Wei Chan, gadis desa malang yang diselamatkan di hari bersalju serta diangkat menjadi pelayan pribadi dari Permaisuri Xin Yi Lan, istri dari Kaisar Jiang Fei.
Suatu saat, dirinya melihat hal kotor yang dilakukan oleh Kaisar Jiang Fei dan pelayan kepercayaan permaisuri, Yu Jia di belakang majikannya.
Merasa pengkhianatan itu adalah harga yang tidak pantas untuk sang majikan yang sangat setia pada Kaisar membuatnya hendak membongkar semua itu.
Naas, nasib berkata lain. Dirinya harus berakhir dihukum mati atas tuduhan membunuh majikannya sendiri yang terkena racun.
Di hari eksekusinya, dia akhirnya tau bahwa yang merencanakan pembunuhan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Yu Jia.
Sebelum mati dia bersumpah, "Aku akan terlahir kembali dan Dewa akan menurunkan takdir paling kejam untuk kalian!"
Inilah perjalanan Wei Chan yang kembali ke masa lalu demi menyelamatkan sang majikan dan menuntut balas atas kejahatan Yu Jia padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panglima Bai Luohan
Di malam itu, Wei Chan hanya bisa menahan rasa mualnya.
“Aku tidak percaya ini. Yu Jia si jalang itu pasti masih melayani An Wang.”
“3 ronde katanya. Hah! Aku berani bersumpah atas nama Dewa kalau mereka akan melakukannya berpuluh-puluh ronde.”
“Budak nafsu sepertinya akan melakukannya. Dia sendiri yang mengatakan bahwa akan melayani An Wang sepanjang malam.”
“Selain itu, mereka melakukannya setiap malam? Hebat sekali pelayanannya.”
“Membuatku ingin muntah, tapi sudah tidak ada lagi yang bisa aku muntahkan dari dalam perutku.”
Wei Chan kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Setelah itu dia duduk di tempat tidur.
Sambil berpikir, dia mulai mengingat-ingat kejadian di masa lalu.
“Dulu, saat aku berada di tempat ini, aku akan resmi menjadi pelayan Nyonya Xin keesokan paginya.”
“Beliau akan memperkenalkanku kepada Kaisar Jiang Fei. Meskipun beliau terlihat tidak peduli, tapi aku tetap berhasil menjadi pelayan Nyonya Xin.”
“Setelah berjalan-jalan ke taman, An Wang datang dan mendorongku hingga jatuh. Memang aneh, kenapa penjaga gerbang bisa melakukan hal itu pada pelayan baru.”
“Dan setelah dipikir-pikir kembali, dulu Yu Jia itu mungkin tidak menyukaiku sejak awal.”
“Tapi saat aku kembali ke masa lalu, aku sudah menunjukkan kebencian dan deklarasi perangku pada wanita murahan itu.”
“Artinya besok…aku yakin dia meminta An Wang melakukan sesuatu yang lebih buruk padaku.”
Sepanjang malam, Wei Chan memikirkan rencana dan menyiapkan banyak hal yang bisa dilakukannya.
Persiapan matang untuk membuat semua alurnya tidak berubah jauh sehingga upaya balas dendamnya bisa terlaksana.
Hingga pagi datang dan dia siap dengan semuanya. Memang mengorbankan waktu tidur, tapi ketika dia masih mengingat suara menjijikan milik Yu Jia, tidur adalah hal yang akan membuatnya gila.
Akhirnya, sepanjang malam itu Wei Chan tetap terbangun.
Dengan semangat, dia siap membangunkan permaisuri. “Nyonya Xin, Xiao Chan datang untuk membangunkan Anda.”
“Masuklah, Xiao Chan.”
“Xiao Chan masuk, Nyonya Xin.”
Wei Chan masuk ke dalam dan dia melihat dua pelayan sebelumnya, Mei Lan dan Feng Meng.
“Selamat pagi, Xiao Chan~” sapa Mei Lan.
“Selamat pagi, Nona Mei. Selamat pagi, Nona Feng.”
“Ahaha, jangan menyapa kami seperti itu.” kata Feng Meng, “Panggil kami Xiao Meng dan Xiao Lan saja.”
Wei Chan tersenyum dan memberi hormat pada keduanya sambil menirukan apa yang mereka ucapkan, “Xiao Lan, Xiao Meng.”
Keduanya tersenyum dan menarik tangannya, “Ayo sini.”
Keduanya sedang mendandani permaisuri untuk sarapan. Setelah selesai, permaisuri siap untuk sarapan.
Dari arah luar, Yu Jia datang dengan terburu-buru.
“Maafkan Jia’er yang terlambat bangun, Nyonya Xin!”
Semuanya melihat kedatangan Yu Jia yang terlihat sangat terburu-buru. Tentu itu bukan hal yang biasa. Tapi Wei Chan tau kenapa.
Permaisuri tersenyum dan mendekati Yu Jia, “Jia’er hati-hati. Aku tidak marah kamu terlambat bangun. Artinya kamu tidur nyenyak.”
Yu Jia tersenyum kaku dan berusaha merapikan pakaiannya. Dengan kebaikan hati dan kemurahan hatinya, Wei Chan mendekati Yu Jia.
“Nona Yu, selamat pagi. Wei Chan ingin menawarkan bantuan untuk Nona Yu yang tampaknya kelelahan.”
Tentu saja Yu Jia tidak membiarkan hal itu, namun Wei Chan melakukannya sendiri. Sontak, Yu Jia hendak mendorong gadis itu.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Wei Chan tersenyum dan berbisik di telinga Yu Jia, “Tolong tenang dulu, Nona Yu. Wei Chan hanya membantu menutupi tanda merah di leher Nona Yu.”
-Deg
Yu Jia langsung panik dan menutupi lehernya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar. Hal itu jelas menjadi makanan empuk untuk Wei Chan melakukan pemanasan pagi-pagi.
“Nona Yu…tampaknya semalam digigit banyak sekali nyamuk. Apa tubuhmu baik-baik saja?”
“Jangan macam-macam kamu! Jaga sikapmu itu!”
“Wei Chan hanya mengkhawatirkan tubuh Nona Yu yang mungkin kelelahan akibat…olahraga semalaman.”
Senyum jahat dan mengintimidasi milik Wei Chan membuat Yu Jia tau bahwa gadis di depannya memang menyadari tingkahnya yang aneh.
“Anak ini…menantangku!!” katanya dalam batin.
Wei Chan tidak ingin terlalu mencolok di depan permaisuri, jadi dia menahan diri dan kembali memberi hormat pada Yu Jia.
“Wei Chan minta maaf atas tindakanku yang sangat tidak sopan pada Nona Yu.”
Nyonya Xin tersenyum dan mendekati Wei Chan.
“Xiao Chan…”
“Ya, Nyonya Xin?”
Permaisuri menggenggam tangan Wei Chan dan berkata, “Aku sudah memikirkannya. Aku ingin kamu tetap ada di sini. Kamu adalah gadis yang baik dan aku sangat menghargai kekhawatiranmu pada Jia’er.”
“Xiao Chan, aku ingin kamu di sini dan melayaniku.”
Gadis itu terlihat sangat senang dan langsung berlutut memberi hormat pada Nyonya Xin.
“Nyonya Xin, Wei Chan akan melayani Nyonya Xin dengan baik. Terima kasih banyak sudah mau mempertimbangkan keinginan Wei Chan ini.”
“Wei…bukan, Xiao Chan ini akan membuktikan bahwa Xiao Chan bisa berguna dan melayani Nyonya Xin dengan baik.”
Permaisuri tersenyum dan menganggap itu sebagai bentuk kesetiaan. Tentu saja Yu Jia sama sekali tidak menyukai itu, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya.
Untuk saat ini, anggaplah dia menerima hal tersebut sebelum melancarkan aksinya. “Aku akan mempermalukanmu!”
Para gadis itu mengikuti permaisuri menuju ruang makan. Saat sedang berjalan, mereka berpapasan dengan seseorang.
“Yang Mulia.” hormatnya.
Dia adalah seorang pria tinggi dengan pakaian perang, membawa pedang dan sangat gagah.
“Panglima Bai.” sapa Nyonya Xin.
Wei Chan sendiri memberinya hormat, namun dia sedikit bingung. “Panglima Bai Luohan. Orang kepercayaan Kaisar Jiang. Kenapa ada di sini?”
“Seharusnya beliau ikut dengan Kaisar ke tempat Perdana Menteri Hao?!”
“Selain itu, saat aku dieksekusi dulu, Panglima Bai sedang ada di medan perang dan belum kembali. Aku tidak tau kenapa aku bisa bertemu dengannya secepat ini.”
“Apakah semua memang sudah banyak perubahan?!”
Wei Chan yang memberi hormat pada sang panglima sempat meliriknya sebentar dan dia terkejut karena wajah panglima yang sekarang berbeda dengan yang dulu.
Yang ini sedikit lebih…ramah dan tampan.
Permaisuri dan panglima sempat mengobrol hingga akhirnya sang panglima undur diri. Saat melewati Wei Chan, panglima sempat melirik gadis itu dan gadis itu juga sempat bertemu pandang dengan sang panglima.
“Apa ini? Dia seperti sedang mengawasiku.” pikirnya. Tapi itu bukan hal yang penting. Balas dendam adalah yang paling utama untuk saat ini.
**
Ketika sang panglima berhenti berjalan, dia mengingat wajah gadis yang baru dilewatinya. Ada sesuatu yang sangat tidak biasa.
“Aku tau…aku akan menemukannya lagi.”
******
baguslah , kalo bisa jgn hanya sekali tamparnya 😔
tapi panglima juga ada di luar sana.. ayokkk seret si jiahaahahahaha🤣