Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 07
Mentari kembali bersinar, memberi kehidupan pada sekumpulan anak manusia di alam semesta. Sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar Rissa. Ia pun mulai mengerjap mengumpulkan nyawa. Tiba-tiba ponselnya bergetar pertanda ada notifikasi masuk. Rissa meraba dimana letak ponselnya lalu membukanya saat ia sudah menemukannya. Terpampang sebuah nama dan beberapa pesan di dalamnya.
...Raka Pratama...
Hei bangun!
Dasar kebo!
Lo nggak lupa janji lo itu kan?
Gue jemput lo ke rumah jam 9 nanti
^^^Mampus, gue lupa wkwk^^^
^^^Gue baru bangun tidur^^^
^^^Sorry ya, hehehe^^^
Dasar pikun -_-
Cepet siap-siap sana!
Gue nggak mau nunggu dandan lo yang sejam itu ya
Setengah jam lagi gue otw ke rumah lo
Rissa melihat jam di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Ia langsung terbirit-birit masuk kamar mandi. Ia lupa jika hari ini ada janji dengan Raka untuk menemaninya membeli buku ke gramedia. Selain itu, mereka juga akan meminta izin kepada orang tua Rissa untuk liburan bersama keluarga Raka ke Bali saat libur semester nanti.
Tiga puluh menit telah berlalu, Rissa masih setia berhadapan dengan cermin di meja riasnya hingga suara derum motor berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Ia langsung turun setelah mengetahui siapa yang baru saja datang.
Tok… tok… tok…
“Assalamu'alaikum,”
“Waalaikumsalam,” Rissa membuka pintu rumahnya. Ia melihat di balik pintu tersebut berdiri seorang cowok bermata sipit itu.
“Siapa Ris?” Tiba-tiba mamanya yang kebetulan sedang libur bekerja muncul dari arah belakang Rissa untuk melihat siapa yang datang
“ Eh kenalin ini temenku ma, namanya Raka. Kita mau izin pergi ke Gramedia buat beli buku,” Bu Emil melihat penampilan Raka dari atas hingga bawah seperti meneliti sesuatu.
Hal itu membuat keduanya merasa tegang lalu saat Bu Emil menganggukkan kepala dan tersenyum membuat keduanya bernapas lega. Artinya mamanya menerima kehadiran Raka.
Ini adalah kali pertamanya ia membawa seorang cowok ke rumahnya. Selama ini, ketika ia berpacaran dengan Diano tak pernah sekalipun ia mengenalkan pada orang tuanya sebab sebenarnya orang tuanya melarang Rissa agar tidak terlalu dekat dengan teman cowoknya.
Akan tetapi, Rissa hanyalah remaja pada umumnya yang pasti mengalami rasa tertarik pada lawan jenis. Ia pun tahu jika yang dilakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi mengertilah, Ia melakukan hal itu sebab ingin juga merasakan sebuah cinta dari seorang laki-laki yang mencintainya.
Risa termasuk gadis berparas cantik dengan gigi gingsul dan Lesung pipitnya, tak sedikit pula para cowok di luar sana ingin memilikinya.
Andai cinta dari satu sosok laki-laki itu cukup membuatnya bahagia, mungkin sampai sekarang Ia tetap akan fokus mengejar ilmu tanpa ada keinginan mencari seorang kekasih. Nyatanya, laki-laki yang kata orang kebanyakan akan menjadi cinta pertamanya adalah orang yang berhasil menorehkan luka begitu dalam dan membekas.
“ Ya udah kalau gitu aku sama Raka berangkat dulu ma,” ia menyalami tangan mamanya lalu diikuti Raka. Setelah berpamitan, mereka pun langsung beranjak keluar rumah.
...****************...
Di perjalanan, Raka selalu membuat candaan hingga Rissa tertawa begitu riang. Raka adalah cowok pertama yang dapat menciptakan rasa Bahagia sampai seperti saat ini di hati Rissa. Hanya karena hal itu, tanpa disadarinya ia selalu bahagia di sisi Raka.
Tak terasa perjalanan singkat mereka telah habis sebab candaan sepele. Entah itu karena mereka melihat ibu-ibu menghidupkan lampu sen kiri namun belok kanan atau karena tak sengaja melihat topeng monyet di tengah jalan tadi.
Turun dari motor, mereka menuju ke Gramedia.
Dari luar, tampak ratusan buku berjajar di balik dinding kaca raksasa. Begitu banyak orang berlalu lalang di sekitar gedung tersebut. Mereka pun melangkahkan kaki menuju sebuah gedung dengan palang besar bertuliskan “Gramedia” di depannya.
“Lo mau beli buku apa?” Rissa menolehkan kepalanya ke arah Raka setelah sampai di dalam gedung yang hanya dikelilingi tumpukan buku.
Raka Sempat berpikir sebentar lalu menggandeng tangan Rissa ke salah satu yang menyajikan berbagai buku tentang dunia kedokteran. Jantung Rissa berdegup ke tangan Raka menggandeng tangannya. Dalam hatinya ia tersenyum merasakan hangatnya genggaman itu.
“HEI! Liatin apaan lo?” Raka menautkan alisnya heran karena Risa hanya dia mematung seperti memandanginya. Rissa tersentak, wajahnya memerah menahan malu sebab ketahuan sedang mengamati anugerah indah di hadapannya. Kini, di tangan Raka sudah terdapat dua buah buku tebal yang tak dipahaminya.
“E-enggak ada, gue nggak liatin apapun,” jawab Rissa sembari menjauh dari tatapan Raka. Cowok itu pun terkekeh melihat Rissa yang salah tingkah.
“Lo mau beli buku atau nggak?”
“Nggak deh,”
“Yuk ke kasir!” Raka berjalan menuju kasir dengan Rissa yang mengekor di belakangnya.
Selesai membayar, mereka keluar dari gedung tersebut dan menuju parkiran.
“Mau kemana lagi?” Rissa menghendikkan bahu menjawab pertanyaan Raka.
Setelah itu, Raka tampak berpikir sebentar dan langsung menaiki motornya tanpa mengucap satu kata pun. Rissa yang melihatnya, hanya mengikuti gerakan Raka untuk segera naik ke atas motor.
...****************...
Pertanyaan di benak Rissa terjawab ketika mereka sampai di sebuah gedung besar berwarna putih dengan sedikit corak abu-abu di dalamnya. Raka masuk ke dalam lift diikuti Rissa dan memencet tombol angka sepuluh. Pintu lift terbuka kembali dan menampilkan sebuah Rooftop dengan pemandangan kehidupan kota yang sangat indah. Disana terdapat sebuah bangku dan meja yang menghadap ke arah keramaian kota.
“Tempat apa ini?” tanya Rissa membuat langkah Raka terhenti dan berbalik menghadap ke arahnya.
“ Ini gedung pribadi milik keluarga gue. Biasanya kalau ada acara-acara resmi pasti ngadainnya di gedung ini,” Raka menduduki bangku tersebut dan menepuk-nepuk bangku sebelahnya mengisyaratkan agar bisa ikut duduk di sampingnya.
“Ngomong-omong, lo adalah orang pertama yang gue ajak kesini,”
“Teman-teman lo?” Raka menjawab dengan gelengan kepala.
“Terus kenapa lo tiba-tiba ngajak gue kesini?”
“ gue nggak tahu, tiba-tiba aja gue pengen ngajak lu ke sini gitu,” Rissa menganggukkan kepala tak mau ambil pusing dengan alasan Raka.
“Oh ya, lo jadi mau ikut jalan-jalan ke Bali nggak?” tanya Raka.
“Gue belum izin ke orang tua gue sih,” Rissa menggeleng lemah.
“Gimana kalo habis ini gue temenin izin ke orang tua lo,” Raka menatap tepat pada manik mata Rissa. Ia terpaku oleh tatapan Raka lalu mengangguk mendengar tawarannya.
Kemudian mereka menikmati Surya tenggelam dengan jingganya di atas Rooftop itu. Hanya keheningan yang melanda Sebab mereka pun saling bergulat dengan pikiran masing-masing.
...****************...
Temaram lampu Jalan menemani mereka di perjalanan Kembali Pulang. Hiruk pikuk kota menjadi saksi bisu atas kedekatan sepasang anak manusia itu. Tanpa disadari, motor yang ditumpangi mereka berhenti di pekarangan rumah Rissa. Terlihat sepi, menandakan Pak Ryand belum datang dari pekerjaannya.
“Assalamualaikum,” Rissa membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam diikuti Raka. Ia menuju ke dapur sebentar untuk menyiapkan minuman dan beberapa camilan. Sedangkan Raka menunggunya di ruang tamu. Saat Risa kembali dengan membawa secangkir teh serta camilan, ia melihat sudah ada Mamanya sedang berbincang dengan Raka.
“Kalian mau jalan-jalan ke Bali?” tanya Bu Emil to the point ketika Rissa berada di ruang tamu. Ia hanya tersenyum Pepsodent mendengar pertanyaan dari mamanya.
“Ya kalau mama ngizinin sih,”
“Berapa hari?”
“Mungkin sekitar 4 sampai 5 harian te,” jawab Raka
“Ya udah Mama ngizinin nanti mama bantu bilang ke papamu,
“Makasih ma,”
“Kalau begitu saya pamit pulang te, takutnya kemalaman di jalan,” Raka menyalami tangan Bu Emil dan pamit untuk pulang. Rissa mengantarkannya sampai gerbang rumahnya.
“Makasih ya udah bantu minta izin ke mama gue,”
“Sama-sama. Habis ini kalau ada apa-apa bilang aja ke gue, Mama lo udah ngasih kepercayaannya ke gue buat jagain lo,” Raka tersenyum sambil menepuk pelan kepala Rissa
“Ya udah gue pulang dulu,”
“Hati-hati di jalan,” ujar Risa sembari melambaikan tangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...