Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jejak Digital Pertama
# BAB 5: JEJAK DIGITAL PERTAMA
Pagi itu Arjuna bangun dengan mata sembab dan kepala berdenyut. Ia hampir tidak tidur. Setiap kali ia pejamkan mata, ia lihat wajah ayahnya. Lihat foto-foto mengerikan di flashdisk itu. Lihat nama-nama pejabat yang seharusnya melindungi rakyat tapi malah jadi anjing penjaga monster.
Sari sudah bangun lebih dulu. Ia duduk di lantai dengan laptop terbuka, matanya merah, wajahnya pucat. Jelas ia juga tidak tidur.
"Kita harus cari cara untuk buka file lengkapnya," kata Sari tanpa mengangkat kepala. Jarinya terus mengetik. "Yang di flashdisk ini cuma sebagian. Yang lengkap ada di bank. Tapi kita butuh kunci. Dan kita bahkan tidak tahu dimana rumah lama kau di desa."
"Rumahku sudah jadi abu," jawab Arjuna pahit. "Tidak ada yang tersisa. Kalau kuncinya ada di bawah papan lantai, sekarang juga sudah hangus."
"Sial." Sari menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang Arjuna mulai sadari muncul saat gadis ini stress. "Berarti satu-satunya cara adalah dengan file yang ada sekarang. File yang sudah kita punya. Tapi ini... ini terlalu banyak. Ratusan dokumen. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
"Dan kita tidak bisa ke polisi."
"Jelas tidak bisa!" Sari menutup laptopnya kasar. "Namanya ada di daftar itu, Arjuna! Kepala Polisi Daerah! Kalau kita datang dengan bukti ini, besoknya kita yang bakal jadi mayat!"
Bu Lastri keluar dari kamar, kaget mendengar suara Sari yang meninggi. "Sari? Ada apa? Kenapa ribut pagi-pagi?"
"Tidak ada apa-apa, Bu. Maaf." Sari tarik napas dalam, coba tenangkan diri. "Kami cuma... cuma lagi diskusi."
Bu Lastri tidak terlihat yakin tapi ia tidak tanya lebih lanjut. "Kalian belum sarapan? Aku masak bubur jagung. Sisa kemarin."
"Nanti, Bu. Aku tidak lapar." Sari buka laptopnya lagi.
Arjuna juga tidak punya selera makan. Perutnya terasa mual. Tapi ia paksa diri untuk berdiri, ambil mangkuk bubur dari Bu Lastri. "Terima kasih, Bu. Ayo Sari, kau harus makan. Kau tidak bisa mikir kalau perut kosong."
"Aku bilang aku tidak lapar."
"Aku tidak tanya." Arjuna taruh mangkuk di depan Sari. "Makan. Sekarang."
Sari menatapnya jengkel, tapi akhirnya ia ambil sendok, suapkan bubur ke mulutnya dengan gerakan mekanis. Mereka makan dalam diam. Bubur itu dingin dan hambar tapi tidak ada yang komplain.
Setelah sarapan, Sari tiba-tiba berdiri. "Aku tahu seseorang."
"Apa?"
"Seseorang yang bisa bantu kita." Mata Sari menyala, pertama kalinya sejak semalam. "Hacker. Anak muda, mungkin umur kita. Dia sering nongkrong di warnet deket pasar. Namanya Pixel."
"Pixel? Nama macam apa itu?"
"Nama samaran lah. Hacker mana yang pakai nama asli?" Sari sudah ambil tas, masukin laptop. "Ayo. Kita harus cepat. Kalau file ini terenkripsi lebih dalam dari yang aku pikir, dia bisa bantu."
"Tapi... tapi kita tidak kenal dia. Bagaimana kau tahu dia bisa dipercaya?"
Sari berhenti. Ia menatap Arjuna dengan mata serius. "Aku tidak tahu. Tapi sekarang kita tidak punya pilihan lain. Kecuali kau punya ide lebih baik?"
Arjuna tidak punya. Jadi ia ikut.
Mereka berjalan cepat menyusuri gang-gang yang mulai ramai. Pasar sudah buka, orang-orang berjejal beli sayur dan daging, tawar menawar dengan suara keras. Bau ikan bercampur sampah menyengat hidung Arjuna, bikin ia mau muntah bubur yang baru saja ia makan.
Warnet itu ada di gang sempit di belakang pasar. Bangunan kecil dengan cat hijau pudar, jendela ditutup triplek. Di depan pintu ada papan tulis kecil: "Satu jam lima ribu rupiah. Malam sepuluh ribu."
Mereka masuk. Di dalam gelap dan pengap, cuma diterangi cahaya monitor komputer. Ada sekitar sepuluh unit, tapi cuma tiga yang terisi. Dua anak remaja main game dengan suara tembakan keras. Satu lagi, cowok muda dengan hoodie hitam dan kacamata tebal, duduk di pojok paling belakang, jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak wajar.
Sari mendekat. "Pixel."
Cowok itu tidak angkat kepala. "Lima menit. Lagi coba tembus firewall sialan ini."
"Aku butuh bantuan kau. Sekarang."
"Bilang kan lima menit. Kau tuli atau apa, Sari?" Jarinya terus mengetik, matanya tidak kedip menatap layar yang penuh kode-kode aneh.
Sari menarik napas, lalu duduk di kursi sebelahnya. Arjuna ikut duduk, merasa tidak nyaman dengan atmosfer tempat ini. Bau rokok dan keringat basi kuat sekali.
Lima menit berlalu terasa seperti lima jam. Akhirnya Pixel menekan enter dengan keras, bersandar di kursi, senyum lebar. "Done. Berhasil bobol database kampus sialan itu. Sekarang semua mahasiswa yang bayar aku bakal dapat nilai A."
"Kau jualan nilai sekarang?" Sari menggeleng. "Itu rendah, bahkan untuk ukuran kau."
"Hei, namanya juga cari makan." Pixel baru menoleh, lihat Arjuna. "Ini siapa? Pacar baru kau?"
"Bukan. Ini Arjuna. Dia... dia butuh bantuan kau."
Pixel menatap Arjuna dari atas sampai bawah, lalu bersiul. "Cowok desa ya? Kelihatan dari cara kau duduk. Tegang banget. Santai bro, aku tidak gigit."
Arjuna tidak tahu harus jawab apa. Cowok ini terlihat berantakan dengan rambutnya yang acak-acakan dan kacamatanya yang miring, tapi matanya... matanya tajam. Mata yang sudah lihat terlalu banyak hal gelap di dunia digital.
"Aku butuh kau buka file," kata Arjuna langsung to the point. "File terenkripsi. Mungkin berlapis. Aku tidak tahu pasti."
"File apa?"
"Bukti kejahatan."
Pixel terdiam. Lalu ia tertawa. Tertawa keras sampai beberapa orang menoleh. "Bro, serius? Kau datang ke warnet butut ini, minta aku buka 'bukti kejahatan'? Kau pikir ini film action apa?"
"Aku serius." Arjuna keluarkan flashdisk merah. "Ini isinya data perdagangan manusia. Korupsi. Penyuapan. Daftar nama pejabat yang dibeli. Dan mungkin lebih banyak lagi yang aku belum bisa buka."
Senyum Pixel hilang perlahan. Ia menatap flashdisk itu seperti menatap bom. "Kau... kau bercanda kan?"
"Dia tidak bercanda," kata Sari. "Dan kami butuh bantuan kau. Sekarang."
Pixel melepas kacamatanya, gosok matanya. "Kalian tahu kan kalau aku bantu kalian, aku bisa mati? Orang-orang yang punya data sebesar ini biasanya tidak main-main. Mereka punya uang. Punya koneksi. Punya pembunuh bayaran."
"Aku tahu," jawab Arjuna. "Dan aku tidak akan paksa kau. Tapi tolong. Tolong bantu kami. Ini... ini satu-satunya kesempatan untuk bongkar mereka. Untuk selamatkan orang-orang yang masih bisa diselamatkan."
Pixel diam lama. Terlalu lama. Lalu ia pasang kacamatanya lagi, hulurkan tangan. "Kasih flashdisk-nya. Tapi kalau ternyata ini jebakan atau apa, aku yang bunuh kalian duluan sebelum mereka sempat."
Arjuna kasih flashdisk itu. Pixel colok ke komputernya, tunggu beberapa detik. Lalu matanya membulat.
"Ini... ini Axion Corporation," bisiknya. "Ini logo mereka. Dan ini... ya ampun, ini data transaksi mereka. Real data. Tidak ada yang diedit. Ini..."
"Nyata," potong Arjuna. "Semua itu nyata."
Pixel scroll ke bawah dengan cepat, matanya bergerak cepat membaca. Lalu ia berhenti di satu file. "Ini ada enkripsi tambahan. Enkripsi tingkat militer. Siapapun yang bikin ini, dia profesional."
"Bisa kau buka?"
"Bisa. Tapi butuh waktu. Dan..." Pixel menoleh, tatap mereka berdua. "Dan kalau aku mulai bobol enkripsi ini, kemungkinan besar sistem keamanan mereka bakal deteksi. Mereka punya AI pengawas. Sangat canggih. Dia bakal tahu ada yang coba akses data mereka secara ilegal."
"Berapa lama sebelum mereka tahu?"
"Kalau aku ceroboh? Lima menit. Kalau aku hati-hati? Mungkin tiga puluh menit. Sejam kalau beruntung."
Arjuna dan Sari saling menatap. Tiga puluh menit. Itu tidak banyak waktu.
"Lakukan," kata Arjuna. "Kami tunggu."
Pixel menarik napas dalam. "Oke. Tapi kalau tiba-tiba ada orang berjas hitam datang dengan pistol, jangan bilang aku tidak kasih peringatan."
Ia mulai mengetik. Jarinya bergerak begitu cepat sampai terlihat blur. Layarnya penuh dengan kode yang Arjuna tidak mengerti. Angka, huruf, simbol-simbol aneh yang berganti dengan cepat.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Sari menggigit kukunya, tatapan tidak lepas dari layar. Arjuna merasa jantungnya mau copot. Setiap detik terasa seperti siksaan.
"Hampir... hampir..." gumam Pixel, keringatnya mulai bercucuran. "Sedikit lagi... ayo ayo ayo..."
Tiga puluh menit.
Layar berkedip. Muncul jendela baru. File terbuka.
"YES!" Pixel teriak, lalu langsung tutup mulutnya sendiri. "Berhasil. Aku berhasil buka. Ini... ini semua ada di sini. Transaksi. Nama. Nomor rekening. Video. Foto. Dokumen kontrak. Semua bukti ada di sini!"
Arjuna hampir tidak percaya. Mereka berhasil. Mereka benar-benar berhasil.
Tapi kegembiraan itu cuma bertahan tiga detik.
Karena tiba-tiba layar komputer Pixel berubah merah. Muncul tengkorak besar dengan tulisan di bawahnya: "SISTEM MENDETEKSI AKSES ILEGAL. LOKASI TERIDENTIFIKASI. TIM KEAMANAN DIKIRIM."
"Sial SIAL SIAL!" Pixel langsung cabut flashdisk, matikan komputer, berdiri. "Mereka tahu! Mereka tahu kita dimana! Kita harus pergi SEKARANG!"
"Apa? Tapi..."
"SEKARANG, BODOH!" Pixel sudah berlari ke pintu. Arjuna dan Sari ikut berlari. Mereka keluar dari warnet, belok ke gang, lari secepat yang mereka bisa.
Di belakang mereka, dua mobil hitam berhenti dengan suara ban berdecit. Pintu terbuka. Lima orang keluar, semua berjas hitam, semua punya senjata.
"Itu mereka! Tangkap!" suara seseorang berteriak.
Arjuna tidak menoleh. Ia cuma lari. Lari dan lari. Kakinya sudah sakit, paru-parunya terbakar, tapi ia tidak berani berhenti.
Mereka belok ke kanan, masuk pasar, dorong orang-orang yang berbelanja. Teriakan mengikuti mereka. "Hei! Awas! Minggir!"
Tembakan. Suara tembakan memecah keramaian. Orang-orang berteriak panik, berhamburan ke segala arah. Arjuna rasakan sesuatu lewat dekat telinganya, begitu dekat sampai ia dengar bunyi peluru membelah udara.
"MASUK SINI!" Pixel menarik mereka ke dalam toko kain, terus lari ke belakang, keluar lewat pintu belakang yang sempit. Mereka masuk gang lain, gang yang lebih gelap, lebih sempit.
Tapi suara langkah kaki masih mengikuti.
"Kita... kita tidak bisa... lari terus," Sari tersengal, mukanya pucat. "Mereka... mereka akan... tangkap kita..."
"Rumah Bu Lastri," kata Arjuna cepat. "Kita harus ke rumah Bu Lastri. Ambil barang kita. Terus kabur."
"Kabur kemana?!"
"Kemana saja! Asal jauh dari sini!"
Mereka sampai di rumah Bu Lastri dengan napas hampir habis. Arjuna mendobrak pintu, masuk, langsung ke kamar.
"Bu Lastri! Bu Lastri, bangun! Kita harus pergi!"
Bu Lastri keluar dari kamar, wajahnya bingung dan ketakutan. "Arjuna? Sari? Ada apa? Kenapa kalian..."
"Tidak ada waktu menjelaskan, Bu!" Sari sudah ambil tasnya, masukin laptop dan beberapa baju. "Maaf Bu, maaf kami harus pergi. Maaf kami..."
Suara tembakan di luar. Kaca jendela pecah. Peluru menembus dinding kayu tipis.
Bu Lastri berteriak. Arjuna langsung melindungi wanita tua itu dengan tubuhnya, bawa dia ke pojok ruangan yang paling aman.
"BU, TURUN! TURUNKAN KEPALA!"
Tembakan terus berdatangan. Dinding berlubang. Meja kayu hancur. Vas bunga yang indah itu pecah berkeping-keping.
"KELUAR LEWAT JENDELA BELAKANG!" teriak Pixel. Ia sudah ada di jendela kamar, buka jerujinya paksa. "CEPAT!"
Sari keluar duluan. Lalu Pixel. Arjuna mau ikut tapi ia lihat Bu Lastri yang masih meringkuk ketakutan di pojok.
"Bu, ayo! Kita harus pergi!"
"Aku tidak bisa... aku terlalu tua... aku..."
"AKU TIDAK AKAN TINGGALKAN IBU!" Arjuna angkat wanita tua itu, meski punggungnya terasa mau patah karena beratnya. Ia bawa Bu Lastri ke jendela, turunkan dengan hati-hati ke tangan Pixel dan Sari yang menunggu di bawah.
Lalu ia ikut turun. Kakinya baru menyentuh tanah saat pintu depan didobrak. Suara-suara keras masuk ke rumah.
"LARI!"
Mereka lari lagi. Bu Lastri digendong bergantian antara Arjuna dan Pixel. Sari di depan menunjukkan jalan, masuk gang demi gang yang ia hapal di luar kepala.
Tembakan masih terdengar tapi sudah lebih jauh. Mereka berhasil menjauh. Tapi untuk berapa lama?
Mereka berhenti di sebuah bangunan kosong yang sepertinya bekas gudang. Pintu berkarat, jendela pecah, lantai penuh sampah. Tapi setidaknya ini tempat untuk bersembunyi sementara.
Arjuna turunkan Bu Lastri dengan hati-hati. Wanita tua itu menangis, tubuhnya gemetar hebat.
"Maafkan kami, Bu," bisik Arjuna, suaranya serak. "Maafkan kami sudah bawa masalah ke rumah Ibu. Kami... kami tidak bermaksud..."
"Rumahku," kata Bu Lastri pelan. "Rumahku... hancur?"
Sari memeluk wanita tua itu, menangis juga. "Maaf, Bu. Maaf. Ini salah kami. Semua ini salah kami."
Pixel bersandar di dinding, napasnya masih tersengal. Ia keluarkan flashdisk dari sakunya. "Setidaknya kita masih punya ini. Setidaknya... setidaknya mereka tidak dapat ini."
Arjuna menatap flashdisk kecil itu. Benda yang membawa begitu banyak kebenaran. Benda yang sekarang membuat mereka jadi buronan.
"Apa yang sudah kita lakukan," bisiknya. "Ya Tuhan, apa yang sudah kita lakukan."
Tidak ada yang jawab. Cuma suara tangis Bu Lastri dan Sari yang memenuhi gudang kosong itu.
Dan di luar, sirene polisi mulai terdengar.
Berburu mereka.
Seperti binatang.