Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....
Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.
Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Aku sudah selesai sarapan dan berniat membereskan meja makan. Namun, seperti biasanya, simbok mencegahku. Kemudian, beranjak ke teras dan menikmati angin yang berhembus. Seperti belum puas rasanya menghirup udara pedesaan yang nyaman ini, aku membuka mulut lebar-lebar. Konyol memang, tapi aku menyukai kelakuan kurang kerjaanku itu. Sampai baru kusadari, simbok sudah berdiri di sampingku.
"Opo to, Nduk?buka mulut lebar-lebar kayak gitu, nanti ada lalat yang masuk gimana?" simbok tertawa kecil.
Dengan gerakan cepat, aku menutup mulutku, mengerjapkan mata, cengengesan untuk membalas perkataan simbok. Simbok cuma geleng-geleng kepala dan tersenyum.
"Simbok mau tilik (menengok) sawah dan kebun dulu, mungkin pulangnya pas rolasan (waktu istirahat siang, biasanya menjelang pukul 12.00 siang- pen). Kalau Genduk lapar, cemilan dan makanan ada di lemari dapur. "
"Duh Simbok, aku kan baru aja selesai makan, sudah ditawari lagi, nanti kalo aku tambah ndud, Simbok harus tanggung jawab!" Aku pura pura merajuk.
"Heleh ... mending tambah ndud, daripada tambah kurus, biar keliatan seger ginak-ginuk gitu nduk. Ya sudah, simbok pergi dulu, hati-hati di rumah. "
Simbok berlalu membawa keranjang yang sepertinya berisi makanan ringan, mungkin untuk buruh tani yang bekerja di sawah dan kebun simbah. Aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu lalu menuju kamar. Karena kebingungan tanpa kegiatan, aku membuka laptopku dan mengecek tugas-tugas akhir semesterku. Sinyal internet di sini tidak terlalu bagus, jadi aku hanya bisa bersabar untuk tidak streaming video-video unfaedah yang kadang kala menghiburku atau pun sekedar browsing berita-berita teraktual atau gosip-gosip terhangat.
Dari kejauhan, aku mendengar suara beberapa laki-laki mengobrol.
"Ya ya, kurang itu, kurang geser, jangan terlalu minggir, nanti ndak keliatan gambarnya, ya ya,, cukup, wis pas. "
"Terus, yang ini gimana?" timpal suara lainnya.
"Yang itu ... was wes wos ...."
Aku melongokkan kepalaku lewat jendela kamar, mencari tahu sebenarnya ada apa di luar sana. Aku melihat beberapa laki-laki membawa spanduk dan poster yang sebagian sudah terpasang melintang di atas jalan. Aku memicingkan mata untuk memfokuskan penglihatanku ke gambar atau tulisan yang terpampang pada spanduk itu.
Itu terlihat seperti spanduk ala ala pilpres, tapi pilpres sudah berlalu dan pilkada pun baru akan dilaksanakan tahun depan. Trus ada acara apa? Nanti kutanyakan simbok saja, pikirku.
Aku masih berusaha fokus meneruskan aktifitas di laptopku. Hari seperti makin siang saja. Kulirik jam di dinding, sudah hampir menunjukkan pukul 12.00 siang, tapi aku belum mendengar atau melihat simbok pulang.
Selang beberapa menit kemudian, aku mendengar pintu belakang seperti dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mengeceknya. Benar saja, simbok baru saja pulang. Tersenyum melihatku, aku merebut keranjang yang dibawa simbok bermaksud meringankan simbok, dan mengambilkan minum buat simbok. Simbok tadinya mau menolak, tapi melihat muka memohonku, simbok pasrah dan duduk di dipan bambu.
"Capek ya mbok? minum dulu mbok, " aku mengulurkan secangkir air minum ke simbok.
"Ndak kok nduk, simbok sudah terbiasa seperti ini. "
"Ah Simbok, mesti jawabnya selalu gitu, daridulu, selalu nolak pertolonganku, kan mumpung aku lagi di sini lho Mbok, gak usah sungkan Mbok. Ibu dan bapak juga lagi gak di sini, anggep saja aku cucunya Simbok, gitu."
Aku melihat simbok terkejut, sesaat kemudian, matanya berkaca-kaca, tetapi tersenyum.
"Jangan gitu to Nduk, mau bagaimanapun, simbok ini cuma rewang, abdinya ndoro putri. Apalagi, setelah ndoro putri ndak ada, simbok tetap harus menghormati keturunan ndoro putri, ndak pantas kalo simbok disamakan sama ndoro putri. "
Aku memeluk Simbok, merasa tidak enak hati. "Mbok, aku kan gak minta Simbok menggantikan simbah putri, cuma pengen Simbok jangan sungkan sama aku, aku gak nyaman Mbok. Udah ya Mbok, jangan nangis, aku gak bermaksud menyinggung simbok, maafkan aku ya Mbok. "
Aku melepaskan pelukanku, dan kulihat simbok sudah tersenyum lagi.
"Genduk cah Ayu ndak salah, simbok yang terlalu berpikir macem-macem, jadi bikin Genduk cah ayu ndak nyaman, seharusnya simbok yang minta maaf, Nduk. "
Aku membalas senyuman simbok, dan simbok mulai menyeruput minuman yang tadi kuambilkan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan. Aku terlonjak kaget.
"Biar simbok saja yang membukakan pintu nduk. "
Simbok sudah berjalan ke ruang tamu, aku mengekor di belakang simbok. Ingin tau, siapa orang yang bertamu. Aku mendengar percakapan mereka.
"Kulonuwun ... assalamualaikum Mbok"
"Waalaikumsalam. Monggo ... monggo. Eh kang Paijo. Ada apa, Kang? "
"Nganu Mbok, saya disuruh pak Mijan buat minta bunga ke sini, Mbok. "
"Oh gitu. Ya udah, itu petik sendiri ya kang, pilih yang masih bagus-bagus."
"Nggih nggih, terima kasih Mbok, oh iya mbok, itu cucunya Eyang Gantari to? "
"Iya kang, itu cucunya ndoro putri,"
"Wah sudah gadis sekarang, makin Ayu. Saya sekalian pamit ya mbok,"
"Oh, monggo, monggo ...."
Kang paijo mengangguk sopan padaku dan simbok, lalu kulihat ia mulai memilih bunga-bunga di pojok halaman rumah dan pergi beberapa saat kemudian.
Di pojok rumah memang ada segerombolan tanaman bunga. Ada beberapa jenis dan semua bunganya beraroma harum. Terutama bunga mawarnya. Kata ibu dulu, bunga-bunga itu sudah tumbuh subur semenjak ibu kecil dan belum pernah berganti jenis sejak dulu. Sepertinya, simbah Putri yang menanamnya dan merawat secara telaten.
Sekarang, simbok yang mengurus dan merawatnya. Dulu, waktu aku kecil pun, suka berlama-lama bermain di pojokan itu. Terkadang, aku sering merasa seperti ada orang lain di sana. Entahlah.
Bersambung ....