Pernikahan Brian Zaymusi tetap hangat bersama Zaira Bastany walau mereka belum dikaruniai anak selama 7 tahun pernikahan.
Lalu suatu waktu, Brian diterpa dilema. Masa lalu yang sudah ia kubur harus tergali lantaran ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang semakin membuatnya berdebar.
Entah bagaimana, Cinta pertamanya, Rinnada, kembali hadir dengan cinta yang begitu besar menawarkan anak untuk mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Brian
'Ah tidak mungkin. Mas Bian tidak sejahat itu'.
Zaira melangkah gontai. Dia menggelengkan kepala, menepis semua kemungkinan yang tergambar di kepalanya
Sesampai dirumah, Zaira langsung bersiap dan pergi. Bahkan Brian belum kembali setelah setengah jam ia pulang.
Zaira mengendarai mobilnya dengan hati gundah. Ia seka air mata yang tidak mampu ia bendung lagi. Jarinya mencengkram kuat kemudi. Benar-benar perih hatinya.
Sesampainya di tempat tujuan, Zaira langsung mencari sosok yang wajahnya sudah di pikiran Zaira. Ia membuka pintu pada sebuah ruangan.
"Zaira". Andre terkejut mendapati seseorang yang membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk, ternyata Zaira.
Wajah Zaira berantakan. Bahunya naik turun seperti orang yang habis maraton.
Andre mempersilakan Zaira masuk. Membuatkannya teh hangat dan membiarkan wanita itu mengatur napasnya.
Zaira meneteskan air mata. "Pasti ada sesuatu yang kak Andre ketahui, kan?" Suaranya parau. Nada bicaranya memelas. Tangannya menggenggam teh hangat yang di buat Andre.
Andre hanya diam. Berpikir sejenak. Apakah Zaira mengetahui bahwa kemarin Brian bertemu dengan mantannya? Bukankah Brian mengatakan bahwa itu adalah pertemuan terakhir?
"Benarkan, kalau kak Andre tahu?"
"Ira, maaf, kakak tidak paham maksud perkataanmu ini."
"Cih." Zaira kesal. Menurutnya Andre hanya pura-pura.
"Kenapa kakak menyuruhku menemaninya lari pagi?" Zaira mengingat kemarin, sebelum masuk ke ruangan Brian, Andre berpesan supaya menemani Brian lari pagi. Alasannya hanya supaya Brian merasa lebih senang ditemani istrinya. Zaira setuju lantaran pikirnya, Brian selama ini ingin olahraga bersamanya namun tak mau mengatakannya. Brian pernah mengajaknya sekali, namun karena Zaira merasa lelah lantaran sering mendapat telepon dadakan untuk operasi pasien.
"Jawab kak!" Suara Zaira mulai meninggi. "Kakak pasti tahu kan, kalau mas Bian punya selingkuhan? Iya, kan? Makanya selama ini dia tidak mempermasalahkan kami yang tidak punya anak!" Suara Zaira terasa seperti berapi-api. Dia menangis, sesenggukan.
"Zaira.." Andre ragu. Apakah ucapannya ini nanti akan disesalinya. Tapi melihat Zaira berkata Brian selingkuh, pasti Brian bersama Rina.
"Sebenarnya.. apa yang kau lihat?"
Zaira bercerita kejadian baru ini. Satu jam yang lalu. Ekspresi Andre terlihat terkejut.
"Ira, yang kau lihat tadi pagi adalah Rina. Dia mantan calon istri Brian dulu. Sebelum bertemu denganmu."
Zaira meneteskan banyak air mata. Dia tidak tahu apa-apa. Selama ini, dia melihat ketulusan Brian, usahanya yang keras, dan perlakuan baiknya. Bahkan keluarga dan teman-teman Zaira menilai hal yang sama. Itulah kenapa menurut Zaira, masa lalu Brian bukanlah suatu hal yang penting.
Dulu, Brian memang sempat mengatakan bahwa dia hampir menikah dengan seseorang. Namun karena sesuatu hal, pernikahan itu dibatalkan. Zaira tidak begitu peduli. Lantaran saat itu, ia melihat Brian yang tulus dan masa lalu yang telah selesai.
"Sudah berapa lama mereka berhubungan, kak?" Zaira tersedu-sedu.
" 3 hari yang lalu. Brian cerita kalau dia bertemu dengan Rina tiga hari lalu. Tapi saat itu juga dia mengatakan bahwa itulah pertemuan pertama dan terakhir mereka. Dia tidak berniat bertemu lagi".
Penjelasan Andre membuat Zaira semakin terjatuh. Tidak bertemu lagi? Lalu apa tadi? Bahkan perempuan itu menciumnya seperti terbiasa.
Zaira sendiri tidak bisa menggambarkan perasaannya sekarang. Benar-benar menyakitkan. Bagaimana mungkin ketulusan yang ia rasakan setiap hari mampu menyembunyikan sebuah perselingkuhan? Serendah itukah Brian? Batinnya.
"Apakah dia berniat kembali?" Suara Zaira terdengar putus asa.
Andre hanya diam. Dia sendiri juga tidak menyangka Brian melakukan ini sekarang. Bahkan kejadian ini tidak pernah terpikirkan melihat Brian sangat menyayangi Zaira setiap hari. Bagaimana Brian bisa melakukan ini?
"Ceritakanlah kak. Aku ingin tahu kisah mereka. Apakah ada sesuatu yang belum mereka selesaikan di masa dahulu." Zaira menyandarkan kepalanya di sofa. Memijit-mijit dahinya. Lalu menutup matanya dengan lengan kanannya. Ia menangis tersedu-sedu.
Andre mengambil jarak. Menelpon Hani, adiknya. Dengan berbisik, Ia menyuruh Hani datang ke kantornya sekarang.
"Tenangkan dirimu, Ra."
"Tidak mungkin aku bisa tenang! Apa masuk akal aku bisa tenang sekarang?! Aku bahkan tidak pernah bernegosiasi dengan perselingkuhan. Aku sangat-sangat membenci itu. Bagaimana mungkin sekarang dia melakukan itu!" Suara Zaira bahkan sulit berteriak. Suaranya sudah habis. Dia semenderita itu sekarang.
"Ira, Istirahatlah sebentar. Aku akan bercerita setelah suasana hatimu sedikit tenang". Andre beranjak dari sofa. "Aku akan kembali". Andre keluar dan menutup pintu.
Beberapa menit kemudian, Andre mendapati Zaira tertidur di sofa panjangnya.
~
Brian dan Andre sama-sama berkuliah di suatu universitas terbaik di sebuah kota kecil. Suatu waktu, Brian di hampiri seorang gadis berkepang dua. Gadis yang memakai baju terbalik, pita merah putih, kacamata bulat, dan memakai kalung cabai merah yang ingin meminta tanda tangan Brian selaku panitia ospek di fakultas hukum.
"Mau apa?" Pertanyaan Brian terdengar lantang.
"Maafkan saya, kak. Sudah mengganggu waktunya. Saya cuma..."
"Cuma apa! Bicara yang keras!" Brian memotong kalimat gadis itu. Ingin menguji nyalinya.
Gadis itu tertunduk. Membenarkan posisi kacamatanya. "Saya mau minta tanda tangan kakak." Gadis itu mengulurkan tangannya yang memegang buku dan pena.
"Oh, minta tanda tangan". Brian melipat tangannya di dada. "Boleh, sih. Tapi kamu harus melakukan apa yang saya katakan."
"Baiklah, kak. Saya akan lakukan apapun itu".
Brian dan Andre tertawa. Besar juga nyalinya. Bagaimana kalau dua orang ini meminta yang aneh-aneh.
"Hey, kau tidak takut aku minta yang tidak-tidak?" Tanya Brian lagi.
"Tidak mungkin kakak meminta yang tidak-tidak." Suara gadis itu terdengar sedikit lantang.
"Coba lihat aku!" Perintah Brian.
Pelan-pelan gadis itu mendongakkan kepalanya. Laki-laki yang di hadapannya itu sangat tinggi.
Brian melepaskan kacamata gadis itu. Ditatapnya lekat-lekat. Bola matanya berwarna coklat dengan bulu mata yang panjang. Bibirnya kecil tebal, hidungnya bangir, berkulit sawo matang, dan bentuk wajahnya yang panjang membuat Brian terpesona. Ah.. cantiknya, batin Brian.
Brian mengambil bet nama yang tergantung di lehernya. 'Rinnada' tertulis disana.
"Baiklah, aku akan berikan tanda tanganku. Asal kau memberikan nomor teleponmu".
Mendengar itu, Andre cekikikan.
"Wah, sempat-sempatnya dia mencari pacar".
Brian tidak menghiraukan suara Andre. Ia menandatangani buku gadis itu dan merobek bagian belakangnya.
"Tulis nomor teleponmu."
Gadis itu menuliskan nomornya di kertas yang didapat dari hasil robekan bukunya. Dia sebal. tidak suka bukunya di sobek seperti itu.
"Awas saja kalau ternyata itu nomor palsu. Aku akan mencarimu dan menuntutmu ke Dekan".
Gadis itu langsung mencoret nomor yang ia tulis dan menuliskan nomor lain di bawahnya.
"Siapa namamu?" Tanya Brian yang sudah tahu, tapi mau dengar langsung dari yang punya nama.
"Rinnada, kak."
"Panggilan?"
"Nada"
"Aku akan memanggilmu Rina. Ingat ya, hanya aku yang memanggilmu dengan nama itu!". Gadis itu hanya diam.
Brian menyuruhnya pergi dengan mengibaskan tangannya.
Gadis itu pergi. Namun di beberapa langkah, dia terdiam. Menoleh ke belakang.
"Sepertinya dia mulai sadar dengan ancaman palsumu itu". Andre terkikik sambil menutup mulut dengan tangannya.
Wajah sebal gadis itu terlihat. Bisa-bisanya ia tertipu dengan ucapan Brian kalau ia akan di tuntut ke Dekan kalau memberi nomor palsu. Tidak masuk akal! namun karena sudah terlanjur, gadis itu semakin sebal. Ia menghentakkan kakinya dan beranjak pergi. Menyebalkan, batinnya.
"Jiaaah, gila ya! Bisa-bisanya dia menipumu dengan nomor palsu. Haha". Andre tertawa lepas.
"Bagaimana mungkin aku tertipu". Brian menatap kepergian gadis itu. "Imut, ya. Gemas sekali aku. Uluh huluuu..." Brian mencubit kedua pipi Andre, yang langsung dibalas dengan hantaman di kepala Brian.
Bersambung....
cow gk tahu diuntung