[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru
Kecanggungan Mayang sebangku dengan Bima berangsur-angsur hilang. Ia mungkin malu hari itu. Hari pertamanya sekolah, dan dia menangis, hanya karena tanggal lahir Bima yang sama dengan mendiang Mamanya. Semua tentang Mamanya sangat sensitif baginya. Ada kedalaman rasa yang hanya Mayang sendiri yang tahu.
Hari itu Bima tidak masuk sekolah. Mayang bertanya-tanya dalam hati apakah Bima membolos lagi? Apakah Bima mulai berulah lagi.
Paginya sepi sekali. Biasanya ada Bima dengan celetukannya saat bosan pelajaran. Bima tak tahan duduk tenang. Bima juga yang mengantarnya ke perpustakaan, menemaninya makan.
Momen pulang sekolah bahkan terasa menyenangkan. Selalu ada Tante Asti yang menyapanya dan menanyakan kabarnya. Dia senang katanya Bima lebih baik lagi sekarang. Kata Gurunya perkembangannya bagus. Mayang tahu Bima tidak bodoh. Dia hanya tidak menaruh minat pada pelajaran.
Bima bilang ia akan menuruti apa mau Mamanya. Cuma setahun, dan dia akan bebas. Bima tidak bertengkar lagi dengan siapapun di sekolah. Hanya Mayang merasa, Bima kurang menyukai Bagas, entah mengapa ia tak tahu. Bima juga tidak menunjukkan minatnya untuk berteman dengan siapapun. Bagaimanapun Mayang merasa lega. Ia begitu gugup saat tak ada Bima. Niatnya untuk punya banyak teman tak semudah itu. Nyatanya ia tak tahu bagaimana memulai. Dan berakhir dengan bergantung pada Bima.
Hari itu pelajaran olahraga. Minggu kemarin hujan turun, kegiatan olahraga di luar ruangan diganti dengan pelajaran teori. Hari ini cuaca cerah, Mayang begitu gugup. Ia hanya mengikuti temannya ke ruang ganti perempuan. Di tangannya ada baju olahraga dari sekolah lamanya. Baju punyanya belum tersedia lagi. Ia diminta menunggu satu bulan. Ia tahu, nanti ia akan terlihat berbeda. Seragam teman-temannya berwarna abu-abu, sedangkan baju olahraganya berwarna biru muda.
Ia menunduk memandangi sepatu sambil mengantri giliran. Hanya ada 5 bilik ruang ganti.
Di sampingnya berdiri anak perempuan dengan tinggi semampai. Badannya tegap. Mayang melirik canggung. Tak disangka gadis itu melihatnya. Mayang tersenyum. Gadis itu membalas senyum.
"Hai, Mayang mau dipinjami baju olahraga?"
Mayang menatap terkejut. Gadis itu ramah sekali.
"Aku punya 2 pasang. Tahun kemarin tim volleyku ikut POPDA mewakili sekolah. Aku punya seragam cadangan untuk latihan. Kamu mau? Nanti kalau kebesaran bisa digulung bawahnya." Gadis itu tertawa renyah. Tentu ia tahu. Mayang berukuran di bawahnya.
Mayang tersenyum mengangguk mendapat tawaran itu. Lalu mengikuti langkah gadis itu menuju ruang olahraga di samping bilik ganti.
Ruangan yang cukup luas. Di dalamnya beraneka alat olahraga berjajar rapi. Bola-bola ditaruh di keranjang besar di sisi ruangan. Di sisi lainnya beberapa loker khusus tersedia. Gadis itu punya satu. Ia memegang kunci. Sembari menunggu, Mayang melihat dinding di seberang ruangan. Terpajang aneka foto kemenangan, pasti gadis itu ada di salah satu pigura.
Baju seragam itu diserahkan kepada Mayang. Gadis itu melirik Mayang yang sedang asyik memandangi foto. "Aku ada di situ," tunjuk gadis itu. Ia antusias melangkah ke seberang loker. Mayang mengikutinya.
"Ini dia," serunya. Ia berada di tengah, di samping kiri dan kanan tim itu ada Pak Syamsuri Guru olahraga mereka dan juga Pak Kepala Sekolah.
"Ini 2 tahun lalu pas menang POPDA. Tahun ini aku nggak ikut, cuma sesekali ikut melatih di klub untuk junior. Fokus untuk ujian dan persiapan masuk kuliah," katanya melanjutkan.
"Wah, kamu keren banget," Mayang berseru. Pujiannya tulus. Bidang atletik adalah kelemahannya. Satu-satunya olahraga yang ia sukai hanyalah berenang.
"Oh, iya. Aku Susi. Susi Susanti," gadis itu tertawa renyah.
Mayang menatap heran, lalu memastikan dengan membaca name tag di seragam OSIS gadis itu. Benar.
"Pasti Mamamu suka bulu tangkis," Mayang menanggapi.
"Ya bisa dibilang begitu. Tapi anehnya Mamaku aktif di SSB sekarang. Kamu tahu kan? Dia pengurus klub daerah ini."
" SSB itu Sekolah Sepak Bola kan?"
"Iya. Aneh ya. Sekarang aku malah jadi pemain volley. Tau nggak? Ayahku atlet juga."
"Atlet bulutangkis?"
"Bukan. Coba tebak?"
Mayang menaikkan alisnya. Nampak berpikir.
"Dia pelari jarak jauh dulunya. Ketemu Mamaku di SEA GAMES. Terus menikah. Tapi sekarang cerai," dia mengatakannya dnegan ringan. Mayang tertegun. Ternyata , semua orang punya luka.
"Udah biasa aja. Ayahku sekarang bahagia kok, menikah lagi, punya anak. Aku dulu ikut Papa, di Jakarta juga. Terus pindah ke sini ikut Mama."
Mayang tahu raut mukanya tak biasa. Ia berusaha menetralkan kembali dengan senyuman kecil.
"Ayo, buruan ganti baju. Nanti kita telat."
Sepanjang hari itu Mayang merasa berbeda. Susi mengajaknya membaur. Ia baik sekali. Ternyata para gadis tak menyeramkan itu. Mereka ramah dan memberinya kesempatan untuk ikut obrolan. Menanyakan pendapatnya, berusaha agar ia tak merasa canggung.
Hari itu Mayang makan siang di kantin dengan para gadis. Sudah hampir 2 minggu di sekolah, tapi bahkan ia tak tahu nama-nama teman sekelasnya. Hanya Bagas nama yang ia tahu, ketua kelas itu. Yang tanpa disadarinya sering mencuri padang ke arahnya.
Susi bilang Bagas juga murid pindahan dari Jakarta, orangtuanya pemilik kebun teh, tuan tanah yang disegani. Mamanya sakit paru-paru. Kepindahannya ke sini sekaligus dalam rangka penyembuhan Mamanya. Udara di sini tentu saja jauh lebih sehat dibandingkan di kota. Tapi dia pindah beberapa bulan di tahun ajaran baru di kelas 10. Jadi ia dengan mudah menyesuaikan diri. Ia supel dan pandai membawa diri. Hal itu menjadikannya Ketua OSIS dan kapten basket sekolah.
Mayang jadi ingat hari pertamanya di sekolah saat dia menangis. Bagas dan Bima hampir bertengkar. Mereka menggunakan sapaan lo-gue khas anak Jakarta. Hal yang jarang dipakai anak-anak di sini. Pantas saja. Namun yang tak Mayang mengerti, mengapa mereka berdua terlihat seperti bermusuhan.
Di akhir pelajaran Mayang terlarut dalam lamunanya. Para gadis itu baik sekali dan ramah kepadanya. Jadi selama ini ia hanya memendam ketakutannya tanpa berani duluan menyapa atau mengajak bicara. Ia terlampau takut. Gadis-gadis populer di sekolah lamanya ternyata jauh berbeda dengan gadis-gadis di sekolah barunya.
Mereka bilang mereka enggan menyapa karena mengira Mayang memang tak berminat berteman seperti Bima. Nyatanya selama ini ia dan Bima selalu bersama-sama kemanapun. Mayang sadar, ia yang menutup diri. Ia yang tak berani. Jadi semua ini karena Bima juga. Tapi ia rindu juga. Kemana Bima hari ini.
Jam pulang tiba. Mayang mengemasi tasnya. Ia tak segugup tadi pagi saat mengetahui bahwa Bima tak masuk sekolah. Siang ini, ia merasa baik-baik saja.
"Mayang, tunggu." Susi dan beberapa gadis mencegahnya beranjak dari kursi. Mayang menoleh ke belakang. Para gadis itu mendekat.
"Mayang punya whatsapp?"
Mayang mengangguk mengeluarkan ponselnya dari tas.
"Mayang mau ikut dimasukin ke grup anak-anak kelas?"
Mayang tersenyum mengangguk. Hatinya merekah. Kini ia merasa menjadi bagian dari gadis-gadis.
"Ini grup cewek-cewek. Kita suka janjian pergi kalau liburan sekolah. Mayang boleh ikut. Kalau nggak ikut juga nggak papa."
"Kita juga suka ngebahas drama korea sama idol grup," timpal yang lain menanggapi sambil tertawa.
Susi menaikkan bola matanya konyol. "Huh, awas aja ya. Ini grup buat ngebahas PR sama tugas yang mungkin kelupaan," katanya galak. Mereka menimpali dengan tawa, Mayang ikut tertawa.
Mereka berjalan turun beriringan menuruni tangga. Dengan gelak tawa membicarakan apa saja yang lucu. Mayang ikut tertawa. Kini ia merasa menjadi bagian dari geng cewek-cewek, seperti di series luar negeri yang sering ia tonton. Ia merasa keren.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹