Fiona dan Fiora, saudari kembar putri presiden. mereka sudah saling menyayangi sejak mereka masih kecil, saling membantu jika salah satu mereka kesusahan. tetapi saat mereka memasuki usia remaja, Fiora yang merasakan pilih kasih di antara mereka berdua, Fiona yang mendapatkan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya, sementara dia tidak pernah merasakan itu, hari demi hari berlalu kebencian di hati Fiora semakin memuncak karena suatu peristiwa saat dia berkelahi dengan Fiona. Fiora lari meninggalkan istana dengan air mata di pipinya akibat makian ayahnya, sampai detik itu dia tidak pernah kembali ke rumah mereka lagi.
Fiona yang merasakan perasaan bersalah di hatinya memikirkan saudaranya pergi yang tidak pernah kembali lagi, kini mereka sudah dewasa. Fiona mengambil ahli mengurus semuanya bersama Aaron. setelah beberapa waktu banyak terjadi penghianatan di negara itu yg mengakibatkan banyak korban jiwa, siapa menyebabkan itu semua? apakah orang yang paling mereka tidak sangk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon strbe cake, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rose dan Gisella keseruan hari mereka
“Rose bagaimana dengan yang ini, sepertinya cocok untuk ku.” tanya Gisella sambil menunjuk ke arah kalung permata yang bersinar di dalam kaca.
“Itu terlalu mencolok Gisella, pilih yang biasa aja.” Ujarnya terus melihat-lihat bagian anting-anting di sisi lain.
Gisella mendengus kesal memutar matanya saat mendengarkan saran kakaknya, dia kembali melihat-lihat etalase dengan teliti.
“Sepertinya ini cocok untuk ku, tolong aku mau ini.” Rose menunjuk anting-anting Ruby kepada pelayan toko.
Dia mengangguk segera mengambilnya dari etalase mengulurkannya kepada Rose.
“anting ruby ini sangat populer sekarang nona, dengan desain unik dan indah, ia hanya tersedia beberapa saja di pasaran.” Gumam pelayan kepada Rose.
“oh benarkah, berarti aku beruntung mendapatkannya.” balas Rose dengan tersenyum, ia pun mengambil salah sepasang anting, mencobanya di cuping telinganya sendiri.
Sementara itu kepala pelayan toko yang masi sibuk dengan pilihan Gisella, menghiraukan konsumen lain di sana. dia tahu bahwa Gisella selalu membeli jumlah yang sangat besar dengan toko mereka.
“layani mereka dengan baik kau mengerti, mereka berdua sangat di segani di sini, jangan membuat keluarga tuan Robert kecewa dengan toko kita, keluarkan semua yang ada.” bisik kepala pelayan toko itu kepada salah satu bawahannya.
Pelayan yang mendengar dari mana dua wanita itu berasal, segera terkejut dengan mata melebar, dirinya tidak menyangka bisa melihat secara langsung bangsawan yang terkenal itu.
“aku ingin melihat yang itu.” Sela Gisella di tengah perbincangan mereka.
Kepala pelayan segera mengambil kalung yang ditunjuk dengan senyum lebar mempersilahkan kepada Gisella.
“ini nyonya, kalung riviere ini di ranjang dengan istimewa oleh desainer terkenal, kalung ini hanya berjumlah sedikit di pasaran.” ucapnya dengan antusias, memperkenalkan setiap detail kalung kepada Gisella.
Gisella hanya terdiam mengamati beberapa detik lalu menghembuskan nafas dengan panjang, mengerakkan jarinya seolah tidak minat lagi.
“Kak, aku tidak menemukan selera ku, semuanya tidak menarik, aku akan pakai pemberian Kevin saja saat di pestanya.” Katanya saat berbalik menuju Rose yang tengah memilih.
“tidak tertarik? tumben sekali.” balasnya tanpa mengalihkan pandangan Rose.
“Apa yang sedang kau pilih,” gumam Gisella sambil meletakkan dagunya di bahu Rose, bersandar di sana.
“Tidak ada, aku sudah selesai, aku memilih anting-anting ruby ini bagaimana menurut mu.” tanyanya memperlihatkan anting-anting di hadapan Gisella.
“itu bagus, cocok untukmu.” Ujar Gisella dengan nada bosan.
“Baiklah, tolong bungkuskan ini untukku.” Pintanya kepada pelayan.
Pelayan itu mengangguk, segera melaksanakan apa yang di minta Rose, dia membungkus Anting-anting Ruby itu dengan sangat rapi dan aman.
“berapa totalnya.” Ucapnya kepada kepala pelayan.
“anting-anting ruby pesanan anda sekitar 87 juta nona.” balas pelayan itu saat menyerahkan bungkusan kepada Rose.
Rose mengangguk menulis cek lalu meletakkannya ke meja, dia pun mengambil bingkisannya, berjalan pergi bersama Gisella.
“terima kasih nona, senang melayani anda.” seru para pelayan di belakang mereka.
“Sudah selesai nona, tumben sekali sangat cepat.” tanya David dengan tersenyum, membuka pintu penumpang untuk mereka berdua.
“bukan urusanmu.” ketus Gisella saat duduk.
David pun mulai menghidupkan mesin mobil kembali, berbalik untuk menatap Gisella.
“ke mana selanjutnya kita akan pergi nona Gisella, sepertinya suasana hati mu sudah berubah.” ujarnya pelan tetapi tersirat nada ejekan di sana.
“aku ingin mampir ke toko manisan, bawa kami ke sana.” perintahnya dengan tatapan sinis.
David terus tersenyum dan mengangguk, berbalik mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Perjalanan terus berlanjut, kendaraan mereka melewati berbagai toko dan juga orang-orang.
Gisella melirik ke arah toko camilan kecil di sudut jalan, toko itu terlihat sepi dengan kakek dan nenek tua di sana sebagai penjaga toko.
“aku ingin berhenti di toko itu sana.” perintah Gisella.
“toko itu? Terlihat sangat sepi nona, mungkin di sana coklatnya tidak enak, bagaimana jika kita pergi ke toko yang sedang ramai di kunjungi orang-orang.” ujar David.
“berhenti kan saja David, tidak perlu banyak tanya.” celetuk Gisella, dia mulai bersiap-siap untuk turun.
David pun memarkirkan mobilnya di depan toko tua itu, lalu mematikan mesin mobil.
“ayo Kak, kita akan membungkus untuk Fiona dan Fiora juga.” Gisella segera turun dari mobilnya berjalan masuk dengan tersenyum, menatap kepada nenek tua.
Rose hanya terdiam berdiri di belakang Gisella melihat-lihat sekeliling toko.
“aku ingin coklat putih dan juga susu, apa kalian menyediakannya di sini.” sapa Gisella kepada nenek tua itu.
“Tentu saja nona, kami menyediakannya, tunggu sebentar dan silakan duduk terlebih dahulu.” Nenek tua itu mulai berjalan dengan sedikit lambat, mengambil beberapa bungkusan coklat di etalase.
Sedangkan si kakek mulai mengambil kursi lalu mendekatnya ke pada mereka berdua.
“tidak perlu repot-repot kakek dan juga terima kasih.” ucap Rose kepada kakek, ia pun mulai duduk di kursi.
“Ini nyonya, jika ingin mencobanya tidak apa-apa, anda bisa mengopeknya di ujung.”
Gisella mengamati coklat itu sejenak memastikannya aman, dia pun mulai mengambil bagian kecil coklat susu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, menghisap dengan memejamkan mata.
Sementara itu, Rose mengambil coklat putih sebagai kesukaannya, mematahkan bagian besar batang coklat, memasukkannya ke dalam mulutnya, dengan beberapa isapan, pupil matanya pun melebar segera menoleh untuk melihat Gisella.
Gisella yang ternyata sudah memakan satu bungkus coklat dengan rakus, tidak lagi menyadari situasi.
mulut Rose tercengang melihat itu, dia segera menepuk bahu Gisella untuk menyadarkannya.
“maaf-maaf.” gumamnya pelan menatapnya orang tua itu dengan malu.
“Tidak apa-apa nyonya kami senang melihat mu menyukainya.” Ucap mereka.
“coklatnya enak, baiklah kami akan memesan ini, tolong bungkuskan tiga coklat putih dan susu.” pinta Rose.
“tentu saja.” kata sang nenek segera membungkus pesanan mereka.
“kita harus pulang sekarang Gisella, aku takut ibu akan mencari kita.” Katanya saat terus memakan coklat di tangannya.
“ini nyonya, sesuai pesanan mu.” ucapnya mengulurkan bingkisan kepada Rose
“baiklah.” Rose mengeluarkan segepok uang dari sakunya lalu meletakkannya ke atas meja.
“Ayo Gisella.” Ajaknya memegangi tangan Gisella membawanya keluar.
Kakek dan nenek itu hanya bisa terdiam, melihat uang dengan jumlah besar di hadapan mereka, tetapi segera sang kakek sadar, ia mengambil gepokan itu, berlari menuju mereka yang kini sudah berada di dalam mobil.
David pun mulai mengendarai mobil mereka menjauh dari toko, tidak menyadari kakek yang tengah berlari ingin menghampiri mereka lagi.
Kakek hanya bisa terdiam kembali melihat mereka yang sudah berjalan pergi, namun saat dia Mengamati plat nomor mobil. bibirnya langgsung tercengang, menyadari siapa yang baru saja singgah ke toko kecil mereka.