kawai: hahah, mksdnya nikah lagi??
Hayurapuji: gas kak, biar kayak artis jaman sekarang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!