*Tahap Revisi*
Karina terpaksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai, jangankan cinta mengenalnya pun tidak.
Namun, suatu hari ia dipertemukan dengan pria menyebalkan, dan ternyata dia adalah jodohnya. Parahnya lagi pria itu adalah Orang yang pernah melempar sampah dari balik mobilnya hingga mengenai kepala Karina.
Akankah Karina hidup bahagia setelah menikah dengan pria itu? Apalagi pria itu memiliki kekasih pilihannya, lalu bagaimana dengan nasib Karina selanjutnya 'setelah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07...
“Woy, ngelamun mulu lu!” ucap Adrian tiba-tiba, membuatku tergelincir. Untungnya, Adrian berhasil menyangga tubuhku dengan tangannya.
Aku dan Adrian saling bertatap-tatapan. Wajahnya terlihat begitu tampan dan cool. Mata biru dan bibir seksinya berada tepat di depan wajahku.
“Hati-hati jalannya. Nanti kamu jatuh,” ucap Adrian dengan nada lembut.
Dag dig dug... hatiku berdebar saat mendengar kalimat indah itu darinya.
Dengan gugup, aku segera beranjak dari pangkuan tangannya.
“Lepasin gue! Lu nyari-nyari kesempatan dalam kesempitan, ya? Iyyuuh!” ucapku sambil memukul tangannya yang masih merangkul pinggangku.
“Awww! Sakit, tangan gue! Lu cewek apa cowok sih? Gede banget tenaganya,” keluh Adrian sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang kesakitan.
“Sembarangan lu kalau ngomong. Gue cewek, lah!” sahutku ketus, lalu melangkah menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian.
Setelah selesai mengganti, aku kembali dari ruang ganti dan melihat Adrian berjalan ke luar butik. Sementara itu, Tante Icha dan Om Syafiq tidak terlihat di tempat duduk mereka.
Aku penasaran dan mengikuti langkah Adrian. Kulihat dia sedang berbicara dengan seorang perempuan. Adrian terlihat memeluknya dengan hangat.
Tiba-tiba saja, hatiku terasa tidak rela melihat Adrian dekat dengan perempuan lain.
Ada apa dengan diriku? Kenapa hatiku sesakit ini saat melihat Adrian dengan orang lain? batinku mulai kacau. Aku berusaha menetralkan pikiranku.
Tidak... tidak, Karina. Kamu tidak mungkin jatuh cinta pada laki-laki sampah itu, gumamku, menyangkal perasaanku sendiri.
“Karina, ke mana Adrian? Kalian sudah beres belum nyobain bajunya?” suara Tante Icha membuatku tersadar dari lamunan.
“Mungkin Adrian masih di dalam ruang ganti, Tante. Maaf, Karin mau ke toilet dulu,” jawabku sambil berjalan, menahan air mata yang tiba-tiba jatuh dari mataku.
Aku masuk ke toilet yang kosong dan menangis dalam diam, mengingat pelukan Adrian kepada wanita itu.
“Bodoh kamu, Karina. Bodoh! Kenapa sih kamu harus menangis? Kamu kan nggak cinta sama Adrian,” ucapku pada diri sendiri, mencoba meredakan tangis.
“Karina, kamu di dalam, sayang? Ayo, Tante sama Om mau pulang nih. Kamu nggak apa-apa, kan, di dalam sana?” suara lembut Tante Icha terdengar dari balik pintu.
Aku buru-buru menyeka air mata dengan tisu dan membuka pintu toilet.
“Aku nggak apa-apa kok, Tante,” jawabku sambil tersenyum paksa, masih menyeka sisa air mata yang mengalir.
“Kamu kenapa, sayang? Kok kamu nangis?” tanya Tante Icha lagi, khawatir.
“Enggak kok, Tante. Aku nggak nangis, tadi cuma kelilipan,” dustaku sambil mencoba tersenyum.
Kami berjalan bersama kembali ke tempat fitting baju. Di sana, Adrian dan Om Syafiq sudah menunggu, bersiap untuk pulang.
“Lama banget sih. Cuma ke toilet doang,” ucap Adrian ketus saat aku lewat di depannya. Aku tak menggubris dan terus berjalan menuju parkiran.
“Kenapa dia, Mam? Tumben berlalu begitu aja tanpa jawab,” suara Adrian terdengar samar di telingaku.
“Karina bareng Adrian aja, ya. Om sama Tante nggak apa-apa, nanti dijemput sopir aja,” ucap Tante Icha dengan nada lembut padaku.
“Mam, jangan gila deh. Aku nganterin dia?” sahut Adrian, bergidik geli.
“Adrian...” ucap Om Syafiq sambil mengeratkan rahangnya. Sorot matanya tampak kesal melihat tingkah Adrian.
Dasar cowok sampah. Fake boy, nggak punya sopan santun, gerutuku dalam hati. Aku lalu menjawab tawaran Tante Icha dan Om Syafiq.
“Enggak kok, Om, Tante. Saya mau dijemput Pappy,” jawabku berbohong.
“Oh, udah telepon Pappynya?” tanya Tante Icha.
“Sudah kok, Tante,” ucapku sambil tersenyum kecil dan berjalan menjauh dari mereka.
Setelah mereka pergi, aku mengeluarkan ponsel dari saku dan mencari kontak Qylla.
Qylla... jemput gue, ya. Gue butuh kamu sekarang.
Bersambung...
💕💕💕💕💕💕
🌹🌹💐💐💕💕